Cerita Pendek, Romance

Tempat yang Disebut Rumah

“Aryo! Hei! Lepasin gue! lepasin!”

Aku membuka pintu flatku dengan kasar dan membantingnya di belakang tubuhku dan gadis yang tengah kuseret sekarang ini. Tak kupedulikan betakkannya yang dari tadi memenuhi rongga pendengaranku; meminta untuk dilepaskan. Sesungguhnya aku benci begini, tapi ia tak memberiku pilihan lain.

Bruk!

“Lu gak capek ya giniin gue!?”

Gadis bernama Anna itu kembali membentakku ketika aku menghempaskan tubuh mungilnya di atas sofa ruang tengah, sementara aku berdiri dan menatapnya penuh amarah.

“Gue yang harusnya ngomong kayak gitu! Sudah berapa kali gue bilang jangan pergi ke klub malam lagi, tapi lu tetap gak mau dengar!” aku membalas bentakkan Anna lebih nyaring, tak peduli akan kemungkinan gadis itu berdiri dan menamparku seperti terakhir kali kami begini.

“Umur gue memang lebih muda lima tahun dari lu, Yo! Tapi gue bukan anak kecil lagi! Gue udah 17 tahun! Dan gue bebas ngelakuin apa yang gue mau! Lu ngerti gak sih?!” gadis itu berdiri, tapi untungnya tidak melayangkan jemari berkuteks oranyenya ke wajahku.

“Lu sadar gak sih kebiasaan lu ini bikin orangtua lu sedih?” aku mengendurkan suaraku, berusaha membuat gadis kelas 2 SMA ini mengerti kalau ia salah.

Anna menatapku lekat-lekat, kedua mata kenarinya tak berkedip sama sekali. Hingga akhirnya ia pun hanya mendengus jengkel dan kembali menghempaskan bokongnya di atas sofa.

“Peduli apa mereka sama gue, toh selama ini cuman lu yang nyariin gue,” sahut Anna ketus

Mendengar apa yang baru saja Anna katakan hatiku langsung mencelus. Aku tahu ia kurang perhatian; orang tuanya terlalu sibuk menimbun harta di rekening bank ketimbang menyisihkan sedikit waktu untuk gadis kecil mereka.

Kujatuhkan tubuhku tepat di samping gadis itu; menempelkan lengan atasku yang berselimutkan kemeja biru navy di lengannya yang polos. Aku ingat betul bagaimana paniknya aku ketika Bi Sum – pembantu rumah tangga Anna – meneleponku dan mengabari kalau Anna belum pulang sejak meninggalkan rumah siang tadi. Hah… tapi nyatanya, gadis ini selalu membuatku panik dengan segala tindak-tanduknya.

Kulirik jam digital besar di tembok abu-abu ruangan ini dan mendapati waktu sudah menunjukan tiga puluh menit lewat tengah malam. Seharusnya aku langsung mengantarnya pulang tadi, tapi entah mengapa aku malah membawa gadis itu ke flatku yang jaraknya lebih dekat; mungkin aku ingin buru-buru memarahinya.

“Tapi gak seharusnya lu begini ‘kan?” aku membuka suara setelah beberapa saat kami tenggelam dalam keningan, “Pergi ke klub malam dan menghabiskan berbotol-botol Vodka sambil nge-dance kayak orang sedeng gak akan bikin perasaan lu lebih baik. Gue malah takut lu nge-drugs, tahu?”

“Gue gak nge-drugs!” gadis berambut pendek sebahu itu buru-buru menyelaku, “Gue memang bandel, tapi gue tahu batasan! Gue suka minum, tapi gue tahu kapan gue harus berhenti! Gue juga suka nge-dance kayak orang sedeng, tapi gak pernah ngebiarin orang ngeraba-raba gue seenaknya! Gue punya prinsip!”

Aku terkesiap dan memandang gadis itu takjub, baru menyadari kalau Anna ternyata lebih dewasa dari dugaanku. Yah, menilik ke belakang, ia memang tak sekalipun kudapati mengalami masalah meski bolak-balik berkunjung ke klub malam. Mungkinkah aku terlalu posesif padanya?

“Jadi kapan lu mau berhenti?” tanyaku pasrah, sadar kalau aku tak bisa memaksanya untuk berhenti kalau gadis ini tak mau berhenti; Anna berbeda.

“Gue gak tahu…” jawab Anna ketus, lantas melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada sofa, “Dan seharusnya lu tahu. Lu sudah kenal gue dari kecil dan kita sahabat. Cuman lu satu-satunya orang yang tahu seluk-beluk sejarah hidup gue, apa yang gue suka dan benci, perasaan gue…”

Nada suara Anna menggantung, ia lantas mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya; kebiasaan yang selalu gadis itu lakukan ketika ia bingung ingin bicara apa.

“Gue gak akan berhenti,” akhirnya Anna memulai kalimat baru, membiarkan kalimat sebelumnya menggantung, “Gue gak akan berhenti sampai gue menemukan tempat yang bisa disebut rumah. Tempat yang bisa menjadi alasan gue untuk tinggal. Tempat gue menunggu siapa pun yang pasti akan pulang. Dan tempat itu… bukan rumah orangtua gue.”

Mendengar penuturan Anna, aku hanya mampu terdiam; bergelut dengan pikiranku sendiri dan merenungi apa yang sebaiknya aku lakukan. Sampai akhirnya memutuskan untuk menyudahi kebiasaan buruk Anna dengan satu-satunya cara yang sebenarnya ingin kukemukakan saat ia sudah cukup umur.

“Kalau begitu lu  nikah aja sama gue.”

Anna terperanjat, menatapku tak percaya. Tapi aku berhasil membuatnya percaya dengan ekspresi wajahku. “Kalau lu nikah sama gue, lu punya alasan untuk tinggal sama gue. Flat ini memang kecil, jadi gue sudah nabung mati-matian untuk beli apartemen yang sekiranya cukup untuk dua orang. Gue sibuk, lu tahu kan kerja di kantor pengacara gak gampang, tapi gue bisa pastikan kalau gue bakal pulang sesibuk apa pun gue.

“Namun intinya bukan tempat, Anna,” aku terus mengoceh. Sebenarnya bukan lamaran seperti ini yang ada di dalam khayalanku. Tapi apa boleh buat, Anna masih saja tak memberiku pilihan, “Gue kepengen gue-lah yang jadi rumah untuk lu tinggal. Sejelek apa pun gue, gue ingin kalau gue-lah satu-satunya tempat lu menetap.”

Iris hitam Anna mulai basah, ia berusaha keras menahan tangis meski air mata telah meleleh di pipinya. Aku tersenyum menandangnya, tahu betul kalau tangis itu bukanlah tangis kesedihan, melainkan kebahagiaan.

“Tapi sayangnya…” kuusap pipi Anna yang basah dengan satu tanganku, lalu berbicara lagi, “Lu harus bersabar sampai lulus SMA, dan berhenti pergi ke klub malam sampai saat itu tiba. Saat lu lulus, gue janji kalau gue bakal minta izin sama orang tua lu untuk menikahi gadis kecil mereka yang bandel ini.”

Aku selesai melamar. Dan sedetik setelahnya tangis gadis itu pecah, tubuh mungilnya menghambur dalam pelukkanku. Sementara aku hanya terkekeh pelan, mengeratkan pelukkan dan menyadari kalau Anna telah menunggu tawaran itu sendari dulu.

 

 

 

Iklan

6 thoughts on “Tempat yang Disebut Rumah”

  1. Wow! Endingnya mengejutkan, manis banget sampai saya senyum-senyum sendiri. Hihi 🙂

    Hanya sedikit saran, nih.

    “Peduli apa mereka sama gue, toh selama ini cuman lu yang nyariin gue,” sahut Anna ketus, hatiku mencelus. Aku tahu ia kurang perhatian; orang tuanya terlalu sibuk menimbun harta di rekening bank ketimbang menyisihkan sedikit waktu untuk gadis kecil mereka.

    Saran saya berangkat dari gagasan juga. Tapi kali ini, lebih mengarah pada gagasan yang terdapat dalam sebuah paragraf. Ini saya pelajari ketika kuliah karena dosen saya pernah menegur tentang kebiasaan saya menulis paragraf yang gagasannya tercerai-berai. Dia bilang, bila sudah ada pertentangan gagasan, lebih baik paragraf itu dipisah. Paragraf kamu di atas menceritakan tentang respon Anna pada tokoh aku. Ada baiknya bila apa yang si tokoh aku rasakan atas respon itu berada di paragraf berbeda, untuk meng-clarify perpisahan gagasan yang terjadi dalam paragraf itu.

    Mengedit itu memang kadang mengesalkan, haha, dan hanya bisa dilakukan saat tulisan kita sudah benar-benar selesai. Saran yang saya dapat dari Dee, selesai menulis, tinggalkanlah karyamu selama seminggu. Lalu buka kembali dan mulailah mengedit. Pada saat sudah difermentasikan seperti itu, biasanya akan terlihat lebih mudah untuk menangkap kejanggalan-kejanggalan kalimat/paragraf dalam tulisan kita.

    Oh, sedikit koreksi nih: vodca harusnya ditulis Vodka, tanpa cetak miring karena itu adalah nama merk.

    Good job, Dicta! Suka sama kejutan manis di ending ceritanya 🙂 Semoga mereka langgeng sampai kakek-nenek. Dan ya, saya setuju. Rumah itu seharusnya adalah tempat dimana kita merasa nyaman dan diterima. Bukan sekedar bangunan dimana keluarga kita tinggal 🙂

    1. Roger, Kakak!^^ Sudah di perbaiki!

      Huwooo, saya dapat ilmu lagi. Terima kasih ya, Kak. *hug*

      Hahaha, Endingnya gak ketebak ya? Ini bikinnya bener-bener pas lagi sedeng. Soalnya akhir-akhir ini emang lagi suka pasangan pedopil atau yang gap umurnya gede. Jadi ya bikin aja cerpin ginian tengah malam. Hahaha.

      Terima kasih sudah menyempatkan diri lagi untuk membaca dan membantu saya buat ngerevisi ya, Kakak. Semoga Kakak suka. ^^

  2. Aku suka jalan ceritanya yang gak biasa 😀 dan endingnya itu, juga lamaran yang gak biasa 😀 ya pokoknya aku suka cerita ini 😀

  3. hahaha sumpah senyum senyum sendiri baca cerita ini…
    ga tau deh kenapa. mungkin gara2 bagian lamarannya deh… gak terlalu romantis, tapi bikin happy juga bacanya…
    haahh… kapan sih emak bakal bikin cerita yang nggak ku suka? kayaknya semua jadi favoritku deh… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s