Kampus Fiksi #19 Bag. 3 : Menulis itu Perkara Isi dan Bungkus

book-writing-ideas

Okay, aku menulis coretan ini di perpustakaan lantaran dosen pengampu mata kuliah Menyimak I yang kuulang semester ini tidak hadir (again!). For a God sake, deh ya! Kuliah udah jalan dua minggu dan ini dosen gak datang-datang juga. Bukannya apa sih ya, siapa yang gak seneng ada kuliah yang kosong sih? Tapi satu, aku udah bela-belaan bangun pagi dan datang ke kampus dengan gagah perkasa untuk menuntut ilmu, tapi akhirnya itu sia sia! Dua, puhlez… jangan sampai semangat belajarku semester ini luntur cuman gara-gara mata kuliah yang satu ini ya!

Huft.

Baiklah, aku mulai saja ya coretan ini, daripada makin stres mikirin kuliah lagi. Jadi, Gaes… setelah kemarin aku kasih tahu kalian pengantar dari Pak Edi, hari ini aku bakal kasih tahu kalian tentang Teknik Penulisan yang dipersentasikan oleh Reza Nufa Oppa, eak! Beliau ini salah satu editor, pemegang akun media sosial Kampus Fiksi, juga penulis kritis. Kalau gak lagi micin sebenarnya Oppa ini baik dan bakal banyak ilmu yang bakal kalian dapat, tapi sayang, dia kebanyakan micin. Mungkin micin itu kayak heroinnya Sherlock Holmes buat Oppa yang satu ini.

Anyway, sesi teknik penulisan ini dibuka dengan dasar dari segala dasar menulis, yaitu mengingatkan kembali kepada kita bahwa hakekatnya menulis itu adalah menyampaikan ide atau ideologi si penulis.

Khususnya untuk penulisan fiksi yang berdasarkan pada hal yang ‘tidak nyata’ atau karangan si penulis. Ide ini tentu saja harus dikemas sedemikan rupa agar pembaca mampu memahami isi ide yang ingin disampaikan. Ibaratnya ide adalah isi, maka teknik menulis  adalah bungkusnya—wadah, kata Mas Reza. Maka dari itu, aku akan menjelaskan pada kalian dua hal penting di sini, yaitu perkara ide dan teknik menulis.

Pertama, ide. Sesungguhnya aku berencana untuk membuat satu coretan khusus yang membahas tentang ide ini. Dari awal sampai akhir. Jadi sekarang aku hanya akan kasih kalian pengantar sedikit-sedikit saja ya. Untuk lebih jelasnya akan aku sampaikan di bagian empat yang akan kutulis pas lagi kesambet atau jam kosong kayak gini. LOL.

Perkara penulis pemula yang kadang mengganggu adalah kehabisan ide lalu akhirnya mengklaim bahwa sedang writer’s block. Hal ini akan berujung pada kemalasan untuk menulis dan produktivitas yang terhenti. Ah, yes… I know your feeling. Aku juga mengalaminya setahun belakangan ini, makanya blog ini seperti kuburan.

Ada tiga hal yang harus kalian ketahui tentang ide.

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #19 Bag. 3 : Menulis itu Perkara Isi dan Bungkus”

The Meeting

lomba

Lisa Martinez tidak tahu apa stocking oranye dan one peace t-shirt bercorak garis-garis vertikal merupakan padanan yang tepat untuk sebuah pesta vintage. Akan tetapi, itu yang dikatakan sebuah majalah fashion padanya bertahun-tahun yang lalu, maka ia menurut saja.

Sembari menunggu taksi melintas, wanita itu menatap etalase toko roti di belakangnya sejenak. Baiklah, setidaknya aku tampak baik-baik saja, bisik Lisa dalam hati sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangan pada jalanan ramai kota Manhattan. Taksi melintas tepat setelah ia berbalik dan wanita itu sontak mengangkat tangan untuk menarik taksi itu mendekat.

Downtown,” kata Lisa, seraya menghempaskan tubuh di jok belakang.

Taksi pun bergerak dan dalam sekejap saja Lisa jatuh dalam lamunan sembari menatap hampa hutan beton yang mengelilinginya. Otaknya memutar kembali kenangan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Kala itu umurnya baru dua puluh satu tahun. Berangkat dari Texas menuju New York hanya untuk membuktikan pada keluarganya bahwa ia mampu menaklukan Broadway.

Naif. Seharusnya Lisa tahu Broadway bukan tempat yang ramah bagi gadis kampung sepertinya. Lisa datang dengan kepolosan yang dibutakan imajinasi. Ia menggunakan seluruh uangnya untuk mempercantik diri, membuat CV, lantas menyertakan foto dan rekaman suaranya untuk dijajakann pada setiap kesempatan—berharap beberapa sutradara meliriknya.

Satu bulan pertama semangat juangnya masih berkobar. Namun, kesempatan tak kunjung datang hingga bulan ketiga terlewati dan tabungannya mulai menipis. Lisa terpaksa bekerja di sebuah kedai teh tradisional yang berada tak jauh dari flat murahnya di Chinatown sembari terus berharap handphone-nya berdering dan seseorang mengajaknya casting.

Enam bulan berlalu tanpa ada harapan dan perkembangan berarti. Lisa mulai menyadari kebodohannya, namun ia terlalu malu untuk pulang dan mengakui kesalahan. Maka, ia bertahan. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa harapan dan mimpinya yang masih tertinggal, lantas menunggu sedikit lebih lama lagi.

Maka, tepat pada hari natal pertamanya di Manhattan, handphone Lisa berdering. Nomor tak dikenali. Wanita itu pun mengangkatnya secepat kilat. Secercah cahaya menyusup hatinya tatkala suara di ujung sana memintanya untuk mengikuti casting sebuah peran kecil sebagai pelacur.

Oh, seseorang menginginkannya!

Lanjutkan membaca “The Meeting”

Kampus Fiksi #19 Bag. 2 : Sadarilah Kalau Tulisanmu Itu Busuk!

 

busuk

Hari pertama kuliah di Kampus Fiksi dibuka dengan pengantar dari Pak Edi, selaku Bapak dari anak-anak overdosis micin (elah, micin lagi! Micin lagi!). Kata pengantar yang beliau sampaikan secara garis besar menggambarkan sebuah kata sederhana yang biasanya dilupakan oleh penulis muda kebanyakan.

Proses.

Proses yang menghantarkan seorang manusia biasa menjadi super saiyan! Ciaaat! Pipipipipipi!

Okay, otakku lagi konslet. Abaikan kalimat penuh kemicinan di atas. So, maksud dari proses di sini apa? Itu juga yang sempat aku pertanyakan dalam permenunganku sepanjang Pak Edi berbicara. Hingga akhirnya, setelah aku mencatat beberapa kalimat yang menurutku menarik dan merenunginya, akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan bahwa menulis merupakan pembelajaran tanpa akhir.

Mengapa?

Jika kalian bertanya seperti itu, aku hanya bisa menjawab seperti ini:

“Akan selalu ada penulis yang lebih keren dari pada kamu, Nak.”

Ketika kamu merasa tulisanmu sudah cukup keren dan membanggakan, kamu akan menemukan tulisan lain yang lebih keren dari pada tulisanmu. Begitu terus sampai lebaran bekicot. Namun, itu bukan sesuatu yang harus kamu sedihkan. Justru ketika kamu berada di titik kesadaran itulah maka jiwamu memberontak dan memaksa untuk membuat karya yang lebih keren lagi.

Nah, itulah proses.

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #19 Bag. 2 : Sadarilah Kalau Tulisanmu Itu Busuk!”

Kampus Fiksi #19 Bag. 1 : Ke-micin-an yang Hakiki

 

img-20170129-wa0011
KF-19, minus satu orang, Mbak Yuan

Jadi, setelah menunggu kurang lebih dua tahun pasca diterimanya aku di salah satu angkatan Kampus Fiksi. Akhirnya minggu ini, pada tanggal 27 – 29 Januari 2017, aku pun menggenapi kewajiban untuk menimba ilmu di Kampus Fiksi bersama teman-teman di angkatan ke-19. Ya, benar sekali, Saudara, baru beberapa jam yang lalu aku tiba di rumah dan sekarang langsung menulis coretan ini mumpung rasa hangat-hangat tai kucingnya belum hilang. Hahaha.

 Aku mengenal Penerbit Diva Press pada tahun 2014 melalui media sosial Twitter. Bertepatan saat aku mengenal penerbit ini, Kampus Fiksi yang merupakan kampus yang didirikan oleh CEO Diva Press yaitu Bapak Edi Akhiles, membuka seleksi penerimaan mahasiswa untuk angkatan-angkatan baru tahun 2014 – 2017. Aku yang saat itu sedang gila-gilanya menulis serta mencoba mengikuti beragam kesempatanyang ada akhirnya pun mengikuti seleksi lalu dinyatakan sebagai salah satu mahasiswa yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan Kampus Fiksi yang diadakan setiap 2 – 3 bulan sekali sesuai angkatannya.

Kampus Fiksi dibentuk dengan tujuan untuk memberikan wadah bagi para penulis-penulis pemula yang menginginkan kesempatan belajar lebih intensif tentang dunia kepenulisan. Di mulai dari teknik-teknik menulis sampai dengan industri buku Indonesia yang terus berkembang setiap waktu. Mendengar hal ini, kalian sebagai penulis pemula yang kebetulan membaca coretan ini pasti langsung mupeng ya ‘kan? Satu, kalian pasti merasa Kampus Fiksi itu keren karena bisa langsung diberi arahan dan ilmu dari orang-orang di penerbit mayor seperti Diva Press. Dua, ya memang penulis itu keren. Hahahaha, itu kata Pak Edi.

Namun, ketahuilah, Kisanak.

Lanjutkan membaca “Kampus Fiksi #19 Bag. 1 : Ke-micin-an yang Hakiki”

[Sudut Vegan] Di Balik Harga Segelas Susu

“I relieze that I’m a real vegan when I’m crying over cows in dairy industry than people dying in some drama tv.”Me, Todays

Jadi, iya, aku menangis lagi hari ini. Hahaha. Aku kebanyakan nangis mah belakangan ini, tapi gak papa, air mataku worthed untuk beberapa hal, termasuk air mata yang aku raungkan saat melihat bagaimana industri susu bekerja.

Aku tahu, mungkin aku akan terbaca sinting atau gila di mata kalian, tapi seperti yang aku bilang di posting-anku yang sebelumnya. Ketika aku menjadi seorang vegan, koneksi hatiku pada seluruh makhluk HIDUP di dunia ini meningkat dan terikat. Aku bahkan bukan seorang animal lovers, aku tidak pernah memelihara binatang karena menurutku itu merepotkan, tapi aku bisa menangis dan meraung sambil berkata ‘jangan sakiti mereka’ selama nyaris lima belas menit saat aku menonton video yang menggambarkan bagaimana cara kerja di rumah ‘pembantaian’ hewan.

Wow.

Aku takjub pada diriku sendiri. Aku bahkan tak pernah menangis tiap kali ada film drama yang mengisahkan tokoh utamanya mati dan tersakiti. Jadi, ketika aku menangisi sapi-sapi yang lehernya disobek dengan tubuh digantung terbalik, aku nyaris tidak dapat mempercayai diriku sendiri.

Well, sebelum aku menjadi seorang vegan, aku adalah followers Om @ErikarLebang di Twitter yang sangat kontroversial dengan cuitan kesahatannya dan salah satu tema cuit yang paling terkenal dari Om Erik adalah #KibulanSusu. Dari Om Erik-lah aku mengerti, bahwa sebenarnya susu hewan APA PUN itu tidak baik untuk kesehatan karena memang bukan peruntukannya bagi manusia. Maka dari itu, aku pun berhenti meminum susu hewan apa pun semenjak aku mengenal pola hidup Food Combining.

Namun, ketika aku menjadi seorang vegan, kini aku melihat susu bukan lagi sebuah minuman yang tidak sehat bagi tubuh, melainkan simbol kekejaman.

Jika Om Erik mengangkat topik susu hewan ini dari sisi kesehatan dan ketiadaan manfaatnya bagi tubuh kita. Aku kini akan mengajak kalian melihat lebih luas lagi topik ini dengan sudut pandang yang berbeda secara moral. Karena bagiku sekarang, menjadi seorang vegan bukan lagi tentang menjadi sehat bagi diriku saja, tapi tentang mencintai sesama.

Sebagai pembuka, aku ingin menanyakan sebuah pertanyaan sederhana sebagai bahan permenungan kalian.

“JIKA KALIAN MINUM SUSU DARI IBU SAPI, LALU APA YANG DIMINUM OLEH ANAK SAPI?”

Lanjutkan membaca “[Sudut Vegan] Di Balik Harga Segelas Susu”

[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan

Sudah lama.

Sudah lama sekali aku tidak menulis sambil berlinangan air mata seperti ini. Sekarang pukul 23.35 malam dan aku sungguh tiak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis sambil menulis seperti ini. Mungkin ini terdengar absrud, sinting, juga kekanak-kanakan, tapi aku sungguh-sungguh melakukannya sekarang. Layar laptopku terlihat kabur, aku menulis dengan mata penuh air dan isakan tak berhenti keluar dari bibirku. Aku pun tidak tahu apa dengan menulis ini perasaanku bisa menjadi lebih baik atau tidak, tapi seperti biasa aku hanya ingin menulis perasaanku yang paling jujur.

Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, kepada semesta, juga pada Tuhan tentang jalan yang ia berikan di depanku. Aku tahu ada skenario besar yang sedang Tuhan tulis untukku, lebih indah dan megah dari pada tulisan ecek-ecekku sekarang ini. Maka dari itu, aku selalu menerima segala bentuk kesialan, ketidak beruntungan, kesedihan, serta cobaan sebagai sebuah proses pendewasaan diriku, hingga akhirnya aku mampu mengambil keputusan-keputusan bijak dan terbaik serta paling sesuai untukku.

Ketika Tuhan mengambil Papa dari hidupku. Sejak awal aku tahu, ada sebuah pesan yang Ia kirimkan padaku. Pesan yang Ia harapkan dapat aku terima dengan baik karena aku tahu Tuhan begitu menyayangiku. Papa meninggal karena gagal ginjal, ia meninggal saat tubuh ringkihnya tengah terbaring di samping mesin pencuci darah. Usianya baru 47 tahun kala itu dan aku—anak tertuanya—masih duduk di kelas dua sekolah menengah.

 Aku mendapat kabar kematian Papaku di parkiran rumah sakit, saat tidak sengaja aku berpapasan dengan eyang putriku yang tengah membawa barang-barang perbekalan menginap untuk menjaga Papa. Kala itu aku dengan polosnya bertanya, “Papa dipindah ke mana lagi, Yang?” dan Eyangku tertegun, memandangku prihatin, lantas menjawab dengan lirih…

Lanjutkan membaca “[Sudut Vegan] Ya, Aku Seorang Vegan”

20 Hal Tentang Dikta

LOL.

Sudah lama sekali rasanya gak dapat tag-tagan beginian. Terakhir dikasih tantangan pas zamannya blog award gitu. Hahaha. Terima kasih ya Fadilla Sukraina atas tantangannya. Sebenarnya kebetulan sekali aku sudah lama tidak mengisi tulisan di blog lantaran sibuk berlaga di dunia perkampusan. Mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bisa membuatku lebih mengenali diri sendiri, karena kadang kala, aku pun bisa tersesat saat mencoba memahami diriku sendiri.

***

  1. Your real name?

Benedikta Sekar Arum Setyorini. Panjang ya? Iya, hahaha. Benedikta itu nama baptisku, diambil dari nama Santo Benediktus, artinya berkat atau yang diberkati. Sekar Arum artinya bunga yang mekar dan harum. Sementara Setyorini adalah singkatan nama Papa dan Mamaku. Banyak doa yang dipanjatkan dalam namaku, semoga saja aku bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan menjadi bunga yang mekar dan harum untuk kedua orangtuaku.

Lanjutkan membaca “20 Hal Tentang Dikta”

Pak Damar

Pak Damar termangu. Memandang sepeda motornya yang kini hanyalah seonggok mesin tanpa ban dengan dua bola mata bergerak-gerak tak fokus. Dua detik pikirannya kosong, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ini sudah pukul sepuluh malam, kepala sekolah menugasinya lembur menyusun dokumen sore tadi. Pria yang baru menginjak usia tiga puluhan itu menurut saja meskipun tahu bahwa tugas itu tidak biasanya dan sekarang… ia tak bisa pulang.

Ada apa ini?

Kresek.

Pak Damar menoleh ke kanan dengan cepat, semak-semak berisik diterpa angin. Udara malam yang dingin menusuk tulang sum sum pria itu bagai sengatan lembah, namun satu-satunya hal yang dirasakan Pak Damar hanyalah debaran jantungnya yang memburu.

Beberapa detik berlalu dalam hening. Pak Damar mulai mengumpulkan akal sehatnya dan memutuskan untuk pergi ke warung kopi di depan gang sekolah lalu menunggu sampai pagi. Namun, belum sampai sesenti tubuh jangkung itu bergerak, sebuah tangan menerkam mulut dan hidung pria itu dengan selembar kain beraroma lemon lalu sesat setelahnya…  hanya ada gelap yang menyambut.

BYUR!

“BANGUN!!”

Suara melengking perempuan serta guyuran air panas membangunkan Pak Damar. Tubuhnya yang kini hanya berbalut pakaian dalam terikat di sebuah kursi. Rasa panas membakar tubuhnya, di bawah lampu remang-remang kulitnya memerah seperti kepiting. Namun, belum sempat pria itu memproses apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sebuah pukulan benda tumpul menghantam bagian kanan kepala dan membuat telinganya berdengung.

Pak Damar mengerjap. Bingung, kesakitan. Suara tawa sahut menyahut di sekitarnya; begitu halus dan mengerikan, tawa perempuan.

“Sakit, Pak?” Seseorang mendekati Damar, jemarinya yang halus dengan kuku berkuteks merah menggenggam palu. “Kalau begini, bagaimana?”

DUAK!!

Palu menghantam bahu Pak Damar, pria itu sontak mengerang kesakitan. Ia bahkan terlalu ketakutan untuk berkata-kata.

“Bapak tahu tidak apa yang telah Bapak perbuat pada kami semua?” Suara manis yang lain berbisik di belakang kepala Pak Damar, seiring dengan benda dingin yang menyentuh punggungnya. Bulu roma Pak Damar menegang, ia berharap tebakannya salah tentang benda apa itu.

Syaaaat!

Suara daging disobek menggema di ruangan itu. Banyak tawa kembali tumpang tindih ketika Pak Damar hanya mampu mengerang dengan suara tercokol di kerongkongan. Namun, belum selesai otaknya mencerna rasa sakit itu, pukulan kembali meluncur tepat ke kepalanya. Palu pun tak lagi segan menghantam tubuhnya bertubi-tubi hingga remuk. Sementara ia pun tak lagi mampu menduga sudah berapa banyak kulit punggungnnya terkoyak. Suara tawa yang melengking serta kebahagiaan yang terselip di antaranya mengiringi rasa sakit yang tak bisa ditolerir oleh makhluk hidup itu. Pak Damar tak lagi mengerang, bahkan mencicit kesakitan pun ia tak mampu.

Hingga tiba-tiba saja, semua itu berhenti, meninggalkan tubuh yang bersimbah darah itu dalam keheningan yang mencekam. Sampai akhirnya, aroma bensin menguar di udara.

Pak Damar tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Namun, di sela-sela rasa perih yang ia rasakan ketika cairan bansin disimburkan padanya serta tawa yang makin menjadi. Pak Damar tertegun. Ia menduga-duga siapa perempuan-perempuan ini? Siapa yang tega berbuat seperti ini?

Lalu, ketika api disulut dan di lemparkan ke arahnya; di tengah-tengah kobaran api yang membakar tubuhnya dan menerangi seluruh ruangan. Pak Damar akhirnya mengenali murid-muridnya sendiri dan terperanjat hingga kematian menjemputnya.

Sebenarnya, apa yang telah ia perbuat?

FIN.

A/N:
Dibuat saat tugas-tugas mulai menggila
#CERITAHOROR #Anjay #Psikopatsekali #ayotugasnyadiselesaikan #bunuhsaja #bakarsaja #biarramai

Sudah Lama

Sudah lama aku tidak menulis fiksi.

Belakangan kata-kataku menjadi tumpul karena jarang sekali kuasah. Mungkin masalahnya bukan pada waktu yang tidak pernah cukup menyediakan kesempatan, melainkan jemari dan otakku kini tak lagi singkron seperti senja kelabu di hadapanku ini—oh ya, hujan masih datang di bulan April.

Rasanya aku sudah melupakan momen ini—duduk sendirian di sudut kampus, ditemani laptop tuaku dan secangkir rindu yang menggebu-gebu padamu. Dulu, rasanya semua terasa tepat. Rindu dan cinta itu datang silih berganti seperti pelangi yang menanti hujan untuk berhenti. Tak pernah ada masalah yang tercipta, meski jarak dua benua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh bagi kebanyakan orang. Namun, aku meyakini, suaramu yang masih menggema di hatiku setiap malam sudah cukup untuk membuktikan bahwa semua baik-baik saja.

Entah, angin muson mana yang mengajarkanmu bahwa pergantian musim menandakan ada hati yang beralih haluan.

Aku tak pernah membayangkan, bahkan hanya sekadar di mimpi, kehilangan kontak denganmu. Media sosial bukan ladang bagi gadis desa sepertiku untuk menuai kabar; aku hanya mengerti bagaimana surel dan video call bekerja. Dan ketika semua sarana penghubungku dan dirimu terputus, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu. Berminggu-minggu aku bertanya-tanya apa yang terjadi denganmu dan hubungan kita yang sepertinya mati suri. Terakhir kali kudengar suaramu, kamu bilang paper dan laporan menghalangi kontak denganku. Aku percaya itu dan terus percaya bahwa itulah satu-satunya alasanmu untuk berhenti menghubungiku, hingga seseorang menunjukkan foto itu padaku dan meleburkan segalanya…

Hah.

Tak pernah kusangka, dunia maya ternyata begitu menakjubkan. Aku menduga-duga, mungkin inilah alasan kenapa aku selalu menjadi mahasiswi paling tertinggal di antara yang lainnya, karena seandainya saja aku mampu membeli smartphone dan membuat akun di media sosial bernama Instagram itu, aku seharusnya sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu kalau kamu telah mencintai perempuan lain.

Jadi, rasanya tak akan sakit.

Aku tak tahu apa aku harus meminta maaf karena tak pernah peka dengan kabar-kabarmu yang semakin jarang itu ataukah kamu yang terlalu jumawa untuk menyuarakan kata selesai. Namun, mengirimimu surel berisikan kata-kata perpisahan serta menyatakan bahwa aku telah mengetahui kenyataan tentang dirimu, barang tentu merupakan keputusan yang tepat untuk menuntaskan drama klasik di antara kita.

Kuakui, tangisku di penghujung malam ketika kenangan menggempur benakku bak air bah yang tak akan surut sampai fajar menjelang. Kamu laki-laki yang begitu manis; tawamu seperti kepak elang yang menggunjang angin di telingaku dan membuyarkan kawanan kupu-kupu di dadaku. Menata hati untuk mencintaimu tentu tidak mudah dengan segala kekurangan yang aku miliki, tapi kata-katamu selalu berhasil meyakinkan berjuta-juta sekenario terburuk yang pernah terlintas di benakku untuk pergi entah kemana. Hingga akhirnya kusadari, bahwa selama ini aku hanya menjadi salah satu momen dari kisah hidupmu yang panjang.

Ah, satu halaman telah selesai, fiksi ini sepertinya akan berakhir teragis. Sungguh, sudah lama aku tidak menulis kisah tak nyata seperti ini, mungkin sejak aku berhenti mencari-cari alasan untuk menulisnya karena kamu tak lagi ada di sana dan memberiku komentar-komentar manis tentang kisahnya. Aku tahu, seluruh fiksi yang kubuat hanya akan berakhir di blog kata-kata yang tak terkenal itu lalu menjadi debu. Namun, memilikimu yang setia membaca meski banyak lubang di antara katanya memberiku kekuatan sendiri—seperti cahaya yang bersinar di ujung jalan yang gelap; bukan komentar manismu yang sesungguhnya aku inginkan, melainkan eksistensimu. Lalu, ketika semua telah berakhir dan tak ada kata-kata lagi yang tertukar di antara kita untuk memperbaiki keadaan, aku tak lagi sanggup menulis kisah-kisah tak nyata itu karena semua terasa hambar.

Sungguh, luka itu masih ada hingga detik ini. Rasanya masih sakit seperti saat terakhir aku mengingatnya. Namun, itu sudah lama sekali, aku bahkan sudah lupa rasanya air mata yang menetes di pipiku ketika wajahmu terlintas di benak. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa aku kembali menulis fiksi. Tentu aku merindukan bahagia yang pernah kita miliki dulu serta janji-janji yang kini tak akan pernah tergenapi; masih ada secangkir rindu yang tersisa untukmu.

Hanya saja, rindu itu tak lagi kusesap pahitnya, karena senja kelabu, hujan yang mengguyur, hati yang patah, serta semestaku yang sebelumnya kugantungkan pada hubungan kita yang rapuh telah diperbaiki oleh orang lain…

Ya, oleh laki-laki yang baru saja tersenyum saat melihatku duduk dan menulis sendirian di sini; yang senyumnya kubalas dengan kekehan kecil karena mendapati dirinya yang kuyup diguyur hujan; yang mendatangiku dengan aroma particor di pakaiannya; yang mengecup dahiku lembut sembari membisikan maaf karena cuaca menahan geraknya; yang akhirnya duduk di hadapanku dan menemaniku menulis di sini. Ya, laki-laki itu, yang kini padanyalah aku menggantungkan seluruh jagad raya hidupku.

Akhirnya, cerita ini berubah manis. Aku kira pahitnya kenangan akan dirmu akan mempengaruhi alur fiksi yang sederhana ini. Namun, kehadirannya membuyarkan segala keresahan yang masih mengganjal di dada akan kita dan segala kenangannya. Mata almonnya yang berbinar saat mengisahkan hari-harinya di laboratorium mengisi ruang pendengaranku—entah apakah ia telah menemukan jenis buah pisang rasa ubi atau temuan ajaib lain yang selalu ia khayalkan sedari masih menjadi buruh tani di ladang bapaknya, aku tak tahu. Namun, kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat perasaan pahit itu hilang dan larut bersama hujan.

Mengenalnya dan mencintainya tak sama seperti saat aku bersamamu. Ia tak menghilangkan rasa khawatir di dadaku, karena ia bahkan tak menciptakan rasa khawatir itu; ia tak mampu menjelajah dunia, karena bahkan untuk berada di kota ini saja ia telah mengorbankan segalanya; ia tak menjanjikanku masa depan yang lebih baik, karena ia bahkan sedang memperjuangkan masa depannya sendiri sekarang; ya, ia tak lebih baik darimu, karena satu-satunya hal terbaik yang ia miliki adalah dirinya sendiri.

Ya, aku tahu, sudah lama sekali aku tidak menulis fiksi, maka kata-kataku kali ini terasa kaku dan mungkin saja hambar. Namun, ada satu hal yang kuyakini pasti, bahwa pada akhirnya…

Bahagia akan menamatkan kisah fiksi ini.

Fin.

[Coretan Dicta] Untuk Musuh-Musuhku: Aku Mengasihmu

Sudah lama aku tidak merasa setergoboh-goboh ini untuk menulis sebuah coretan. Sudah lama aku tidak merasa ingin sekali menulis dan menuangkan segala sesuatunya dalam gerakan tangan ini. Sudah lama aku ingin mengungkapkan apa yang ada dibenakku hingga hari ini hal itu pun tercapai karena desakannya begitu tak tertahankan. Maka, tanpa perlu memperpanjang paragraf pembuka yang membosankan ini, aku ingin mengawali coretan dengan sebuah kalimat sederhana.

“Aku sungguh membenci musuh-musuhku.”

Ada banyak hal yang terjadi di kehidupanku pasca kepindahan ke Yogyakarta serta menjalani dinamika kampus yang begitu melelahkan jiwa dan raga. Ada kesukacitaan yang besar, juga kesedihan yang menyesakkan datang silih berganti. Aku ingin menjelaskan hal itu satu persatu, namun akan sangat panjang-kali lebar-kali tinggi dan semalaman pun tak akan cukup menuntaskan kisah itu. Jadi, aku hanya akan mempersingkatnya dengan sangat-sangat sederhana dan berharap kalian mengerti.

Aku masuk ke dalam dunia yang baru di kampus. Hal yang begitu mempesona namun menyimpan prahara serta intrik yang tidak terelakan di kemudian hari. Untuk bertahan dalam dunia yang gila itu, salah satu caranya adalah menemukan sekutu. Untuk menemukan sekutu, yang harus aku lakukan tentu saja mencari teman yang bisa diajak bekerjasama. Lalu, untuk mencari teman, apa yang harus dilakukan? Tentu saja berusaha untuk fit in dengan memasang topeng ke mana pun aku berada. Aku harus menjadi seperti teman-temanku, agar mereka mau berteman denganku. Maka hal itulah yang aku lakukan, aku sangat ingin memiliki teman hingga aku berusaha untuk selalu terlihat menyenangkan di depan mereka.

Selama beberapa waktu pergumulan dengan hatiku sendiri—mengelak kebenaran hati serta menutupi jati diriku, akhirnya aku menemukan teman-teman itu. Teman-teman yang bersekutu dengan mengatasnamakan diri sebagai perkumpulan ‘pembenci orang yang sama’. Apa yang kami lakukan? Membicarakan dan mendiskusikan tingkah laku buruk orang lain serta memberikan stampel buruk padanya dan membuat perasaan kami nyaman karena menganggap kami lebih baik dari orang yang kami benci. Di mana kami melakukannya? Di tengah-tengah orang banyak agar orang lain ikut menyimak kebencian kami. Output apa yang aku dapatkan dari diskusi itu? sebuah ikatan yang bagiku pribadi sangatlah busuk, namun mau tidak mau harus kupertahankan bila aku tak ingin berada di dasar rantai makanan.

Lanjutkan membaca “[Coretan Dicta] Untuk Musuh-Musuhku: Aku Mengasihmu”