[Resensi Buku] The Way We Were – Sky Nakayama

Judul                     : The Way We Were

Penulis                 : Sky Nakayama

Penerbit              : Gagas Media

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 257 halaman

Rate                       : 3/5

Ihiy, buku kedua Kak Omi yang aku beli dan baca. Nah, karena ini sudah buku kedua, aku benar-benar berharap sangat besar pada buku ini!

Cerita dikit, setengah dari buku ini aku baca sekitar jam 2 malam karena gak bisa tidur dan akhirnya tuntas jam 4-an WITA. Buku ini berhasil membuatku penasaran karena menunggu-nunggu klimaks seperti gunung berapi meletus di kepalaku. Dan apakah aku menemukannya? Sayangnya, sampai buku ini tutas kulahap, gunung berapi itu tak meletus-leteus juga.

Beberapa hal unik yang dapat kuambil dari buku ini adalah pertama, cover dan ilustrasi-ilustrasinya. Di cover ada dua pasang tangan yang terlihat saling menyambut dan menurutku itu sangat manis tatkala disandingkan dengan judul bukunya The Way We Were. Mulanya melihat cover yang begitu aku mengira cerita ini adalah tetang sepasang muda mudi yang memiliki masa lalu yang berhubungan, tapi ternyata enggak, hihihi, ini tetang bagaimana cara mereka menemukan apa itu cinta sesungguhnya.

Lanjut ke isi, novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Laut Senja—nama tokohnya keren ya?—yang mengalami pergolakan dengan keluarganya yang rusak karena sang ayah ketahuan selingkuh. Akhirnya, gadis ini pun memutuskan untuk kuliah di bandung dan menghindari orang rumah, terutama ibunya yang Laut anggap tak pernah menyayanginya setara dengan kakak-kakaknya.

Di saat yang bersamaan, Laut yang juga gak pernah merasakan cinta akhirnya merasakan getaran aneh itu tatkalah ia bertemu dengan Oka dan Kei. Kedua cowok itu adalah sahabat, awalnya, bagi Laut mereka berdua hanyalah kakak. Tapi lama kelamaan, setelah begitu banyak kejadian terlalui,Laut sadar kalau Kei-lah yang selalu ada di saat paling berat dalam hidupnya. Padahal, di lain pihak Oka justru lebih punya perasaan ingin melindungi Laut; Oka jatuh cinta dengan Laut sejak pertama kali mereka bertemu.

Well, apakah cinta ini berjalan mulus dalam bentuk segitiga ini? Ternyata masih ada satu habatan lagi. Sahabat Laut yang bernama Alin pun ambil bagian dalam cinta yang rumit ini. Alin juga jatuh cinta pada Kei. Woah, ternyata cinta segi empat, sodara-sodara! Sementara Laut sedang depresi menghadapi keluarganya, ia pun harus terjebak dalam perasaan konyol bernama cinta itu.

Nah, bagaimana kah ending-nya?  Bagaimana Laut menghadapi keluraganya? Bagaimana akhirnya cinta menuntun Laut kepada orang yang tepat? Mari beli buku ini segera!

Jeng-jeng! *taruh senter di bawah muka* Sekarang waktunya kasih pendapat pribadi ke buku ini. Berikut beberapa hal yang menurutuku kurang gereget.

Pertama adalah ketidakkonsistenan konflik utama dalam buku ini. Di buku ini ada dua konflik besar yang sama sekali tidak memiliki jembatan atau benang merah, yaitu keluarga Laut yang hancur karena ayahnya selingkuh dan cinta segi empat antara Laut, Oka, Alin, Kei. Kedua konflik besar ini berjalan beriringan dan kadang terasa saling rebut-rebutan perhatian. Di bab-bab tertentu konflik cinta lebih dominan, tapi tiba-tiba saja diserobot langsung sama konflik keluarga. Perasaan pembaca yang sudah berbunga-bunga langsung jatuh ketika cerita berlari dengan kecepatan cahaya ke konflik keluarga.

Sebenarnya, gak masalah sih untuk dua konflik besar kayak gini dalam novel, menurutku. Banyak juga novel-novel yang mengangkat cerita multi-konflik, tapi kadang kala aku sebagai pembaca menginginkan hanya satu konflik utama dalam cerita yang bisa dieksplor lebih dan tidak tanggung-tanggu, lalu konflik utama itu diselesaikan dengan diikuti konflik lanjutan yang juga selesai seiring dengan konflik utama itu. Tapi sayangnya, aku kesulitan menemukannya dalam novel ini.

Kedua, tetang alur maju mundur yang sering digunakan penulis. Aku pribadi sih enggak masalah, tapi seperti yang pernah kubilang diresensi sebelumnya, kadang terlalu banyak bikin kurang greget. Beberapa contoh alur maju-mundur yang membuatku sedikit terganggu adalah pada saat momen pernyataan cinta Laut pada Kei, kemudian saat Laut menemukan foto ibunya dan Tante Kartika, dan saat Oka berbicara dengan Dennis. Alur maju-mundur bikin kita mampu menuliskan dua cerita dalam satu momen sekaligus sehingga mempersingkat alur dan memperdalam perasaan pembaca pada tokoh karena si tokoh melamunkan kejadian yang lampau. Tapi karena alur maju-mundur sering sekali ditemukan dalam buku ini, kadang kala pembaca pun jadi bingung sampai mana ceritanya telah berjalan. Karena saat kita sudah maju menikmati cerita, penulis mengajak kita mundur kambali dan kemudian maju, lalu mundur lagi.

Ketiga, kebetulan-kebetulan, dari buku sebelumnya aku sudah tahu penulis memiliki sense twist yang menonjol dalam bidang kebetulan. Tapi menurutku, ada beberapa kebetulan yang menurutku agak dipaksakan dalam cerita ini. Contohnya, saat Laut bertemu Tante Kartika di Bali, Laut bertemu Kei di Lombok, laut ketumu Oka di bus. Sebenarnya gak begitu kentara sih kebetulannya, mungkin karena aku terlalu sensitif kali ya. Hahaha.

Keempat, Mikroekonomi. Uhuk, saya gak ngerti. Hahaha. Dalam salah satu adegan di buku ini, Oka ngajarin Laut tentang mikroekonomi yang dijelaskan secara rinci dari halaman 169 sampai halaman 174. Berhubung aku gak ngerti, sebenernya kepengen aku skip, tapi entah mengapa aku selalu menganggap setiap adegan dalam cerita memiliki suatu alasan. Jadi, kubaca adegan itu dan akhirnya menemukan alasan adegan itu nantinya akan berujung pada romantisnya Oka mendapatkan ide untuk mengecat langit-langit kamar Laut. So sweet, terbalas aja sih baca mikroekonomi itu, tapi tetap aja sedikit menggangguku.

Terakhir, antiklimas yang kurang menelan. Aku sih berharapnya bakal ada adegan cetar membahana ulala di endingnya yang mampu menuntaskan dua konflik besar itu. Tapi, sayaaaaang banget, anti-klimaksnya di mulai saat Laut kabur-Laut kembali-Keluarga Laut bersama selingkuhan ayahnya musyawarah-pertengkaran besar-berakhir saat Laut menasihati kedua orangtuanya-Laut menikah. Ah, mana lagi nih halamannya? Mau lagi! Mau baca lagi! Kecewa berat saat buku ini habis karena aku masih mau lebih dari itu :(

Oh ya, sedikit spoiler sih, di awal kalian mungkin bakal ngerasa ada cinta-cintaan gitu antara Oka dan Laut. Tapi sadar gak sih, kebanyakan yang bilang deg-degan, suka, tertarik itu berada di sudut pandangnya Oka; bukan Laut. Aku sendiri baru sadar pas si Laut tahu-tahunya suka sama Kei. Hahaha. Sendirinya kaget kenapa tiba-tiba Laut suka sama Kei, padahal di awal cinta-cintaan gitu sama Oka, tapi ternyata itu semua hanya perasaan Oka. Aduh. Good job banget sih debu bintangnya dari penulis.

Baiklah, kesimpulannya bintang 3, pengennya sih kasih 4 karena buku ini bagus sekali. Tapi mengingat beberapa catatan yang kutliskan di atas, aku rasa hanya bisa memberikan bintang 3. Hehe. Buku ini sangat cocok bagi kalian yang suka membaca buku yang mampu mengombang-ambingkan perasaan kalian sebelum akhirnya menyeret ke perairan yang tenang. Seperti Laut!

When The Love Fall

 (Listen: When The Love Fall – Yiruma in Magic Box)

Kau akan merasa bumi berhenti berputar dan hening menyergap. Langit teduh dan udara menekan paru-parumu. Suaramu bahkan tak dapat terdengar, hanya jantungmu yang membunyikan genderang sangkakalanya. Otakmu akan bersendat, macet. Hingga tak memungkinkan bagimu untuk menggerakan tubuhmu barang seinci pun.

Ya. Saat cinta datang, kau hanya akan menjadi seonggok daging tak berguna, hanya korban cinta yang jatuh atas emosimu.

***

Gabriella Angelica.

Ia gadis yang cantik. Rambutnya lurus berwarna hitam. Bermata sipit, karena di darahnya mengalir marga Liong dari Ayahnya. Kulitnya sangat putih, namun tidak pucat, membuat ia terlihat mencolok jika berdiri di tengah-tengah kerumunan orang. Tubuhnya lampai, berlemak di tempat yang tepat.

Yah, Gabriella memang gadis yang cantik; dari luar mau pun dalam. Memiliki banyak penggemar dan begitu terkenal di SMA-nya. Tak urung banyak pria ingin menjadikan Gabrella gadisnya, tapi hati Gabrella bukanlah lagi milik gadis itu sendiri…

… hatinya terbagi kepada seorang pria yang sudah ia kagumi sejak lama. Sejak pertama kali ia mengenal apa itu cinta.

Hatinya tidaklah utuh.

“Kau tak lelah memandanginya terus, Ella?”

Gabriella dikejutkan oleh sebuah suara rendah seorang pria; namun ia langsung dapat mengenalinya karena ia tahu, satu-satunya orang di dunia ini yang suka memanggilnya ‘Ella’ hanya orang itu.

Dengan cepat gadis itu menoleh ke arah samping tubuhnya dan senyum Gabriella langsung merekah ketika ia memang menemukan pria itu di sana. “Aku tak mungkin merasa lelah hanya karena memandangnya, Erik,” jawab Gabriella tenang, seraya kembali menatap lapangan bola sekolahnya dari jendela kelasnya yang berada di lantai dua. Kedua manik matanya mengekori seorang pria yang sedang bermain bola di sana. Tubuh liat pria itu terlihat bercahaya saat matahari memantulkan sinarnya atas tubuh yang bermandi keringat itu.

“Kau tak mencoba untuk mendekatinya?” suara pria bernama Erik itu terdengar lagi. “Sudah setahun kau menyukainya, tapi kau tak juga menyatakan perasaanmu, ” tambah pria itu lagi.

Gabriella hanya melirik kecil ke arah Erik dan kemudian kembali menatap lapangan bola di hadapannya, meski pikirannya tidaklah sefokus sebelumnya.

“Menyatakan perasaanku pada Allan tidaklah segampang kedengarannya, Erik.” Gabriella berusaha membela dirinya, mencari-cari alasan untuknya dapat mengelak dari pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu apa jawabannya. “Dia berbeda, dan hal itu membuatku hanya mampu  memendam perasaan ini.”

“Tapi jika kau hanya memendamnya tanpa kau mengutarakannya kau sama saja dengan menghancurkan hatimu sendiri secara berlahan-lahan.” Erik membalas cepat, membuat langkah Gabriella untuk mengelak menjadi mati.

Ya. Memang itu yang Gabriella rasakan sepanjang satu tahun terakhir ini. Perasaannya selalu teriris-iris setiap kali ia melihat Allan bersama gadis lain. Tertawa bersama gadis lain, berbicara, memandang, semuanya!

Berkali-kali Gabriella berusaha untuk bersikap lebih menunjukkan perasaannya kepada Allan. Tapi setiap kali ia berpapasan dengan pria  itu di koridor ataupun di tempat lainnya, gadis itu bahkan tak mampu bernapas ketika ia membayangkan menghirup udara yang sama dengan pria itu. Ah, cinta melumpuhkannya.

“Kau memang sahabatku sejak kecil Erik…” setelah terdiam cukup lama dan merenungi segalanya, Gabriella kembali bersuara, “…tapi meskipun begitu, kau tak akan cukup mengerti untuk memahami perasaanku saat ini. Kita sahabat, tapi kita tetap orang yang berbeda,” tambah Gabriella lagi dengan penekanan yang cukup jelas di suaranya.

“Aku tahu dengan pasti bagaimana perasaanmu, Ella.” Erik menjawab dengan mantap dan membuat Gabriella terkesiap, “Aku tahu bagaimana rasanya memendam perasaan sayang ketika kau berada sangat dekat dengan orang yang kau sayangi. Bagaimana berisiknya jantungmu dan darahmu yang mendesir hangat ketika kau berada di ruangan yang sama dengan orang itu. Bagaimana napasmu berhenti dalam seketika saat kau tahu ia menyadari keberadaanmu.” Erik berhenti, ia memandang Gabriella semakin dalam dan kemudian tersenyum tipis.

“Aku tahu semua yang kau rasakan Gabriella, karena aku juga merasakannya.”

Hening. Gabriella hanya bisa menatap pria bermata coklat di hadapannya itu dengan dada yang tiba-tiba saja bergemuruh nyaring.

Baca lebih lanjut