Diposkan pada Angst, FanFiction, Ficlet, Fluff, Romance

[Ficlet] Thank You, Grandma

Author                  :               Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast (s)                 :

–          Choi Seung Hyun/TOP (Big Bang/YG Entertainment)

–          Gong Min Ji (Big Bang/YG Entertainment)

Lenght                  :               Ficlet – 817 kata

Genre                   :               Angst, Fluff

Rate                       :               G

Disclamer            :               Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau honor materi. Semua cast yang bukan OC bukanlah milik saya. Melainkan milik dirinya sendiri, menejer dan agensi yang mendebutkan mereka. Sementara plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya sendiri.

Aku menatap buku-buku jari kakiku nanar dengan kedua mata sipitku yang sembab. Matahari telah menghilang sejak satu jam yang lalu, tapi aku masih mengurung diri di kamar dan memutuskan untuk melewati makan malam. Aku sama sekali tidak berniat untuk makan; beberapa hari terakhir adalah hari yang berat bagiku.

Srrreek…

“Min Ji, ada telepon untukmu.”

Aku tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu kamarku. Dan sedetik setelahnya kutemukan ibu berdiri di sana; memberikan senyum padaku. Senyum yang begitu dipaksakan.

It’s him,” kata ibuku; berusaha terdengar ceria, “Cepatlah turun dan jangan buat dia khawatir lebih lama lagi.”

Aku masih tak bergerak dari tempatku semula, memandang wanita paruh baya itu dengan lebih saksama. Ia terlihat mengenaskan. Kantung mata ibuku terlihat lebih hitam dari milikku; aku tahu ia sangat menyayangi mertuanya itu. Ibu pernah bilang kalau nenek sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri dan akan melakukan apa saja agar beliau bisa sembuh. Tapi ternyata, takdir sudah menentukan jalannya… nenek meninggalkan kami semua dengan sangat tiba-tiba. Tapi setidaknya ibu lebih beruntung dariku, karena aku bahkan tak ada di samping nenek di saat-saat terakhirnya.

Ah, Ye, Eomma… aku turun sekarang.” Aku buru-buru mengusap air mataku yang terlanjur meleleh; tak ingin membuat ibu semakin sedih karena melihatku menangis terlalu banyak – sial, kupikir air mataku sudah kering, tapi ternyata aku masih punya banyak simpanan.

Aku mengikuti ibuku di belakang, hingga akhirnya kami berpisah di ruang tengah karena harus menyapa tamu yang datang untuk mengikuti kebaktian sementara aku langsung menuju meja telpon dan duduk di kursi yang ada di dekatnya.

Yobeseyo?

“Syukurlah. Akhirnya aku mendengar suaramu.”

Aku tak bisa menahan senyumku saat mendengar suara pria itu menembus pendengaranku, entah sudah berapa lama kami tidak bertemu atau pun bertukar kabar lewat telepon; rasanya seperti bertahun-tahun.

Mian, Oppa…” kataku pelan lantas melebarkan senyumku meski kutahu ia tak bisa melihatnya, “Aku memang sengaja mematikan ponselku… kupikir aku perlu waktu untuk benar-benar menerima semua ini.”

“Aku mengerti, tidak papa,” sahut pria bernama Choi Seung Hyun itu buru-buru, meski ia tak bisa menyembunyikan kekhawatiran dari nada suaranya. “Bagaimana perasaanmu?”

“Lebih baik ketika kau meneleponku,” jawabku jujur; Seung Hyun hanya tertawa kecil. “Bagaimana syuting filmmu, Oppa? Semua berjalan lancar?”

Yeah, semua berjalan lancar. Tak ada hambatan yang begitu berarti bagiku…” Seung Hyun terdiam sesaat kemudian berbicara lagi, “Aku benar-benar merindukanmu, Min Ji.”

Mendengar kalimat manis seperti itu tak urung wajahku bersemu merah. Speechless. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Seung Hyun selalu bisa membuat perasaanku lebih baik.

“Aku benar-benar berharap kalau aku bisa berada di sana dan memelukmu. Melakukan apa saja agar kau merasa lebih baik dari ini,” kata pria itu lagi.

“Cukup seperti ini saja, Oppa, aku mengerti kondisi kita,” balasku tanpa sedikit pun mengendurkan senyuman di wajahku.

“Sebenarnya…”

“Emh?”

Mian, aku tahu kau masih sedih akan meninggalnya nenekmu, dan mengatakan hal ini melalui telepon… Errr, memang agak tidak sopan, tapi aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu secara langsung. Jadi…”

“Katakanlah,” potongku cepat; jengkel dengan sikapnya yang seperti itu, “Aku tidak papa, katakan saja.”

Seung Hyun terdiam, hanya suara embusan napasnya yang menembus jaringan. Hingga akhirnya ia pun mulai membuka suara dan aku mendengarnya dengan dada berdebar.

“Kau masih ingat saat kita mengunjungi nenekmu Desember tahun lalu?” aku diam saja dan Seung Hyun pun melanjutkan, “Sebenarnya tanpa sepengetahuanmu, nenek mengajakku berbicara empat mata di kamarnya.

“Aku tidak tahu apa maksud dari tindakkannya itu, tapi kurasa ini ada hubungannya denganmu jadi aku menurut saja. Dan benar, ini memang tentangmu.” Seung Hyun menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat, “Kami mengobrol sepanjang malam. Hingga ia akhirnya bertanya kenapa aku bisa jatuh cinta padamu… Dan aku pun menjawab seperti  yang biasanya aku utarakan.

“Aku tidak punya alasan untuk jatuh cinta padamu. Karena cinta tak memerlukan logika semacam itu. Dan… nenekmu sepertinya cukup terkejut dengan jawaban itu. Ia terdiam lama sekali hingga tiba-tiba saja ia menggenggam kedua tanganku dan berkata ‘Tolong jaga Min Ji untukku,  jika aku sudah tidak ada di dunia ini. Katakan padanya kalau kau akan menggantikan posisiku. Berjanjilah’.”

Aku terperanjat, mataku tiba-tiba saja terasa penuh dan percayalah, dalam sekejap air akan tumpah dari sana.

“Min Ji…” Seung Hyun memanggil; menghentakkan perasaan sedih di dadaku, “Aku memang tak bisa menggantikan nenek sepenuhnya,  dan aku tak mungkin bisa melakukannya karena nenek memiliki tempat khusus yang tak bisa aku gantikan di hatimu. Tapi ketahuilah, aku pasti akan menepati janjiku padanya. Aku akan menjagamu, dari dulu, sekarang dan seterusnya. Aku akan menjagamu… sampai Tuhan tak lagi berkenan melihat kita bersama.”

Seketika itu juga tangisku pecah. Ganggang telepon di tanganku terjatuh dan membuat bunyi benda pecah yang cukup nyaring di ruangan ini. Kututup mulutku rapat-rapat agar suara tangisku tak begitu  terdengar, tapi tetap saja hatiku menjerit histeris… mengenang semua yang telah nenek lakukan padaku.

Terima kasih nenek, terima kasih karena begitu memikirkanku. Terima kasih. Dan nenek… percayalah, ia pasti menepati janjinya padamu. Ia pasti menepatinya.

 

 

 

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

3 tanggapan untuk “[Ficlet] Thank You, Grandma

  1. bingung mau comment apa buat yang satu ini.. tapi kalo tam si lebih seneng pas bagian yang TOP blg gt pas udah selesai acara pemakaman.. jd ngomong langsung gt… krna ini ficlet kan mungkin bisa depannya d ceritaan keadaan minzy setelah kembali lagi dari acra pemakaman trus TOP datengin dia.. tp itu cuma menurut aku aja loh ma ^^v tp yang ini juga gak kalah bagus, cuma agak” gak sreg aja…

    1. Iya sih, emang bakal lebih dramatis kalau setelah acara pemakaman. Tapi omma ngeliat status quo-nya, TOP lagi syuting film waktu itu, dan gak mungkin datang, lagipula mereka ceritanya pacaran diem-diem. Hahaha. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s