Diposkan pada Cerita Pendek, Romance

One Day Vacation

Sekar Kim  buru-buru merapatkan duffle coat berwarna cronsilk yang dibeli sebulan yang lalu di Tanah Abang bersama eyang putri-nya ketika ia mulai merasakan angin musim dingin menembus bahan kanvas coat itu. Nyatanya Sekar tak pernah membenci musim dingin, tapi bagaimanapun juga, nyaris tiga per empat tahun umurnya ia habiskan di negera tropis; Indonesia. Dan otomatis, menghadapi musim dingin di Korea membuatnya harus benar-benar waspada dengan ancaman terserang flu.

Gadis Indo-Korea itu baru saja menjejakkan kaki jenjangnya yang berbalutkan ankle boots di Stasiun Kereta Busan. Rasa penat selama 2 jam perjalanan yang ia tempuh menggunakan KTX (kereta api cepat di Korea) langsung hilang ketika melihat suasana baru di hadapannya.

“Nampo-dong, I’m coming!” seru Sekar seraya masuk ke dalam taksi yang berhenti tepat di depannya.

Sepanjang perjalanan menuju Nampo-dong mata belo Sekar mengerjap senang saat menemukan sesuatu yang baru baginya. Sama sekali tak pernah terpikirkan oleh Sekar untuk pergi jauh dari kota Seoul. Namun, mendengar cerita liburan musim panas teman-temannya tentang betapa menyenangkannya kota Busan, Sekar merasa pada liburan musim dingin ini dia harus menghabiskan satu hari penuh di kota Busan.

“Terima kasih, Pak.” Sekar memberikan uang 3.000 Won sebagai ongkos taksi yang mengantarkannya ke Nampo-dong, kemudian bergegas menyusuri jalan yang sangat terkenal di Busan itu.

Sepanjang perjalanan Sekar begitu terfokus dengan hal-hal di sekelilingnya. Nampo-dong memang sangat ramai di hari Minggu ini. Tidak hanya para pengunjung yang bertujuan untuk berbelanja, tapi juga mereka yang ingin pergi ke Busan Tower ataupun wihara yang ada di dekat jalan itu. Para pelancong dari tanah Eropa pun tak sedikit yang terlihat. Masyarakat Busan biasanya memanggil bule-bule itu dengan sebutan Sea Man. Orang laut? Yah, sejujurnya Sekar sendiri bingung dengan sebutan itu.

Sekitar dua jam penuh Sekar berhasil memanjakan matanya dengan barang-barang murah dan khas di Nampo-dong. Dia memborong beberapa terusan retro di sebuah toko pakaian lama dan juga sepasang wedges abu-abu yang dirasa sangat cocok bila dipadupadankan dengan terusan retro yang meriah. Ohya, dia juga membelikan ibunya beberapa ginseng dan cumi-cumi. Akhir-akhir ini ibunya sering mengeluh tidak enak badan, dan dia berpesan pada Sekar untuk membelikan beberapa ons ginseng di Busan.

Sekar melirik jam tangan bermerek Oakley-nya dan mendapati waktu telah lewat setengah jam dari tengah hari. Menyadari kalau ia harus mengejar kereta terakhir menuju Seoul sore ini, dengan sedikit tergesa-gesa Sekar mencari restoran tradisional yang setidaknya mampu memuaskan nafsu kulinernya. Sepertinya hari ini ia akan menyantap samgyetang (sup ayam ginseng). Mengingat udara yang sedang ekstrem, ginseng cukup membantunya agar terhindar dari flu. Mungkin baru besok Sekar akan meminta ibu untuk membuatkan teh jahe untuknya.

Selama lima belas menit Sekar berkeliling Nampo-dong untuk mencari restoran dan akhirnya memutuskan untuk memasuki sebuah restoran tradisional yang ia lihat pertama kali. Awalnya ia ragu; menilik begitu banyak orang yang berdesak-desakan di dalam sana meski ia masih bisa melihat beberapa meja kosong. Namun karena tak ada lagi restoran yang kelihatannya menyediakan hidangan yang lebih enak dari tempat itu, Sekar tak punya pilihan lain selain memilih restoran tradisional tersebut.

Tas-tas belanjaan sedikit membuatnya kerepotan saat ia harus mengitari bagian dalam restoran untuk mencari tempat duduk. Tapi dengan sedikit doa dan bantuan pelayan yang melihatnya kebingungan, Sekar akhirnya menemukan tempat duduk dan meja untuk dua orang yang ada di dekat jendela. Tempat itu berada tepat di sudut, namun cukup nyaman dan tenang sehingga Sekar bisa dengan leluasa menikmati waktunya untuk bersantai.

Sembari menunggu pelayan yang sedang sibuk menghampiri mejanya, mata Sekar mengitari restoran yang sebagian besar bahan bangunannya terbuat dari kayu. Suasana tradisional memang kentara sekali di tempat ini. Dengan berbagai hiasan dinding berupa tulisan kaligrafi Korea dan beberapa lampion merah menyala, serta wewangian lavender yang berasal dari lilin-lilin yang dinyalakan di setiap meja, membuat restoran ini semakin terasa kuno dan tradisional.

“Hei! Aku tamu di sini! Hargai aku sebagai tamu dan berikan apa yang aku inginkan! Aku hanya mau nasiku berada di piring dan air untuk mencuci tangan! Kenapa seperti itu saja sulit sekali dipenuhi? Apa semua orang Korea seperti ini, hah?!”

Sekar tersentak ketika mendengar seseorang berbicara dalam bahasa ibunya dan langsung menoleh ke arah samping meja. Ada seorang pria berwajah sangat Indonesia sedang duduk di sana. Kulit sawo matang dan bermata belo sama seperti Sekar. Rambutnya terpotong pendek dan rapi. Ia juga memiliki wajah persegi dengan dagu belah yang membuatnya terlihat sangat jantan. Tubuhnya bagus dan gagah, Sekar perkirakan tinggi pria itu sekitar 185 cm; masih lebih tinggi darinya meskipun ia menggunakan Platform setinggi 12 cm. Pria itu mengenakan jaket parka berwarna silver, dan kaus hitam berbahan wol di baliknya, penampilannya semakin terlihat santai dengan celana jins biru dan sepatu kets putih yang ia kenakan sebagai bawahan. Umurnya? Mungkin awal 20-an.

“Maafkan saya, tapi saya tidak paham dengan apa yang Anda katakan, Tuan,” sahut pelayan itu dengan bahasa Korea yang sangat sopan. Namun karena pria itu sepertinya juga tidak mengerti – dia mungkin berpikir kalau pelayan itu membantah dan menghina dirinya – ia pun berdiri dan mendekati pelayan tersebut seakan-akan ingin mengajak berkelahi, hingga tepat saat hal itu nyaris terjadi, Sekar langsung berdiri dan mendorong tubuh pria itu menjauh tanpa berpikir dua kali.

“Tolong jangan main hakim sendiri. Di sini Korea, Bung. Bukan Indonesia,” kata Sekar dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang fasih sambil mengarahkan tatapan mata tajam ke arah pria itu.

Pria itu memandang Sekar, matanya berkedip-kedip untuk beberapa saat, seakan-akan baru saja melihat malaikat jatuh dari langit hingga akhirnya ia tersadar dan terbatuk-batuk salah tingkah.

“Maafkan Tuan ini, dia hanya tidak terbiasa dengan suasana Korea yang asing.” Sekar mengalihkan perhatiannya pada pelayan tadi dan berbicara dalam Bahasa Korea seraya membungkuk dengan sopan, “Tuan ini meminta nasinya berada di piring dan air untuk mencuci tangan, apa Anda bisa memberikannya?”

Pelayan itu melirik-lirik ragu ke arah pria yang kini berada di belakang Sekar dan langsung saja mengangguk mengiyakan sembari menarik kembali hidangan yang baru saja ia sajikan untuk pria itu.

Sepeninggal pelayan itu, Sekar langsung berbalik dan menatap pria Indonesia itu dengan pandangan kesal.

“Tuan, seharusnya Anda bisa menjaga sikap Anda di sini,” kata Sekar dengan nada sedikit ketus, “Mengingat sepertinya Anda samasekali tidak dapat berbahasa Korea dan bertempramen tinggi, seharusnya Anda bisa menahan ego Anda untuk mendengarkan apa yang orang-orang ini katakan. Bukannya main hakim sendiri.”

Wajah bersih pria itu langsung merah padam dan mengalihkan perhatiannya ke arah lain; menahan malu. Sekar memandang ke sekeliling dan mendapati beberapa pasang mata tengah memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi, hingga akhirnya Sekar hanya bisa membungkuk dalam-dalam dan mengucapkan maaf karena makan siang mereka terganggu oleh keributan pria itu.

“Makasih ya,” kata pria itu lirih seraya duduk kembali di kursinya, “Kalau kau mau, kau bisa bergabung denganku. Aku sendirian.” Pria itu menawarkan kursi kosong di hadapannya kepada Sekar.

Sekar terdiam, sejujurnya ia masih agak jengkel dengan prilaku pria itu,  namun pada akhirnya ia pun menyetujuinya. Tidak ada motif, Sekar hanya berpendapat kalau ia tak mungkin menolak ajakan makan bersama pria good looking seperti itu atas dasar kesopanan.

Setelah memindahkan barang-barang belanjaannya, Sekar lantas duduk di depan pria itu dan langsung memperkenalkan diri; tentu saja dalam bahasa ibunya. “Namaku Sekar Kim, dan Anda sendiri?”

“Arya Pradipta,” sahut pria itu, “panggil saja Arya.”

“Kau pelancong atau berencana menetap di sini?” tanya Sekar tanpa basa-basi.

“Tidak keduanya, aku punya sedikit urusan di tempat ini,” jawab pria bernama Arya itu, “Kau sepertinya blasteran. Jawa-Korea, ‘kan?”

“Benar. Ayahku berdarah asli Korea, sedangkan ibuku lahir di Solo. Apa terlihat begitu jelas di wajah dan namaku?” Sekar mengajukan pertanyaan yang tak perlu dijawab, dan kemudian tersenyum karena menyadari hal itu, “Kau tak suka makanan Korea, Arya?” imbuhnya, mengganti pertanyaan.

“Bukannya tidak suka,” jawab Arya sembari menumpuk kedua tangannya di atas meja dan sedikit memajukan tubuhnya, “Aku hanya muak dengan tata krama dan cara mereka menyajikan makanan. Sungguh merepotkan dan membuat makan tidak nyaman. Ditambah lagi…,” Arya mengambil sepasang sumpit yang disediakan di atas meja dan mengacung-acungkannya, “…chop-stick ini terbuat dari stainless steel dan gepeng! Aku tak bisa menggunakannya dengan mudah selayaknya chop-stick kebanyakan! Demi Tuhan, mengapa makan saja harus dibuat kerepotan seperti ini?”

Sekar Kim tak tahu harus bagaimana menanggapi keluhan Arya selain dengan tertawa. Ia suka sekali melihat bagaimana alis tebal Arya bergerak-gerak ekspresif saat ia berbicara seperti tadi. Mungkin rasa suka ini dikarenakan dalam lima tahun terakhir  Sekar sudah jarang sekali melihat pria Indonesia dengan segala kekhasannya, dan saat ia melihat Arya, Sekar seakan-akan kembali melihat Indonesia yang telah lama ia tinggalkan. Yah, meskipun kewarganegaraan Sekar telah berubah, hati kecilnya masih mengganggap kalau Indonesia adalah kampung halamannya.

“Begitulah orang-orang Korea menghormati makanan,” kata Sekar sesaat setelah tawanya mereda. “Di sini mereka punya adat yang sangat kuat. Aku pun kadang muak dengan tata cara makan mereka. Sebagai orang yang paling muda di dalam keluarga, aku sering merasa salah tingkah saat ayah-ibuku mengajak makan bersama kakek-nenek dari keluarga ayahku. Aku harus menunggu kakekku makan terlebih dahulu, aku tidak boleh berbicara; kalau pun ditanya, aku juga hanya boleh menjawab dengan ‘mmm’ dan gelengan kepala, bahkan aku tak boleh menghembuskan nafas dari hidung ke meja. Sungguh, makan dengan tekanan seperti itu sangat tidak enak.”

“Kedengarnya kau tidak begitu terbiasa dengan tata cara makan orang Korea…,” Arya terdiam sebentar; berpikir. “Hei, apa kau pernah tinggal di Indonesia?” tanya Arya.

Sekar tergelak. “Tentu saja, sejak lahir sampai umurku 14 tahun aku tinggal di sana,” jawabnya jujur. “Aku pindah ke Korea karena ayahku ditarik kembali oleh kantor pusat di Seoul, dan menghabiskan masa SMA-ku di negara ini,” imbuhnya.

“Pantas saja, kupikir kau akan marah ketika aku berbicara seperti tadi,” ada raut lega di wajah Arya saat ia bicara, “Jadi kau tidak tinggal di Busan?”

“Aku hanya menghabiskan satu hari liburku di tempat ini, aku akan kembali ke Seoul menggunakan kereta terakhir sore nanti,” jawab Sekar.

“Sayang sekali…,” wajah Arya terlihat sedih, seakan-akan kehilangan sesuatu yang berharga, “Padahal aku masih ingin mengobrol banyak denganmu.”

Mendengar ucapan Arya, tak ayal wajah Sekar bersemu merah. Ia tak pernah merasa begitu dihargai oleh pria manapun di dunia ini – kecuali ayahnya, tentu saja. Dan faktanya, sampai sekarang di umurnya yang 19 tahun, Sekar sama sekali belum pernah berpacaran. Bukannya tidak laku, Sekar merasa belum saatnya ia mencari kekasih. Mungkinkah sekarang saat yang tepat?

“Pesanan anda, Tuan,” pelayan yang tadi datang kembali membawa pesanan Arya. Kali ini ia memberikan apa yang Arya minta dengan manaruh nasinya di piring dan sebuah baskom kecil berisi air berserta handuk untuk cuci tangan. Kemudian menaruh lauk-pauk bibimbap (nasi campur)  di mangkuk terpisah.

“Dan Nona, Anda ingin pesan apa?” pelayan itu beralih kepada Sekar.

Samgyetang saja,” jawab Sekar, dan pelayan itu pun pergi.

“Hei, aku makan duluan ya.” Arya meminta izin dan Sekar hanya tersenyum sebagai jawaban iya.

Tanpa tendeng aling-aling Arya mencuci tangannya dengan air yang ada di dalam baskom dan langsung mengaduk lauk-pauk bibimbap dengan tangannya sendiri. Beberapa orang di sekeliling mereka mengerang jijik dan berbisik-bisik jengkel dengan tingkah Arya. Namun pria itu tetap cuek dan terus saja mengaduk bibimbap itu dengan tangannya hingga benar-benar tercampur dengan rata, lalu memakanannya dengan nasi yang berada di piring terpisah; menggunakan tangan.

“Hei, kau tidak malu makan menggunakan tangan seperti itu?” tanya Sekar, sedikit risih dengan pandangan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

“Untuk apa? Beginilah cara makanku. Mereka tak punya hak untuk melarang,” jawab Arya tak acuh, sembari terus melahap makanannya.

“Kau tak pernah tahu pepatah ‘di mana kaki berpijak, di situ langit kaujunjung’, ya?” sahut Sekar, tak mau kalah. Menurutnya tingkah Arya cukup kelewatan.

Arya menghentikan kegiatannya dan mengangkat wajahnya untuk menatap Sekar. “Pepatah itu omong kosong,” balas Arya sinis, “Pepatah itulah yang membuat orang-orang melupakan kampung halamannya.”

Sekar mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, membentuk busur manis di wajah Indo-Koreanya; menuntut penjelasan atas ucapan Arya. Sedangkan Arya menegakkan tubuhnya dan membasuh tangannya yang kotor dengan air kembali; nafsu makannya tiba-tiba saja menghilang.

“Logikanya begini…,” Arya menarik kursinya dan menumpuk tangannya di atas meja seperti tadi; Sekar tersenyum kecil, menyadari kalau ia akan menyaksikan tarian alis Arya kembali, “jika kau merasa dirimu lebih tinggi daripada orang lain, apa kau akan menuruti orang yang lebih rendah darimu?”

Mengingat menusia zaman sekarang kian hari kian tinggi hati; Sekar menggeleng.

“Nah, begitu pula orang-orang Korea ini…,” Arya memutar kedua bola matanya, “mereka tidak mau tahu, siapa pun dirimu dan dari mana asalmu, kamu harus mengikuti adat mereka.”

“Bukankah itu wajar, kita ini pendatang, sudah sepantasnya kita menghargai adat yang berlaku di tempat yang kita datangi,” timpal Sekar.

“Itu benar. Namun apa akibatnya jika hal itu terus menerus terjadi?” Arya diam sesaat, membiarkan Sekar berpikir sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “orang-orang itu akan melupakan jati diri mereka. Kampung halaman mereka.”

“Tentu saja hal itu tidak berlaku bagi orang-orang yang hanya melancong untuk beberapa hari atau pun beberapa minggu.” Arya buru-buru menambahkan, ia tahu kalau Sekar akan menyanggah tentang hal itu, “tapi ini untuk orang-orang sepertimu. Orang-orang yang tinggal-menetap di luar negeri. Orang-orang yang melupakan tanah airnya.”

“Aku tidak pernah melupakan Indonesia,” sahut Sekar cepat; sedikit tersinggung.

“Kau mungkin tidak, tapi bagaimana dengan orang-orang yang sukses dipelancongan itu?” Arya membalas santai; Sekar bungkam.

“Mereka sukses dan berhasil, tapi mereka tak mau kembali,” Arya menatap Sekar lekat dan gadis itu langsung salah tingkah dengan wajah bersemu merah, “Mereka beralasan pemerintah Indonesia tak mampu memberikan hidup yang layak dan lain sebagainya. Tapi aku tahu alasan sebenarnya, mereka hanya tidak ingin berada di Indonesia. Mereka tidak ingin kembali… dan menggunakan apa yang mereka miliki untuk membangun Indonesia.”

Sekar terpana; ia tak mampu berkata apa-apa lagi selain mengerang dalam hati dan membenarkan apa yang Arya katakan padanya. Sementara itu Arya tersenyum  jemawa; mengukuhkan posisinya sebagai si Benar dalam pembicaraan ini.

****

“Hei, apa kita bisa berjumpa lagi?” Arya berdiri tepat satu meter dari garis pembatas, memandang sedih kepada sekar yang telah berada di dalam kereta.

“Kau ingin berdebat tentang makanan lagi, atau kaupunya maksud lain?” Sekar menarik satu alisnya ke atas dan tersenyum sinis.

Melihat ekspresi wajah Sekar, Arya lantas tergelak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maafkanlah jika aku membuatmu tersinggung tadi,” sahutnya, “Tapi sekarang aku hanya ingin mengajakmu berkencan.”

Sekar terbelalak dan Arya tertawa semakin nyaring.

“Tolong hubungi aku jika kau punya waktu,” Arya menyodorkan selembar kartu dan Sekar mengambilnya, lalu tepat saat Arya kembali berada di luar garis bahaya…

Cesssh…

Pintu kereta tertutup. Kereta bergerak berlahan-lahan dan meninggalkan Stasiun Kereta Busan. Sekar masih bisa melihat bayangan Arya yang mengecil di ujung peron, sebelum akhirnya ia mengalihkan pandang ke arah kartu nama Arya yang membuatnya nyaris mati karena malu ketika mengetahui sosok Arya sebenarnya….

Arya Pradipta

0234-5678910/arya_dipta@yahoo.co.id

Student Exchange from Indonesia

Korean literature

 

 

 

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

13 tanggapan untuk “One Day Vacation

  1. Hai, Sekar

    Pertama-tama, saya ingin menyampaikan sesuatu tentang gagasan. Saya sebetulnya amatir dalam masalah tata bahasa Indonesia, karena saya seringkali menulis paper dalam bahasa Inggris. Jadi mohon maaf kalau ada salah-salah. Mungkin bisa dicek dengan guru Bahasa Indonesia atau orang-orang yang lebih tahu juga.

    Intinya, setiap kalimat memiliki gagasan utama. Dan saat kata yang terdapat dalam sebuah kalimat bertentangan, ada baiknya kata itu dimasukkan ke dalam kalimat baru. Sebaliknya, bila dua kalimat bersebelahan memiliki gagasan yang sama, ada baiknya kalimat itu disatukan. Buatlah pembaca merasa senyaman mungkin dalam menikmati tulisanmu,

    Contoh:

    “Terima kasih, Pak.” Sekar memberikan uang 3.000 Won sebagai ongkos taksi yang mengantarkannya ke Nampo-dong. Dan kemudian bergegas menyusuri jalan yang sangat terkenal di Busan itu.

    Kedua kalimat bersebelahan itu memiliki gagasan yang sama. Barangkali, untuk membuat kalimat itu menjadi lebih efektif, bisa ditulis menjadi:

    “Terima kasih, Pak.” Sekar memberikan uang 3.000 Won sebagai ongkos taksi yang mengantarkannya ke Nampo-dong, kemudian bergegas menyusuri jalan yang sangat terkenal di Busan itu.

    Untuk kalimat yang tidak memiliki gagasan yang sama:

    1. Para pelancong dari tanah Eropa pun tak sedikit yang terlihat, masyarakat Busan biasanya memanggil bule-bule itu dengan sebutan Sea Man.

    Sepintas kalimat itu memang merujuk pada subjek yang sama, namun gagasan yang disampaikan tidaklah sama. Saya sedikit kesulitan menjelaskannya, sih. Intinya, yang satu menjelaskan tentang para pelancong dari Eropa, dan yang satu menjelaskan bagaimana masyarakat sekeliling tentang para pelancong itu.

    2. Rambutnya terpotong pendek dan rapi, serta memiliki wajah persegi dengan dagu belah yang membuatnya terlihat sangat jantan.

    Coba perhatikan. Sebelum koma, kamu menjelaskan tentang rambut Arya, namun setelah koma kamu menjelaskan tentang bentuk wajah. Bentuk wajah siapakah di sini? Bukan berarti kalimat ini salah, namun ada perpindahan deskripsi di sini yang akan lebih baik bila dibuat jelas. Hal itu bisa dilakukan dengan memisahkan kalimat ini atau membuatnya lebih efektif. Contoh:

    – Rambutnya terpotong pendek dan rapi. Ia juga memiliki wajah persegi dengan dagu belah yang membuatnya terlihat sangat jantan.

    – Rambutnya terpotong pendek dan rapi, dan ia memiliki wajah persegi dengan dagu belah yang membuatnya terlihat sangat jantan.

    Oh ya, saya menangkap beberapa kesalahan tulis/eja di sini:

    1. Ankle boot: seharusnya ankle boots, karena boots selalu dihitung sepasang. Seperti high heels, bukan high heel 🙂
    2. Flatform: apakah yang kamu maksud platform? Sepatu berhak tinggi namun bagian depannya tebal dan kokoh seperti tiang? *melirik platform 10 inci saya, hahaha*
    3. Menegakan: menegakkan, dari kata dasar ‘tegak’
    4. Telerlihat: mungkin maksudmu ‘terlihat’, ya?

    Demikian kritik saya. Mohon maaf kalau kepanjangan, ya. Teruslah menulis! Overall, saya suka ceritanya. Ringan, namun moral ceritanya tersirat dengan jelas. Semacam pepatah ‘hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri’. 🙂

    Oh ya,

    “Mereka sukses dan berhasil, tapi mereka tak mau kembali,” Arya menatap Sekar lekat dan gadis itu langsung salah tingkah dengan wajah bersemu merah, “Mereka beralasan pemerintah Indonesia tak mampu memberikan hidup yang layak dan lain sebagainya. Tapi aku tahu alasan sebenarnya, mereka hanya tidak ingin berada di Indonesia. Mereka tidak ingin kembali… dan menggunakan apa yang mereka miliki untuk membangun Indonesia.”

    Wow, saya tersindir nih… hahahahaa :):):)

    Sekian dan terima kasih atas hiburannya, ya!

    1. Kritikan diterima dengan baik, baru aja selesai direvisi ^0^/

      Huwaaaa, komentarnya panjang banget, terima kasih sudah mau repot-repot kasih revisi ke saya ya Kak. Kritikan serta revisi Kakak benar-benar sangat berguna buat saya. lain kali saya akan lebih memperhatikan tentang ide pokok kalimat tersebut. Dan jujur saja, saya juga baru tahu hal itu dari Kakak. Jadi sekali lagi, terima kasih telah membagi ilmu kepada saya. *bungkuk*

      Eh? Kesindir? Kakak gak tinggal di Indonesia?! :O Huaaaa, maaf ya Kak. *bungkuk lebih dalam*

      Sekali lagi, terima kasih sudah mau mampir dan memberikan kritikan.

  2. Hahaha… jangan minta maaf!
    Bercanda doang, kok. Sindiran kayak gitu pasti pernah didapat sama mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang merantau dan malas pulang lagi 🙂

    Sama-sama.
    Saya juga belajar itu otodidak, kok. Banyak membaca karya orang dan banyak latihan menulis juga. Yah, penulis itu kan belum lengkap karyanya tanpa pembaca. Jadi sebisa mungkin kita buat mereka nyaman membaca karya kita 🙂

    1. Hihihi, saya juga sih, meski masih di Indonesia, saya juga tinggal kepisah dari orangtua. Terus belakangan ini jadi malah pulang. Hahahaha.

      Huwooo, belajar otodidak!? :O Kakak Kereeeen. Dan saya juga setuju sama Kakak, sebagai penulis kita memang harus memberikan yang terbaik pada pembaca. ^^

      Sekali lagi terima kasih ya, Kak.

  3. Ada sesuatu ma, yang bener wihara atau vihara ya? Entah aku juga gatau xD mungkin bisa di cek aja.. Tp bagus kog 🙂 bagian” terakhirnya, pesan nya bagus banget dimana kita mmg gaboleh melupakan negara kita sendiri.. 😀 aku suka

    1. Jar Cici, vihara tu bahasa Pali, bacanya tetep wihara. Tapi bahasa Indonesia, tulisannya tetap wihara. Hehehe.

      Makasih udah baca, komentar dan suka ya. Jangan jera-jera mampir lagi. ^^

  4. Halo Dicta, saya Nandits (yang di twitter hehehe).
    Tulisan kamu bagus sekali. Berbobot tapi saya gak perlu sampai mengerutkan kening untuk bisa memahami apa yang kamu coba sampaikan. Kamu menyampaikan dengan cara yang nyaman bagi saya dan juga mungkin bagi pembaca yang lain.

    Saya salut sama kamu, kamu lebih muda dari saya tapi kamu sudah begitu mahir dalam bermain kata, dan yang terpenting, begitu mahir mengorganisir ide. Di sini ada romance-nya tapi gak menye-menye juga. Jujur saya jadi malu kalau liat tulisan saya. Kamu memotivasi saya untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Terima kasih ya. Semoga kamu bisa terus berkembang. Jangan bosan ya sama comment saya yang isinya hanya berupa pujian ini (inget obrolan di twitter), saya masih terlalu speechless soalnya. Tadi nemu beberapa yang mengganjal tapi lupa karena takjub sama gaya penyampaian dan maknanya 🙂

    1. Halo, Kakak, Terima kasih sudah mau membaca cerita saya, komentar dan menyukai tulisan saya.

      Saya juga masih belajar, dan berharap bisa dan dapat menulis lebih baik dari ini. Jangan terlalu banyak memuji saya, toh, masih banyak penulis lain di luar sana yang lebih Dewa dari saya. Hahahaha. Sekali lagi terima kasih sudah membaca tulisan saya ya Kak, semoga Kakak senang.^^

  5. Hai dicta!
    Cerita yang bagus dan mengaduk-aduk emosi, serta tak luput dari pesan moral
    Jadi keingat H. Agus Salim yang (katanya) tetap makan menggunakan tangan saat menghadiri konferensi kelas dunia

    Hmm, kalau menurutku sih pendapat Arya ada benarnya, meski aku tak sepenuhnya setuju dan bisa mengikutinya.
    Gimana ya? Bangga dan melestarikan kebudayaan itu bagus, tapi tentunya tetap harus menyesuaikan diri juga, (mungkin karena di daerahku, pepatah ini sangat melekat kuat dalam keseharian masyarakatnya, bahkan ada satu kabupaten di Sumbar yang menggunakan pepatah ini sebagai semboyan daerahnya).

    Misalnya, tetap memegang tatakrama makan ala Indonesia saat di rumah, atau saat menikmati masakan Indonesia, dan mengikuti tatakrama makan ala Korea saat di resto Korea atau menghadiri undangan dari rekanan. Haha, itu menurutku aja sih :D, karena memahami dan menyesuaikan diri dengan budaya lain juga akan membuat kita dihargai dan bukan tidak mungkin mereka akan lebih bersimpati. Tapi bukan itu tujuan utamanya, ya.

    Coba deh bawain ke diri sendiri, kira-kira gimana perasaan kita kalau ada orang asing marah-marah sambil minta sumpit di kedai gado-gado?

    Yang ini jleb banget, meskipun aku belum pernah ke luar negeri
    “Mereka sukses dan berhasil, tapi mereka tak mau kembali,” Arya menatap Sekar lekat dan gadis itu langsung salah tingkah dengan wajah bersemu merah, “Mereka beralasan pemerintah Indonesia tak mampu memberikan hidup yang layak dan lain sebagainya. Tapi aku tahu alasan sebenarnya, mereka hanya tidak ingin berada di Indonesia. Mereka tidak ingin kembali… dan menggunakan apa yang mereka miliki untuk membangun Indonesia.”

    Yah, nggak ada yang tahu pasti motivasi mereka yang sukses di negeri orang tp tidak mau kembali. Aku pernah nonton acara Kick Andy yang mengundang orang-orang sukses di berbagai negara. Kebanyakan dari mereka sih kalau nggak menolak untuk kembali ke Indonesia, ya mesem-mesem malu, nggak menjawab apa-apa. Kalau dilihat dari sudut pandang berbeda sih, mereka nggak sepenuhnya salah, nggak sepenuhnya benar. Tapi aku salut banget sama mereka yang berani hidup di Indonesia dan meninggalkan tawaran-tawaran pihak luar dengan niat ingin membangun Indonesia.

    Ah, maaf, aku terlalu bawel sepertinya. Bukan bermaksud menyalahkan karakter yang ada di cerita ini, kok, melainkan hanya menyampaikan pendapatku sebagai pembaca. Cerita ini juga menyadarkanku bahwa pemikiran orang berbeda-beda dan harus dihargai.

  6. *sembunyi di kolong meja*
    Entah mengapa setelah membaca komentar Kakak, saya merasa tulisan saya ini sampah banget –___– *ancang2 mau di-delete ke tong sampah*
    Tapi yah, inti cerita saya ini di kalimat yang Kakak kutip itu. Kalau soal makan pakai tangan dan lain-lain itu… yah, cuman iseng-iseng^^

    Terima kasih sudah membaca cerita saya ya Kak, semoga tulisan saya bisa lebih baik dari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s