[Sudut Vegan] Di Balik Harga Segelas Susu

“I relieze that I’m a real vegan when I’m crying over cows in dairy industry than people dying in some drama tv.”Me, Todays

Jadi, iya, aku menangis lagi hari ini. Hahaha. Aku kebanyakan nangis mah belakangan ini, tapi gak papa, air mataku worthed untuk beberapa hal, termasuk air mata yang aku raungkan saat melihat bagaimana industri susu bekerja.

Aku tahu, mungkin aku akan terbaca sinting atau gila di mata kalian, tapi seperti yang aku bilang di posting-anku yang sebelumnya. Ketika aku menjadi seorang vegan, koneksi hatiku pada seluruh makhluk HIDUP di dunia ini meningkat dan terikat. Aku bahkan bukan seorang animal lovers, aku tidak pernah memelihara binatang karena menurutku itu merepotkan, tapi aku bisa menangis dan meraung sambil berkata ‘jangan sakiti mereka’ selama nyaris lima belas menit saat aku menonton video yang menggambarkan bagaimana cara kerja di rumah ‘pembantaian’ hewan.

Wow.

Aku takjub pada diriku sendiri. Aku bahkan tak pernah menangis tiap kali ada film drama yang mengisahkan tokoh utamanya mati dan tersakiti. Jadi, ketika aku menangisi sapi-sapi yang lehernya disobek dengan tubuh digantung terbalik, aku nyaris tidak dapat mempercayai diriku sendiri.

Well, sebelum aku menjadi seorang vegan, aku adalah followers Om @ErikarLebang di Twitter yang sangat kontroversial dengan cuitan kesahatannya dan salah satu tema cuit yang paling terkenal dari Om Erik adalah #KibulanSusu. Dari Om Erik-lah aku mengerti, bahwa sebenarnya susu hewan APA PUN itu tidak baik untuk kesehatan karena memang bukan peruntukannya bagi manusia. Maka dari itu, aku pun berhenti meminum susu hewan apa pun semenjak aku mengenal pola hidup Food Combining.

Namun, ketika aku menjadi seorang vegan, kini aku melihat susu bukan lagi sebuah minuman yang tidak sehat bagi tubuh, melainkan simbol kekejaman.

Jika Om Erik mengangkat topik susu hewan ini dari sisi kesehatan dan ketiadaan manfaatnya bagi tubuh kita. Aku kini akan mengajak kalian melihat lebih luas lagi topik ini dengan sudut pandang yang berbeda secara moral. Karena bagiku sekarang, menjadi seorang vegan bukan lagi tentang menjadi sehat bagi diriku saja, tapi tentang mencintai sesama.

Sebagai pembuka, aku ingin menanyakan sebuah pertanyaan sederhana sebagai bahan permenungan kalian.

“JIKA KALIAN MINUM SUSU DARI IBU SAPI, LALU APA YANG DIMINUM OLEH ANAK SAPI?”

Lanjutkan membaca “[Sudut Vegan] Di Balik Harga Segelas Susu”

[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan

Sudah lama.

Sudah lama sekali aku tidak menulis sambil berlinangan air mata seperti ini. Sekarang pukul 23.35 malam dan aku sungguh tiak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis sambil menulis seperti ini. Mungkin ini terdengar absrud, sinting, juga kekanak-kanakan, tapi aku sungguh-sungguh melakukannya sekarang. Layar laptopku terlihat kabur, aku menulis dengan mata penuh air dan isakan tak berhenti keluar dari bibirku. Aku pun tidak tahu apa dengan menulis ini perasaanku bisa menjadi lebih baik atau tidak, tapi seperti biasa aku hanya ingin menulis perasaanku yang paling jujur.

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, kepada semesta, juga pada Tuhan tentang jalan yang ia berikan di depanku. Aku tahu ada skenario besar yang sedang Tuhan tulis untukku, lebih indah dan megah dari pada tulisan ecek-ecekku sekarang ini. Maka dari itu, aku selalu menerima segala bentuk kesialan, ketidak beruntungan, kesedihan, serta cobaan sebagai sebuah proses pendewasaan diriku, hingga akhirnya aku mampu mengambil keputusan-keputusan bijak dan terbaik serta paling sesuai untukku.

Ketika Tuhan mengambil Papa dari hidupku. Sejak awal aku tahu, ada sebuah pesan yang Ia kirimkan padaku. Pesan yang Ia harapkan dapat aku terima dengan baik karena aku tahu Tuhan begitu menyayangiku. Papa meninggal karena gagal ginjal, ia meninggal saat tubuh ringkihnya tengah terbaring di samping mesin pencuci darah. Usianya baru 47 tahun kala itu dan aku—anak tertuanya—masih duduk di kelas dua sekolah menengah.

 Aku mendapat kabar kematian Papaku di parkiran rumah sakit, saat tidak sengaja aku berpapasan dengan eyang putriku yang tengah membawa barang-barang perbekalan menginap untuk menjaga Papa. Kala itu aku dengan polosnya bertanya, “Papa dipindah ke mana lagi, Yang?” dan Eyangku tertegun, memandangku prihatin, lantas menjawab dengan lirih…

Lanjutkan membaca “[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan”

20 Hal Tentang Dikta

LOL.

Sudah lama sekali rasanya gak dapat tag-tagan beginian. Terakhir dikasih tantangan pas zamannya blog award gitu. Hahaha. Terima kasih ya Fadilla Sukraina atas tantangannya. Sebenarnya kebetulan sekali aku sudah lama tidak mengisi tulisan di blog lantaran sibuk berlaga di dunia perkampusan. Mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuatku lebih mengenali diri sendiri, karena kadang kala, aku pun bisa tersesat saat mencoba memahami diriku sendiri.

***

  1. Your real name?

Benedikta Sekar Arum Setyorini. Panjang ya? Iya, hahaha. Benedikta itu nama baptisku, diambil dari nama Santo Benediktus, artinya berkat atau yang diberkati. Sekar Arum artinya bunga yang mekar dan harum. Sementara Setyorini adalah singkatan nama Papa dan Mamaku. Banyak doa yang dipanjatkan dalam namaku, semoga saja aku bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan menjadi bunga yang mekar dan harum untuk kedua orangtuaku.

Lanjutkan membaca “20 Hal Tentang Dikta”

Pak Damar

Pak Damar termangu. Memandang sepeda motornya yang kini hanyalah seonggok mesin tanpa ban dengan dua bola mata bergerak-gerak tak fokus. Dua detik pikirannya kosong, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ini sudah pukul sepuluh malam, kepala sekolah menugasinya lembur menyusun dokumen sore tadi. Pria yang baru menginjak usia tiga puluhan itu menurut saja meskipun tahu bahwa tugas itu tidak biasanya dan sekarang… ia tak bisa pulang.

Ada apa ini?

Kresek.

Pak Damar menoleh ke kanan dengan cepat, semak-semak berisik diterpa angin. Udara malam yang dingin menusuk tulang sum sum pria itu bagai sengatan lembah, namun satu-satunya hal yang dirasakan Pak Damar hanyalah debaran jantungnya yang memburu.

Beberapa detik berlalu dalam hening. Pak Damar mulai mengumpulkan akal sehatnya dan memutuskan untuk pergi ke warung kopi di depan gang sekolah lalu menunggu sampai pagi. Namun, belum sampai sesenti tubuh jangkung itu bergerak, sebuah tangan menerkam mulut dan hidung pria itu dengan selembar kain beraroma lemon lalu sesat setelahnya…  hanya ada gelap yang menyambut.

BYUR!

“BANGUN!!”

Suara melengking perempuan serta guyuran air panas membangunkan Pak Damar. Tubuhnya yang kini hanya berbalut pakaian dalam terikat di sebuah kursi. Rasa panas membakar tubuhnya, di bawah lampu remang-remang kulitnya memerah seperti kepiting. Namun, belum sempat pria itu memproses apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sebuah pukulan benda tumpul menghantam bagian kanan kepala dan membuat telinganya berdengung.

Pak Damar mengerjap. Bingung, kesakitan. Suara tawa sahut menyahut di sekitarnya; begitu halus dan mengerikan, tawa perempuan.

“Sakit, Pak?” Seseorang mendekati Damar, jemarinya yang halus dengan kuku berkuteks merah menggenggam palu. “Kalau begini, bagaimana?”

DUAK!!

Palu menghantam bahu Pak Damar, pria itu sontak mengerang kesakitan. Ia bahkan terlalu ketakutan untuk berkata-kata.

“Bapak tahu tidak apa yang telah Bapak perbuat pada kami semua?” Suara manis yang lain berbisik di belakang kepala Pak Damar, seiring dengan benda dingin yang menyentuh punggungnya. Bulu roma Pak Damar menegang, ia berharap tebakannya salah tentang benda apa itu.

Syaaaat!

Suara daging disobek menggema di ruangan itu. Banyak tawa kembali tumpang tindih ketika Pak Damar hanya mampu mengerang dengan suara tercokol di kerongkongan. Namun, belum selesai otaknya mencerna rasa sakit itu, pukulan kembali meluncur tepat ke kepalanya. Palu pun tak lagi segan menghantam tubuhnya bertubi-tubi hingga remuk. Sementara ia pun tak lagi mampu menduga sudah berapa banyak kulit punggungnnya terkoyak. Suara tawa yang melengking serta kebahagiaan yang terselip di antaranya mengiringi rasa sakit yang tak bisa ditolerir oleh makhluk hidup itu. Pak Damar tak lagi mengerang, bahkan mencicit kesakitan pun ia tak mampu.

Hingga tiba-tiba saja, semua itu berhenti, meninggalkan tubuh yang bersimbah darah itu dalam keheningan yang mencekam. Sampai akhirnya, aroma bensin menguar di udara.

Pak Damar tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Namun, di sela-sela rasa perih yang ia rasakan ketika cairan bansin disimburkan padanya serta tawa yang makin menjadi. Pak Damar tertegun. Ia menduga-duga siapa perempuan-perempuan ini? Siapa yang tega berbuat seperti ini?

Lalu, ketika api disulut dan di lemparkan ke arahnya; di tengah-tengah kobaran api yang membakar tubuhnya dan menerangi seluruh ruangan. Pak Damar akhirnya mengenali murid-muridnya sendiri dan terperanjat hingga kematian menjemputnya.

Sebenarnya, apa yang telah ia perbuat?

FIN.

A/N:
Dibuat saat tugas-tugas mulai menggila
#CERITAHOROR #Anjay #Psikopatsekali #ayotugasnyadiselesaikan #bunuhsaja #bakarsaja #biarramai

Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi.

Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April.

Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut kampus, ditemani laptop tuaku dan secangkir rindu yang menggebu-gebu padamu. Dulu, rasanya semua terasa tepat. Rindu dan cinta itu datang silih berganti seperti pelangi yang menanti hujan untuk berhenti. Tak pernah ada masalah yang tercipta, meski jarak dua benua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh bagi kebanyakan orang. Namun, aku meyakini, suaramu yang masih menggema di hatiku setiap malam sudah cukup untuk membuktikan bahwa semua baik-baik saja.

Entah, angin muson mana yang mengajarkanmu bahwa pergantian musim menandakan ada hati yang beralih haluan.

Aku tak pernah membayangkan, bahkan hanya sekadar di mimpi, kehilangan kontak denganmu. Media sosial bukan ladang bagi gadis desa sepertiku untuk menuai kabar; aku hanya mengerti bagaimana surel dan video call bekerja. Dan ketika semua sarana penghubungku dan dirimu terputus, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu. Berminggu-minggu aku bertanya-tanya apa yang terjadi denganmu dan hubungan kita yang sepertinya mati suri. Terakhir kali kudengar suaramu, kamu bilang paper dan laporan menghalangi kontak denganku. Aku percaya itu dan terus percaya bahwa itulah satu-satunya alasanmu untuk berhenti menghubungiku, hingga seseorang menunjukkan foto itu padaku dan meleburkan segalanya…

Hah.

Tak pernah kusangka, dunia maya ternyata begitu menakjubkan. Aku menduga-duga, mungkin inilah alasan kenapa aku selalu menjadi mahasiswi paling tertinggal di antara yang lainnya, karena seandainya saja aku mampu membeli smartphone dan membuat akun di media sosial bernama Instagram itu, aku seharusnya sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu kalau kamu telah mencintai perempuan lain.

Jadi, rasanya tak akan sakit.

Aku tak tahu apa aku harus meminta maaf karena tak pernah peka dengan kabar-kabarmu yang semakin jarang itu ataukah kamu yang terlalu jumawa untuk menyuarakan kata selesai. Namun, mengirimimu surel berisikan kata-kata perpisahan serta menyatakan bahwa aku telah mengetahui kenyataan tentang dirimu, barang tentu merupakan keputusan yang tepat untuk menuntaskan drama klasik di antara kita.

Kuakui, tangisku di penghujung malam ketika kenangan menggempur benakku bak air bah yang tak akan surut sampai fajar menjelang. Kamu laki-laki yang begitu manis; tawamu seperti kepak elang yang menggunjang angin di telingaku dan membuyarkan kawanan kupu-kupu di dadaku. Menata hati untuk mencintaimu tentu tidak mudah dengan segala kekurangan yang aku miliki, tapi kata-katamu selalu berhasil meyakinkan berjuta-juta sekenario terburuk yang pernah terlintas di benakku untuk pergi entah kemana. Hingga akhirnya kusadari, bahwa selama ini aku hanya menjadi salah satu momen dari kisah hidupmu yang panjang.

Ah, satu halaman telah selesai, fiksi ini sepertinya akan berakhir teragis. Sungguh, sudah lama aku tidak menulis kisah tak nyata seperti ini, mungkin sejak aku berhenti mencari-cari alasan untuk menulisnya karena kamu tak lagi ada di sana dan memberiku komentar-komentar manis tentang kisahnya. Aku tahu, seluruh fiksi yang kubuat hanya akan berakhir di blog kata-kata yang tak terkenal itu lalu menjadi debu. Namun, memilikimu yang setia membaca meski banyak lubang di antara katanya memberiku kekuatan sendiri—seperti cahaya yang bersinar di ujung jalan yang gelap; bukan komentar manismu yang sesungguhnya aku inginkan, melainkan eksistensimu. Lalu, ketika semua telah berakhir dan tak ada kata-kata lagi yang tertukar di antara kita untuk memperbaiki keadaan, aku tak lagi sanggup menulis kisah-kisah tak nyata itu karena semua terasa hambar.

Sungguh, luka itu masih ada hingga detik ini. Rasanya masih sakit seperti saat terakhir aku mengingatnya. Namun, itu sudah lama sekali, aku bahkan sudah lupa rasanya air mata yang menetes di pipiku ketika wajahmu terlintas di benak. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa aku kembali menulis fiksi. Tentu aku merindukan bahagia yang pernah kita miliki dulu serta janji-janji yang kini tak akan pernah tergenapi; masih ada secangkir rindu yang tersisa untukmu.

Hanya saja, rindu itu tak lagi kusesap pahitnya, karena senja kelabu, hujan yang mengguyur, hati yang patah, serta semestaku yang sebelumnya kugantungkan pada hubungan kita yang rapuh telah diperbaiki oleh orang lain…

Ya, oleh laki-laki yang baru saja tersenyum saat melihatku duduk dan menulis sendirian di sini; yang senyumnya kubalas dengan kekehan kecil karena mendapati dirinya yang kuyup diguyur hujan; yang mendatangiku dengan aroma particor di pakaiannya; yang mengecup dahiku lembut sembari membisikan maaf karena cuaca menahan geraknya; yang akhirnya duduk di hadapanku dan menemaniku menulis di sini. Ya, laki-laki itu, yang kini padanyalah aku menggantungkan seluruh jagad raya hidupku.

Akhirnya, cerita ini berubah manis. Aku kira pahitnya kenangan akan dirmu akan mempengaruhi alur fiksi yang sederhana ini. Namun, kehadirannya membuyarkan segala keresahan yang masih mengganjal di dada akan kita dan segala kenangannya. Mata almonnya yang berbinar saat mengisahkan hari-harinya di laboratorium mengisi ruang pendengaranku—entah apakah ia telah menemukan jenis buah pisang rasa ubi atau temuan ajaib lain yang selalu ia khayalkan sedari masih menjadi buruh tani di ladang bapaknya, aku tak tahu. Namun, kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat perasaan pahit itu hilang dan larut bersama hujan.

Mengenalnya dan mencintainya tak sama seperti saat aku bersamamu. Ia tak menghilangkan rasa khawatir di dadaku, karena ia bahkan tak menciptakan rasa khawatir itu; ia tak mampu menjelajah dunia, karena bahkan untuk berada di kota ini saja ia telah mengorbankan segalanya; ia tak menjanjikanku masa depan yang lebih baik, karena ia bahkan sedang memperjuangkan masa depannya sendiri sekarang; ya, ia tak lebih baik darimu, karena satu-satunya hal terbaik yang ia miliki adalah dirinya sendiri.

Ya, aku tahu, sudah lama sekali aku tidak menulis fiksi, maka kata-kataku kali ini terasa kaku dan mungkin saja hambar. Namun, ada satu hal yang kuyakini pasti, bahwa pada akhirnya…

Bahagia akan menamatkan kisah fiksi ini.

Fin.

[Coretan Dicta] Untuk Musuh-Musuhku: Aku Mengasihmu

Sudah lama aku tidak merasa setergoboh-goboh ini untuk menulis sebuah coretan. Sudah lama aku tidak merasa ingin sekali menulis dan menuangkan segala sesuatunya dalam gerakan tangan ini. Sudah lama aku ingin mengungkapkan apa yang ada dibenakku hingga hari ini hal itu pun tercapai karena desakannya begitu tak tertahankan. Maka, tanpa perlu memperpanjang paragraf pembuka yang membosankan ini, aku ingin mengawali coretan dengan sebuah kalimat sederhana.

“Aku sungguh membenci musuh-musuhku.”

Ada banyak hal yang terjadi di kehidupanku pasca kepindahan ke Yogyakarta serta menjalani dinamika kampus yang begitu melelahkan jiwa dan raga. Ada kesukacitaan yang besar, juga kesedihan yang menyesakkan datang silih berganti. Aku ingin menjelaskan hal itu satu persatu, namun akan sangat panjang-kali lebar-kali tinggi dan semalaman pun tak akan cukup menuntaskan kisah itu. Jadi, aku hanya akan mempersingkatnya dengan sangat-sangat sederhana dan berharap kalian mengerti.

Aku masuk ke dalam dunia yang baru di kampus. Hal yang begitu mempesona namun menyimpan prahara serta intrik yang tidak terelakan di kemudian hari. Untuk bertahan dalam dunia yang gila itu, salah satu caranya adalah menemukan sekutu. Untuk menemukan sekutu, yang harus aku lakukan tentu saja mencari teman yang bisa diajak bekerjasama. Lalu, untuk mencari teman, apa yang harus dilakukan? Tentu saja berusaha untuk fit in dengan memasang topeng ke mana pun aku berada. Aku harus menjadi seperti teman-temanku, agar mereka mau berteman denganku. Maka hal itulah yang aku lakukan, aku sangat ingin memiliki teman hingga aku berusaha untuk selalu terlihat menyenangkan di depan mereka.

Selama beberapa waktu pergumulan dengan hatiku sendiri—mengelak kebenaran hati serta menutupi jati diriku, akhirnya aku menemukan teman-teman itu. Teman-teman yang bersekutu dengan mengatasnamakan diri sebagai perkumpulan ‘pembenci orang yang sama’. Apa yang kami lakukan? Membicarakan dan mendiskusikan tingkah laku buruk orang lain serta memberikan stampel buruk padanya dan membuat perasaan kami nyaman karena menganggap kami lebih baik dari orang yang kami benci. Di mana kami melakukannya? Di tengah-tengah orang banyak agar orang lain ikut menyimak kebencian kami. Output apa yang aku dapatkan dari diskusi itu? sebuah ikatan yang bagiku pribadi sangatlah busuk, namun mau tidak mau harus kupertahankan bila aku tak ingin berada di dasar rantai makanan.

Lanjutkan membaca “[Coretan Dicta] Untuk Musuh-Musuhku: Aku Mengasihmu”

#10 To My Future Husband: Busy

Hari ini hari pertama kuliah.

Itu tandanya akan ada banyak kesibukan yang menantiku selama berhari-hari ke depan dan akhirnya memaksaku untuk menulis surat menggunakan jempol, seperti sekarang. Hahaha.

Untung saja hari ini ada jeda di siang hari, sehingga aku masih sempat mengetik surat ini untukmu sembari menanti jam kuliah berikutnya. Tapi, meskipun begitu, mulai hari ini surat-suratku mungkin tak akan sepanjang surat-surat sebelumnya. Mungkin aku hanya akan menceritakan padamu tentang beberapa hal; mungkin aku juga hanya akan menyapamu dengan pesan-pesan singkat; tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan berhenti memikirkanmu.

Aku tahu, dikemudian hari akan banyak kesibukan yang memisahkan kita. Aku dengan dunia serta mimpi-mimpiku; kamu dengan kesenangan juga kegiatanmu. Waktu untuk bersama pun semakin menipis, kata-kata yang tertukar serta mata yang bersetatap pun semakin berkurang. Mugkin saja aku tak akan bertemu denganmu seharian; mungkin saja aku lupa memberimu kabar; kadang-kadang handphone-mu pun akan mati dan kamu langsung jatuh tertidur setibanya di rumah.

Maka, dengan segala kesibukan itu, serta alasan-alasan yang mengikutinya. Aku yakin akan ada pertengkaran yang terjadi. Rasa ragu serta takut kehilangan akan menggerogoti hati kita; kepercayaan hanya akan menjadi hal kesekian dan rasa marah pun merengsek masuk ke dalam perasaan. Hubungan kita akan menjadi keruh dan hanya menunggu waktu sampai kata-kata perpisahan terucap dari bibir kita.

Tapi, itu tidak akan terjadi. Sungguh.

Aku tak bisa menjanjikan kalau hubungan kita akan berjalan baik tanpa tersandung krikil atau batu. Namun, aku berjanji akan terus memikirkanmu, sesibuk apa pun aku nanti. Aku mungkin tak akan sempat mengabarimu, aku mungkin akan lupa dengan janji-janji kita, tapi kehilanganmu setelah aku berhasil memilikimu? Itu mustahil.

Dan aku harap, kamu juga merasakan. hal yang sama. Aku akan mempercayaimu; mempercayai kesibukanmu, jika memang kamu memerlukan waktu untuk menikmati hobi dan segala kegiatanmu. Karena sesibuk apa pun kamu, aku percaya, kamu hanya akan memikirkanku.

Yeah, seperti yang aku katakan di surat sebelumnya, aku ingin kita membangun hubungan ini atas dasar percaya dan setia. Jadi, tak masalah sesibuk apa pun dirimu, Tuan, aku akan mempercayaimu juga setia padamu.

Dari gadis sok sibuk
Benedikta Sekar
Yogyakarta, 9 Februari 2016

#9 To My Future Husband: Missing

I Miss You.

Ah, aku rindu menulis surat untukmu lagi. Apa jeda dua hari kemarin membuatmu merasakan sesuatu yang aneh? Kuharap jawabannya ya, karena aku merasakan hal yang sama.

Tak pernah kusangka, jeda mampu mengajariku sesuatu. Sesuatu yang begitu sederhana namun bermakna, sesuatu yang hanya bisa kamu rasakan ketika kamu memiliki hal-hal berharga di dunia ini. Sesuatu itu adalah…

Kehilangan.

Kita tidak akan pernah merasa benar-benar memiliki sesuatu sebelum kita kehilangannya. Hal itu yang aku rasakan saat berhenti menulis surat untukmu selama dua hari ke belakang. Kamu hanyalah sosok khayalanku, sejenak, surat-suratku padamu selama berhari-hari kemarin terbaca seperti surat-surat yang ditulis oleh orang gila. Namun, aku bersungguh-sungguh.

Tak satu pun surat yang aku tulis untukmu berisi kebohongan dan perasaan palsu. Setiap kata yang kutulis untukmu berasal dari hatiku, penuh niat dan hasrat yang menggebu-gebu untukmu. Maka dari itu, bahkan hanya dengan memberi jeda dua hari untukmu. Aku sudah merasa kehilangan.

Aku merasa kehilangan bahkan sebelum aku memilikimu.

Ini menggelikan, tapi jika kamu sudah terbiasa untuk melakukan sesuatu dan tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti melakukannya sejenak, kamu pasti merasa kehilangan. Sama seperti mereka yang telah terbiasa mencintai seseorang dan kemudian status itu berubah menjadi mantan. Sebenci apa pun perasaanmu pada orang yang dulu sempat mengisi hatimu, kamu pasti merasa ada sesuatu yang ganjil dan hal itu bernama kehilangan.

Aku tidak tahu seberapa besar rasa kehilanganku terhadapmu kelak ketika aku memutuskan untuk berhenti mengirimimu surat karena event #30HariMenulisSuratCinta ini beakhir, tapi yang jelas, jeda dua hari kemarin telah menunjukkan padaku sesuatu di luar nalar manusia.

Semalam—entah karena aku terlalu lelah atau terlalu merindukanmu—aku bermimpi tentang seorang laki-laki. Ini bukan pertama kalinya aku memimpikan laki-laki di dalam tidurku. Aku bahkan tak pernah mengisahkan perihal mimpi-mimpi itu di blog sampai akhirnya kutulis surat ini. Beberapa di antara laki-laki yang pernah muncul di mimpiku adalah laki-laki yang pernah kutemui, seperti teman sekolah dasar atau menengahku dulu, namun banyak juga wajah-wajah asing atau bahkan wajah yang tak bisa kukenali.

Anehnya, semua laki-laki yang muncul di mimpiku melakukan satu hal yang sama: tertarik padaku dalam konotasi romansa dan beberapa di antara mereka bahkan menjadi kekasihku. Ketika aku memimpikan mereka, aku berada di dalam mimpi itu, mengambil peran di sana dan bukan hanya sekadar melihat dan menjadi penonton.

Yeah, it sounds crazy, right? But it’s true!

Aku tak pernah mengerti maksud dari mimpi-mimpi itu, meski kadang aku menanggapinya dengan serius, aku selalu berakhir pada jawaban ‘ah, itu hanya bunga tidur’ atau ‘ah, ini karena aku terlalu banyak nonton drama Korea’. Namun, tiap kali aku terjaga, mimpi itu masih tersisa di ingatan dan dadaku berdebar begitu kencang lantas aku merasa kehilangan.

Aku tidak ingat kapan mimpi-mimpi itu mulai datang ke dalam tidurku, tapi yang jelas, rangkaian mimpi itu mulai menggangguku saat kamu muncul di mimpiku.

Ya, kamu.

The Black Hair Guy.

Aku bahkan menulis cerpen berdasarkan mimpi itu, kamu bisa membacanya di link yang aku sertakan di atas. Mimpi yang kuceritakan di cerpen itu adalah mimpi yang benar-benar aku alami sendiri dan itu mimpi tentangmu. Setelah aku memimpikan mimpi itu, mimpi-mimpi lain datang namun tak ada satu pun laki-laki yang muncul di mimpiku tersebut adalah kamu. Termasuk, mimpi yang aku alami semalam.

Kembali ke mimpi semalam, aku memimpikan seorang laki-laki. Ia laki-laki yang wajahnya tidak aku kenali, namun anehnya, aku dapat melihat wajahnya dengan cukup jelas—kulitnya sawo matang, berwajah Jawa, susunan giginya rapi, dan senyumnya begitu manis. Ia menyukaiku, begitu juga aku. Di dalam mimpiku, kami bertingkah selayaknya kekasih; saling merangkul, berpelukan, dan tertawa bersama. Namun, kami bukan kekasih dan di dalam mimpi itu juga aku memiliki kesadaran… He isn’t you, he isn’t the one. Lantas, mimpi itu pun berakhir saat ada orang lain yang muncul di mimpi itu bertanya padaku apakah laki-laki itu pacarku, tentu saja aku tak bisa menjawab dan akhirnya aku terbangun.

Well, aku tidak ingin menceritakan detil mimpi itu meskipun aku masih mengingatnya karena akan memakan waktu yang sangat membosankan. Jadi, singkat kata, kejadian ganjil ini kembali mengingatkanku bahwa memilikimu dalam khayalan bukan hanya sepanjang surat-surat gila ini atau pun perasaan kopong belaka. Aku merasa sudah mengenalmu bahkan sebelum aku bertemu denganmu—ya, kamu terasa dekat, namun masih jauh dalam jangkauanku.

Kamu bukan tokoh yang aku ciptakan hanya untuk mengikuti event ini, sejarah tentangmu di hidupku bahkan lebih lama dari itu. Hanya saja, dengan dorongan event ini, aku baru berani berkomunikasi langsung denganmu. Yeah, mungkin saja kamu hanyalah manifestasi dari khayalan serta harapan, terserahlah mereka menganggapku gila atau apa, tapi ada satu hal yang begitu nyata…

Rasa kehilangan ini.

Tiap kali aku menulis surat untukmu, rasanya aku berada begitu dekat denganmu, namun saat aku berhenti memikirkanmu ada bagian dari hatiku yang hilang. Aku tidak tahu seberapa lama jeda yang aku perlukan untuk bertemu denganmu dan menentang perasaan kehilangan yang menyakitkan ini, namun aku hanya ingin kamu tahu satu hal…

Ketika aku bertemu denganmu, aku akan mencintaimu dengan sungguh-sungguh, karena aku sudah menahan perasaan ini begitu lama.

Dari gadis yang merasa kehilangan

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 8 Februari 2016

#8 To Mr. Rudi Valinka: Hope

Halo, Om Rudi Valinka

Selamat sore di harimu yang panjang. Mungkin Om Rudi tidak mengenali saya, karena saya hanya satu dari ribuan pengikut Om Rudi di Twitter—yang hanya sesekali memention Om Rudi jika memang ingin. Namun, ketahuilah Om, saya juga satu di antara banyak orang yang selalu mendoakan keselamatan Om Rudi.

Om, masih beranikah Om melawan para iblis bertubuh manusia di negeri ini?

Ada ragu di hati saya saat menuliskan pertanyaan itu, kalau-kalau Om akan menjawab tidak dan menghilang lantaran tak kuasa menahan tekanan. Namun, menilik bagaimana perjuangan Om Rudi selama ini, bagaimana Om jatuh bangun membela orang-orang baik di Bumi Pertiwi ini sampai titik darah penghabisan. Saya pun percaya bahwa Om pasti menjawab ‘YA’.

Ya, saya berani.

Sesungguhnya, maksud saya menulis surat ini untuk Om, bukan hanya karena saya kurang kerjaan atau apa. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam karena telah menjadi salah satu orang paling berpengaruh di jagad media sosial.

Om Rudi Valinka mungkin bukan seorang selebtwit yang kerjanya membagikan kata-kata indah nan rupawan bagi followers-nya; Om justru lebih senang membongkar fakta-fakta kelam Indonesia yang banyak orang abaikan dan berbagi ilmu agar generasi muda sekarang lebih bijak menghadapi permasalahan di negeri ini.

Om memang bukan selebritis di Twitter, tapi bagi saya, Om lebih tenar dari sekadar selebritis.

Om Rudi adalah idola saya.

Sebelum saya mengenal Om Rudi, saya begitu buta dengan politik dan modus-modus kejahatan di negeri ini. Meskipun saya dilahirkan di keluarga yang begitu melek politik—dulu ibu saya seorang politisi; pernah menjabat anggota DPRD di periode pertama SBY. Namun, hal itu justru membutakan saya yang pada akhirnya hanya berpendapat bahwa menjadi anggota DPRD dan politisi hanyalah tentang pekerjaan dan uang.

Saya mengenali dunia politik dari sisi keluarga yang menikmati keuntungannya, maka dari itu, tak sedikitpun hati ini merasa peduli pada fakta bahwa politisi yang duduk di kursi keren, seperti yang ibu saya duduki dulu, adalah orang-orang yang menentukan hajat hidup orang banyak. Hingga akhirnya, saya pun menjadi saksi ketika ibu saya dicurangi saat beliau mencoba keberuntungannya menjadi anggota DPRD untuk kedua kalinya. Kala itu umur saya masih tiga belas tahun, saya hanya tahu ibu saya menangis karena kerugian besar yang telah ia terima akibat tindakan keji dari saingan politiknya di partai yang sama.

Sejak saat itu, saya begitu membenci politik dan negara kita. Saya rasa tak ada harapan lagi bagi negeri ini untuk maju dan menjadi lebih baik. Cahaya harapan itu tidak ada, padam di hati saya. Saya bahkan bercita-cita untuk pergi dan bekerja di luar negeri dari pada harus tinggal di Indonesia hanya untuk menyaksikan kecurangan yang dilakukan oleh orang-orang serakah.

Sampai saat itu tiba, tepat pada tahun 2012, sosok itu muncul—Joko Widodo. Saya tidak mengenal pria itu, saya tidak peduli padanya, namun ketika saya mencoba mencari-cari berita tentangnya di Twitter pada tahun itu, saya bertemu dengan Om Rudi. Om Rudi begitu mati-matian membela sosok ini, semua cuitan Om Rudi begitu keras dan yakin—konsisten mempercayai pemimpin itu. Saya mencoba menjadi apatis dan bersikap tidak peduli, tapi saya tidak bisa berhenti membaca semua pembahasan yang Om Rudi sampaikan karena begitu terkesima dengan fakta-fakta yang Om Rudi ungkapkan.

Puncaknya adalah dua tahun yang lalu, saat sosok itu naik, dan mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di negeri ini. Saya tidak tahu bagaimana cara Om Rudi memperngaruhi followers Om, namun saya bahkan lebih mempercayai cuitan Om Rudi ketimbang berita-berita di televisi yang sarat akan nuansa permainan politik. Hingga akhirnya, pemimpin itu kembali memenangkan pertarungan, dan kini memimpin negeri ini.

Saat itu, saya mengira tuntas sudah perjuangan Om Rudi, orang baiklah yang menang. Namun, hahaha, ternyata kejahatan akan selalu mengikuti kebaikan seperti bayangan yang selalu ada di belakang terang. Perjuangan belum selesai, pemerintahan ini penuh dengan tekanan bahkan dari partai politik pemenang pemilu, dan Om Rudi kembali beraksi…

Hehe.

Tidak memerlukan waktu yang lama untuk saya mempercayai Om Rudi, pikiran kritis pun tak terlintas, karena Om Rudi memberikan fakta bukan sekadar opini. Sampai detik ini saya tidak pernah menyangka, kekuatan dari kata-kata bisa sebegitu hebatnya, apalagi jika digunakan untuk kebajikan seperti yang Om Rudi lakukan.

Ah, luar biasa… saya sudah kehabisan kata-kata pujian untuk diberikan pada Om Rudi, padahal surat ini seharusnya merupakan surat cinta. Namun, saya hanya bisa mengungkapkan kekaguman dan rasa syukur saya akan kebaranian Om Rudi melawan kejahatan di negeri ini. Hanya doa kepada Tuhan yang maha esa saja yang mampu saya berikan untuk Om Rudi, agar selalu sehat dan jauh dari segala mara bahaya.

Akhir kata, terima kasih telah menjadi inspirasi bagi anak muda zaman sekarang, saya yakin tidak hanya saya yang merasakan hal ini, namun banyak lagi orang-orang muda di luar sana yang pada akhirnya tergerak untuk memberikan sesuatu kepada negeri ini karena kata-kata Om Rudi. Semoga Tuhan menciptakan lebih banyak orang seperti Om Rudi bagi negeri ini (dan salah satunya bisa menjadi pacar saya, hahaha).

Dari pengagummu

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 7 Februari 2016

Note:

FYI, Om, meski ibu saya tidak lagi bermain politik, ia masih aktif di partai politik sebagai staf kusus. Sekali waktu saya pernah bertanya pada ibu, ‘Bu, kenapa ibu masih senang berurusan di dunia politik?’ lalu, ibu saya menjawab dengan santai, ‘Karena ibu ingin menjadi orang baik di antara orang-orang jahat.’ Sesederhana itu, saya pun sadar, orang baik di negeri ini masih ada dan harapan itu nyata.

#7 To Papa in Heaven: Soulmate

Hai, Pa…

Dikta kangen sama Papa.

Sudah lama Dikta gak tulis surat untuk Papa atau bahkan sekadar mengambil waktu hening dan berdoa untukmu—hati gadis kecilmu ini masih pilu, Pa, memikirkanmu saja susah seperti membuka bendungan di mata. Mulanya, tahun ini, Dikta gak berencana untuk menulis surat untuk Papa. Ada rasa takut kalau-kalau Dikta menangis kala mengingat Papa dan segala kenangan yang pernah kita lalui bersama.

Tapi, Dikta harus kuat kan, Pa?

Dikta sudah 20 tahun; Dikta pasti lebih kuat dibandingkan tiga tahun yang lalu saat Papa pulang ke rumah Bapa. Jadi, Dikta gak akan nangis saat menulis surat ini. Ya, tidak akan. Karena Dikta tak akan membicarakan hal-hal sedih, tentang kenangan atau memori yang telah lalu, Dikta ingin menceritakan masa depan Dikta.

Pa, if one day I found my soulmate, would you give him your bless?

Untuk sekarang, Dikta masih belum bertemu dengan laki-laki itu, tapi nanti jika kami dipertemukan oleh kuasa Tuhan. Dikta hanya ingin Papa tahu; Papa tetaplah laki-laki terbaik dalam hidup Dikta. Papa mungkin tak akan pernah mendapatkan ‘the rest of my life’ milik Dikta, tapi Papa selalu menjadi ‘my first in everything’.

Pa, you are my first love, my first kiss, my first man, my first hero, and… my first home. Papa akan selalu menjadi yang pertama untuk Dikta—tempat Dikta memulai hal-hal baru di hidup ini. Tujuh belas tahun mungkin masa yang singkat bagi kita berdua untuk saling membahagiakan, tapi itu cukup bagi Dikta merasa begitu diberkati menjadi anak Papa.

Pa, maaf, mata Dikta berkaca-kaca, padahal Dikta sudah berjanji untuk tidak menangis saat menulis surat ini. Hanya saja, mimpi terbesar dalam hidup Dikta tidak akan terwujud tanpa ada Papa di sini dan hal itu membuat Dikta kembali pilu.

Dikta ingin melangkah menuju altar bersama Papa di hari besar dalam hidup Dikta.

Ya, Pa, the wedding.

Itu mimpi Dikta; mimpi yang pada akhirnya harus pupus di tangan penyakit yang mengalahkan Papa. Tapi, Dikta tak pernah sekalipun menyalahkan Tuhan karena memisahkan Dikta dengan Papa. Dikta tahu, semua yang terjadi di hidup Dikta pasti ada alasannya dan kehilangan Papa pun menjadi salah satunya. Meski sekarang Dikta baru belajar untuk memahami itu, Dikta tahu suatu hari nanti Dikta akan mengerti seluruhnya alasan di balik semua ini.

Pa, Dikta juga menyadari, meskipun Dikta gak bisa lihat Papa sekarang, Dikta tahu Papa selalu ada di samping Dikta. Bersama malaikat pelindung Dikta, Papa selalu menjaga Dikta dari segala mara bahaya. Maka dari itu, Pa, bantu Dikta menemukan belahan jiwa Dikta. Begitu banyak laki-laki di dunia ini, Dikta tak tahu yang mana di antara mereka adalah laki-laki terbaik yang akan menjaga Dikta sama seperti Papa menjaga Dikta. Jangan biarkan Dikta memilih laki-laki yang salah, Dikta pasti akan terluka dalam proses mencari dan menemukan ini, tapi Dikta percaya Papa tak akan membiarkan Dikta patah hati berkali-kali.

Selain itu, Dikta juga akan berdoa dan terus bertanya kepada Tuhan; Dikta pun akan mendengarkan pertanda-pertanda dan bahasa dunia karena hanya melalui itu Dikta dapat berkomunikasi dengan Papa. Dikta percaya, suatu hari nanti Dikta akan menemukan laki-laki itu karena semesta akan bersatu untuk menolong Dikta menemukannya.

Dan Papa adalah bagian dari semesta itu.

🙂

Sebagai penutup, Pa, Dikta hanya ingin membertahu satu hal pada Papa. Hal yang seharusnya Dikta ungkapkan lebih sering pada Papa ketika Dikta punya kesempatan itu…

Pa, Dikta mencintai Papa.

Dari gadis kecilmu,

Benedikta Sekar

Yogyakarta, 6 Februari 2016