Sekeping Cinta Untuk Reza

“Aku cinta banget sama dia, Rez…”

Reza menoleh ke arah samping, dan kemudian mendapati seorang gadis tengah menerawang  langit di sela-sela tumpukan kumulus yang menggantung di atas kepala mereka. Manik mata coklatnya menilik bentuk-bentuk tak asing yang mungkin bisa ia temukan pada kanvas langit, sementara bibir merah muda gadis itu tertarik simetris ke atas, memamerkan deretan gigi-gigi putih yang cemerlang. Ah, Reza selalu menyukai senyum itu; meski acapkali hatinya perih tatkala menyadari senyum itu ternyata untuk dia.

“Dia udah ninggalin kamu, Cinta…,” sahut Reza sarkastis, kedua bola matanya memutar; hatinya panas. “Apa lagi yang kamu harapkan dari dia?”

“Cintanya, mungkin,” balas gadis bernama Cinta itu lempeng. Senyumnya masih sama; tak terganggu dengan pernyataan Reza.

Reza menarik satu sisi bibirnya, membentuk senyum sinis di wajahnya yang bersih. “Kamu terlalu naif,” tanggapnya; menyembunyikan luka. Reza percaya kata ‘naif’ juga berlaku baginya.

“Aku masih mencintainya, Rez,” Cinta berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pinggiran pagar pengaman yang ada di atap sekolah mereka. Jam pelajaran keempat telah di mulai, namun mereka berdua masih enggan untuk hadir. Pembicaraan ini memaksa waktu mereka diam di tempat.

Hati Reza seketika itu juga mencelus, telapak tangannya terasa dingin, dan ia hanya bisa menggigit bibir tebalnya keras-keras. Ia tak berani berdiri dari bangku beton ini; takut jika sedikit saja bergerak, ia tak bisa menahan hasrat untuk memeluk gadis itu dan menjeritkan penderitaanya.

“Kamu masih punya aku ‘kan, Cin… Sahabatmu.” Mulut Reza mendadak kering, sahabat yang mencintaimu… sambung Reza dalam hati.

“Sahabat berbeda dengan cinta…,”  sahut Cinta seraya berbalik menatap Reza dan menyandarkan punggunggnya di pagar pembatas, “…kamu berbeda dengannya,” imbuh Cinta lagi, senyumnya berubah getir; Reza benci senyum Cinta yang seperti itu.

“Dia laki-laki dan aku juga, apa yang membuat kami berbeda?” balas Reza buru-buru; pengendalian diri Reza telah hancur, ia sudah tak perduli bagaimana Cinta memandangnya setelah ini. “Tak bisakah kamu mengubah persepsimu tentang sahabat?”

Cinta bungkam, tak tahu bagaimana menanggapi ucapan Reza selain dengan memalingkan wajah ke arah langit; menyesal telah membawa pembicaraan ini ke permukaan sementara ia tak punya persiapan untuk menanggapi perasaan sahabatnya yang telah lama ia ketahui itu.

 

***

Cinta menopang dagu lancipnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain tengah memegang selembar foto di atas meja. Kelas telah sepi sejak sepuluh menit yang lalu, semua sudah pulang, termasuk Reza yang biasanya selalu pulang bareng. Cinta yang meminta Reza untuk pulang duluan, dan sahabatnya itu menurut tanpa banyak bertanya.

Senyum Cinta mengembang tipis, ingatan melayang pada waktu yang dibekukan selembar kertas di tangannya. Cinta dan Reza benar-benar terlihat seperti sepasang sahabat di dalam foto itu – dengan senyum lebar yang menunjukan gigi-gigi putih mereka dan satu tangan yang saling berangkulan sementara tangan yang lain membentuk huruf ‘V’ di depan kamera.

Cinta ingat betapa gembiranya mereka berdua – bersama tiga orang teman mereka yang lain – memenangkan pertandingan maraton antara kelas tahun lalu; hari waktu foto itu diambil. Mata Cinta memanas, ia tiba-tiba saja merasa sangat merindukan masa-masa itu, ketika kecanggungan tidak membayang di udara dan waktu berjalan cepat.

Masa ketika Cinta dan Reza belum mengenal apa itu cinta.

“Maaf, Neng, kelasnya mau di kunci.”

Cinta tersentak, sejurus kemudian ia berdiri sembari menyambar foto yang ada di atas meja dan memasukan ke dalam tas selempangnya. Ia menyeringai sebentar ke arah Paman Huri – penjaga sekolah yang selalu bertugas mengunci semua ruang kelas setelah jam pulang berakhir – dan buru-buru melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu keluar gedung SMA-nya.

Ketika telah berada di luar gedung, Cinta mendesah; entah untuk apa. Seragam putih abu-abunya langsung bergoyang kesana-kemari saat angin di pertengahan Oktober berembus kencang. Gadis itu sudah berpikir untuk menelpon kakak sulungnya untuk meminta jemputan, sebelum akhirnya ia dikejutkan oleh sebuah suara yang sangat familiar juga amat dirindukan.

“Kau masih secantik Cinta yang biasanya, Cinta…”

***

“Aku ketemu Reza tadi, dia bilang kalau kamu masih di dalam dan belum mau pulang. Jadi aku tunggu kamu di luar…”

Cinta hanya bisa tersenyum kikuk, tenggorokannya terasa pahit. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan. Di satu sisi ia benar-benar mengharapkan kedatangan laki-laki bermata silver alami itu, tapi sisanya seakan-akan mengutuki waktu yang tidak tepat; terutama saat laki-laki itu menyebut nama Reza.

“Kedai kopi ini sama sekali tak berubah ya, Cin,” mata silver laki-laki itu mengerling sana-sini, bernostalgia dengan masa lalu. Namun saat menyadari kalau Cinta tak mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung kembali terfokus pada gadis itu, “Hei, gak ada yang ingin kamu bicarakan denganku?”

“Kenapa kamu datang lagi?” hanya pertanyaan itu yang terlintas di kepala Cinta dan tanpa sadar ia utarakan.

“Aku cuman kangen sama kamu, gak boleh?”

“Kamu gak pantas begitu setelah apa yang kamu lakuin ke aku, Bima…”

Laki-laki bernama Bima itu hanya terkekeh ringan, tak begitu peduli dengan perlawanan Cinta yang sengit.

“Aku tahu aku salah karena udah ninggalin kamu…,” kata Bima lembut, matanya tiba-tiba berubah sendu, “tapi aku punya alasan untuk itu.”

Dahi Cinta berkerut dalam, merasa bingung degan pernyataan Bima.

Bima hanya tersenyum miris saat melihat senyum Cinta. “Nama gadis itu Belinda…,” kata Bima, memulai ceritanya, “Dia anak teman mamaku. Kami berdua teman masa kecil; bisa dibilang sahabat. Hubungan kami sangat baik meski tak terlalu sering bertemu. Penyakit ginjal Belinda mengharuskan ia mendekam di rumah selama bertahun-tahun, dan hal itu membuatku prihatin akan kondisinya.

“Namun waktu berlalu dan rasa keprihatinanku disalah artikan oleh Belinda, ia mengira aku menyukainya sementara aku tengah menjalin hubungan denganmu kala itu. Ketika kujelaskan padanya kalau aku tak bisa menjadi kekasihnya, dia mengancamku akan bunuh diri. Mamanya menangis meminta pertolonganku – terutama keluargaku. Hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan; memindahkanku ke New York bersama Belinda yang sedang menjalani pengobatannya.”

Bima selesai bercerita dan Cinta kembali bergelut dalam diam, ia tak tahu harus bagaimana menanggapi kenyataan yang datang tiba-tiba seperti ini.

“Lantas sekarang apa maumu? Untuk apa kamu kembali lagi?”

Bima memandang Cinta dengan binar pengharapan, kedua tangan besarnya menarik tangan Cinta dalam genggaman dan memenuhi Cinta dengan kehangatan yang menyesakan; Bima mendesaknya, seakan mengajukan tawaran tanpa pilihan.

“Aku sudah tidak perduli lagi tentang Belinda mau pun keluarganya; yang kuinginkan hanya kamu, Cinta. Biarkan aku kembali ke dalam hidupmu.”

***

Pikiran Reza sejak kemarin kalut-malut, ia tak menyangka kalau ia akan bertemu lagi dengan laki-laki itu; Bima. Sekuat tenaga ia menahan kepalan tangannya untuk tidak menghantam wajah putih pucat itu dan menyeretnya ke rumah sakit, rasa cemburunya pada Bima benar-benar telah sampai di ubun-ubun. Andai saja Bima bukan orang yang sangat berharga bagi Cinta, ia pasti sudah melaksanakan niat jahatnya sejak detik pertama ia melihat laki-laki itu.

Namun Reza sudah tak bisa melakukannya lagi, karena sekarang ia tengah menatap Cinta yang  duduk menyendiri dari pintu kelas, pikirannya gamang; bagaimana menghadapi cinta hari ini setelah apa yang terjadi kemarin, apa ia harus diam atau mengungkit kembali tentang kemunculan Bima yang tiba-tiba?

Hingga lima menit kemudian Reza memutuskan untuk tidak memilih kedua kemungkinan itu dan bersikap normal; menyadari kalau wajah Cinta menuntut dunia di sekelilingnya menjadi normal kembali.

***

Cinta sudah menyiapkan berbagai jawaban untuk Reza kalau-kalau sahabatnya itu akan menanyakan tentang Bima. Namun Reza sama sekali tidak mengungkitnya bahkan hanya satu kata pun. Reza bersikap sangat normal hari ini, hingga membuatnya benar-benar bingung akan hal itu.

“Cin, yuk pulang. Kamu pulang bareng aku kan hari ini?”

Suara Reza membuyarkan lamunan Cinta tentang keanehan sahabatnya itu. Namun kegalauan Cinta tak kunjung sirna, ia mengamati seisi kelas dan menyadari kalau hanya mereka berdua yang tersisa di tempat ini.

“Rez, kamu gak mau tanya sesuatu?” Cinta memancing Reza, ia berdiri dan membiarkan tas dan buku-bukunya berserakan begitu saja di atas meja; ia ingin menuntut penjelasan atas sikap Reza.

Reza mendesah pasrah – paham akan maksud Cinta, ditatapnya gadis itu ragu sebelum akhirnya berkata, “Aku gak mau kamu jadi tambah sedih,” Reza maju selangkah, meraih satu tangan Cinta dan menggenggamnya erat, “Kita bersahabat. Jadi aku gak mau menambah pikiranmu dengan mengungkit-ungkit masalah dia.”

Sentuhan Reza terasa hangat. Dibadingkan dengan sentuhan Bima yang terasa menuntut, ada yang berbeda dari kehangatan yang Reza pancarkan. Sentuhan sahabatnya itu bisa membuat kedua kaki Cinta berubah menjadi agar-agar dan jantung gadis itu berdetak dua kali lebih cepat; Reza memberikan penyerahan dirinya.

“Ya, memang pada kenyataannya aku hanyalah sahabatmu, Cinta. Tapi aku lebih tahu tentang dirimu ketimbang dia,” Reza melanjutkan; Cinta menahan napasnya. Genggaman Reza yang mengeras semakin membuat jantung gadis itu kebat-kebit, “Selama ini kita telah saling mengenali satu sama lain, memahami kebiasaan, dan juga memaklumi hobi kita yang sangat berbeda. Bisa dibilang kita sepasang sahabat dalam artian sebenarnya; di mana ada kamu di situ ada aku.” Reza memandang Cinta dengan segala kepenuhan hatinya kemudian tersenyum getir.

“Tapi Bima datang dengan gelagat memesonanya, dia mencurimu dariku; merampasmu. Aku tak mengumpamakan dirimu sebagai barang, tentu saja. Tapi rasa memiliki sebagai seorang laki-laki tak mungkin bisa kumungkiri. Aku laki-laki normal, Cinta, aku egois, dan perasaan ingin mendominasimu menyadarkanku akan satu hal penting…,” Reza melebarkan senyumnya, memandang Cinta dengan pandangan yang sulit diterka, “…aku mencintaimu.”

Napas Cinta tak berembus – ia menahan karbon dioksida di dalam paru-parunya. Mata Gadis itu mengerjap-ngerjap tak percaya, sementara ia bisa merasakan jemarinya nyaris patah karena genggaman tangan Reza. Mata Cinta terasa penuh; air mata mendesak keluar.

“Seandainya waktu bisa kuputar kembali. Aku pasti akan melakukan apa saja untuk– …,” ucapan Reza tiba-tiba saja terhenti, pelan-pelan ia membiarkan Cinta memiliki tangannya kembali, “Tapi tentu saja semua sudah terlambat. Kamu jatuh cinta padanya, meskipun ia telah meninggalkanmu, kamu masih memberikan cintamu padanya. Tak ada yang bisa aku lakukan lagi selain berharap. Berharap kalau aku masih bisa memiliki sekeping saja cintamu dan…,” senyum Reza menipis, mata tembaga itu menatap Cinta penuh rasa sayang yang begitu tulus, “…aku mampu mengubah keadaan kita.”

Cinta tak bisa menahan air matanya; tangisnya pecah. Kaki gadis itu juga tak lagi mampu menahan massa tubuhnya. Ia maju dan menjatuhkan diri di dalam pelukan Reza. Ia sendiri bingung mengapa tangis tiba-tiba saja menyergapnya saat Reza mengungkapkan cinta dengan penyerahan diri yang tak mengharapkan balasan seperti itu…

Cinta hanya merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan cintanya kepada orang yang salah.

***

“Pikirkan lagi, Cinta, kamu terlalu terburu-buru mengambil keputusan.”

Cinta memandang wajah putih Bima serius, menunjukan keteguhannya. “Aku sudah memikirkannya, dan itu keputusanku,” sahut Cinta tegas, “Kamu yang seenaknya pergi dari hidupku dan sekarang kamu dengan gampangnya meminta izin untuk kembali? Maaf, Bima, hatiku bukan rumah. Aku tak bisa menerimamu kembali setelah kamu menelantarkan diriku seperti itu.”

“Tapi Cinta, aku melakukannya karena terpaksa! Kalau kamu berada di posisi aku, kamu pasti akan melakukan hal yang sama ‘kan?”

Cinta menghela nafas panjang, ia mulai lelah menghadapi tingkah Bima yang seperti anak kecil.

“Kalau kamu memang cinta sama aku, kamu gak akan ninggalin aku tanpa penjelasan seperti itu, “ sahut Cinta dengan penuh penekanan, “Seandainya saja kamu memberi pengertian dan membuatku yakin kalau pada akhirnya kamu akan kembali, tantu keadaannya akan berbeda.”

“Tapi, Cin…“

“Belinda lebih membutuhkanmu,” potong Cinta buru-buru, “Dia mencintaimu dengan sepenuh hatinya, dan jangan sia-siakan hal itu seperti yang kamu lakukan terhadapku.”

Bima bungkam; kalah telak. Kedai kopi yang menjadi tepat mereka bertemu terasa sepi karena tak ada satu pun dari mereka yang membuka pembicaraan. Hingga akhirnya Bima memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan yang menyatakan kekalahannya.

“Apa ada orang lain yang kamu cintai?”

Kini giliran Cinta yang terdiam, namun keheningan yang ia ciptakan tidaklah lama karena gadis itu bisa dengan pasti menjawab.

“Tentu saja.”

Bima terperanjat, menyadari kalau jawaban itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari Cinta.

***

Reza menyesap kopi tubruk yang ia pesan dengan seringai yang tak tertahankan di wajahnya. Sudut matanya melirik jemawa ke arah meja yang berada di tengah-tengah kedai kopi ini. Ada dua orang yang duduk di meja itu, seorang laki-laki dan yang lainnya adalah sahabatnya; Cinta.

Dari tempat duduknya, Reza memang tak bisa mendengar apa mereka bicarakan. Namun, ia masih dapat melihat bagaimana bahasa tubuh mereka mencerminkan apa yang sedang mereka diskusikan.

Laki-laki itu berusaha meraih tangan Cinta, tapi gadis itu menolak dan menyembunyikan tangannya di bawah meja. Ia kembali berbicara dengan raut wajah memelas, namun untuk kesekian kalinya Cinta menggeleng dan menunjukan kekukuhan pendiriannya. Hal itu masih terjadi untuk beberapa saat, hingga pembicaraan itu berakhir saat Cinta berdiri dan mengucapkan sekali apa yang ia pertahankan seraya pergi dari tempat kedai kopi ini; meninggalkan laki-laki yang tengah terduduk lemas itu.

Senyum Reza semakin lebar terlukis di wajahnya. Ia memang jahat kerena merasa bahagia sementara orang lain menderita. Tapi Reza tak bisa memungkiri kalau inilah yang benar-benar ia harapkan. Ia telah bersabar selama nyaris dua tahun untuk mendapatkan sekeping saja cinta dari sahabat yang diam-diam ia cintai. Dan sekarang Tuhan membalas dengan mengabulkan semua harapannya. Jadi tak ada salahnya ia merasa bahagia dalam hal ini.

 

Drrrt… Drrrt… Drrrt…

Telepon genggam Reza bergetar dan buru-buru ia mengambil benda itu di dalam saku celananya. Ada sebuah pesan singkat yang masuk.

From : Cahaya Cinta

Aku tahu kamu ada di sana, Za! Buruan ke luar! Aku tunggu di halte bus dekat kedai. Kita harus rayakan hari jadian kita. Aku mau gulai kambing! 😛

 

Reza tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Jemarinya mengetik balasan singkat, sebelum ia pergi untuk membayar kopi dan menghampiri sahabat yang kini menjadi kekasihnya.

 

 

 

 

10 pemikiran pada “Sekeping Cinta Untuk Reza

  1. Ominous

    Hai, Dicta
    Maafkan baru bisa memenuhi janji mampir sekarang. Kerjaan, menumpuk.
    Senang rasanya melihat kamu mengalami banyak improvisasi dalam teknik menulis kamu, terutama dalam masalah penataan kalimat. Good for you!

    Ceritanya ringan, khas remaja dan menghibur. Bisa saya bayangkan, saat saya seusia kamu, saya pasti bakal teriak: Ih gila, Bima itu gue banget!

    Hahaha. PASTI banyak yang setuju sama saya :p

    Seperti yang pernah saya bilang, bahasa Indonesia itu kelemahan terberat saya. Apalagi bahasa Indonesia formal untuk sastra. Terlalu terbiasa dengan literatur dan tata cara penulisan bahasa Inggris. Jadi, mungkin saya bukan orang yang tepat untuk menasehati kamu. Hanya… saya menemukan kejanggalan pemakaian kalimat di dalam cerpen ini.

    Contohnya:
    Senyum Cinta mengembang tipis, ingatan melayang pada kala yang dibekukan selembar kertas di tangannya.

    Apa yang kamu maksud ‘kala’ di sini serupa dengan ‘waktu’?
    Pemakaian diksi yang tidak biasa itu memang bagus, tapi ingatlah tidak semua pembaca tahu apa yang kamu maksud. Tempatkan posisi kamu di sepatu si pembaca. Menggunakan kata yang umum berarti menghormati penikmat karya kamu juga, lho 🙂

    Dan satu lagi, menyengir.
    Saya rasa ‘nyengir’ itu bukan bentuk dari kata baku *tapicobacekKBBIya*. Kalau ‘menyeringai’, mungkin lebih tepat?

    1. ROGER. Kakak, langsung dibenerin waktu dapet komentar Kakak… Huwaaaa, beneran? tulisan saya udah mendingan? *joget-joget* Senangnya, jadi makin PD nih ngasih tahu temen-temen kalau saya punya blog baru. Hahaha.

      Iya sih, kadang saya gak bisa menahan diri bikin tulis kata yang menurut saya kurang familiar biar dikira “wow” gitu, hahaha *ditendang*. Oke Kakak, lain kali saya akan perhatikan pemilihan katanya.^^

      Sekali lagi, terima kasih sudah mau mampir dan membaca tulisan saya ya Kak, semoga tulisan saya bisa berkembang lebih baik lagi…^^

  2. Tam.P

    Aku gangerti itu typo ap bukan ma, yg bener tentu apa tantu? Soalny ak juga gak perna buka KBBI.. Trus sebenerny ini termasuk cerita yg bisa ketebak akhirnya, tp aku senengnya akhirnya dari yang reza dapet sms dari cinta itu aku suka 🙂 tp untuk jalan ceritanya, lumayan mudah di tebak gmn akhirnya.. Tp overall bagus 😀

  3. Yup setuju sama komen di atas saya. Ini memang ketebak jalan ceritanya. Tapi saya tetap suka ketika baca ini, karena saya juga menikmati proses dan penggunaan diksi.

    1. Hati Reza seketika itu juga mencelus –> not so sure, tapi saya seringnya baca ‘mencelos’ dan pertama kali kenal kata itu dari novel Harry Potter di mana awalnya saya gak ngerti maknanya LOL

    2. …termasuk Reza yang biasanya selalu pulang bareng –> Kamu menggunakan kata formal dan baku untuk narasi, sedangkan dialognya kebalikan di mana tentu saja itu bukan suatu masalah (menurut saya). Kata ‘bareng’ di sini sebenernya gak apa-apa, tapi jadi gak sejalan dengan kalimat narasi yang lain. Saran saya gimana kalau pake kata ‘bersama’?

    3. Lebih ingin bertanya sih… kumungkiri atau ku pungkiri? Terus kupungkiri atau ku(spasi)pungkiri?

    Lalu ada beberapa typo kecil juga, seperti kurang spasi. Tapi tadi saya gak fokus ke situ jadi saya lewatin aja. Mungkin kalau ada waktu kamu bisa baca lagi dan menemukan typo yang saya maksud. Hmm, begitulah komentar dari saya, maaf ya untuk kata-kata yang mungkin kurang berkenan di hati kamu. Semangat menulis 🙂

    1. Halo, Kakak, terima kasih sudah mau bertandang di blog sederhana saya ini. Boleh saya jawab satu-satu kritikkannya.

      1. Celos? Celus < Ini yang saya dapatkan saat saya mencoba mencari makna celos di software KBBI saya. Celos sepertinya kata tidak baku dari celus yang arti pertamanya: Dapat lolos (masuk) kedalam lubang.

      2. Emmh, oke sepertinya bareng memang kurang familiar, tapi sebenarnya bareng adalah kata baku dan formal (ngecek KBBI tadi), yang sama artinya dengan bersama-sama ^^ bolehkah saya tetap menggunakannya? Soalnya Kakak sepertinya mempermasalahkan kebakuan dan keformalan kata bareng itu sendiri.

      3. pungkir itu tidak baku, yang baku itu mungkir. Ditambah kata ganti ku- ditulis serangkai dengan kata dasar, dan akhiran -i, maka menjadi kumungkiri

      Wah, kalau ada typo dan dkk. silakan diungkapkan saja. Saya dengan senang hati memperbaiki kok Kak. Terima kasih sudah mau datang, membaca dan memberiki kritik ya Kak, semoga senang. ^^

      1. Wah saya dapet ilmu lagi nih. Makasih lho yaa udah berbagi ilmu. Jujur saya baru tau kalau ‘bareng’ itu termasuk baku dan formal. Sebenernya mempermasalahkan banget sih gak, itu semua terserah sama authornya juga. Ditambah kamu menyanggah dengan sesuatu yang ada dasarnya, jadi saya bisa terima dan bahkan saya jadi dapet ilmu baru ^^

  4. Indah..

    aku mulai meragukan identitas sya sebagai murid kelas bahasa…*apa pindah jurusan aja yah*, suka baca cerita, tapi sampai sekarang nggak bisa melihat ada atau tidaknya kesalahan dalam cerita #galau
    .
    kayak komen lain yang bilang kalau akhir’a lumayan bisa diterka… aku juga merasa bgitu, tapi kayaknya itu bukan masalah besar kalau buat aku *gatau sih klw mnrt orang lain*.

    1. HUWOOOO, kamu anak bahasa In? Kya, kya, kya, emak kepengen bangen bisa masuk kelas bahasa. Cuman di sekolah emak peminatnya sedikit. Jadi emak masuk IPA deh 😦

      Kekeke~ terima kasih sudah mau baca ya, lain kali emak coba bikin cerita yang gak keterka.^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s