[Heaven Series] Potongan 1 : When I’m Thinking Like Angel

“Raffa, apa kamu pernah berpikir kalau pekerjaan kita ini menyedihkan?”

Aku memecah keheningan di antara kita yang terjalin cukup lama. Kamu tahu kalau aku tak bisa diam, tapi kenapa kamu selalu mendiamkanku? Bahkan sekarang, kamu hanya melirikku sinis; tak suka dengan topik yang kuangkat.

“Kita ini hanya pesuruh, Gabb, tak perlu kamu mengeluh,” jawabmu seadanya, lalu kembali berkutat dengan buku tebal di atas kedua tanganmu. Matamu bergerak teratur; naik – turun, menilik setiap nama di daftar yang Sang Empunya berikan.

“Aku tidak mengeluh, Sahabatku,” balasku sembari memandangmu jenuh. Ah, sebal, kamu selalu saja begitu, tak pernah berubah, “Tidakkah kamu sedikit saja merasa simpati?”

Gerakkan matamu terhenti seketika, sementara aku hanya bisa terdiam—menunggu reaksi darimu selanjutnya. Hingga akhirnya kamu pun hanya mendesah berat, menutup buku tebal itu dan memandangku lekat-lekat.

“Kamu pikir aku tidak sedih mendengar keluarga orang-orang yang kujemput itu menangis, huh? Mereka meminta padaku atas penyembuhan, tapi Sang Empunya sudah memberi perintah. Apa lagi yang bisa kuperbuat? Hidup-mati bukan kita yang mengatur. Tapi Sang Empunya! Tugas kita hanya menurut, dan melaksanakan titahnya tanpa tanya. Meski ini menyedihkan, tak pantas kita menunjukkan kesedihan kita.”

Aku terdiam; memandangmu penuh penyesalan. Sungguh, tak pernah aku melihatmu semarah itu padaku. Meski aku sering bertingkah bodoh, kau selalu menanggapiku dengan tenang hingga aku bosan sendiri.  Sepertinya… aku memang agak berlebihan tadi. Maaf, deh.

“Kemarikan bukunya.” Kurebut buku di tanganmu, nyatanya, tanpa kukatakan pun kamu pasti sudah tahu kalau aku menyesal akan tindakanku sebelum ini, “Ke mana lagi kita pergi?”

Kamu mendesah sembari menggeleng-gelengkan kepalamu, maklum dengan tingkahku—sahabat sepanjang masamu.

“Terkadang aku ingin menukarmu dengan Mika, Gabb,” katamu, menatapku lelah.

Aku terkekeh; balas menatapmu jenaka. “Aku tahu kamu tak sungguh-sungguh, bagaimana pun juga, cuman aku yang tahan dengan sifat jelekmu itu.”

“Seharusnya aku yang bilang begitu.” Kamu pun berlalu pergi, dan aku menyusulmu buru-buru sembari tertawa geli di belakangmu.

Kamu tahu, Raff, menggodamu adalah satu-satunya cara bagiku melupakan pekerjaan kita yang menyedihkan ini. Bagaimana pun juga, aku lebih suka mewartakan kabar gembira ketimbang mengantar orang-orang itu ketempat penantiannya. Masalahnya…

…kenapa manusia-manusia ini tak menggubris warta gembiraku?

5 pemikiran pada “[Heaven Series] Potongan 1 : When I’m Thinking Like Angel

  1. Jadi penasaran ini pekerjaan mereka sebenernya apa sih? :p

    Btw ada yang bikin saya terbelalak kaget :
    Kamu pikir aku tidak sedih mendengar keluarga orang-orang yang kujembut itu menangis, huh?
    Karena arti kata yang saya bold itu tidak sejalan dengan maksud yang ingin kamu utarakan dan juga mengingat makna yang saya pernah tahu dari kata itu. Tapi saya pikir kata itu punya makna lain, jadilah saya nyari di KBBI lagi.

    Dan satu-satunya makna dari kata itu adalah
    jem·but n rambut kemaluan

    Kamu typo-kah? Tadinya kamu mau nulis kata apa?

    1. GYAAAA!! *ini ngejerit beneran* Saya beneran ngejerit waktu baca komentar Kakak yang soal typo FATAL itu. Langsung deh saya revisi lewat hape meski pun jaringan semacam siput *sigh* Terima kasih sudah membantu ya. Saya mau tulis jemput tadi. ^^

      Well, Hahaha, pekerjaan mereka ya? Kakak bisa menerka kok apa pekerjaan mereka. Memang susah memahami kalau gak yakin. He.
      Terima kasih sudah membaca, semoga Kakak suka.

  2. Mika, Gab, Raff? Wah, ini perbincangan dunia atas ya? Dari antara ketiganya saia paling demen Gab lho😀 tapi bener nih, kalimatmu yang terakhir itu sangat, sangat terbukti. Kadang manusia punya sepasang telinga tapi tidak digunakan dengan benar, termasuk menutup telinga mereka untuk kabar bahagia Gabriel. Saia suka banget dengan idenya deh, pendek tapi sangat menggigit. Gak terkesan menyindir atau menyedihkan tapi sepertinya gak sadar membangunkan orang hehehe.
    Er, sepertinya saia gak bisa komen banyak-banyak deh. Ini keren abis soalnya dan emang pendek, jadi kesalahan-kesalahan yang kamu buat gak terlalu banyak kok.
    Paling hanya miss-typed:
    1. “Kemana lagi kita pergi?” >>> ke mana
    2. tindakkanku >>> tindakanku (er, karena bukan kata kerja jadi ‘k’-nya satu aja)
    Thanks ya dek sudah menulis fiksi/renungan secantik ini.

    1. Hahaha, intinya sih perbincangan antara Gabbriel dan Raffael aja. Kata tante saya, malaikat itu kerjanya berdua-dua, dan kebetulan sekali, si Gabb dan Raffa itu kerjanya berdua *kata tante saya* Lagian kemaren dia nyamperin saya kok, actualy Papa sih, jadi tiba-tiba aja kepengen bikin cerita tentang mereka. Siapa tahu mereka seneng, dan malah jadi temen saya ‘kan? Who knows? Gak-gak-gak.

      Saya kepengen bikin cerita macam ini lagi deh Kak, hahaha. Nanti bantuin revisi yo?
      Terima kasih sudah membaca dan bantuin revisi ya Kak, semoga senang ^^

  3. Ping-balik: Angel’s Jobs | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s