Arsip Blog

[Epilogue] The Stories of 31 May: Our Stories Has Begun

Epilogue

Title                       : Our Stories Has Begun

Author                  : Benedikta Sekar

Cast                       :

-          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

-          Sa Ri (Eka Maisari’s OC)

-          Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

-          Jang Hyun Ra (Tamara Putra’s OC)

Lenght                  : Chaptered [Part 1 | Part 2 -- End]

Genre                   : Romance, Slice of Life

Rate                       : G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

 

His Flat.

Ok Taecyon tak pernah menyangka akan  menemukan dirinya sefrustasi ini hanya karena kemungkinan kehilangan seseorang. Ia telah terbiasa hidup mandiri, terpisah jauh dari orangtuanya yang bersekukuh tinggal di Boston, dan mengadu nasip di kampung halamannya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti di hidupnya; ada yang kembali, ada pula yang benar-benar pergi. Tapi Taecyon tak pernah ambil pusing dengan kenyataan itu, ia tak peduli dengan sebuah perpisahan karena ia tahu hal itu pasti akan datang.

Namun, pikiran idealis Taecyon itu hancur tatkala takdir mempertemukannya dengan gadis itu. Hidupnya porak poranda, mengenal gadis itu membuat emosinya labil hingga ia lupa untuk menstabilkan diri. Ia mengutuk pertemuan mereka, karena pertemuan itu memaksanya untuk membenci perpisahan.

Oppa? Kenapa melamun?” suara sopran gadis itu menyentakan Taecyon dari lamunannya dan kembali menyeretnya duduk di hadapan gadis itu.

Taecyon hanya tersenyum tipis dan tak mengatakan apa pun, ia tak perlu menjawab karena gadis itu akan menemukan analisisnya sendiri.

“Jangan terlalu sering melamun, Oppa,” kata gadis itu lagi sembari memakan kue ulang tahunnya yang ia bawa sendiri; waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan gadis itu masih saja kukuh untuk merayakan 31 Mei yang telah lewat.

Dalam diam Taecyon menilik mata sembab gadis itu masih menunjukkan semburat yang biasa ditunjukkannya. Ini aneh, terakhir kali Taecyon menatap mata itu ia justru merasa ingin menghapusnya dari muka bumi ini. Tapi, beberapa jam yang lalu saat gadis ini meneleponnya dan mengungkapkan keinginan untuk berhenti mencoba menaklukannya. Seketika itu juga pikiran Taecyon menghitam dan bayangan kehilangan sosok itu membuatnya ketakutan setengah mati.

“Lihat! Oppa melamun lagi!” seruan gadis itu kembali menyeret Taecyon; ia memang tak habis pikir, kenapa perasaannya berubah sedemikan drastisnya terhadap gadis itu. Tapi apa mau dikata? Hati kadang tidak sekubu dengan otak, jadi, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menghadapi kenyataan perasaannya.

“Kata ibuku, jika orang sering melamun dengan pikiran kosong, hantu-hantu akan mendatangi orang tersebut dan merasukinya! Dalam bahasa Indonesia disebut kesurupan. Nah! Makanya jangan sering-sering melamun, Oppa. Aku tidak tahu apa hantu-hantu di Korea sama dengan di Indonesia, tapi aku tak ingin kau kesurupan.

Lagi-lagi, Taecyon tertawa dalam hati, polah delusional gadis itu membuatnya muak sekaligus candu baginya.

“Aku tidak melamun dengan pikiran kosong, Sa Ri-ya,” jawab Taecyon sembari menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.

 Gadis Indonesia yang lebih senang ia panggil Sa Ri itu, menarik alisnya ke atas dan berhenti mengunyah kue ulang tahunnya. “Lalu? Apa yang Oppa pikirkan?”

“Aku sedang berpikir untuk membeli flat yang lebih besar dari ini.”

“Kenapa?”

“Karena tahun depan kau mungkin akan tinggal bersamaku.”

Taecyon menyuarakan kekehannya saat melihat wajah Sa Ri yang tercengang. Sekarang ia percaya, bahwa kehilangan ekspresi seperti ini akan membuatnya berhenti memiliki hidup.

***

Jang House

Jang Hyun Seung tahu kalau ia suami yang keterlaluan. Ia mungkin sukses menaklukan perusahaan tempatnya bekerja dengan didikasi dan keuletannya, tapi saat ia berhadapan dengan istrinya sendiri, ia benar-benar seperti anak umur 3 tahun yang belum bisa baca-tulis.

“Nyonya Jang, berhentilah mendiamiku…” Hyun Seung duduk di samping istrinya yang duduk melipat dada di atas ranjang mereka. Wajahnya masam, masih marah dengan prilaku suaminya sebelum ini. “Aku bukannya sengaja melupakan ulang tahunmu ‘kan? Aku hanya ingin ada kesan.”

Jang Hyun Ra, istrinya, masih bergeming; tak memiliki tanda-tanda untuk berbicara. “Hei, Nyonya Jang, bicaralah padaku. Apa aku harus berlutut agar kaumau memaafkanku?”

Hyun Seung lantas berluntut di hadapan Hyun Ra, lalu menarik jemari istrinya yang terlipat ke dalam genggaman tangannya. “Hyun Ra,” panggil Jung Hyung dengan nada lembut, ia benar-benar merasa bersalah dengan sikap egoisnya hari ini.

“Aku janji 31 Mei tahun depan kita akan merayakan ulang tahunmu seharian; berdua saja. Aku akan ambil cuti satu minggu dan kita akan berlibur ke mana pun kaumau. Aku benar-benar akan merayakan ulang tahunmu senormal mungkin, aku akan berhenti bertindak bodoh dan mencoba hal-hal baru yang akan membuatmu senang. Aku berjanji, tahun depan akan menjadi 31 Mei yang tak akan terlupakan bagimu.”

Hyun Seung menatap istrinya lekat-lekat, berharap hati wanita itu tergerak dan memaafkannya. Namun, Hyun Ra tetap berwajah masam dan membuang muka ke tembok sembari menyahut perkataan suaminya ketus.

“Bukan berdua, tapi bertiga,”

“Huh?”

Hyun Ra mengambil sesuatu dari laci meja samping tempat tidurnya dan langsung memberikannya pada Hyun Seung.

“Aku sudah ingin mengatakannya padamu sejak pagi tadi, tapi kau membuatku kesal seharian ini.” Hyun Seung berhenti bernapas, dadanya berdebar sangat cepat. “Memang belum pasti karena aku belum memeriksakannya ke dokter, tapi benda itu 99% akurat. Jadi, kau tahu apa artinya itu kan?”

Hyung Seung  tak bisa berkata-kata, air matanya langsung meleleh saat mendapati test pack di tangannya menunjukkan tanda positif. Sungguh, ia pria paling berbahagia di muka bumi ini.

Fin.

  Read the rest of this entry

[Chaptered 2/2] The Stories of 31 May: Haengbok

hyunseung

Title                       : Haengbok

Author                  : Benedikta Sekar

Cast                       :

-          Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

-          Jang Hyun Ra (Tamara Putra’s OC)

-          Ok Taecyon (2PM/JYP Entertainment)

Lenght                  : Chaptered

Genre                   : Romance, Slice of Life, Friendship

Rate                       : G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

***

Jang Hyun Ra ingin sekali membalik meja makan mewah di hadapannya ini sekuat tenaga dan akhirnya merusak hari yang menurutnya sudah buruk sejak matahari terbit.

Dasar suami tak berperasaan!

Hyun Ra melirik sinis pada pria yang tengah duduk di sampingnya—tertawa sangat lebar kepada kolega-kolega kerjanya yang duduk di sekitar mereka. Suasana meja makan sangat ramai, petinggi-petinggi perusahaan sangat menyukai suaminya itu; entah karena ia muda dan cerdas atau karena sangat pandai membuat joke. Ah, Hyun Ra tak peduli, yang ia tahu hanyalah hari ini akan menjadi hari terburuk sepanjang tahun ini.

 “Ya, Jang Hyun Seung,” Hyun Ra memanggil nama lengkap suaminya dengan nada sinis sementara jemarinya meremas ujung gaun malamnya yang berwarna pastel di bawah meja karena jengkel. “Kau tahu kan hari ini tanggal berapa?”

“Tanggal 31 Mei ‘kan?” jawab Hyun Seung tanpa melihat ke arah Hyun Ra, perhatiannya tertuju pada CEO perusahaannya yang tengah menceritakan koleksi cerutu terbaiknya dari seluruh dunia.

“Benar sekali, lalu?” Hyun Ra tetap kukuh mengorek ingatan suaminya tentang hari ini.

“Lalu, apa?” bukannya menjawab, Hyun Seung justru malah balas bertanya, hati Hyun Ra semakin geram dibuatnya.

“Sudahlah, lupakan saja…” kata Hyun Ra akhirnya, menyerah dengan tindak tanduk suaminya yang menjengkelkan dan kembali berkutat dengan steak di hadapannya.

Hyun Ra akan menghajar suaminya itu setibanya di rumah.

  Read the rest of this entry

[Drabble] Boring Guy – Special For Olvie Leonita’s Birtday

Author                  :               Benedikta Sekar (DictaVIP)

Cast                       :

-          Yong Jun Hyung (Beast/Cube Entertainment)

-          Yong Jae Soon (OC/Olvie Leonita)

Lenght                  :               Drabble—342 kata

Genre                   :               Fluff

Rate                       :               G

Disclamer            : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Yong Jun Hyung adalah member grup Beast yang didebutkan Cube Entertaiment. Sedangkan Yong Jae Soon adalah original caracter milik sahabat saya—Olvie Leonita. Sementara plot dan alur cerita adalah murni milik saya.

Sebentar lagi Hujan.

Jun Hyung menatap langit yang sewarna abu-abu dari balkon kamarnya dengan pandangan sinis. Pria itu lantas menarik napas dalam-dalam, mencoba memenuhi paru-parunya yang kecanduan nikotin dengan aroma petrichor.

Sigh, aromanya tak senikmat tembakau, keluh Jun Hyung dalam hati. Segera pria itu menyulut sebatang Marlboro Red dari dalam saku celana parasutnya dan menikmati rokok itu dalam diam.

Jun Hyung tak begitu menyukai Hujan. Banyak orang yang dengan tololnya berpendapat kalau hujan itu romantis, tapi baginya, hujan sangat jauh dari kata itu.

Masih diingatnya dengan jelas cinta pertamanya—Go Hara—kandas di hari berhujan. Gadis itu dengan dramatis berlari ke pinggir jalan, untuk menghindari dirinya yang memohon untuk mempertahankan hubungan mereka; padahal kota Seoul sedang diguyur hujan hari itu.

Hara berlari begitu kencang, dan Jun Hyung nyaris menyerah saat ia menyadari kalau hujan menderas dan mempengaruhi penglihatannya. Tapi tiba-tiba saja gadis itu berhenti dan Jun Hyung pun melakukan hal yang sama tepat dua meter di belakangnya. Mereka terdiam, mengatur napas yang terengah-engah hingga akhirnya wanita itu pun berbalik, menatap Jung Hyung dan berkata dengan nada jengkel.

“Kau pria yang membosankan! Aku bosan denganmu!”

Sigh, mengingat hal menyakitkan seperti itu membuat Jun Hyung semakin kuat menghisap rokoknya hingga tanpa sadar benda adiktif itu pun tandas. Tapi saat ingin mengambil batang rokok kedua, tiba-tiba saja sebuah tangan menyelip di antara pinggang dan lengan Jun Hyung, lalu mengambil Marlboro Red-nya dengan cepat.

No more, Jun Hyung,” kata sebuah suara di belakang tubuhnya. Suara wanita. “Sudah berapa kali kubilang berhenti merokok?”

Jun Hyung menegakkan tubuhnya, lantas menarik kedua tangan wanita itu hingga melingkar di pinggangnya.

“Aku bosan mendengar hal itu, Jae Soon. Kau yang seharusnya berhenti mengomel,” kata Jun Hyung sembari menghirup aroma kamomil di tubuh wanita bernama Jae Soon itu dalam-dalam.

“Kau pikir aku tidak bosan menegurmu terus, hah?” balas Jae Soon tak mau kalah.

 “Kalau sama-sama bosan, kenapa kita tidak berpisah saja?” kata Jun Hyung dengan nada menantang.

Mendengar apa yang Jung Hyung katakan, Jae Soon sontak tertawa. Ia pun meneratkan pelukannya pada pinggang Jun Hyung dan mencium punggung pria itu sekilas.

 ”I always enjoy my boring time with you, My Hubby,”

***

  Read the rest of this entry

[Oneshot] Surat 31 Mei

Title                       : Surat 31 Mei

Author                  : DictaVIP (Sekar Arum) / Benedikta Sekar Arum Setyorini

Cast                       :

-Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

-Jang Hyun Ra (Tamara Putera’s OC)

Lenght                  : Oneshoot (1.631 words)

Genre                   : Romance, Fluff

Rating                   : PG-13

Disclaimer           : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Jang Hyun Seung adalah member grup Beast yang didebutkan Cube Entertaiment. Sedangkan Jang Hyun Ra adalah original caracter milik sahabat saya, Tamara Putera. Plot dan alur cerita adalah murni milik saya

“Sepucuk surat di atas meja kamar tidur”

Sudah bosan ‘kah kamu padaku, Aprhodate-ku?

Oh, maafkan aku… Aprhodate tak pantas disamakan dengan wajahmu yang lebih cantik dari seluruh dewi Olympus itu. Kurasa akan jauh lebih benar jika aku memanggilmu dengan panggilan yang kaudapat ketika tanggal 31 Mei menjadi tanggal dimana Tuhan mempersatukan kita; tepat satu tahun yang lalu…

Nyonya Jang.

Panggilan untuk istri seorang pria bernama Jang Hyun Seung; istriku.

Tidak terasa setahun telah berlalu dan kita telah menyulam waktu bersama-sama. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Seoul; tempat kisah pernikahan kita tertulis tanpa seorang pun yang tahu persis kecuali kita berdua.

Tentu saja, mereka hanya bisa bergunjing, ibu-ibu pada usia paruh baya mau pun yang tidak memang seperti itu. Waktu minum teh di sore hari mereka dihabiskan dengan menggunjing dan bergosip. Aku bersyukur kau selalu menolak ketika undangan-undangan untuk acara seperti itu datang ke rumah kita. Hahaha, memang, kau tak pernah suka acara-acara seperti itu. Bahkan jika aku memaksamu, kau akan dengan tegas berkata ‘tidak’.

Yah, aku suka dirimu yang seperti itu. Tapitidak hanya dirimu yang seperti itu, aku suka semua hal tentang dirimu. Bahkan bagian yang terjelek sekalipun. Ya, Nyonya Jang, kau tidak salah membaca. Aku memang menyukai bagian terjelek dari dirimu.

Termasuk caramu marah padaku.

Oh, aku tak meragukan hal ini, caramu menunjukan rasa marahmu itu sangatlah mengerikan. Lebih mengerikan dari seruan jengkel ibuku saat aku memcahkan piring-piringnya atau pun bentakan ayahku saat mendapatkan surat peringatan dari sekolah dulu…

Kau mendiamkanku!

Yah, mungkin akan terdengar konyol bagi orang awam yang tak tahu tentang kita, tapi caramu menunjukan amarahmu itu nyatanya memang kelewat menyakitkan bagiku.

Kau yang biasanya selalu berisik dengan kidung sumbangmu, kau yang suka memelukku untuk bermanja-manja, kau yang gampang panik untuk masalah remeh, kau yang ingin sekali terlihat cantik namun selalu gagal menggunakan maskara, dan kau dengan segala kebiasaanmu itu… menghilang! Kau berubah dingin dan tak acuh padaku!

Sungguh. Tak ada yang lebih buruk di dunia ini selain kemarahanmu, Nyonya Jang. Benar-benar tidak ada yang lebih buruk dari itu.

Ketika kau marah, yang bisa aku lakukan hanyalah diam dan memandangmu dengan tatapan memelas. Ya. Aku tak bisa melakukan hal lain selain berharap kau berhenti mendiamkanku dan mau berbicara padaku, karena jika aku mencoba mengajakmu berbicara, yang aku terima hanyalah tatapan dingin dan ketidakacuhanmu.

Tapi, mengingat sepanjang satu tahun terakhir ini aku telah sering merasakan kemarahanmu – Yah, aku memang bukan pria sempurna, tentu saja – selama itu pula aku menyadari kalau kau tak pernah marah lebih dari tiga hari.

Hari pertama, kau akan seperti gunung es yang tinggi, kau sama sekali tidak bicara padaku bahkan saat kita tidur bersisian di kasur yang sama. Hari kedua, gunung es-mu  mencair, kau akan sering melirikku meski keangkuhan masih membuatmu menjaga jarak denganku. Hari ketiga, aku berhasil menjajaki gunung es-mu dan mendaki puncaknya, kau mulai menjawab jika aku bertanya dan tersenyum tipis ketika aku mencoba untuk menghiburmu. Dan besoknya? Kau lupa alasanmu marah padaku tiga hari sebelumnya. Ya, siklus itu tak pernah berubah selama satu tahun terakhir ini. Dan aku percaya kalau hal itu tak akan berubah di masa yang akan datang, hingga seminggu yang lalu….

Kau secara harfiah benar-benar marah padaku. Berbeda dengan kemarahanmu yang sebelum-sebelumnya. Kau sama sekali tak bicara padaku bahkan sampai surat ini berada di tanganmu!

Oke, aku tahu kalau aku salah. Dan kesalahanku ini benar-benar tak bisa dimaafkan bahkan oleh diriku sendiri. Tapi sungguh! Tak ada niatku untuk tidak berada di sampingmu pada tanggal 31 Mei, Nyonya Jang. Si Tua Bangka Keparat itu menugaskanku di lapangan, dan hal itu memaksaku untuk pergi ke Busan sejak tiga hari yang lalu hingga tiga hari ke depan.

Ah, Nyonya Jang, istriku! Andaikata kau tahu betapa sakitnya hatiku ketika kau hanya menatapku datar tanpa mengucapkan sepatah kata pun saat aku pergi; kau menghancurkan hatiku seluruhnya.

Aku tahu 31 Mei adalah tanggal yang sangat berarti bagimu. Bukan hanya karena pada tanggal itu kita bersumpah di depan altar untuk mengumandangkan dua tubuh yang menjadi satu – tak akan terpisahkan, kecuali ketika Tuhan berkehendak. Tapi juga peringatan hari di mana seorang wanita bernama Lee Hyun Ra (sekarang Jang Hyun Ra, tentu saja) lahir di dunia ini.

Hari ulang tahunmu.

Sungguh, maafkan aku karena tidak bisa menghabiskan hari besar ini bersama-sama denganmu. Aku tahu surat ini tak berarti apa-apa bagimu. Tapi aku telah berusaha keras untuk menulisnya di tengah-tengah dering telepon genggam yang menyerukan panggilan dari bos-ku dan mandor-mandor yang ada di proyek.

Masalah yang terjadi ternyata lebih parah dari yang aku bayangkan. Jumlah tiang besi yang kami perlukan untuk membangun jembatan itu tidak sesuai dengan apa yang kami terima dari penyuplai. Sangat ricuh di sini, semua orang bergantung padaku, sementara mereka saling menyalahkan. Aku benar-benar nyaris gila… oh, tidak… bukan gila, aku benar-benar gila, Nyonya Jang.

Tapi asal kau tahu saja, hanya ada satu orang yang bisa membantuku untuk tetap waras pada saat-saat seperti ini. Hanya satu orang yang mampu memberiku kekuatan untuk tetap berdiri meski kaki ini sudah terlalu lemah berpijak. Hanya satu orang yang melengkapi hidupku… dan orang itu kau, Nyonya Jang.

Biarlah semua orang di dunia ini menjauhiku, karena hanya dirimulah satu-satunya orang yang aku butuhkan dalam hidup.

Jadi… kumohon, Nyonya Jang. Maafkan aku.

Dan setelah kau selesai membaca surat ini, bisakah pergi ke ruang tamu? Duduklah di kursi yang ada di samping meja telepon… dan telepon aku! Kumohon, lakukan ini untukku, kau tentunya tidak ingin pekerjaanku tak selesai ‘kan? Tapi jika kau tak peduli akan pekerjaanku, lakukan itu untukku, untuk suamimu. Tolonglah… aku membutuhkanmu.

Suamimu yang mengemis maaf,

Jang Hyun Seung

Read the rest of this entry

Ahmad Bicara Dunia

Disinilah Ahmad Berbicara Tentang Kehidupannya

Paper of Stories

Pyxis ♦ Declination ♦ Spica ♦ Aurora ♦ Andromeda ♦ Cirnicus ♦ Polaris

Dan-gyokuei's Blog

-No Rain,No Rainbow-

saladbowldetrois

Home of Saladlicious Letters

erykar

with me everything become fascinating

My Turtly Life

... in a World of Raging Storms

Putra Zaman

mengeja rasa, mengejar asa

Ecchan's Chamber

Irrasshaimase!! Welcome to Maiden of Black Rose's Chamber

A Sanctuary

Explore the beauty of Indonesia... Go to places where people don't know your language

A Bit of Crispy Lust

Digital Victim, Craving for World, Powered by Lust in Life, and Spread The Peace Out!

Thought Scratchings...

...The bit your brain can't itch, served in a packet of alternative pig shit.

Words of Thousand Stories

Karena Kita Selalu Punya Cerita

Aquarian Story

Let it find thee a story to remember!

Nona Senja

hanya sebuah catatan tentang aku, kamu, dan rasa yang tak tersampaikan

Nonikhairani

Once You Make a Decision, The universe Conspires To Make It Happen

why so serious?

activate tunnel vision and keep moving

Butterflychaser

My fragile memories in my odyssey toward a place I called home

Love My Life

setiap hal yang disyukuri adalah kebahagiaan

LoeXie

Because I need to know more.... and more...

KoreanIndo

Korean Waves in Indonesia

Words of 'Poetica'

Room to Write, Room to Express Thoughts

iLambertus

Sekumpulan Fiksi Mini

Pithecantropus...

Fatwa Absurdius Puitica Shalalala

Selaksa Kata

Curahan kata yang berpendar di dalam kepala

Exclusive Ndue

Ocehan, Celoteh, Dan Kicauan Ndue

De Reizen

Merekam Perjalanan dalam Tetes Tinta Hitam

krystaljungfanfiction

Tadpole Magnae's Land

Vellonia

Bermimpilah selagi kau bisa

| Coup d'etat |

The color of my gloomy world is black. The color of my heart is black

C'EST LA VIE

Menuliskan kehidupan.

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

lunastory

Belantara Kata yang Bercerita

Ileana

One of Story in Life

Blog Guru Fisika

Rudy Hilkya Hans E. Undjung, S.Pd, M.Pd di Palangka Raya - Kalimantan Tengah - Indonesia

Inspiration of My Words

"You're inspiration of my words..."

Aikyung's Blog

An Unordinary Girl...

Town of Stories

No highway, no skyscraper, just stories

Azleukeys

What a Pleasant Surprise

{W A I J I M A J I}

a world that you've never met

Indonesia Fanfiction Kpop

fly high your imagination

Not My Cup Of Tea

one touch. one imperfect word.

Journal of Sienvisgirl

The unlocked journal

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 784 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: