Drabble, Family, FanFiction, Spiritual

[Drabble] Karena Aku Seorang Ibu

Author             : Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast                 :

–          Naruto Uzumaki (Naruto/Masashi Kisimoto)

Lenght             : Drabble – (497 kata)

Genre              : Spiritual, Family

Rating              : G

Already been published in : The Heroine

Disclaimer       : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Naruto Uzumaki adalah tokoh komik (Naruto) karangan Masashi Kisimoto. Sedangkan plot dan latar adalah murni dari imajinasi saya.

“Aku benci ibu!”

Sraaak! Bruk!

Naruto Uzumaki berlari ke luar dari balik pintu tempat pemandian air panas. Kedua tangan bocah lelaki berambut oranye itu mencengkram keras-keras ujung parka-nya, berusaha keras menahan tangis. Naruto tak menghiraukan salju yang menyelimuti Desa Tazawako, Prefektur Akita tempat tinggal dengan warna putih; dia hanya ingin menjauh dari sini.

Tanpa sadar, kedua kaki Naruto membawanya menuju sebuah kapel kecil yang berjarak 500 meter dari pemandian air panas milik keluarganya dan memutuskan untuk bersembunyi. Ibunya tak pernah tahu kalau ia selalu bersembunyi di kapel itu.

Setibanya di dalam, Naruto melesakan tubuhnya di bawah patung seorang wanita dan menangis di sana. Hari ini ibu memarahinya karena ia berkelahi dengan teman-teman. Padahal kenyataannya dia tidak salah, dia hanya membela seorang teman yang ditindas! Dan ibu malah memarahinya.

“Kau bertengkar dengan ibumu lagi, Naruto?”

Naruto tersentak, refleks mendongakkan kepala untuk mencari sumber suara itu. Seorang wanita berdiri di depannya. Dia mengenakan baju putih panjang dengan secarik kain biru melingkar di pinggangnya. Rambutnya panjang dan ditutupi kerudung sewarna langit hingga Naruto tak dapat melihat wajah wanita itu lebih jelas.

“Aku benci ibu,” sahut Naruto ketus; membuang muka.

Wanita itu tersenyum dan menyibak ujung gaunnya yang menyapu lantai, sembari menempatkan dirinya di samping Naruto . “Jangan membenci ibumu Naruto, dia sangat sayang padamu,” sahut wanita itu.

“Memangnya Anda tahu apa tentang ibuku? Jangan sok tahu!”

“Tentu saja Aku tahu; Aku juga memiliki seorang anak…,” Nada suaranya begitu tenang dan lembut, siring usapan jemarinya di sela-sela halai rambut bocah itu, “Dia memang tidak nakal sepertimu, tapi Anakku suka melakukan hal-hal yang menentang tradisi.”

Naruto bungkam. Iris hazel wanita ini memancarkan aura yang mampu menenangkan jiwa dan membuatnya berhenti menangis.

“Anakku suka mencari perhatian orang-orang banyak dan pergi ke tempat yang jauh,” wanita itu merangkul tubuh Naruto perlahan. “Dia telah banyak melakukan perbuatan baik. Melindungi si Lemah dan memaafkan si Jahat; cinta kasih, itu perinsip hidup-Nya.

“Namun orang-orang pendengki yang merasa hidup mereka terancam berusaha menghancurkan Anakku.” Suara wanita itu berubah lirih, “Mereka menuduh Anakku dengan tuduhan yang tidak benar dan menghukum-Nya dengan dera dan siksa.”

Naruto mengangkat wajah dan memandang wanita itu lekat, menunjukan keprihatinannya.

“Kamu tak akan tahu bagaimana rasanya menjadi diri-Ku, Naruto.” Wanita itu berdiri dan memandang Naruto, “Bayangkan, Anakku jatuh tiga kali di bawah balok kayu yang Ia pikul dan aku hanya bisa menangisi penderitaan-Nya; rasanya sangat menyakitkan. Saat melihat Anakku menderita, aku mulai menyalahkan diri-Ku sendiri. Andai saja Aku melarang-Nya berbuat hal-hal itu, Ia pasti baik-baik saja.

“Ibumu berada di posisi yang sama dengan-Ku, Naruto,” wanita itu melanjutkan, “Ia hanya ingin melindungimu. Ibumu takut kamu mendapatkan banyak kesulitan akibat perbuatanmu dan ia… tak mampu menolong.”

Naruto terkesiap. Pikiran dan hatinya seketika itu terbuka; penyesalan menyergap. “Kenapa Anda menghiburku?”

Wanita itu menuntunnya berdiri dan membalikkan tubuh, Naruto terperanjat akan kemiripannya dengan patung di atas mereka berdua duduk.

“Karena Aku seorang ibu…”

Saat Naruto berbalik kembali, wanita berpakaian putih itu telah menghilang. Ia mencari-cari, namun yang ditemukannya hanyalah ukiran nama di bawah patung itu bertuliskan…

Bunda Maria

 

 

 

Iklan

12 thoughts on “[Drabble] Karena Aku Seorang Ibu”

    1. Thanks, ^^ Hahaha, is it strange to combine Saint Marry with Japan culture? I feel the same when I wrote this FF. But, whatever, I still really like this.

      Thanks for coming to my blog. Wish you will comeback and read another story ^^

      1. woah, thanks, enjoy ya. Semoga suka dengan cerita-cerita saya. Hahaha, imajinasi saya emang kelewat aneh, tapi semoga masih dapat diterima.

        I’m visiting your blog too right now ^^ Blognya keren uye!

  1. Gue baca ini pada 22 Desember 2014. Kalau di Indonesia, itu Hari Ibu. Kebetulan banget, ya? Hehehe….

    Serius, deh, apa yang ada di fanfic loe ini nyaris sesuai dengan kenyataan. Maksudnya, ya … emang gue juga sering di posisi Naruto di fanfic ini: ga bisa memahami perasaan nyokap T__T

    Padahal tadi pagi gue baru ketemu nyokap, lo! Terus … gegara baca fanfic loe … gue jadi kangen lagi.

    Huwaaaa~~~~ pengen balik ke Bekasi lagi! Tapi tugas gue belum selesai~~~ *mewek beneran*

    1. Hahaha, aduh, jujur aja deh. Ini fanfic gake banget. Kadang pas baca ulang rasanya aneh aja. Religi dicampur fanfic yg tokohnya anime. Haha. Tapi ya lumaya. Hahaha. Maaf baru balas komentarnya, saya semacam sibuk menata hati #wetseh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s