[Kolaborasi] Menggenggam Cahaya

Beberapa sering bertanya. Ada pula yang kemudian menerka-nerka. Ada keinginan mereka untuk mengikuti jejak yang selama ini tengah kulakukan belasan tahun lamanya. Berguru. Belajar lagi mengenai sesuatu yang mungkin saja belum sepenuhnya mereka tahu. Dibandingkan dengan masa-masa awal perkenalanku dengannya, belasan tahun ini telah menjadikanku begitu dekat dengannya. Ia, guru spiritualku. Seseorang yang benar kuhormati dan kutuakan. Ucapnya adalah tulah, bila tak diikuti. Perintahnya adalah kewajiban, bahkan bila terkadang itu melanggar atau menabrak apa-apa yang sebelumnya kupercayai.

Ya, aku memang terdengar seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya; begitu menuruti dan meyakini apa pun yang ia katakan. Tapi kehadiran guru spiritual itu nyatanya mampu membuat hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang dulunya pecandu narkoba, aku yang dulunya hidup berantakan, aku yang dulu yang berbidah pada Tuhan, aku yang begitu ‘sakit’, kini menjadi menjadi tahir dan berjalan lurus kembali.

Bersama guru spiritualku itu, aku menemukan cahaya yang hilang dari hidupku. Setiap kali aku menuruti apa yang ia katakan, aku merasa sangat bahagia. Ada kepuasan batin tersendiri yang aku dapatan tatkala ia memberiku pujian atas tindakan yang aku lakukan berdasarkan titahnya. Dan hal itu telah berlangsung sangat lama, ya lebih tepatnya tiga belas tahun sudah berlalu sejak pertama kali aku mengenalnya. Aku benar-benar mempercayai guru spiritualku itu.

Tapi ternyata, seluruh rasa hormat dan pengabdian yang aku berikan untuknya selama belasan tahun itu hanya sia-sia belaka; persepsiku terhadap citranya benar-benar tergilas hancur. Ketika tiba-tiba saja, sebuah berita buruk menamparku hingga aku tak tahu apa  yang harus aku lakukan terhadap hubunganku dengan guru spiritualku itu. Seandainya saja berita itu berasal dari oknum tak terpercaya, aku mungkin hanya menganggap hal itu hanyalah cemooh untuk menjatuhkan guru spiritualku itu, tapi sumber dari pemberitaan ini adalah… istri guru spiritualku sendiri.

Entah mengapa hatiku menjadi remuk redam mendengar setiap ucapan yang terlontar dari istri guruku. Bukan satu hal yang aneh bila kemudian aku juga mengenalnya. Istrinya selalu ada di setiap perhelatan dan juga di setiap pertemuanku dengan guru spiritualku. Tak mungkin bila tak pernah sekali pun bertemu dengannya.

Darinya kudengar banyak hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, layaknya bayi yang belum bisa memutuskan apa-apa. Aku pun seperti ikut menjadi bebal dengan kenyataan yang tengah aku hadapi. Jadi selama ini semuanya adalah kebohongan? Sandiwara saja? Aku tak ingin sekali pun percaya, tapi sedikit demi sedikit, semuanya terasa semakin jelas. Keanehan-keanehan yang dahulu pernah kuanggap wajar, ternyata berarti lain setelah kudengarkan semuanya dari istrinya.

Guru spiritualku ternyata memiliki banyak istri simpanan dan menjunjung ‘makhluk gaib’.

Pantas selama ini ia tak pernah memungut bayaran sedikit pun dariku atau dari semua pengikutnya. Bahkan setiap kali kami mengadakan kegiatan di rumahnya, ia justru memberi kami berbagai macam barang dan ‘uang saku’ untuk dibawa pulang. Selama ini ya berdalih bahwa ia memiliki bisnis bahan tambang di Kalimantan, tapi dari istrinya aku tahu, bahwa itu hanyalah bohong belaka. Guru spiritualku tak pernah punya bisnis bahan tambang di Kalimantan. Semua yang ia miliki berasal dari ‘makhluk gaib’ itu.

Awalnya aku ragu apa istrinya ini berkata benar atau tidak, tapi melihat bagaimana ia begitu tidak tahan dengan tindakan suaminya itu—yang memiliki banyak istri simpanan dan tidak menafkahinya secara batin—dan berkelakar bahwa ia akan menceraikannya. Aku jadi percaya, bahwa selama ini aku telah ditipu olehnya.

Aku tak ingin banyak berbicara lagi, kemudian kuputuskan untuk pergi. Bersirobok dengannya hanya akan membuat semua yang telah kulakukan jatuh dalam sesal yang tiada habisnya. Keinginan untuk mendapat sinar dan kembali, tak mungkin bisa kudapatkan di tempat yang cahayanya tak bisa masuk.

Semua jimat yang pernah diberikannya kepadaku kubuang jauh-jauh dari badan dan rumahku. Ritual-ritual yang dulu pernah ia anjurkan padaku tak pernah lagi ingin kusentuh meskipun sedikit. Entah mengapa semuanya terasa begitu sesak. Aku tak menyangka rumahku akan terasa sesempit ini. Lalu, kuputuskan untuk menghindarkan apa-apa saja yang kurasa telah membebaniku sedemikian rupa. Aku ingin sedikit demi sedikit bisa menghirup udara bebas, tanpa harus sedikit saja berurusan dengan ‘pemberian’-nya.

Aku benar-benar melepaskan hidupku dari sosok guru spiritualku itu. Kutata hidupku kembali dan mencoba untuk membuatnya terasa biasa. Beberapa pengikutnya pun melakukan hal yang sama denganku setelah mendengar kenyataan itu. Tapi anehnya, setiap kali aku berusaha untuk melupakan setua ajaran yang guru spiritual itu berikan, aku semakin merasakan ada kekosongan di dalam hatiku. Ada bagian yang tak terisi, dan sesuatu seharusnya mengisi ruang tersebut. Aku kehilangan cahaya.

Begitu dalam dan berpengaruhkah semua yang telah kudapatkan darinya? Aku bergidik. Masih dengan kesadaran yang tersisa, gegas kuyakinkan lagi diriku agar bisa mulai terlepas dari semua hal yang berhubungan dengannya.

Beberapa masih sering bertanya. Ada pula yang kemudian mulai menerka-nerka lagi. Keinginan mereka untuk mengikuti jejak yang selama ini tengah kulakukan belasan tahun lamanya itu mulai memudar seiring dengan setiap penjelasan yang kuhaturkan kepada masing-masingnya.

Mulai kemudian kumaknai ulang lagi bagaimana seharusnya aku berguru dan berusaha mengambil hikmah. Belajar lagi mengenai sesuatu yang sepenuhnya tak pernah aku mengerti. Tak pernah seharusnya kugantungkan sesuatu kepada manusia. Karena manusia selalu saja rentan dengan kesalahan dan tipu daya. Dan, kurasa sudah sebaiknya tak menjadikan manusia sebagai pegangan. Karena bila manusia saja masih mengharap ridho Tuhan-nya untuk menggapai surga. Mengapa aku masih meminta dan mengharap-harap belas kasihnya, bukan belas kasih Tuhanku?

Dibandingkan dengan masa-masa awal perkenalanku dengannya, belasan tahun ini telah menjadikan hidupku sia-sia. Ia, seorang yang kuharapkan bisa menjadi guru spiritualku. Seseorang yang benar kuhormati dan kutuakan. Telah salah kusikapi segala sesuatunya.

Kutatap langit yang kini sewarna jelaga, malam telah begitu larut dan aku masih terjaga di selasar rumahku; meninggalkan istriku tertidur diperaduan lantas mengenang sepersekian cerita dari proses hidupku di dunia ini. Ya, aku mungkin telah menyia-nyiakan hidupku selama belasan tahun; bergantung pada sosok ‘manusia’ yang sebenarnya sama sepertiku yang berlumur dosa, lantas menomorduakan Sang Pencipta.

Oh, bodohnya aku.

Hanya karena Tuhan tak tampak, maka aku mencari sosok tampak yang mampu memberikan ketenangan secara nyata padaku? Seharusnya aku menyadari ini sejak awal, Tuhan tak ubahnya seperti sosok orangtua bagi umatnya. Tuhan tak pernah memanjakan umatnya dengan kehidupan yang enak. Tuhan selalu memberikan cobaan ketika kita mendapati diri berada di atas awang-awang.  Tuhan ingin melihat, seberapa setiakah umat-Nya ketika cobaan datang silih berganti. Tuhan ingin setiap kali cobaan itu ia berikan yang pertama kali umat-Nya lakukan adalah datang pada-Nya dan meminta pertolongan.

Ya, benar. Tuhan ingin kita menunjukkan ketidakberdayaan kita pada-Nya, maka Ia akan membantu kita untuk menghadapi setiap cobaan itu dengan cara-Nya sendiri.

Aku tersenyum, kemudian menghela napas dan bersedekap. Udara dingin malam menerpa tubuhku yang hanya berbalut pakaian tidur ala kadarnya, hingga membuatku kedinginan dan terbatuk-batuk. Tapi meskipun begitu, aku puas dengan pemahaman baru yang aku dapatan malam ini. Dan sebagai seorang pria, maka kuteguhan hatiku untuk berubah.

Mulai detik ini dan selanjutnya hingga aku kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Kugantungan hidup, jiwa dan ragaku, hanya kepada Tuhan yang kujunjung.

Bukan pada manusia.

Fin.

“Collaboration With Teguh Puja

A/N:

Pertama kalinya aku duet dengan Kak Teguh dan beliau ngajak bikin tulisan tema beginian *ngejambak rambut sendiri*. Otakku keperes sampi kering kerontang, soalnya aku sama sekali enggak tahu ‘guru spiritual’ itu apa. Akhirnya pas duet aku riset, tanya sana-sini sama Google. Jungkir balik nyari cerita yang sedang hot akhir-akhir ini (if you know what I mean). Maka, terciptalah tulisan ini :D Semoga berkenan di hati dan dapat diambil hikmahnya ya. Terima kasih telah membaca!

14 thoughts on “[Kolaborasi] Menggenggam Cahaya”

    1. Hahaha, yah… kami (sepertinya) emang sedang membuat satir untuk ‘subjek’ tersebut sih Kak. Semoga ke depannya bisa bikin tulisan yang lebih bisa dinikmati dan hikmad. Terima kasih sudah membaca! :D

  1. Oh ya, saya mau nanya,
    “…aku yang begitu ‘sakit’, kini menjadi menjadi tahir dan berjalan lurus kembali.”
    “tahir” itu artinya apa ya? Maklum kosa kata Bahasa Indonesia saya masih belum lengkap :D

    Tanpa berekspektasi apa-apa dan tanpa menghubungkannya dengan sosok yang akhir-akhir ini sedang ada di puncak infotainment, saya suka dengan cerita ini.
    Morale of story yang saya peroleh di akhir cerita juga pas. :)

    1. arti di KBBI tahir: bersih, suci, murni. Jadi, dalam konteks kalimat tersebut, saya mengartikan kalau pria tsb, ‘sakit’ karena dosa, dan akhirnya tahir (bersih, suci, murni) ketika ia bertemu dengan guru spiritual tersebut.
      :D Ah, senangnya, hehehe. Saya agak ragu juga sih waktu kak Teguh ngajakin kolab pake tema itu. Ternyata Kakak masih bisa menikmatinya tanpa menyangkutpautkannya dengan hal-hal infortainment tsb. Terima kasih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s