Tuluskah Kamu?

“Aku bosan melihatmu,” katamu angkuh. Wajahmu yang kaku menatapku seakan-akan tak ada lagi ruang untukku bertegur sapa dengamu.

“Ah, jangan begitulah, kita kan telah lama berkawan,” sahutku anteng sembari mengambil tempat duduk tepat di depanmu; tak begitu terpengaruh dengan polahmu yang tak bersahabat.

“Tidakkah kamu bosan melihatku terus? Aku saja bosan.” Kamu kembali ketus denganku, tapi aku hanya tertawa, terbiasa dengan sikapmu yang seperti itu.

“Kalau aku bosan, tak mungkin aku tahan bertemu denganmu setiap malam,” kataku lagi, lantas menyentuh wajahmu yang penuh debu tak kasatmata, “Maaf, aku jarang memperhatikanmu, padahal kamu sudah sangat berjasa di hidupku.”

Kamu mendengus kesal, seakan-akan perkataanku hanyalah angin lalu, “Apa boleh buat, aku kan milikmu. Tentu kau bebas memperlakukanku semaunya.”

Aku tertawa serak, rasanya ada tumpukan paku yang mengganjal tenggorokanku. “Perkataanmu mengingatkanku pada ibu, dia selalu bilang kalau aku tak pernah pandai menjaga apa pun yang kumiliki.”

And she’s right. I agree with her.” Kamu tersenyum picik. Tak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini kamu begitu frontal. Sigh, teganya kamu.

“Katakan padaku,” kulipat kedua tangan di depan dada dan menatapmu lekat, “Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat perasaanmu lebih baik?”

Kamu terdiam, nampaknya cukup terkejut dengan pertanyaanku itu. Hingga kediamanmu itu memicu keheningan yang merengkuh kata-kata kita. Keheningan yang untuk pertama kalinya tercipta di antara kita.

“Maaf,” katamu tiba-tiba setelah terdiam cukup lama. Harus kuakui, aku cukup terkejut dengan kata ‘maaf’ itu.

“Aku hanya berpikir kalau kamu tak pernah mempergunakanku dengan tulus,” tambahmu lagi, “Setiap malam kita bertemu, bersama kita rajut imaji itu menjadi rangkaian askara yang indah—menurut kita. Tapi akhir-akhir ini, aku meragukan ketulusanmu. Benarkah kamu menulis dengan tulus? Apa askara itu kamu pergunakan sebagaimana mestinya? Apa tujuanmu menulis benar-benar sebagai pemuas hatimu, atau hanya uang dan popularitas yang kamu incar? Apa kamu benar-benar mencintai dunia ini?”

Kamu selesai berbicara dan balas memandangku, terasa semakin lekat di setiap detiknya. Hingga dapat kurasakan dadaku terkoyak dan kamu mampu melihat jauh ke dalam hatiku. Rasanya sesak. Sungguh, aku tak bisa bersamamu lebih lama lagi.

Ada rasa malu di sini.

“Maafkan aku, sepertinya…” aku berdiri dari dudukku, dan menatapmu serba salah, “Malam ini aku perlu waktu untuk berpikir. Tentang aku, tentang kita juga segalanya.”

Kutekan tombol off di tubuhmu, dan sebelum kamu benar-benar mati, aku pun berbisik dengan berat hati, “Selamat malam, Acer. ”

16 pemikiran pada “Tuluskah Kamu?

      1. Teguh Puja

        Ide cerita sudah sangat bagus dan eksekusinya keren. Masalah typo itu sedikit demi sedikit pasti akan ada perbaikan. Overall, can’t wait for another post in upcoming days. 😉

      2. Ide ceritanya dadakan, karena saya tahu info #writingchallenge ini jam 6 sore, dan mulai menulisnya jam 7 malam tadi. Awalnya mau ikut yang besok aja, tapi berhubung masih ada waktu ya tulis aja. Kekeke~ terima kasih ya Kak *peluk*

      3. Teguh Puja

        Kalau yang dadakan saja ternyata bagus, apalagi kalau nanti persiapannya cukup lebih lama dari ini. Semoga di kesempatan selanjutnya, tulisannya tetap bagus ya. 😉

        Sama-sama ya. 😀

  1. Ominous

    Hallo, Dicta 🙂
    Senang rasanya melihat tulisan kamu mengalami banyak perkembangan, terutama dalam segi tata bahasa. Sepertinya nanti UAN Bahasa Indonesia, kamu bakal sukses berat nih 🙂 *eh namanya masih UAN, kah?*

    Hanya ada sedikit koreksi untuk grammar-nya:
    “And she’s true. I’m agree with her.” Kamu tersenyum picik. Tak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini kamu begitu frontal. Sigh, teganya kamu.

    True itu adalah sebuah adjective, yang secara umum digunakan untuk menjelaskan kata sifat dari sesuatu (it)/fakta, bukan seseorang. Jadi penggunaan ‘true’ lebih tepat digunakan untuk: it’s true, ketimbang she’s true. Untuk menjelaskan kebenaran perkataan seseorang, penggunaan kata ‘right’ atau ‘correct’-lah yang digunakan. Contoh: she is right.

    Lalu,
    I’m agree with her, dari sisi grammar salah.
    Penggunaan ‘am, is’, atau ‘are’ digunakan untuk menjelaskan tentang kejadian yang sedang berlangsung saat ini, dengan kata bantu yang menunjukkan waktu sekarang seperti now, at the moment, right now.
    Rumusnya adalah:
    Present Continuous Tense

    S+am/is/are+V1+-ing+…. + now/at the moment/right now = I am writing a story about you at the moment.

    Menilik tujuan kamu dalam kalimat itu, yang digunakan semestinya adalah Simple Present Tense, yang menyatakan sebuah fakta yang berlangsung di masa sekarang.
    Rumusnya adalah:

    S+V1+…. = I agree with her

    Otherwise, this piece has just the right amount of twist, which makes the reader smiles at the end of the story. So, keep up the good work!

    1. GYAAAA!!(>O<)
      Ketahuan banget ya nilai bahasa Inggris saya ancur! *telen kamus bahasa Inggris*

      Roger Kakak, sudah saya perbaiki, maafkan untuk bahasa Inggris saya yang buruk, Saya akan lebih memperhatikan lagi hal-hal seperti itu. ^^
      Eh, namanya udah ganti, jadi UN. Hahahaha. Lebih mengerikan lebih UAN.

      Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan komentar ya Kak, sebenarnya kunjungan Kakak saya nant-nantikan. Hehehe *peluk*

  2. Ominous

    Hahaha tenang ga perlu minta maaf
    Nilai bahasa Inggris bagus belum tentu kemampuan menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris-nya bagus. Hanya butuh ketelitian saja, dan tenses kayak tadi itu sebetulnya kalau sudah terbiasa di luar kepala, akan mudah untuk menghindari kesalahan-kesalahan grammar.

    Saya lagi nulis entri untuk Taya, tunggu ya 🙂

    1. Iya, kalau boleh jujur, saya pribadi lemah dalam pelajaran Bahasa (termasuk Bahasa Indonesia, sih) mempelajari sebuah bahasa memang harus kuat dalam ingatan. Bahkan saya pribadi lebih seneng ngafal rumus fisika daripada tense/grammar bahasa inggris/jepang. Tapi semua gak ada yang gak mungkin, dan saya percaya suatu hari nanti saya bisa menghancurkan tembok keterbatasan itu. 🙂

      Huwoooo, beneran?! Gak sabar, gak sabaaar! >o<

  3. Ominous

    FISIKA! *pingsan*
    Rumus aliran listrik paralel apa, ya? Numpang tanya :p

    Ya, benar! Nothing is impossible 🙂
    Udah… udah dipos kok di GPK

  4. *elus-elus laptop*

    Saya juga pernah baca ada orang yang mempertanyakan tujuannya menulis selama ini untuk apa, apakah bermanfaat bagi orang lain, apakah justru untuk mendapatkan popularitas (seperti yang tokoh ‘kamu’ bilang), bahkan sampai merenungi apakah nanti dia bisa mempertanggungjawabkannya di depan Tuhan.

    Well, selama ini saya menulis untuk kepuasan batin saya saja, untuk mengeluarkan isi otak saya supaya gak menguap sia-sia dan gak mubazir. Semakin ke sini saya semakin memikirkan manfaat apa yang bisa saya kasih untuk orang-orang yang baca tulisan saya.

    Btw saya malah nemuin satu hal yang sebenernya sampe saat ini masih membuat saya bingung. Ini masalah penulisan kalimat langsung. Kamu menulis :

    “Kalau aku bosan, tak mungkin aku tahan bertemu denganmu setiap malam,” kataku lagi, lantas menyentuh wajahmu yang penuh debu tak kasatmata, “Maaf, aku jarang memperhatikanmu, padahal kamu sudah sangat berjasa di hidupku.”

    Yang saya tahu seperti ini :

    “Kalau aku bosan, tak mungkin aku tahan bertemu denganmu setiap malam,” kataku lagi, lantas menyentuh wajahmu yang penuh debu tak kasatmata (titik) “Maaf, aku jarang memperhatikanmu, padahal kamu sudah sangat berjasa di hidupku.”

    Boleh sharing hal yang saya pernah diskusikan sama teman saya? Saya copas aja ya komen teman saya itu (teman saya namanya Bibib) :

    Kalo ga salah inget pas baca novel, aku nyimpulin gini:
    “Lalalalalalalala (koma)” ujarnya.

    “Lalalalalalalala (titik)” dipake kalo lanjutannya itu berupa gerak, deskripsi tt ekspresi wajah dll. Bukan berupa : ujar, kata, bisik, desis, gumam (ditulis kecil) dll.

    Nah, di contoh ami:
    Sekarang giliranku,” makhluk itu mengusap ujung bibirnya … –> “Sekarang giliranku.” Makhluk itu mengusap ujung bibirnya…

    itu M kapital krn lanjutannya itu bukan ujar, desis dll, tp deskripsi.

    “Tembak!” rekannya yang lain menyerukan perintah darurat. –> “Tembak!” Rekannya yang lain menyerukan perintah darurat.

    untuk contoh yg kedua aku juga td pagi ragu ‘R”-nya kapital engga. Soalnya di situ ada kata ‘menyerukan”, tp bentuknya bukan gini juga: “Tembak!” seru rekannya yang lain.

    trus komenmu yg di bawah:
    Huh,” keluhnya ketika ia telah membuka pintu ruangan yang memuakkan baginya itu. “Selalu seperti ini,” lanjutnya kesal.

    Aku pernah baca dimana lupa, kalo bentuknya gini:

    Huh,” keluhnya ketika ia telah membuka pintu ruangan yang memuakkan baginya itu. Ia kemudian melanjutkan ucapannya, “selalu seperti ini,”

    huruf ‘s’ pada ‘selalu’ kecil. Trus sebelum dialog kedua pake koma

    Tapi kalo kalimat deskripsi sebelum dialog kedua itu hanya berupa ekspresi, gerakan (engga pake ‘katanya’,’ia berkata’). misal:

    Ia membaca surat itu dengan teliti, tiap kata ia cermati. “Kurasa ini bukan gaya bahasanya,” simpulnya kemudian. Wajahnya masih berkerut, masih ingin mencerna lebih seksama. “Ya, penulis surat ini bukan dia. Aku ingat, dia tidak pernah menyebut dirinya ‘gue’ pada siapapun,” lanjutnya sembari tersenyum puas.

    Trus kalo gini:
    Namja itu beranjak dari duduknya, meraih tas milik yeojanya dengan terburu-buru. Lalu ia berkata, “aku pergi dulu.”

    Nah di situ ‘a’ pada ‘aku’ ditulis kecil

    Ini sih cuma berdasarkan kesimpulanku sendiri setelah baca2 novel. Engga tau gimana aturan pastinya ndits ^_^

    Nah begitulah. Atau mungkin ada hal yang kamu tahu mengenai ini? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s