[Coretan Dicta] Testimoni #WriterChallenge: Kritik, Puji dan Teman Sesama Penulis!

Testimoni? Jujur, aku enggak pernah menulis testimoni, atau pun hal-hal yang berhubungan dengan itu selama ini. Yang biasanya aku lakukan hanyalah memberikan komentar pada setiap tulisan yang dibaca sesuai apa yang bisa aku dapat dari tulisan tersebut. Tapi tiba-tiba saja aku disuruh bikin testimoni tentang event #WriterChallenge yang pertama kalinya aku ikuti ini. Emmmh, oke, aku coba.

Aku tahu event ini dari seorang teman sesama penulis, yaitu @adiezrindra Onni. Dan langsung tertarik mengikutinya karena dari tanggal 15 Agustus—29 Agustus aku tidak begitu sibuk karena masih dalam masa libur lebaran.

Meski enggak ada hadiah atau pun reward yang di dapat dari event ini, aku tetap ingin mengikutinya karena tujuan utama aku bukanlah hadiah atau reward. Tapi teman.

Teman sesama penulis.

Lingkunganku di rumah, sekolah dan lain-lain sangatlah minim teman sesama penulis. Tak ada di antara mereka yang benar-benar menggeluti dunia ini dengan sungguh-sungguh. Padahal teman seperti itu sangatlah penting buatku yang masih pemula di dunia kepenulisan ini. Bagiku,  teman sesama penulis dapat membantu mengkritik, membenarkan, memberi masukkan juga semangat yang sangatlah aku butuhkan saat-saat  seperti ini.

Jujur sajalah, aku ini penulis yang haus pujian. Haus komentar-komentar, seperti: Wow,  keren, hebat ,bagus banget tulisan kamu dan lain-lain. Tapi di satu sisi aku sadar, kalau komentar-komentar itu sangat mudah untuk dilontarkan bahkan oleh orang yang tak pernah suka membaca sekali pun.

Tapi itu kasus yang berbeda untuk sebuah kritikan?

Untuk mengkritik, sang kritikor harus membaca betul-betul sebuah tulisan. Mereka tak ingin disalahkan jika kritikan mereka salah sehingga harus betul-betul memahami tulisan yang ia baca. Bagiku, semua orang yang mengkritik itu adalah pembaca yang benar-benar membaca. Di mana mereka bertujuan untuk membantu mengungkapkan apa yang salah pada tulisanku dan berharap dengan segera agar aku memperbaikinya.

Aku sangat menghargai para pembaca bertipe kritikor ini.

Dan untuk semua pembaca yang pernah mengkritik tulisanku di blog ini. Aku ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Tanpa kalian, tulisanku tak akan menjadi seperti sekarang, tanpa kalian, tulisanku pastilah hanya sekedar sampah yang tak berarti.

Tanpa kalian, blogku ini hanya akan menjadi tong sampah.

Juga untuk kalimat yang sarat akan pujian, bukan berarti aku melupakan kalian. Aku juga sangat berterima kasih karena pujian kalian menjadi semangatku untuk menulis lebih baik lagi sebagai balasan kata-kata kalian yang sangat menyenangkan untuk di baca. Hehehe.

Tanpa kalian, blogku ini akan terasa hampa.

Well, pokoknya, tanpa pembaca. Tanpa teman-teman sesama penulis. Tulisanku pun tak akan berkembang.

Dan melalui #WriterChalleng ini, aku pun semakin banyak bertemu dengan orang-orang seperti itu. Pembaca baru, teman sesama penulis baru, semuanya!

Banyak komentar  yang ditinggalkan di blogku dan aku pun berusaha keras untuk ‘kunjungan balik’ di blog mereka meski pun waktu yang kupunya tak banyak (internet di rumah diputus dan harapan satu-satunya hanyalah handphone dan wifi di sekolah).

Akhir kata, sungguh berterima kasih bagi kalian yang mengunjungi blogku tanpa pamrih. Juga semua penyelenggara event #WriterChallenge ini.

Tanpa kalian, tulisanku hanyalah butiran debu (ecieeeh! Coretanku kali ini penuh dengan gombalan ).

[Drabble] Watashi no Yuki Desu

Title                 : Watashi no Yuki Desu (Saljuku)

Author             : Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast (s)           :

–       Hamao Kyousuke (Aktor/Tani Promotion)

–       Ayumi Hirano (OC)

–       Yuki Hirano (OC)

Lenght             : Drabble – 429 kata

Genre              : Angst, Pluff

Rating              : G

Disclaimer       : Saya tidak  mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Semua cast yang bukan Original Character (OC) bukanlah milih saya, melainkan dirinya sendiri, menejer dan agency yang mendebutkan mereka. Hamao Kyousuke adalah aktor yang dinaungi oleh agency Tani promotion. Sedangan plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

Hamao Kyousuke memandang patung-patung es di Odori Park dengan pandangan datar. Semarak Yuki Matsuri[1] pun tak begitu ia hiraukan karena ia datang memang bukan untuk menikmati Festival, melainkan mengenang seseorang.

Sumimasen, Mao-chan, sekarang jam berapa, ya?” Hamao tersentak lantas menoleh ke samping, seorang gadis berambut panjang ternyata telah mengambil tempat duduk di sebelahnya.

Hamao menilik jam tangannya. “Jam dua siang, Hirano-san,” jawabnya lalu tersenyum.

“Dan kau masih di sini? Apa tidak bosan?” Gadis bermarga Hirano itu melipat tangan di depan dada sebelum mengeluh jengkel kepada pria di sampingnya, “Kau berjanji akan mengajakku ke Satoland hari ini, tapi ternyata kau malah mengajakku kemari.”

“Bukankah di sini mengagumkan?” balas Hamao tenang sembari terkekeh geli.

“Apa yang mengagumkan dari bongkahan es batu besar seperti ini? Membosankan!” rajuk Hirano.

“Hahaha, kamu memang berbeda dari Yuki, Hirano-san,” Hamao tertawa, namun ia tahu ada kesedihan yang terbersit di setiap katanya.

Berbeda dengan Hamao yang mampu menyembunyikan kesedihannya, wajah Hirano langsung berubah muram saat Hamao menyebutkan nama kakak perempuannya itu.

“Bisakah kau berhenti membawa nama oneechan ketika berbicara denganku? Aku muak,” kata Hirano sembari membuang muka ke arah lain.

Melihat tingkah Hirano, Hamao hanya tersenyum. Ia mengakui kebenaran kalau ia masih suka mengenang cinta pertamanya itu. Tapi baginya, mengenang dan cinta itu berbeda.

“Aku ingin Yuki tetap hidup di ingatanku, Hirano-san,” kata Hamao seraya meraih tangan Hirano yang di bungkus sarung tangan dan menggenggamnya erat, “Kau pun pasti merasakan hal yang sama ‘kan?”

Hirano terdiam, membenarkan perkataan pria itu. Ia tetap menyayangi kakaknya apa pun yang terjadi.

“Tapi aku benci jika dijadikan pelarianmu,” desis Hirano, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam; takut mendengar tanggapan dari Hamao.

“Kau tak pernah menjadi pelarianku, Hirano-san,” jawab Hamao cepat, mengeraskan genggaman tangannya. Pria itu baru menyadari kalau ternyata ia telah melukai perasaan kekasihnya itu. “Meskipun kalian bersaudara, kalian tetaplah individu yang berbeda. Dan aku selalu memandangmu dengan cara seperti itu.”

Hirano mengangkat wajahnya lantas memandang Hamao lekat; ia menemukan kejujuran di sana.

“Tapi kenapa mengajakku kemari? Setiap Yuki Matsuri kau selalu saja menyempatkan diri ke tempat ini, apa kau masih menyukai oneechan?”

Hamao tertawa. Dalam hati sedikit-banyak ia pun mengakui hal itu, tapi tetap saja. Yuki Hirano adalah masa lalu, masa depan sekarang berada di genggaman tangannya.

“Sudah kubilang ‘kan  kalau aku ingin mengenangnya? Jadi aku kemari.” Hamao melebarkan senyumnya dan memandang Hirano lekat, “Lagipula ini terakhir kalinya aku akan datang kemari saat Yuki Matsuri.”

Hirano mengerutkan dahinya. “Kenapa?”

“Karena aku sudah menemukan yuki[2]-ku,”  Hamao menunduk lantas mengecup bibir Hirano sekilas, “Anata wa watashi no yuki desu, Ayumi[3].”

Hirano terkesiap. Ia mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya karena menyadari kalau ini kali pertama Hamao menyebut namanya.


[1] Yuki Matsuri, festival salju yang dilaksanakan setiap tahun di Sapporo, Hokkaido, Jepang. Festival ini biasanya diadakan di tiga tempat yang berbeda, yaitu: Taman Odori (pameran patung-patung besar), Sasukino (pameran patung-patung yang lebih kecil), dan Sapporo Satoland (tempat untuk acara keluarga)

[2] Salju

[3] Kaulah saljuku, Ayumi

[Drabble] Dream

Title                    :           Dream

Author                :           Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)               :

–       Asa Butterfield

Length                :           Drabble – 467 kata

Genre                :           family, mystery

Rate                   :           G

Keterangan  gambar   :           Street Life in London, 1876 – John Thomson

Disclamer          :           Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Asa Butterfield bukan milik saya, melainkan milik dirinya sendiri, Tuhan dan agency yang mendebutkan dirinya. Sementara plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

“Siapa namamu, Nak?”

Suara rendah pria paruh baya itu akhirnya memecah keheningan yang sudah terjalin di antara kami sejak pertama kali ia memanggilku dengan bahasa tubuhnya. Tolong semir sepatuku sampai mengkilap, wajah penuh kerutan itu berkata dalam diam; aku pun menurut tanpa suara.

“Asa Butterfield, Sir,” jawabku, lantas mendongak untuk memberikan senyum padanya.

“Berapa umurmu?” tanya pria itu lagi, sembari menggerakkan dagu memintaku untuk kembali fokus pada sepatunya.

“15 tahun.” Aku buru-buru menunduk, mematut wajahku pada sepatu pantofel pria bertopi fedora itu—kutilik sekilas warna rambutnya mulai memutih di balik benda itu.

Pria itu diam sejenak, namun bisa kurasakan tatapan matanya mengarah padaku.

“Bisakah kau ceritakan padaku tentang hidupmu?”

Aku membatu, kuhentikan pekerjaanku lalu kembali mendongak menatap pria itu.

“Kenapa Anda ingin tahu, Sir?” kuberanikan diri untuk bertanya; enggan menjawab tanpa alasan.

Pria itu menarik satu sisi bibirnya ke atas, membentuk senyum yang terlihat aneh bagiku.

“Karena aku ingin tahu,” jawabnya tenang, namun dengan nada menekan.

Aku menelan ludah, lalu kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaanku; merasa tak berhak menolak pertanyaan ini.

“Hidupku pas-pasan…” aku memulai ceritaku, sementara tanganku bekerja tanpa minat, “…aku tinggal bersama kedua orangtuaku serta kakak laki-laki dan adik perempuanku.

“Ayahku pegawai rendahan di sebuah pabrik sepatu, sedangan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Kakak laki-lakiku, Morgan, lebih senang menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukkan sementara adikku terlalu kecil untuk dipaksa bekerja. Hanya aku yang ayah-ibu harapkan membantu perekonomian keluarga. Jadi, di sinilah aku sekarang. Menjadi penyemir sepatu.”

Aku selesai bercerita, hanya itu saja. Rasanya tak pantas menceritakan hal sensitif seperti itu kepada orang asing, toh, ia tak bisa mengubah apa pun—hanya bersimpati.

“Apa kau punya mimpi?”

Aku terperangah, tak menduga dengan reaksi pria paruh baya itu. Mimpi? Kapan terakhir kali aku berpikir tentang mimpi? Dulu aku punya mimpi, dulu sekali, sampai-sampai aku  melupakannya.

Tak ingin dicap rendah karena tak memiliki mimpi; aku pun memandang sekitar dan mencari-cari hal yang bisa dijadikan mimpi, hingga aku menemukan seorang fotografer sedang mengambil gambar di dekatku.

“Tentu, aku punya mimpi,” jawabku buru-buru, takut ia menyadari kalau aku baru saja menemukan mimpiku secara tidak sengaja; mimpi yang tidak masuk akal, ”Aku ingin bekerja di depan kamera, dan semua orang mengenaliku.”

Pria itu terpekur sesaat; melihat si fotografer,  lantas berseru padanya.

“Hey, John! Foto aku dan anak ini!”

Aku terperanjat. Tiba-tiba saja pria pemegang kamera itu mengarahkan kamera analognya ke arah kami. Beberapa pasang mata menatap ingin tahu, sementara aku hanya menunduk dalam-dalam hingga…

Jepreeet!

Suara kamera mengambil gambar terdengar, aku masih menundukkan kepalaku sampai pria paruh baya itu menarik kakinya dan menjabat tanganku.

“Jika di masa kini kau tak bisa mewujudkan mimpimu. Aku yakin di masa yang akan datang kau akan mewujudkan mimpimu; bekerja di depan kamera.”

Pria paruh baya itu berbalik dan pergi beriringan dengan si fotografer, meninggalkanku yang terkesiap mendapati uang 100 pound telah berada di tangan.

Sobat

Tidakkah kamu lelah, Sobat? Berkelakar pada dunia, sementara gigi-gigimu bergemeretak atas ketidakberdayaan akan takdir.

Tidakkah kamu bosan, Sobat? Mengangkat dagu setinggi awang-awang, sementara hatimu ternyata lebih rendah dari kerak bumi.

Tidakkah kamu berpikir, Sobat? Ketika kata-kata pongah keluar dari mulutmu, sementara itu ada hati di tubuh yang berbeda mengerut.

Tidakkah kamu berdosa, Sobat?
Berlaku merendahkan pada sesamamu, sementara dirimu sendiri tak lebih baik dari kumparan benang kusut di pematang jalan.

Tidakkah kamu tahu semua itu, Sobat?

Kuyakin kamu akan menggeram marah dan membantah habis-habisan seandainya aku mampu berkata seperti itu. Kamu pun pasti akan mencaci; berkata yang tidak-tidak tentangku dan berseru pada dunia kalau aku adalah si pembual ulung yang mencoba untuk menjatuhkanmu.

Yah, kamu selalu beranggapan ungkapan-ungkapan kebenaran tentang dirimu itu adalah percobaan menjatuhkanmu; kamu merasa lebih tinggi dari yang lain. Padahal sesungguhnya, ungkapan-ungkapan itu tak ubahnya cermin untukmu mematut diri.

Putarlah logikamu, kenapa ungkapan-ungkapan itu bisa ditujukan bagimu? Kenapa sesamamu beringsut menjauh dan merasa aman jika kamu tidak berada di dekat mereka? Kenapa begitu banyak orang yang membencimu, sementara ada orang lain dapat menuai cinta dari sesamanya? Dan kenapa… kamu merasa begitu bahagia dengan semua kebencian itu?

Lebih baik dibenci karena dirimu sendiri ketimbang dicintai karena bukan dirimu?

Ah, omong kosong. Ungkapan itu benar jika dirimu terlalu baik hingga banyak orang dengki padamu. Tapi jika buruk dirimu, apakah ungkapan itu bisa dibenarkan atas kasusmu?

Renungkanlah. Apa kata ubah tidak tertera dalam kamus hidupmu?

Tak akan ada yang mencemooh hanya karena kamu berkata baik, kecuali berkata baik adalah omong kosong bagimu.

Tak akan ada yang menggunjing jika perbuatanmu membahagiakan orang lain, kecuali membahagiakan orang lain itu membuatmu sengsara.

Tak akan ada yang melarangmu menjadi manusia yang lebih baik, kecuali dirimu sendiri merasa baik itu bukan kamu.

Sungguh, tak akan ada yang membenci jika kamu baik, Sobat!

Tapi… yah, sayang sekali, kata-kata ini tak akan pernah sampai padamu. Sayang sekali, aku tak mampu menolongmu. Sayang sekali, kondrat tak memungkinkanku bicara.

Tapi ketahuilah, Sobat. Ketika dunia menjauhimu berkat segala tindak-tandukmu; atas segala ucapan dan perangaimu.

Bercerminlah.

Dan kamu akan menemukanku. Sobat sepanjang masamu.

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan”Matius 23 : 12

Denda

“Telat tiga hari, Dim, denda seribu rupiah untuk setiap buku yang lu pinjem.”

Dimas merogoh saku celana denimnya dan mengeluarkan dompet dari sana. “Sekalian deh gue bayar denda yang kemaren-kemaren. Totalin saja semuanya.”

“Semuanya 80 ribu,”

“Hah?!”

“Iya, 80 ribu,” kataku lagi dengan nada datar, sama datarnya dengan tatapanku sekarang ini.

“Perasaan, gue sudah bayar 20 ribu deh dua minggu yang lalu. Kok bisa tambah sih?” tanya cowok dengan rambut berwarna biru itu heran, sembari memperbaiki letak kacamatanya.

“Lu lupa ya kalau duit 20 ribu itu lu pakai buat pinjam Shounen Star, Air Gear, One Peace sama Naruto, Hah?” semprotku dengan nada tinggi, “Niatnya saja lu datang mau bayar utang denda, pas lihat komik baru langsung hijau tuh mata! Balikinnya juga telat, gimana enggak tambah dendanya!” omelku lagi, sementara cowok bernama Dimas itu hanya bisa mundur selangkah sambil tertawa kaku.

Gomenasai[1], Rika-chan[2]. Gue kemaren langsung tidur waktu selesai streaming Vocaloid Live Concert, jadi belum sempat baca. Lagian banyak anime yang belum gue tonton, jadi gue tuntasin itu dulu. Hehehe.” Dimas terkekeh pelan, lesung pipinya tercetak jelas sementara gigi putihnya yang rapi mengingatkanku akan tawa tokoh utama buatan Masashi Kisimoto itu.

Aku mendesah berat, dan menatap Dimas dengan tatapan serba salah. Sepertinya aku harus menalangi uang denda otaku[3] ini lagi dengan gaji harianku.

“Jadi lu mau bayar semua, enggak?” tanyaku akhirnya, sekedar untuk basa-basi karena aku tahu  pada akhirnya ia akan berutang seperti bia—

“Gue lunasin hari ini dong!”

“Eh!? Serius lu?” aku mengerjap tidak percaya, menatap wajah berseri cowok itu seakan-akan dia bukan manusia.

“Ya seriuslah,” katanya sembari mengeluarkan selembar seratus ribuan dari dompetnya lantas menyodorkan uang itu ke arahku. “Gue kemarin menang lomba cosplay di Japan Festival. Hadiahnya lumayan gede. Hehehe.”

Aku mengambil uang itu dengan perasaan sulit dipercaya. Well, menilik rambutnya yang tiba-tiba saja bercat biru, sepertinya dia tidak berbohong perihal kemenangan itu.

“Coba dari dulu lu begini, gue enggak perlu pakai marah-marah segala ke elu,” kataku sembari meletakan uang itu di laci, kemudian mengambil  kembaliannya lantas menyodorkan uang kembalian itu kepada Dimas.

“Yah, kalau gue enggak begitu, lu mana mau ngomong sama gue.”

“Huh?”

Dimas mengambil uang kembalian di tanganku dan menyimpannya ke dalam dompet dengan rapi.

“Maksud lu apa?” tanyaku heran, entah mengapa ada yang janggal dengan perkataannya barusan.

“Lu pikir gue bodoh banget ya, sampai-sampai enggak pernah ngembaliin komik-komik yang gue pinjam itu tepat waktu?” Dimas menatapku lekat-lekat sementara aku hanya mampu diam; menatapnya dengan dada berdebar kencang. “Gue gak sebodoh itu kali! Gue begiitu  karena itu satu-satunya cara biar Erika, si Nona-Tanpa-Ekspresi ini, mau bicara sama gue. Lu ngerti enggak?”

Aku terenyak, sementara otaku berambut biru itu hanya terkekeh senang.

“Rika-chan, lu baka[4] banget! Hahaha.”

Dimas melenggang pergi, sementara aku terpaku menatap punggung cowok itu tanpa berkedip.

Jadi… selama ini… dia sengaja?!


[1] (Bahasa Jepang) Maaf

[2] (Bahasa Jepang) Panggilan akrab untuk orang yang sudah kenal lama

[3] (Bahasa Jepang) Sebutan bagi penggemar berat Anime dan Manga Jepang

[4] (Bahasa Jepang) bodoh

[Heaven Series] Potongan 2: Angel’s Jobs

“Aku tak pernah tahu ternyata meninggal itu biasa saja,” kata gadis yang baru saja kujemput itu datar. Jiwa yang tembus pandang itu berdiri tenang di samping jasadnya yang kini telah berada di dalam peti mati.

Terlihat sekali perbedaan dirinya yang berada di dalam peti itu dengan yang kini kulihat sekarang. Rambutnya yang dulu rontok dan nyaris botak kembali lebat melewati bahunya. Wajahnya yang sebelumnya pucat pun sekarang terlihat bercahaya. Gadis itu juga terlihat sangat cantik dengan pakaian yang terbuat dari serpihan bintang dan cahaya bulan.

Yah, seperti biasa, mereka lebih terlihat hidup setelah meninggal.

“Jadi aku harus menunggu 40 hari sebelum bisa pergi?” gadis itu menoleh ke arahku juga Raffa yang berdiri bersisian di belakangnya dan menatap kami dengan wajah tanpa ekspresi. “Kenapa lama sekali? Aku tak ingin berlama-lama di dunia ini. Aku lelah.”

Aku dan Raffa tak menjawab pertanyaan gadis itu, kami tak diperbolehkan banyak bicara karena itu bukanlah tugas kami.

“Hah, ternyata malaikat tugasnya cuman begini saja?” gadis yang umurnya belum genap 15 tahun itu melipat kedua tangannya di depan dada sembari memicingkan matanya ke arah kami berdua. “Aku pun bisa jadi kalian! Hanya mendaftar dan memisahkan jiwa dan raga saja kan? Itu pekerjaan gampang!” katanya angkuh; memancing kami untuk bicara. Namun bibirku dan Raffa tetap bergeming.

Jujur saja, aku jengkel dengan apa yang gadis itu katakan barusan. Dia pikir pekerjaan kami gampang apa?! Heh, yang benar saja! Menghadapi jiwa-jiwa yang seperti dia itulah yang membuat pekerjaan kami sulit. Apalagi kalau jiwa itu masih anak-anak. Errrh, rasanya tak tega melihat bocah-bocah itu menangis sambil memeluk orangtuanya yang berdoa di samping jasad mereka. Apalagi pekerjaan malaikat itu tak boleh melibatkan perasaan. Aku hanya bisa menahan diri sembari menatap datar pada peristiwa-peristiwa seperti itu.

Sigh, kulirik Raffa di sampingku. Malaikat itu lebih pandai menyembunyikan perasaannya ketimbang aku. Yah, nyatanya, pekerjaan menjemput jiwa-jiwa ini memang tugasnya. Sedangkan aku hanya menemani karena keharusan malaikat yang bekerja berpasang-pasangan. Tapi yah, aku selalu bersyukur karena dipasangkan dengan Raffa. Sungguh, aku tak bisa membayangkan diriku bekerja sama dengan Mika yang bossy itu—well, in fact, dia memang bos kami sih.

“Hei, kenapa kalian diam saja?!”
Suara gadis yang baru kuingat bernama Clara itu berseru lagi, membuyarkan lamunanku tentang pekerjaan.

“Ayolah, katakan sesuatu, jangan diam saja!”

Ya ampun, gadis itu ternyata lebih berisik daripada yang kusangka. Baru pertama kalinya aku bertemu jiwa yang cerewet seperti dia. Inilah kenapa aku lebih senang menjemput jiwa-jiwa yang telah berusia senja. Mereka lebih tenang menghadapi kematian karena telah puas menuai di ladang Sang Empunya.

Aku kembali melirik Raffa, berharap ia mengatakan sesuatu yang dapat membungkam mulut gadis ini. Tapi sepertinya malaikat itu terlalu sibuk membekukan telinga juga hatinya sehingga ia hanya balas menatap gadis itu dengan wajah datar.

Ah, haruskah aku yang bicara? Tapi aku…

“Tenanglah, Clara,”

Jangan lihat aku! Bukan aku yang berbicara!

“Gunakan waktu 40 hari ini untuk mempersiapkan diri pergi ke tempat penantian. Hibur hatimu dengan keyakinan kalau tugasmu telah selesai dan kamu berhak mendapatkan tempat yang lebih baik. Orangtuamu akan mendoakan kekekalan hidupmu. Yang kamu bisa lakukan sekarang hanyalah mempertanggungjawabkan semuanya dengan bantuan doa-doa itu.”

Clara menatap Raffa tanpa berkedip, gadis itu sepertinya baru menyadari sesuatu yang telah ia lupakan. Hingga akhirnya ia hanya mendesah berat dan kembali berbalik memunggungi kami berdua; jauh terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

“Terima kasih,” bisik Clara lirih, sebelum akhirnya ia melangkah dan duduk di samping kedua orangtuanya yang tengah bersimpuh memanjatkan doa baginya.

Sepeninggal gadis itu, kulirik Raffa dengan hati bertanya-tanya, tapi malaikat itu hanya membalasku dengan ekspresi wajah yang seakan-akan berkata:

Aku tahu kapan waktu untuk bicara, Gabb, kamu sebaiknya diam saja kalau tidak ingin semuanya menjadi lebih buruk.

Ah, Raffa, kamu memang tahu kalau aku paling tidak bisa berbicara dengan jiwa-jiwa itu.

***

(Sekuel dari: When I’m Thinking Like Angel)

A/N:
Ini murni fiksi belaka. Akibat dari imaji saya yang telah berkarat berhari-hari. Tampaknya saya harus lebih bisa mengontrol imajinasi yang lama-kelamaan semakin liar. Sigh, maafkan saya. *membungkuk*

Rumah Hati

I’m an architect
Of day that haven’t happened yet
I can’t believe a month is all it’s been
You know my paper heart
The one I filled with pencil marks
I think I might’ve gone and inked you in

“Lagu yang paling aku suka dari album Born and Rise-nya John Mayer,” katamu tiba-tiba saat kedai kopi tempat kita bertemu ini mengumandangkan sebuah lagu yang asing di telingaku.

“Dengerin deh, judulnya A Face to Call Home. Bagus ‘kan?” katamu lagi.


Little by little, inch by inch
We built a yard with a garden in the middle of it
It ain’t much but it’s a start
You got me swaying right along to the song in your heart

“Ah, lagu banci,” komentarku. Cukup sadis, karena aku pribadi bukan laki-laki menikmat musik.

Alih-alih marah, kamu hanya tertawa sembari menyedot ice coffee di hadapanmu. Kamu memang sudah terbiasa denganku yang cukup frontal mengungkapkan perasaan ketimbang menyimpannya berlarut-larut. In fact, aku ini laki-laki, bukan sifat kaumku untuk memendam rasa seperti perempuan. Kami selalu dituntut untuk bergerak lebih dulu sementara kalian menunggu kami bergerak.

Ah, perempuan itu rumit.

A face to call home. A face to call home. You got face to call home.” Kamu bersenandung mengikuti lagu itu sembari menggoyang-goyangkan kepala ringan. Rambut panjangmu bergerak anggun; kedua mata sipitmu terpejam. Jujur saja, meski aku tak begitu menyukai lagu ini, melihatmu seperti itu membuatku cukup terhibur dan melupakan kalau kebersamaan kita ini hanya sejenak.

Untuk beberapa saat kamu masih bersenandung mengikuti lantunan lagu itu. Dan aku yang menikmati wajahmu cukup terhibur dengan suaramu yang lebih menarik ketimbang lagu aslinya. Hingga kamu berhenti dan menatapku lekat-lekat.

“Orang-orang pasti enggak nyangka kalau kita ini LDR-an ya, Roy,” katamu sambil terkekeh pelan sementara aku hanya tersenyum kaku.

Well, aku sendiri saja enggak nyangka kalau kita udah pacaran dengan cara seperti itu selama 3 tahun,” sahutku; kamu kembali tertawa.

“Hey, jujur sama aku…” kamu menencondongkan tubuhmu ke depan dan menatapku semakin lekat, “Kamu pernah kepikiran buat selingkuh enggak?”

Aku terkesiap, sedikit gugup karena tiba-tiba kamu bertanya tentang hal yang tak kusangka keluar dari mulutmu atau… terucap di bibir kita berdua. Rasanya kita selalu menghindari topik tentang ini.

“Yah, aku laki-laki, Gita…” Aku mulai berbicara setelah terdiam cukup lama, berusaha untuk menyusun kata-kata yang setidaknya mampu mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan, “Pasti ada satu-dua kali aku kepikiran buat selingkuh dari kamu. Bahkan ada beberapa teman aku yang nyaranin buat selingkuh.”

Kamu masih diam, menunggu kata pamungkas itu meluncur dari mulutku.

Sorry, Git. Aku cuman memikirkan hal itu, enggak pernah sampai kejadian.”

Tak kusangka kamu hanya terkekeh mendengar pengakuanku itu. Seperti biasa, kamu selalu menanggapi apa yang aku katakan atau lakukan dengan hati ringan tanpa beban. Kadang aku bertanya-tanya, sebegitu positif-nya ‘kah pikiranmu itu?

“Enggak perlu minta maaf segala, Roy, aku juga pernah kok,” katamu ringan, “Bahkan ada orang Korea yang ngejar-ngejar aku sampai ke asrama cuman buat tanya nomor telepon. Hahaha.”

Aku mengerjap. Jujur saja, aku cukup kaget dengan kenyataan itu. Tak kusangka kesempatan kamu untuk selingkuh di NY lebih besar ketimbang aku.

“Tapi… kamu enggak—“

“Aku enggak bisa selingkuh di sana,”potongmu cepat sebelum sempat aku menyelesaikan kalimatku. Sepertinya kamu sudah bisa menduga apa yang akan aku katakan tadi.

“Selain peraturan di asramaku itu ketat banget, aku juga memang enggak bisa selingkuh karena tiap kali aku lihat cowok keren, bawaannya ingat kamu melulu. Hehehe.”

Aku diam saja, wajahku masih kaku. Meski kamu bilang begitu, tetap saja rasa khawatir ini terlanjur ada. Dan seakan-akan menyadari perasaanku sekarang ini, kamu pun kembali berbicara.

“Dan setiap kali aku ingat kamu, aku pun menyadari satu hal,” kamu melebarkan senyummu dan memandangku lembut, “Cuma kamu satu-satunya tempat aku kembali, Roy. Meski banyak cowok yang ngejar-ngejar atau bahkan menyatakan cinta padaku di NY sana. Tetap saja hatiku berpulang padamu.

“Cuman kamu rumah hatiku.”

Aku terperanjat. Menatapmu tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Kini, aku baru tahu kenapa kamu suka mendengar lagu banci itu.

A face to call home
A face to call home
You got face to call home

[Coretan Dicta] Hari Tua NKRI

Sakit pas 17-an itu rasanya enggak banget. Dan hal itulah yang terjadi padaku hari ini.

Semalam badanku benar-benar enggak bisa diajak kompromi. Hidung mampet, badan meriang, pusing, pokoknya sakit. Segala macam obat Eyang Putri kasih biar aku cepat mendingan. Beliau juga pijetin kakiku, terus bikinin teh panas dan nyelimutin aku. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan beliau sendiri sudah ngantuk berat. Ah, super sekali Eyang Putri-ku itu.

Menjelang pukul 05.00 WITA, aku baru bisa tidur dengan nyenyak karena badanku sudah jauh mendingan. Sebelum tidur aku sempat mengutuki nasibku yang sial. Demi apa pun juga, menghabiskan tanggal 17 Agustus di rumah sambil nonton Upacara Bendera di televisi itu sama buruknya dengan membaca buku dengan plot common dan sudah ketebak ending-nya dari bab pertama. Ah, sial banget deh.

Well, at least, aku tidur cukup nyenyak sekitar 3 jam, sampai tiba-tiba saja Tanteku—FYI saja, aku ini perantau, sekarang tinggal sama Eyang Putri dan keluarga Om-ku—membangunkan dan bertanya tentang keadaanku.

Kubilang saja aku sakit dan enggak enak badan. Tante langsung suruh aku minum obat dan makan. Tapi saat aku sudah ingin kembali tidur, Tente-ku itu tiba-tiba saja bilang begini:

“Dict, kalau kamu udah mendingan, nanti jam 10-an kamu ke Gereja ya.”

Aku yang masih merem melek langsung mengerutkan kening. “Ngapain, Tante?”

Tante-ku itu cuman nyengir dan menepuk-nepuk dahiku. “Ada lomba 17-an setelah Misa di Gereja. Kamu ikut lomba keluarga sama Tante dan Om ya? Hehehe.”

Aku langsung melongo enggak percaya. Gila nih Tante! Tahu saja keponakannya bete berat gara-gara sakit!

Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Papa dan Dunia Kepenulisan

Jika ditanya: siapa orang yang membuatmu ingin menjadi penulis? Maka aku akan menjawab dengan lantang bahwa orang itu adalah Papa.

Masih kuingat dengan jelas momen itu, waktu umurku masih dianggap bocah ingusan karena belum mengenakan pakaian putih-biru. Aku menemukan harta karun di tumpukan buku-buku lawas milik mendiang Eyang Kakung. Buku-buku lawas itu—yang kertasnya sudah berwarna kuning kecoklatan dan berbau apak—mengisahkan tentang perjalanan hidup Santo-Santa[1] yang mengagumkan.

Aku terpesona. Kisah hidup mereka yang keras dalam mengabarkan warta cinta kasih Isa Almasih  membuat hati anak-anakku gembira. Bahkan, gaya bahasa lama yang biasanya membosankan malah membuatku senang dan terus membaca buku-buku itu berulang-ulang setiap malam sebagai dongeng pengantar tidur.

Pada mulanya tak pernah terbersit di pikiranku untuk menulis. Benar-benar tak pernah. Aku masih bocah, masih suka bermain di luar ketimbang menghabiskan waktu di depan komputer untuk merangkai kata-kata yang menurutku terlalu imajinatif—meski berkhayal sebenarnya adalah kegemaran anak-anak seusiaku.

Tapi semenjak aku ketagihan buku-buku itu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorongku untuk menulis. Aku mulai rajin duduk di depan komputer sembari membuka Microsoft Word 1997 dan menulis tentang apa saja. Aku bahkan sempat  membuat tokoh Santa-ku sendiri—fiksi Santa—karena aku begitu ingin menumpahkan imajinasiku tentang bagaimana hidup di zaman yang belum mengenal  Injil seperti di dalam cerita-cerita itu. Tapi sayangnya, cerita itu tak pernah selesai dan akhirnya hilang bersamaan dengan komputerku yang rusak, hahaha. Nyatanya, otak anak-anakku masih belum mampu merangkai imajinasi serumit itu menjadi askara yang baik.

Lantas, apa hubungannya dengan Papa?

Baca lebih lanjut

[Drabble] Boring Guy – Special For Olvie Leonita’s Birtday

Author                  :               Benedikta Sekar (DictaVIP)

Cast                       :

–          Yong Jun Hyung (Beast/Cube Entertainment)

–          Yong Jae Soon (OC/Olvie Leonita)

Lenght                  :               Drabble—342 kata

Genre                   :               Fluff

Rate                       :               G

Disclamer            : Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Yong Jun Hyung adalah member grup Beast yang didebutkan Cube Entertaiment. Sedangkan Yong Jae Soon adalah original caracter milik sahabat saya—Olvie Leonita. Sementara plot dan alur cerita adalah murni milik saya.

Sebentar lagi Hujan.

Jun Hyung menatap langit yang sewarna abu-abu dari balkon kamarnya dengan pandangan sinis. Pria itu lantas menarik napas dalam-dalam, mencoba memenuhi paru-parunya yang kecanduan nikotin dengan aroma petrichor.

Sigh, aromanya tak senikmat tembakau, keluh Jun Hyung dalam hati. Segera pria itu menyulut sebatang Marlboro Red dari dalam saku celana parasutnya dan menikmati rokok itu dalam diam.

Jun Hyung tak begitu menyukai Hujan. Banyak orang yang dengan tololnya berpendapat kalau hujan itu romantis, tapi baginya, hujan sangat jauh dari kata itu.

Masih diingatnya dengan jelas cinta pertamanya—Go Hara—kandas di hari berhujan. Gadis itu dengan dramatis berlari ke pinggir jalan, untuk menghindari dirinya yang memohon untuk mempertahankan hubungan mereka; padahal kota Seoul sedang diguyur hujan hari itu.

Hara berlari begitu kencang, dan Jun Hyung nyaris menyerah saat ia menyadari kalau hujan menderas dan mempengaruhi penglihatannya. Tapi tiba-tiba saja gadis itu berhenti dan Jun Hyung pun melakukan hal yang sama tepat dua meter di belakangnya. Mereka terdiam, mengatur napas yang terengah-engah hingga akhirnya wanita itu pun berbalik, menatap Jung Hyung dan berkata dengan nada jengkel.

“Kau pria yang membosankan! Aku bosan denganmu!”

Sigh, mengingat hal menyakitkan seperti itu membuat Jun Hyung semakin kuat menghisap rokoknya hingga tanpa sadar benda adiktif itu pun tandas. Tapi saat ingin mengambil batang rokok kedua, tiba-tiba saja sebuah tangan menyelip di antara pinggang dan lengan Jun Hyung, lalu mengambil Marlboro Red-nya dengan cepat.

No more, Jun Hyung,” kata sebuah suara di belakang tubuhnya. Suara wanita. “Sudah berapa kali kubilang berhenti merokok?”

Jun Hyung menegakkan tubuhnya, lantas menarik kedua tangan wanita itu hingga melingkar di pinggangnya.

“Aku bosan mendengar hal itu, Jae Soon. Kau yang seharusnya berhenti mengomel,” kata Jun Hyung sembari menghirup aroma kamomil di tubuh wanita bernama Jae Soon itu dalam-dalam.

“Kau pikir aku tidak bosan menegurmu terus, hah?” balas Jae Soon tak mau kalah.

 “Kalau sama-sama bosan, kenapa kita tidak berpisah saja?” kata Jun Hyung dengan nada menantang.

Mendengar apa yang Jung Hyung katakan, Jae Soon sontak tertawa. Ia pun meneratkan pelukannya pada pinggang Jun Hyung dan mencium punggung pria itu sekilas.

 ”I always enjoy my boring time with you, My Hubby,”

***

  Baca lebih lanjut