[Drabble] Wife Selling

Author             :           Benedikta Sekar arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)                        :

–       Elizabeth Bennet (Pride and Prejudice/Jane Austen)

–       Fitzwilliam Darcy (Pride and Prejudice/ Jane Austen)

–       George Wickham (Pride and Prejudice/ Jane Austen)

Lenght             :           Drabble – 483 kata

Genre              :           Tragedy, Gore, Romance, AU

Rating              :           NC-17

Aready Been Posting in : The Heroine

Disclaimer       :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang mau pun honor materi. Semua tokoh dalam fanfiksi ini bukanlah milik saya, melainkan milik (almh.) Jane Austen, dalam bukunya yang berjudul Pride and Prejudice. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

“Oh, tersenyumlah Lizzy sayang…”

Napas busuk pria itu menerpa wajahku ketika ia berbicara sembari mengikat tambang di leher dan pergelangan tanganku. Kekehannya terdengar kemudian, sementara seringai bengis terpampang jelas di wajah itu.

“Kau sendiri yang meminta berpisah denganku…” ia menepuk-nepuk wajahku, lantas tertawa singkat, “…ini satu-satunya cara; kau tahu itu.”

Aku membuang muka; menghindari sentuhan tangannya. “Keparat kau, George Wickham,” desisku penuh kebencian.

George tertawa begitu nyaring, menggema di gang sempit nan lembap di sudut kota London ini.

“Yah, terserah apa katamu, yang penting sekarang…”

Srreeek!

“Arrrgh!”

“…aku harus bisa menjualmu dengan harga tinggi[i]. Hahaha!”

Aku menjerit-jerit kesakitan, George menarik leherku yang terikat tambang sekuat tenaga. Diseretnya aku dengan kasar—selayaknya sapi yang digiring ke tempat penjagalan— menuju  bar yang berada di ujung gang; tempat nasibku ditentukan.

“Teman-teman!!”

George berseru sangat nyaring sesaat setelah kami berdua berada tepat di tengah-tengah ruangan yang beraroma bir itu.

“Aku ingin menjual istriku! Adakah yang ingin membeli?!”

Pria-pria yang ada di bar ini datang mendekat, aku memaki dalam hati ketika beberapa di antara mereka mulai meraba-raba tubuhku; termasuk payudara dan bokongku. Berengsek, keparat, seandainya pria terkutuk itu tidak mengikat tanganku.

“Hey, Wickham! Kau buka dengan harga berapa?!” seorang pria bertubuh gempal membuka acara lelang; ia yang sedari tadi menyentuh payudara serta bokongku.

“50 pound!”

“Kalau begitu, kubeli 60 pound!”

“Aku naikkan 75 pound!” pria yang lain menyahut, namun pria gempal itu masih tak mau kalah hingga penawaran terus berlanjut.

Diam-diam aku menangis di dalam hati. Aku tak pernah merasa sehina ini sebagai seorang manusia, juga wanita. Harga diriku benar-benar di nilai begitu rendah; mereka melecehkanku—secara fisik mau pun mental. Namun, bagiku sama saja. Meski negeri ini di pimpin oleh seorang Ratu, namun harga diri kaumku tak pernah berubah. Tugas kami di dunia ini hanya dua; menikah dan memiliki anak.

Penawaran berhenti di 350 pound, si pria bertubuh gempal itu memberikan penawaran terakhirnya, tak ada yang mampu menawar lebih tinggi lagi. Tiba-tiba saja, sebelum pria itu mengambil kontrak yang sudah George siapkan sebelumnya, seseorang berseru….

“Kutukar Nyonya Elizabeth Wickham dengan 1000 pound!”

Seorang pria bertubuh jangkung nan  gagah muncul dari tengah kerumunan orang, merebut surat kontrak dari genggaman George dan menyimpan kertas lusuh itu di saku jasnya.

“Akan kukirim uangnya besok,” katanya dingin, tepat di wajah George. Kemudian pria itu beralih padaku. Secepat kilat ia melepas tali yang menjerat tubuhku, lantas membawaku pergi.

Sepanjang jalan menuju kereta milik pria itu aku hanya mampu menangis haru, merasakan penyesalan menyergapku penuh seluruh.

“Maafkan aku, Tuan Darcy, maafkan aku…” aku berkata ditengah-tengah tangisku, sementara pria itu tetap diam, “Seandainya aku tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini…”

Sssst…” tiba-tiba saja Tuan Darcy memotong ucapanku; genggaman tangannya mengerat, “Kau aman sekarang, Elizabeth, kau aman. Kau bersamaku.”

Tangisku semakin nyaring terdengar, penyesalan itu tetap terasa, namun kutemukan lagi diriku utuh dan berharga di tangan pria yang dulu kutolak setengah mati.


[i] Kebiasaan pria-pria Inggris untuk menjual istrinya di mulai pada abad ke-17 (dan berakhir di awal abad ke-20) sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri pernikahan bagi orang-orang menengah ke bawah.  Setelah memamerkan istrinya dengan tali di leher, tangan atau lengan,  suami akan menawarkan ke publik dan melakukan lelang ke penawaran tertinggi.

[Puisi] Hati Sehitam Arang

Awan abu-abu menggantung ragu

Mengukir giris di hatiku yang beku

Bayu menerbangkan hati yang renta

Apa puisi ini sampai di hatimu, Cinta?

Hei, Cinta, apa kamu tahu siapa aku?

Ya, Cinta, ini aku si Pemimpi Jalang

Hei, Cinta,  apa kau tahu warna hatiku?

Ya, Cinta, hatiku sehitam arang

Cinta tetaplah cinta; cacang tepat di dadaku

Hatiku masih saja sewarna arang; menanti cintamu yang termangu

Cinta tetaplah cinta; meski lirih, tetap saja terucap cinta

Hatiku pun masih  sewarna arang; menantimu memoles warna cinta di sana

___________________________

A/N: Saya disuruh bikin puisi sama adik saya, tugas dia buat MOS masuk SMK. Puisi cinta terdiri dari 3 bait. Bait I wajib 1 kata cinta, bait II wajib 4 kata cinta dan bait III 7 kata cinta. Agak absrud emang, tapi saya cukup suka. Hahahahaha.

Sekeping Cinta Untuk Reza

“Aku cinta banget sama dia, Rez…”

Reza menoleh ke arah samping, dan kemudian mendapati seorang gadis tengah menerawang  langit di sela-sela tumpukan kumulus yang menggantung di atas kepala mereka. Manik mata coklatnya menilik bentuk-bentuk tak asing yang mungkin bisa ia temukan pada kanvas langit, sementara bibir merah muda gadis itu tertarik simetris ke atas, memamerkan deretan gigi-gigi putih yang cemerlang. Ah, Reza selalu menyukai senyum itu; meski acapkali hatinya perih tatkala menyadari senyum itu ternyata untuk dia.

“Dia udah ninggalin kamu, Cinta…,” sahut Reza sarkastis, kedua bola matanya memutar; hatinya panas. “Apa lagi yang kamu harapkan dari dia?”

“Cintanya, mungkin,” balas gadis bernama Cinta itu lempeng. Senyumnya masih sama; tak terganggu dengan pernyataan Reza.

Reza menarik satu sisi bibirnya, membentuk senyum sinis di wajahnya yang bersih. “Kamu terlalu naif,” tanggapnya; menyembunyikan luka. Reza percaya kata ‘naif’ juga berlaku baginya.

“Aku masih mencintainya, Rez,” Cinta berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pinggiran pagar pengaman yang ada di atap sekolah mereka. Jam pelajaran keempat telah di mulai, namun mereka berdua masih enggan untuk hadir. Pembicaraan ini memaksa waktu mereka diam di tempat.

Hati Reza seketika itu juga mencelus, telapak tangannya terasa dingin, dan ia hanya bisa menggigit bibir tebalnya keras-keras. Ia tak berani berdiri dari bangku beton ini; takut jika sedikit saja bergerak, ia tak bisa menahan hasrat untuk memeluk gadis itu dan menjeritkan penderitaanya.

“Kamu masih punya aku ‘kan, Cin… Sahabatmu.” Mulut Reza mendadak kering, sahabat yang mencintaimu… sambung Reza dalam hati.

“Sahabat berbeda dengan cinta…,”  sahut Cinta seraya berbalik menatap Reza dan menyandarkan punggunggnya di pagar pembatas, “…kamu berbeda dengannya,” imbuh Cinta lagi, senyumnya berubah getir; Reza benci senyum Cinta yang seperti itu.

“Dia laki-laki dan aku juga, apa yang membuat kami berbeda?” balas Reza buru-buru; pengendalian diri Reza telah hancur, ia sudah tak perduli bagaimana Cinta memandangnya setelah ini. “Tak bisakah kamu mengubah persepsimu tentang sahabat?”

Cinta bungkam, tak tahu bagaimana menanggapi ucapan Reza selain dengan memalingkan wajah ke arah langit; menyesal telah membawa pembicaraan ini ke permukaan sementara ia tak punya persiapan untuk menanggapi perasaan sahabatnya yang telah lama ia ketahui itu.

  Baca lebih lanjut

[Drabble] In The Next Life

Author             :           Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast (s)           :

–       Lee Seung Ri a.k.a Victory/Victor (Big Bang/YG Entertainment)

–       Kang Daesung (Big Bang/YG Entertainment)

–       Lee Seung Young (OC)

Length             :           Drabble – 486 kata

Genre              :           Romance, Angst, Pluff

Rating              :           G

Already been published in : The Heroine

Disclamer        :           Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Semua cast yang bukan OC bukanlah milik saya, melainkan dirinya sendiri, menejer dan agensi yang mendebutkan mereka. Sedangkan plot dan latar cerita ini adalah murni milik saya.

Hal pertama yang aku temukan saat tirai jendela kamarku tersingkap adalah langit yang membisikkan kemuramannya. Hujan membayang; sementara gerimis sudah turun sejak subuh. Kutempelkan kesepuluh jariku pada kosen jendela dan mendapati udara dingin di luar sana menembus pori-pori kulitku.

“Kumohon, jangan hujan…” bisikku pada udara, membentuk sepotong embun di kaca jendela.

Honey! Are you ready now?

Yeah, wait a minute!” seruku, menyahut suara bariton pria yang tengah menungguku di lantai dasar.

Setelah menyambar sebuket bunga anyelir di atas ranjang, aku pun buru-buru ke luar kamar; menghampiri pria yang sudah siap dengan kemeja hitam dan celana panjang katunnya. Saat melihatku, pria itu tersenyum lebar dan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang bisa kutebak apa itu…

Yes, I look beautiful. Thank you, Victor.

Semburat wajah tampan itu mendadak muram; tak suka kalau aku melakukan hal itu.

“Oh, Come on, nanti keburu hujan,” kataku buru-buru sembari menggenggam tangan pria berkantung mata gelap itu erat dan mengiringya menuju Porsche 997 yang sudah terparkir di depan rumah.

Sepanjang perjalanan aku dan Victor tak bicara. Keheningan yang merengkuh kata entah mengapa membuat perasaanku tenang; membawaku mengarungi kenangan yang  tersimpan rapi di hatiku.

 

“Jiwa kita memang akan terpisah, Seung Young… tapi kau harus ingat, setiap jengkal langkah yang kau ambil untuk berbahagia tanpaku adalah kebahagiaan untukku juga.”

“Mungkin di kehidupan yang sekarang aku tak bisa membahagiakanmu, tapi aku yakin, yang berikutnya tak akan seperti ini.”

Aku tersenyum getir, sembari menggenggam buket anyelir di pangkuanku semakin erat; mengingat kalimat-kalimat yang diutarakan seorang pria sekarat untuk menghibur kekasihnya yang bersedih.

“Kita sudah sampai.”

Mesin mobil telah mati, aku pun keluar dari mobil saat Victor membuka pintu untukku. Aku dan pria itu melangkah beriringan di kompleks pemakaman tua yang terlihat terawat ini, hingga kami pun tiba di depan sebuah pusara dengan patung malaikat di kedua sisinya.

 

Beristirahat dalam damai

Kang Daesung

1989 – 20XX

 

Kupandang nanar tulisan yang terukir indah di tengah-tengah pusara itu; getaran itu masih saja terasa hangat tiap kali aku menyebut namanya. Entah melisankannya secara verbal atau pun hanya di dalam hati. Perlahan-lahan aku meletakkan buket anyelir di dalam pelukanku ke depan pusara itu lantas berlutut dan membuat tanda salib; mendoakan jiwa yang telah terpisah denganku itu setulus hati.

“Kau sudah selesai berdoa, Seung Young?”

Baru saja aku membuat tanda salib untuk menutup doa, suara Victor langsung menyeruak masuk ke rongga pendengaranku; aku mulai tidak suka dengan tingkahnya yang mengisyaratkan kecemburuan seperti itu.

“Berhentilah cemburu pada orang yang sudah meninggal, Victor,” sahutku lalu berdiri bersisian dengan pria itu.

“Aku tidak cemburu,” elak Victor, lantas melirikku sekilas sebelum kembali menatap pusara Daesung lekat-lekat, “Aku hanya ingin mengingatkan kalau aku tak akan menyerahkanmu pada siapa pun meski di kehidupan yang akan datang, bahkan kepada cinta pertamamu ini;  hanya aku yang dapat membahagiakanmu.”

Mendengar apa yang Victor katakan aku pun tergelak, menatap geli ke arahnya sembari menautkan jari manis kami yang disemati cincin platina; benda yang menjadi saksi bisu ketika Tuhan menyatukan tubuh kami menjadi satu.

 

 

 

[Drabble] Karena Itu Kamu

Author             : Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)                        :

–       Benedikta Sekar (Tokoh 3/The Heroine)

–       Aoi Yamaguchi (Tokoh 1/The Heroine)

–       Sora Yamamoto (Tokoh 2/The Heroine)

Lenght             : Drabble – 437

Genre              : Romance, Fluff

Rating              : G

Already been published in : The Heroine

Disclaimer       : Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan (fan)fiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Semua tokoh adalah milik dirinya sendiri. Saya hanya memberi mereka nama dan penokohan sesuai imajinasi saya, sama halnya plot dan latar (fan)fiksi ini

Aku memandang geli pada lembar demi lembar kertas-kertas foto di tanganku, ada sedikit rasa malu di hatiku saat menyadari kalau objek utama di dalam semua foto itu adalah aku – foto itu diambil tanpa kusadari, dan benar-benar terkejut karena aku tampak cantik di sana.

“Aku datang hanya untuk menyerahkan ini padamu.”

“Apa ini?”

“Foto.”

“Foto? Aku tidak ingat kalau aku pernah meminta foto padamu.”

“…”

“Hey, Sora, kenapa kau tersenyum aneh seperti itu?”

“Tidak apa-apa… Aku hanya ingin bilang kalau foto ini milikmu, Dicta-san, karena kaulah objeknya. Errr… maaf karena mengambil fotomu sembarangan. Aku hanya ingin mengabadikan waktu yang menurutku terlalu indah untuk dilewatkan.”

Senyumku langsung berubah menjadi kekehan tatkala mengingat kejadian yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu; aku tak pernah menyangka kalau aku akan mengalami kejadian seperti di dalam novel roman picisan.

“Hey! Kau ingin makan gaji buta, ya!?”

Aku tersentak lantas menoleh ke arah samping, mendapati raut jengkel dari seorang remaja laki-laki berumur 18 tahun yang sedari tadi berkutat dengan buku pelajarannya.

“Aku tidak makan gaji buta,” aku buru-buru membantah, “Kau kan sedang sibuk mengerjakan soal yang aku berikan. Jadi aku punya waktu untuk mengerjakan urusanku sendiri.”

Remaja laki-laki bernama Aoi itu menggeram kesal sembari menggeser buku dengan kasar ke hadapanku. “Aku sudah selesai!”

Kulempar senyum puas ke arah Aoi, lalu memeriksa jawabannya. “Nomor tiga dan lima salah, seharusnya kau menggunakan rumus yang ini. Kerjakan ulang!” Aku menarik buku kumpulan rumus di hadapanku dan menunjuk persamaan matematika yang kumaksud; Aoi hanya mengangguk enggan dan mengambil bukunya kembali.

“Hey, apa kau benar-benar menyukai fotografer itu?”

Aku menoleh ke arah Aoi dan mendapati laki-laki berambut acak-acakan itu juga menatapku.

“Maksudmu Sora?” Aoi diam saja dan aku hanya tersenyum. ”Dia pria yang baik, juga perhatian; aku pun baru tahu ia juga cukup romantis. Jadi… yeah, I like him.

Aoi tak menanggapi ucapanku, ia sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tiba-tiba saja laki-laki itu menggenggam jemari tanganku erat dan membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat .

“Jika aku menjadi orang baik dan juga perhatian, lalu melakukan hal-hal romantis padamu, apa kau akan menyukaiku juga?”

Aku terperanjat, mendapati kesungguhan di mata laki-laki itu. Aoi mengeratkan genggamannya, mengisyaratkan kalau ia mengharapkan jawaban dariku sekarang.

“Kurasa tidak…” jawabku akhirnya, dan saat laki-laki itu ingin melepaskan genggaman tangannya aku pun buru-buru menambahkan, “…aku akan menyukaimu karena itu dirimu, bukan karena kau berubah menjadi orang lain atau semacamnya.” Kulebarkan senyumku dan memandang Aoi lekat, “Lagipula, kau cukup baik padaku, meskipun kau cuek aku juga tahu kau perhatian dan soal romantis… hahaha, bukankah menggenggam tanganku seperti ini juga romantis, Bocah?”

Aoi terkesiap, kedua mata sipitnya melebar dan dalam sekejap aku pun jatuh dalam pelukannya.

 

 

 

[Ficlet] Thank You, Grandma

Author                  :               Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast (s)                 :

–          Choi Seung Hyun/TOP (Big Bang/YG Entertainment)

–          Gong Min Ji (Big Bang/YG Entertainment)

Lenght                  :               Ficlet – 817 kata

Genre                   :               Angst, Fluff

Rate                       :               G

Disclamer            :               Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau honor materi. Semua cast yang bukan OC bukanlah milik saya. Melainkan milik dirinya sendiri, menejer dan agensi yang mendebutkan mereka. Sementara plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya sendiri.

Aku menatap buku-buku jari kakiku nanar dengan kedua mata sipitku yang sembab. Matahari telah menghilang sejak satu jam yang lalu, tapi aku masih mengurung diri di kamar dan memutuskan untuk melewati makan malam. Aku sama sekali tidak berniat untuk makan; beberapa hari terakhir adalah hari yang berat bagiku.

Srrreek…

“Min Ji, ada telepon untukmu.”

Aku tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu kamarku. Dan sedetik setelahnya kutemukan ibu berdiri di sana; memberikan senyum padaku. Senyum yang begitu dipaksakan.

It’s him,” kata ibuku; berusaha terdengar ceria, “Cepatlah turun dan jangan buat dia khawatir lebih lama lagi.”

Aku masih tak bergerak dari tempatku semula, memandang wanita paruh baya itu dengan lebih saksama. Ia terlihat mengenaskan. Kantung mata ibuku terlihat lebih hitam dari milikku; aku tahu ia sangat menyayangi mertuanya itu. Ibu pernah bilang kalau nenek sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri dan akan melakukan apa saja agar beliau bisa sembuh. Tapi ternyata, takdir sudah menentukan jalannya… nenek meninggalkan kami semua dengan sangat tiba-tiba. Tapi setidaknya ibu lebih beruntung dariku, karena aku bahkan tak ada di samping nenek di saat-saat terakhirnya.

Ah, Ye, Eomma… aku turun sekarang.” Aku buru-buru mengusap air mataku yang terlanjur meleleh; tak ingin membuat ibu semakin sedih karena melihatku menangis terlalu banyak – sial, kupikir air mataku sudah kering, tapi ternyata aku masih punya banyak simpanan.

Aku mengikuti ibuku di belakang, hingga akhirnya kami berpisah di ruang tengah karena harus menyapa tamu yang datang untuk mengikuti kebaktian sementara aku langsung menuju meja telpon dan duduk di kursi yang ada di dekatnya.

Yobeseyo?

“Syukurlah. Akhirnya aku mendengar suaramu.”

Baca lebih lanjut

[Drabble] Future 2NE1

Author                  :               Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast (s)                 :

–          Choi Seung Hyun/TOP (Big Bang/YG Entertainment)

–          Gong Min Ji (Big Bang/YG Entertainment)

Length                  :               Drabble – 412 kata

Genre                   :               Fluff

Rate                       :               G

Disclamer            :               Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau honor materi. Semua cast yang bukan OC bukanlah milik saya. Melainkan milik dirinya sendiri, menejer dan agensi yang mendebutkan mereka. Sementara plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya sendiri.

Future 2NE1, huh?”

Aku memandang halaman Youtube di layar laptop gadis yang tengah duduk membelakangiku itu dengan pandangan bingung.

“Kerjaan YG, Oppa,” jawab gadis berambut pendek sebahu itu ketus, kentara sekali kalau ia tidak senang dengan title video itu.

“Ah, YG memang suka begitu, abaikan saja,” sahutku tak acuh, sembari mengambil tempat duduk di hadapan gadis itu.

“Aku tak suka dibandingkan,” kata gadis itu lagi, lantas mematikan laptop dan memasukkan benda persegi itu ke dalam tas ransel yang berada di samping tempat duduknya, “Rasanya tidak adil,” tambahnya.

Aku tertawa singkat, “Seharusnya mereka yang berkata seperti itu, Min Ji.”

Gadis bernama Min Ji itu diam saja, menopang dagu lancipnya dengan satu tangan. “Aku benci mengakui ini, tapi mereka memang hebat.” Min Ji mendesah berat, lalu menatapku lekat, “Empat tahun lagi… apa yang terjadi pada 2NE1, TOP oppa?”

Aku mengangkat bahu. “Mana kutahu? Kalian sendiri yang menentukan hal itu, bukan?”

Min Ji diam lagi dan tersenyum ke arahku. “Benar, masa depan memang ditentukan oleh kami sendiri; bukan orang lain.”

Aku tak membalas ucapan Min Ji, dan gadis itu pun tak berbicara lagi – kami tenggelam dalam keheningan kafetaria mewah gedung YG Entertainment. Tapi lama-kelamaan, aku pun mulai muak dengan keheningan ini.

“Hei, aku datang jauh-jauh begini tidak untuk berbicara dengan angin.”

Min Ji tersentak dan menatapku lurus-lurus, senyumnya kembali terlihat meski kutahu agak dipaksakan. “Mian, Oppa…” Gadis itu berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arahku, kemudian mengecup pipiku sekilas, “Aku merindukanmu,” bisiknya; aku mengulum senyum.

“Bagaimana persiapan comeback kalian?”

“Hampir selesai,” jawabnya singkat, masih terdengar muram.

Aku memandang gadis itu frustasi, tak suka melihat wajahnya seperti itu. “Hei, kau masih memikirkan video itu?”

Min Ji tersenyum miris. “Sedikit,” jawab Min Ji, “Tapi sebenarnya aku lebih memikirkan masa depanku…”

“Masa depanmu?”

Gadis itu mengangguk dan kembali bertopang dagu. “Pasti ada kalanya aku berhenti dan tak mungkin bisa menyanyi lagi, bukan?” aku mengangguk mengiyakan; Min Ji pun melanjutkan, “Dan ketika saat itu tiba… Apa lagi yang bisa aku lakukan? Bagaimana jadinya aku nanti? Bagaimana nasibku? Hah, semua pikiran itu mulai memenuhi kepalaku dan membuatku jengkel, Oppa.”

Aku tersenyum menenangkan dan mengusap wajah gadisku itu penuh sayang, “Itu masalah gampang…” Min Ji memandangku lekat-lekat, bingung dengan perkataanku barusan. “Saat kau sudah tidak bisa bernyanyi lagi, lelah dengan segala ingar-bingar dunia keartisan ini dan bingung apa lagi yang harus kau lakukan…

“Jadilah istriku.”

Mata sipit Min Ji terbuka sangat lebar dan menatapku tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Sementara aku hanya terkekeh pelan dan melebarkan senyum ke arahnya.

“Gampang, ‘kan?”

Tempat yang Disebut Rumah

“Aryo! Hei! Lepasin gue! lepasin!”

Aku membuka pintu flatku dengan kasar dan membantingnya di belakang tubuhku dan gadis yang tengah kuseret sekarang ini. Tak kupedulikan betakkannya yang dari tadi memenuhi rongga pendengaranku; meminta untuk dilepaskan. Sesungguhnya aku benci begini, tapi ia tak memberiku pilihan lain.

Bruk!

“Lu gak capek ya giniin gue!?”

Gadis bernama Anna itu kembali membentakku ketika aku menghempaskan tubuh mungilnya di atas sofa ruang tengah, sementara aku berdiri dan menatapnya penuh amarah.

“Gue yang harusnya ngomong kayak gitu! Sudah berapa kali gue bilang jangan pergi ke klub malam lagi, tapi lu tetap gak mau dengar!” aku membalas bentakkan Anna lebih nyaring, tak peduli akan kemungkinan gadis itu berdiri dan menamparku seperti terakhir kali kami begini.

“Umur gue memang lebih muda lima tahun dari lu, Yo! Tapi gue bukan anak kecil lagi! Gue udah 17 tahun! Dan gue bebas ngelakuin apa yang gue mau! Lu ngerti gak sih?!” gadis itu berdiri, tapi untungnya tidak melayangkan jemari berkuteks oranyenya ke wajahku.

Baca lebih lanjut

One Day Vacation

Sekar Kim  buru-buru merapatkan duffle coat berwarna cronsilk yang dibeli sebulan yang lalu di Tanah Abang bersama eyang putri-nya ketika ia mulai merasakan angin musim dingin menembus bahan kanvas coat itu. Nyatanya Sekar tak pernah membenci musim dingin, tapi bagaimanapun juga, nyaris tiga per empat tahun umurnya ia habiskan di negera tropis; Indonesia. Dan otomatis, menghadapi musim dingin di Korea membuatnya harus benar-benar waspada dengan ancaman terserang flu.

Gadis Indo-Korea itu baru saja menjejakkan kaki jenjangnya yang berbalutkan ankle boots di Stasiun Kereta Busan. Rasa penat selama 2 jam perjalanan yang ia tempuh menggunakan KTX (kereta api cepat di Korea) langsung hilang ketika melihat suasana baru di hadapannya.

“Nampo-dong, I’m coming!” seru Sekar seraya masuk ke dalam taksi yang berhenti tepat di depannya.

Baca lebih lanjut

Halo, Penikmat Kata!

Selamat datang di blog saya. Terima kasih atas kunjungannya, semoga kalian betah berlama-lama di sini.

Pertama-tama, perkenalkan, nama Saya Benedikta Sekar Arum Setyorini. Kalian bisa panggil saya Dicta atau apa saja asalkan masih bagian dari nama saya. Cerita sedikit tentang diri saya, saya tinggal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di kota ini saya tinggal bersama eyang dan keluarga paman saya. Saya juga masih pelajar SMA, dan berencana untuk kuliah di pulau lain saat lulus nanti.

Saya mulai menulis sejak SD dan terobsesi menjadi penulis sejak masuk SMA; punya ketergantungan dengan novel dan kecanduan komik; pernah bercita-cita menjadi dokter kandungan, namun sayang cita-cita itu harus diurungkan karena nilai biologi yang hanya 68. Suka menulis di luar rumah, terutama kedai kopi atau rumah makan cepat saji; penyuka hal-hal yang berbau romantis tapi tidak pernah mengalami hal itu secara langsung (maksudnya singel abadi). Penggemar berat artis korea naungan YG Entertainment. Punya banyak sahabat yang tersebar di berbagai kota dan masih keep in touch dengan mereka meski kadang pulsa seret dan modem macet.

Yak, dan saya pun mulai menyukai dunia perblogkan dan berencana untuk membuat blog ini menjadi blog  yang budiman. Bukan hanya blog yang bertuliskan spam semata, bukan juga yang bertujuan mengumpulkan komentar sebanyak-banyaknya agar terlihat keren. Bukan itu. Saya hanya berharap kalau kata-kata yang saya rajut di tempat ini akan menjadi sebuah arti bagi kalian; akan membuat kalian  tersenyum dan mengangguk puas akan cerita yang saya sugguhkan, bukannya mengerutkan kening dan menganggap blog saya hanyalah kumpulan sampah yang tak berarti.

Dan sebelum kalian membaca lebih lanjut, sebenarnya isi blog saya apa sih? Hehehe, mari merapat, saya kasih tahu dulu. Blog saya berisi banyak hal. Ada Fanfiksi, ada flash fiction, ada cerpen (cerita pendek), ada cerbung (cerita bersambung), mungkin ada beberapa resensi buku yang menurut saya bagus dan coretan saya di kelas kala bosan menerkam. Mungkin juga ada puisi, tapi untuk yang satu ini saya masih belum begitu yakin karena saya tidak begitu baik dalam menata kata-kata dengan singkat padat dan penuh diksi yang mengalun indah. Hihihi.

Nah, akhir kata, sekali lagi terima kasih telah mengunjungi blog saya, semoga kalian masih mau berkunjung kembali.

XOXO

Benedikta Sekar