[Oneshot] Surat 31 Mei

Title                       : Surat 31 Mei

Author                  : DictaVIP (Sekar Arum) / Benedikta Sekar Arum Setyorini

Cast                       :

-Jang Hyun Seung (Beast/Cube Entertainment)

-Jang Hyun Ra (Tamara Putera’s OC)

Lenght                  : Oneshoot (1.631 words)

Genre                   : Romance, Fluff

Rating                   : PG-13

Disclaimer           : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Jang Hyun Seung adalah member grup Beast yang didebutkan Cube Entertaiment. Sedangkan Jang Hyun Ra adalah original caracter milik sahabat saya, Tamara Putera. Plot dan alur cerita adalah murni milik saya

“Sepucuk surat di atas meja kamar tidur”

Sudah bosan ‘kah kamu padaku, Aprhodate-ku?

Oh, maafkan aku… Aprhodate tak pantas disamakan dengan wajahmu yang lebih cantik dari seluruh dewi Olympus itu. Kurasa akan jauh lebih benar jika aku memanggilmu dengan panggilan yang kaudapat ketika tanggal 31 Mei menjadi tanggal dimana Tuhan mempersatukan kita; tepat satu tahun yang lalu…

Nyonya Jang.

Panggilan untuk istri seorang pria bernama Jang Hyun Seung; istriku.

Tidak terasa setahun telah berlalu dan kita telah menyulam waktu bersama-sama. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Seoul; tempat kisah pernikahan kita tertulis tanpa seorang pun yang tahu persis kecuali kita berdua.

Tentu saja, mereka hanya bisa bergunjing, ibu-ibu pada usia paruh baya mau pun yang tidak memang seperti itu. Waktu minum teh di sore hari mereka dihabiskan dengan menggunjing dan bergosip. Aku bersyukur kau selalu menolak ketika undangan-undangan untuk acara seperti itu datang ke rumah kita. Hahaha, memang, kau tak pernah suka acara-acara seperti itu. Bahkan jika aku memaksamu, kau akan dengan tegas berkata ‘tidak’.

Yah, aku suka dirimu yang seperti itu. Tapitidak hanya dirimu yang seperti itu, aku suka semua hal tentang dirimu. Bahkan bagian yang terjelek sekalipun. Ya, Nyonya Jang, kau tidak salah membaca. Aku memang menyukai bagian terjelek dari dirimu.

Termasuk caramu marah padaku.

Oh, aku tak meragukan hal ini, caramu menunjukan rasa marahmu itu sangatlah mengerikan. Lebih mengerikan dari seruan jengkel ibuku saat aku memcahkan piring-piringnya atau pun bentakan ayahku saat mendapatkan surat peringatan dari sekolah dulu…

Kau mendiamkanku!

Yah, mungkin akan terdengar konyol bagi orang awam yang tak tahu tentang kita, tapi caramu menunjukan amarahmu itu nyatanya memang kelewat menyakitkan bagiku.

Kau yang biasanya selalu berisik dengan kidung sumbangmu, kau yang suka memelukku untuk bermanja-manja, kau yang gampang panik untuk masalah remeh, kau yang ingin sekali terlihat cantik namun selalu gagal menggunakan maskara, dan kau dengan segala kebiasaanmu itu… menghilang! Kau berubah dingin dan tak acuh padaku!

Sungguh. Tak ada yang lebih buruk di dunia ini selain kemarahanmu, Nyonya Jang. Benar-benar tidak ada yang lebih buruk dari itu.

Ketika kau marah, yang bisa aku lakukan hanyalah diam dan memandangmu dengan tatapan memelas. Ya. Aku tak bisa melakukan hal lain selain berharap kau berhenti mendiamkanku dan mau berbicara padaku, karena jika aku mencoba mengajakmu berbicara, yang aku terima hanyalah tatapan dingin dan ketidakacuhanmu.

Tapi, mengingat sepanjang satu tahun terakhir ini aku telah sering merasakan kemarahanmu – Yah, aku memang bukan pria sempurna, tentu saja – selama itu pula aku menyadari kalau kau tak pernah marah lebih dari tiga hari.

Hari pertama, kau akan seperti gunung es yang tinggi, kau sama sekali tidak bicara padaku bahkan saat kita tidur bersisian di kasur yang sama. Hari kedua, gunung es-mu  mencair, kau akan sering melirikku meski keangkuhan masih membuatmu menjaga jarak denganku. Hari ketiga, aku berhasil menjajaki gunung es-mu dan mendaki puncaknya, kau mulai menjawab jika aku bertanya dan tersenyum tipis ketika aku mencoba untuk menghiburmu. Dan besoknya? Kau lupa alasanmu marah padaku tiga hari sebelumnya. Ya, siklus itu tak pernah berubah selama satu tahun terakhir ini. Dan aku percaya kalau hal itu tak akan berubah di masa yang akan datang, hingga seminggu yang lalu….

Kau secara harfiah benar-benar marah padaku. Berbeda dengan kemarahanmu yang sebelum-sebelumnya. Kau sama sekali tak bicara padaku bahkan sampai surat ini berada di tanganmu!

Oke, aku tahu kalau aku salah. Dan kesalahanku ini benar-benar tak bisa dimaafkan bahkan oleh diriku sendiri. Tapi sungguh! Tak ada niatku untuk tidak berada di sampingmu pada tanggal 31 Mei, Nyonya Jang. Si Tua Bangka Keparat itu menugaskanku di lapangan, dan hal itu memaksaku untuk pergi ke Busan sejak tiga hari yang lalu hingga tiga hari ke depan.

Ah, Nyonya Jang, istriku! Andaikata kau tahu betapa sakitnya hatiku ketika kau hanya menatapku datar tanpa mengucapkan sepatah kata pun saat aku pergi; kau menghancurkan hatiku seluruhnya.

Aku tahu 31 Mei adalah tanggal yang sangat berarti bagimu. Bukan hanya karena pada tanggal itu kita bersumpah di depan altar untuk mengumandangkan dua tubuh yang menjadi satu – tak akan terpisahkan, kecuali ketika Tuhan berkehendak. Tapi juga peringatan hari di mana seorang wanita bernama Lee Hyun Ra (sekarang Jang Hyun Ra, tentu saja) lahir di dunia ini.

Hari ulang tahunmu.

Sungguh, maafkan aku karena tidak bisa menghabiskan hari besar ini bersama-sama denganmu. Aku tahu surat ini tak berarti apa-apa bagimu. Tapi aku telah berusaha keras untuk menulisnya di tengah-tengah dering telepon genggam yang menyerukan panggilan dari bos-ku dan mandor-mandor yang ada di proyek.

Masalah yang terjadi ternyata lebih parah dari yang aku bayangkan. Jumlah tiang besi yang kami perlukan untuk membangun jembatan itu tidak sesuai dengan apa yang kami terima dari penyuplai. Sangat ricuh di sini, semua orang bergantung padaku, sementara mereka saling menyalahkan. Aku benar-benar nyaris gila… oh, tidak… bukan gila, aku benar-benar gila, Nyonya Jang.

Tapi asal kau tahu saja, hanya ada satu orang yang bisa membantuku untuk tetap waras pada saat-saat seperti ini. Hanya satu orang yang mampu memberiku kekuatan untuk tetap berdiri meski kaki ini sudah terlalu lemah berpijak. Hanya satu orang yang melengkapi hidupku… dan orang itu kau, Nyonya Jang.

Biarlah semua orang di dunia ini menjauhiku, karena hanya dirimulah satu-satunya orang yang aku butuhkan dalam hidup.

Jadi… kumohon, Nyonya Jang. Maafkan aku.

Dan setelah kau selesai membaca surat ini, bisakah pergi ke ruang tamu? Duduklah di kursi yang ada di samping meja telepon… dan telepon aku! Kumohon, lakukan ini untukku, kau tentunya tidak ingin pekerjaanku tak selesai ‘kan? Tapi jika kau tak peduli akan pekerjaanku, lakukan itu untukku, untuk suamimu. Tolonglah… aku membutuhkanmu.

Suamimu yang mengemis maaf,

Jang Hyun Seung

_____________*0*0*0*0*_______________

 

“Sepucuk surat di meja telepon”

Terima kasih, Nyonya Jang.

Aku senang kau mau menelponku. Bolehkah aku mengartikannya sebagai pemberian maafmu? Ah… jangan malu mengakui kalau kau luluh dengan suratku sebelumnya, Nyonya Jang, kau selalu begitu jika merasa kalah. Hahaha.

Tapi sebelum itu, kuingin mengingatkanmu tentang kaki-kaki prematur kita yang berusaha menapaki jalan pernikahan ini. Juga tentang kecanggungan saat kita menyadari kalau kasur yang biasanya kita miliki sendirian harus kita bagi berdua; lagi ucapan selamat malam dan pagi yang terasa sedikit asing namun membahagiakan.

Masih ingatkah kau hari pertama kita tinggal bersama setelah bulan madu kita di Pulau Dewata? Kita disibukan dengan membereskan rumah pertama kita dan menatanya. Kau mengerjakan pekerjaan ringan dan aku sisanya. Kita juga berdebat soal cermin, kau bilang cermin itu harus diletakan di kamar, tapi aku merasa benda itu lebih berguna jika kita meletakannya di dekat pintu masuk. Kau bersikeras dengan pendapatmu dan aku juga tak mau mengalah. Kita nyaris memulai pertengkaran pertama kita di hari itu! Tapi akhirnya aku mengajukan gencatan senjata; tentu saja. Mengingat betapa bahagianya hati ini saat melihatmu tersenyum penuh rasa kemenangan sudah cukup untuk meredakan kekesalanku.

Lagipula, sudah kukatakan berulang kali kalau aku suka senyummu, Nyonya Jang. Senyum itu selalu berhasil menenangkan prahara dalam pekerjaanku sebagai arsitek muda yang kala itu berusaha keras menjadi gembong dalam pekerjaannya. Senyummulah satu-satunya kekuatanku di pagi hari dan penyegarku di malam hari.

Mengenang masa-masa saat tali Tuhan belum mengikat kita, kuakui kalau aku acapkali cemburu saat senyummu merekah lebar pada pria lain; entah itu temanmu atau pun orang asing yang tanpa sengaja menolongmu. Tapi, tentu saja, aku tak pernah takut kehilangan senyummu, karena kutahu senyum pujamu hanya untukku.

Oh, jangan coba menangkisnya, kau memujaku; sangat. Aku suka saat kau diam-diam memperhatikanku, mengerjap-ngerjap takjub, dan bersyukur kepada Tuhan akan takdir yang ia ciptakan untukmu. Kebiasaanmu itu juga tak hilang hingga kita menikah, kau suka memperhatikanku saat aku terlalu terfokus dengan pekerjaanku dan kau berpikir kalau aku tak mempedulikanmu. Dan lagi, aku bahkan berani bertaruh kalau kau pernah mencoba untuk mengitipku mandi! Hahaha, jangan bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu, Nyonya Jang, karena tanpa kau sadari… aku lebih sering memperhatikan pasanganku  ketimbang kau.

Yah, sebenarnya masih begitu banyak hal yang ingin aku peringati bersamamu hari ini. Namun, sepuluh ribu lembar kertas pun tak mampu menampungnya. Tapi jangan kecewa, Nyonya Jang, hari ini kita masih punya cukup banyak waktu untuk membincangkan peristiwa-pertiwa lainnya… secara langsung.

Suamimu yang menunggu di luar,

Jang Hyun Seung

_____________*0*0*0*0*_______________

“Sepucuk surat di pintu keluar”

Tahan tangismu sampai kau bertemu denganku, Nyonya Jang.

Dan maaf untuk surat yang menghalaumu untuk bertemu denganku di balik pintu kayu ini. Aku tahu hatimu langsung mencelus tatkala mengetahui apa yang telah aku perbuat padamu; sebuah sandiwara murahan yang dilakukan pelakon pilon sepertiku. Yah, kuakui ini memang akal bulusku.

Otakku tiba-tiba saja bergagasan 31 Mei akan menjadi lebih menyenangkan ketika aku membumbuinya dengan  sedikit melakonkan tipuan kecil dan membuatmu kepalang sedih sebelum memberikan akhir yang membuatmu tersenyum. Er, sebenarnya aku agak sangsi dengan akhir yang akan membuatmu tersenyum ini. Malah aku cenderung berkeyakinan kalau kau akan membunuhku sedetik setelah aku menampakan diri.

Jadi kupikir, aku bisa menggunakan surat-surat ini untuk menjelaskan padamu tentang duduk perkaranya sebelum memberimu kejutan yang lebih banyak nanti.

Memang, adakalanya aku berpikir kalau aku agak berlebihan menaggapi tanggal 31 Mei dengan cara seperti ini. Apa kita tak bisa melaluinya dengan biasa-biasa saja? Makan malam? Berjalan-jalan? Atau memadu cinta di atas ranjang kita dengan aroma kamomil memenuhi udara?

Tapi tidak. Seperti yang kita ketahui bersama, 31 Mei adalah tanggal yang sangat spesial. Aku tak bisa membiarkannya berlalu dengan cara yang biasa-biasa saja tanpa meninggalkan kesan yang mendalam di hati kita berdua. Okelah, untuk opsi terakhir tentang ranjang dan aroma kamomil tentu saja bisa kita wujudkan malam ini. Tapi untuk sekarang…

Aku hanya ingin kau keluar dari rumah kita, temui aku yang tengah memegang sebuket bunga mawar merah kesukaanmu, dan terjang tubuhku dengan tangan terbuka. Aku tahu kau begitu merindukanku selama tiga hari terakhir ini; karena aku juga merasakan hal yang sama.

Kau juga boleh menangis, tapi jangan sertai pukulan pada punggungku – pukulanmu sakit, Nyonya Jang. Namun kau boleh membentakku, aku tahu kalau kau sangat jengkel padaku karena telah membangun panggung sandiwara di antara kita.

Dan setelah semua itu tuntas dan emosimu terlunaskan… izinkan aku menyerukan ikrar untuk menjagamu satu tahun lagi di hidup kita.

Suamimu,

Jang Hyun Seung

_____________*0*0*End*0*0*_______________

“Dicta says to Tamara”

Happy B’day, Tamara Putera! This was another letter from me to you, My Dear.

Senang sekali bisa mengenal dan menjalin hubungan persahabatan ini dengan sangat baik bersamamu. Maafkan omma yang gak bisa ngasih hal yang lebih baik dari ini – 1.631 kata yang mungkin hanyalah sekedar kata bagimu. Tapi ketahuilah, omma menulisnya sambil memikirkan kebahagianmu, Dear. Surat ini adalah doa omma untukmu. Omma berharap hidupmu akan sebahagia Jang Hyun Ra, ia menemukan seorang suami yang kekanak-kanakan namun sangat mencintainya. Dan omma berharap, kamu juga dapat menemukan seseorang seperti itu.

Tak perlu buru-buru mencari, Dear, jalani hidupmu dengan bahagia dan penuh senyuman. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi omma ketika mengetahui kabarmu baik-baik saja saat kita bertukar pesan BBM atau mention Twitter. Dan tak terasa nyaris satu tahun kita sudah tidak bertemu secara langsung, tapi meskipun begitu, tanggal 31 Mei tak pernah lekang dari ingatan omma sebagai peringatan hari ulang tahunmu. Entahlah, hanya kamu satu-satunya sahabat yang omma kasih hadiah ulang tahun seperti ini. Hahaha. Bagi omma, ada yang bebeda pada tanggal 31 Mei. Dan terakhir, omma cuman mau bilang…

Omma sayang sama kamu; dengan sepenuh hati.

12 pemikiran pada “[Oneshot] Surat 31 Mei

    1. Benedikta Sekar

      Kyaaaaa! Pengunjung pertama dan saya sudah bikin nangis….><
      Maaf ya kalau tulisan saya jelek. Terima kasih sudah mau mampir.

      1. Benedikta Sekar

        Kan ada tuh tulisan “END”-nya. Hahahaha. Itu gak termasuk cerita. Surat ini hadiah ulang tahun sahabat saya. Jadi itu ucapan ulang tahun saya untuk sahabat saya.

  1. Ping-balik: [Coretan Dicta] How’s Your Hiatus, Dict? | Kata-Kata Dicta

  2. Ping-balik: Kata-Kata Dicta | [Chaptered 2/2] The Stories of 31 May: Haengbok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s