Diposkan pada Flash Fiction

Kenapa Ya?

Aku memikirkanmu lagi hari ini. Errr, nyatanya, aku selalu memikirkanmu sih. Boleh, ya? Kuharap kamu gak kena kutuk karena aku selalu memikirkanmu. Hahaha.

Aku berani bertaruh saat kamu tahu kalau aku selalu memikirkanmu, pasti ada satu kata tanya yang terlintas di kepalamu: kenapa?

Kenapa ya aku selalu memikirkanmu?

Aku punya banyak alasan untuk itu, dimulai dari yang paling idiot sampai yang perlu penjabaran ilmiah untuk itu. Tapi hanya ada satu alasan masuk akal yang mampu menjawab pertanyaan itu…  aku mencintaimu, itu saja. Karena saat seseorang tengah mencintai orang lain, secara otomatis ia akan selalu memikirkan orang yang ia cintai, bukan? Jadi itu masuk akal.

Kemudian kamu akan terheran-heran dengan jawaban itu, dan kamu pun tergelitik untuk bertanya kenapa lagi.

Kenapa ya aku bisa jatuh cinta sama kamu?

Yeah, dan lagi-lagi aku punya banyak alasan untuk itu, dimulai dari tubuh hingga yang tidak menyangkut masalah itu. Tapi aku pun hanya memiliki satu alasan masuk akal untuk pertanyaan itu… itu kamu, cuman kamu. Aku mencintai kamu karena itu kamu, bukan karena apa yang kamu miliki tapi apa adanya kamu. Sederhana, bukan?  jadi itu pun masuk akal.

Lantas kamu pun kembali mengerutkan keningmu, masih bingung, dan lagi-lagi bertanya kenapa.

Kenapa ya harus kamu?

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tak punya alasan yang logis untuk menjawab pertanyaan itu. Banyak yang menginginkanku, tapi hanya padamu aku menjatuhkan cinta. Kenapa ya?

Waktu berlalu cukup lama, dan aku masih tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Akhirnya aku menyerah, dan menyadari… sesungguhnya, aku tak membutuhkan alasan untuk mencintaimu dan kau juga tak perlu mempertanyakan hal itu.

Karena cinta memang tak bergantung pada logika.

 

 

 

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

10 tanggapan untuk “Kenapa Ya?

  1. ‘Karena cinta memang tak bergantung pada logika.’
    Seperti lagunya Agnes Monica ya? lols. sepertinya yang kali ini beneran diary ya? hayo, ngaku. hahaha. Cinta emang cuma sebatas dideklarasikan tanpa harus dijabarkan karena cinta pun perasaan tanpa isyarat. Indah. Dan saia melihatnya di fiksi ini.

    1. Kyaaa! ini bukan curcol kok, Kak… *sembunyi di kolong kasur*
      Dan terima kasih sudah mau membaca cerita saya. Hihihi… gak ada kritikan ini?

      1. Hahahaha, iya, kalau dibaca lagi sebenarnya itu kayak tulisan dari dasar hati yang gak disadari. Hahahaha.

        Wah, sering-sering bikin cerita pendek nih saya (biar gak dikritik) #eh

  2. ToT keinget lagi..
    Ya.. Pertanyaan terakhir itu, kenapa harus kamu? Sesuatu yang sulit dijawab.. Wkwkkw.. Ya, tapi ini simpel dan unik yang bisa bikin kita ngerti apa namanya cinta.. Like this eomma 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s