[Drabble] Wife Selling

Author             :           Benedikta Sekar arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)                        :

–       Elizabeth Bennet (Pride and Prejudice/Jane Austen)

–       Fitzwilliam Darcy (Pride and Prejudice/ Jane Austen)

–       George Wickham (Pride and Prejudice/ Jane Austen)

Lenght             :           Drabble – 483 kata

Genre              :           Tragedy, Gore, Romance, AU

Rating              :           NC-17

Aready Been Posting in : The Heroine

Disclaimer       :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang mau pun honor materi. Semua tokoh dalam fanfiksi ini bukanlah milik saya, melainkan milik (almh.) Jane Austen, dalam bukunya yang berjudul Pride and Prejudice. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

“Oh, tersenyumlah Lizzy sayang…”

Napas busuk pria itu menerpa wajahku ketika ia berbicara sembari mengikat tambang di leher dan pergelangan tanganku. Kekehannya terdengar kemudian, sementara seringai bengis terpampang jelas di wajah itu.

“Kau sendiri yang meminta berpisah denganku…” ia menepuk-nepuk wajahku, lantas tertawa singkat, “…ini satu-satunya cara; kau tahu itu.”

Aku membuang muka; menghindari sentuhan tangannya. “Keparat kau, George Wickham,” desisku penuh kebencian.

George tertawa begitu nyaring, menggema di gang sempit nan lembap di sudut kota London ini.

“Yah, terserah apa katamu, yang penting sekarang…”

Srreeek!

“Arrrgh!”

“…aku harus bisa menjualmu dengan harga tinggi[i]. Hahaha!”

Aku menjerit-jerit kesakitan, George menarik leherku yang terikat tambang sekuat tenaga. Diseretnya aku dengan kasar—selayaknya sapi yang digiring ke tempat penjagalan— menuju  bar yang berada di ujung gang; tempat nasibku ditentukan.

“Teman-teman!!”

George berseru sangat nyaring sesaat setelah kami berdua berada tepat di tengah-tengah ruangan yang beraroma bir itu.

“Aku ingin menjual istriku! Adakah yang ingin membeli?!”

Pria-pria yang ada di bar ini datang mendekat, aku memaki dalam hati ketika beberapa di antara mereka mulai meraba-raba tubuhku; termasuk payudara dan bokongku. Berengsek, keparat, seandainya pria terkutuk itu tidak mengikat tanganku.

“Hey, Wickham! Kau buka dengan harga berapa?!” seorang pria bertubuh gempal membuka acara lelang; ia yang sedari tadi menyentuh payudara serta bokongku.

“50 pound!”

“Kalau begitu, kubeli 60 pound!”

“Aku naikkan 75 pound!” pria yang lain menyahut, namun pria gempal itu masih tak mau kalah hingga penawaran terus berlanjut.

Diam-diam aku menangis di dalam hati. Aku tak pernah merasa sehina ini sebagai seorang manusia, juga wanita. Harga diriku benar-benar di nilai begitu rendah; mereka melecehkanku—secara fisik mau pun mental. Namun, bagiku sama saja. Meski negeri ini di pimpin oleh seorang Ratu, namun harga diri kaumku tak pernah berubah. Tugas kami di dunia ini hanya dua; menikah dan memiliki anak.

Penawaran berhenti di 350 pound, si pria bertubuh gempal itu memberikan penawaran terakhirnya, tak ada yang mampu menawar lebih tinggi lagi. Tiba-tiba saja, sebelum pria itu mengambil kontrak yang sudah George siapkan sebelumnya, seseorang berseru….

“Kutukar Nyonya Elizabeth Wickham dengan 1000 pound!”

Seorang pria bertubuh jangkung nan  gagah muncul dari tengah kerumunan orang, merebut surat kontrak dari genggaman George dan menyimpan kertas lusuh itu di saku jasnya.

“Akan kukirim uangnya besok,” katanya dingin, tepat di wajah George. Kemudian pria itu beralih padaku. Secepat kilat ia melepas tali yang menjerat tubuhku, lantas membawaku pergi.

Sepanjang jalan menuju kereta milik pria itu aku hanya mampu menangis haru, merasakan penyesalan menyergapku penuh seluruh.

“Maafkan aku, Tuan Darcy, maafkan aku…” aku berkata ditengah-tengah tangisku, sementara pria itu tetap diam, “Seandainya aku tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini…”

Sssst…” tiba-tiba saja Tuan Darcy memotong ucapanku; genggaman tangannya mengerat, “Kau aman sekarang, Elizabeth, kau aman. Kau bersamaku.”

Tangisku semakin nyaring terdengar, penyesalan itu tetap terasa, namun kutemukan lagi diriku utuh dan berharga di tangan pria yang dulu kutolak setengah mati.


[i] Kebiasaan pria-pria Inggris untuk menjual istrinya di mulai pada abad ke-17 (dan berakhir di awal abad ke-20) sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri pernikahan bagi orang-orang menengah ke bawah.  Setelah memamerkan istrinya dengan tali di leher, tangan atau lengan,  suami akan menawarkan ke publik dan melakukan lelang ke penawaran tertinggi.

4 pemikiran pada “[Drabble] Wife Selling

  1. Ola, dek. Er, ini yang tugas kemarin kamu ceritakan ya?
    Saia suka ide ceritanya lho, tentang penjualan istri 😀 memang khas abad-abad lampau haha.Tapi agak janggal sih kalau menyaksikan si Wickham seperti itu, di buku dia akhirnya menikahi Lydia /digampar. Tapi muka dia emang sedikit licik sih. LOL.
    Untuk koreksi, cuma ada dua kok.
    Pertama, ‘menempuk-nepuk’ (miss-typed) > menepuk-nepuk.
    Kedua, ‘lembab’ > lembap.

    1. Iya, emang saya jauh banget dari pakem yang ada, mangkanya disalahin… Oke Kak, Roger! Revisi sudah diterima, terima kasih sudah mampir, baca, dan komentar ya Kakak. Malah bantuin revisi, terima kasih!^^

    1. Halo, Saeng!^^
      Wah, saya malah senang FF yang kata-katanya belibet dan sulit *senggol komentator yang pertama* Hehehehe.

      Terima kasih sudah mau membaca ya, Say, semoga kamu senang mampir kemari lagi.^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s