Fiksi

Malam ini kita bertemu lagi, di antara kertas dan pena; memadu cinta yang tertahan sepanjang hari. Aksara yang rapuh bukanlah masalah. Kita hanya membutuhkan imajinasi dan rasa saling membutuhkan, tak ubahnya dua sejoli yang dimabuk cinta, kita pun melupakan jam dinding yang berdetak di sudut ruangan; meneriakkan waktu yang tak lagi bersahabat.

“Kenapa baru sekarang kau menemuiku,” keluhmu. Aku hanya tersenyum.

“Maaf, hari menyitaku waktuku. Hanya malam yang mampu menuntunku kembali padamu,” sahutku, sembari tersenyum memohon maaf.

Kau mendengus lelah, muak dengan berjuta-juta alasan yang selalu aku kemukakan kepadamu. “Sudahlah, sekarang apa maumu?”

Aku melebarkan senyum dan menatapmu penuh semangat. “Tentu saja aku ingin menulis,” jawabku.

“Fiksi?”

“Fiksi.”

Kau mendesah jenuh. “Apa kau tidak bosan?” tanyamu lagi, “Sudah banyak orang yang mengumbar kisah tentangku dan kau juga ingin melakukan hal yang sama?” lanjutmu sinis; aku hanya tersenyum kecut.

“Apa salah? Kau kan tahu kalau aku begitu menyukaimu.” Wajahku memelas; memohon izinmu.

Melihatku seperti ini, kau pun hanya bisa mendesah pasrah, menyadari kekeraskepalaanku yang tak pernah mampu kautaklukkan.

“Baiklah, kau boleh menulis tentangku…,” aku sudah ingin memekik senang saat kau buru-buru menambahkan, “…tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Tulislah aku dengan sepenuh cinta, aku tak butuh rasa suka yang datang sekejap kemudian hilang, aku perlu cintamu. Untuk membuatku hidup, dan membagi cinta yang kau berikan kepada orang-orang disekitarku.”

Aku tersenyum lebar. Syarat yang mudah untuk digenapi karena aku sudah melaksanakannya; bahkan sebelum syarat itu diajukan.

“Tenanglah, Sayang…,” aku menautkan pena diantara jariku dan mulai menulis, “Aku sudah mencintaimu sejak dulu.”

 

 

 

6 pemikiran pada “Fiksi

  1. Ih, saia merinding bacanya. Kata-katanya cantik sekali 🙂 ingat judulnya, jadi teringat dengan lagunya BEAST. Fiction. lols. apakah si cowoknya nyata atau sekadar cerita fiksi sehingga si cewek ingin membuatkan fiksi untuk dirinya?

    1. Benedikta Sekar

      *kasih selimut* jangan merinding, Kakak, tulisan saya gak secantik itu>o<
      Sebenarnya saya ingin menggamparkan hubungan si Penulis dengan si Fiksi. Kan banyak tuh penulis Fiksi tapi cuman bisa menulis sebentar tapi kemudian berhenti nulis cuman gara-gara bosan, dll. Mangkanya saya mau nekankan kalau kita harus menulis dengan cinta. Hihihi.

      1. Saia gak kedingingan lho. Cuma gentar dan terpukau. Beneran rupawan sih. Apalagi kata pembukanya, “Malam ini kita bertemu lagi, di antara kertas dan pena; memadu cinta yang tertahan sepanjang hari. Aksara yang rapuh bukanlah masalah.”

        Dan pengen saia balas, “Berjumpa di tengah rumpun imaji dan asa. Berkemelut dengan untaian kalam berbalut senja.”

        Cihuy 🙂 /dilemparsendal.
        O, tapi maksudnya tentang menulis dengan hati toh. Saia kira tentang perasaan dua orang yang tak saling tersampaikan, makanya si aku ingin menyuarakan ke dalam tulisan. *ga mudeng nih si Ching Ching* /disambit.

      2. Benedikta Sekar

        Balesan Kakak malah lebih dewa lagi, tulisan saya mah ndak ada apa-apanya -____-” *mengkerut*

        Dan ternyata tulisan saya yang ini malah bikin bingung. Maaf ya Kakak, nanti lain kali saya coba tulisannya lebih jelas lagi. 😀

  2. Tam.P

    Fiction in fiction~ #salah
    Ini.. Terasa hidup :’) dan aku udah lama gak megang semua itu.. *nangis di pojokan*
    Diksinyaa.. Kerennn.. 😀 tapii.. Entah aku yang agak telmi ya ma.. Pertama baca aku bingung ini gambarin apa.. Trus ngulang lg baru ngerti.. Tp daebakk 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s