#WriterChallenge, Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Papa dan Dunia Kepenulisan

Jika ditanya: siapa orang yang membuatmu ingin menjadi penulis? Maka aku akan menjawab dengan lantang bahwa orang itu adalah Papa.

Masih kuingat dengan jelas momen itu, waktu umurku masih dianggap bocah ingusan karena belum mengenakan pakaian putih-biru. Aku menemukan harta karun di tumpukan buku-buku lawas milik mendiang Eyang Kakung. Buku-buku lawas itu—yang kertasnya sudah berwarna kuning kecoklatan dan berbau apak—mengisahkan tentang perjalanan hidup Santo-Santa[1] yang mengagumkan.

Aku terpesona. Kisah hidup mereka yang keras dalam mengabarkan warta cinta kasih Isa Almasih  membuat hati anak-anakku gembira. Bahkan, gaya bahasa lama yang biasanya membosankan malah membuatku senang dan terus membaca buku-buku itu berulang-ulang setiap malam sebagai dongeng pengantar tidur.

Pada mulanya tak pernah terbersit di pikiranku untuk menulis. Benar-benar tak pernah. Aku masih bocah, masih suka bermain di luar ketimbang menghabiskan waktu di depan komputer untuk merangkai kata-kata yang menurutku terlalu imajinatif—meski berkhayal sebenarnya adalah kegemaran anak-anak seusiaku.

Tapi semenjak aku ketagihan buku-buku itu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorongku untuk menulis. Aku mulai rajin duduk di depan komputer sembari membuka Microsoft Word 1997 dan menulis tentang apa saja. Aku bahkan sempat  membuat tokoh Santa-ku sendiri—fiksi Santa—karena aku begitu ingin menumpahkan imajinasiku tentang bagaimana hidup di zaman yang belum mengenal  Injil seperti di dalam cerita-cerita itu. Tapi sayangnya, cerita itu tak pernah selesai dan akhirnya hilang bersamaan dengan komputerku yang rusak, hahaha. Nyatanya, otak anak-anakku masih belum mampu merangkai imajinasi serumit itu menjadi askara yang baik.

Lantas, apa hubungannya dengan Papa?

Begini, selama proses itu terjadi, Papa ternyata selalu memperhatikanku. Entah apa yang beliau pikirkan, setiap kali aku duduk di depan komputer untuk menulis, beliau pasti akan menghampiriku dan mencium pipiku penuh sayang—you know, Papa baru saja melakukan hal itu padaku, tampaknya beliau tidak tahu aku sedang menulis tentang dirinya, hahaha—aku yang masih anak-anak tentu tak begitu ambil pusing dengan polah Papa itu dan terus lanjut menulis.

FYI saja sebelum aku lanjut bercerita. Aku punya tanda lahir di tangan kananku, tepat di kulit antara jempol dan telunjuk. Sebelum Papa mengatakan sesuatu tentang tanda lahir itu, aku selalu menganggap kalau tanda bercak-bercak kecoklatan itu mengganggu dan jelek. Bahkan pernah suatu ketika aku menggosok-gosoknya dengan sikat gigi agar tanda itu hilang, hahaha. Tentu saja usahaku itu sia-sia karena tanda lahir itu masih ada sampai sekarang.

Oke, lanjut. Di sini inti dari coretanku ini.

Hari itu berjalan biasa-biasa saja, tak ada yang spesial. Aku dan adikku pulang sekolah, berganti pakaian dan langsung duduk di meja makan untuk menikmati santap siangku. Selesai makan, adikku langsung pergi keluar rumah untuk bermain dengan tetangga sementara aku terpaku pada layar komputer; melanjutkan kisahku yang kemarin belum tuntas—dan sampai sekarang belum tuntas sih, hahaha.

Aku begitu asyik dengan duniaku—di antara imajinasi dan askara yang tumpang tindih—hingga tak menyadari Papa yang ternyata sedari tadi berdiri di belakangku.

Seperti biasa Papa meremas bahu dan mencium pipiku, janggutnya yang belum dicukur terasa geli. Kupikir, setelah menciumku, Papa akan pergi dan menekuni kegiatan lain. Tapi ternyata ada yang berbeda, tiba-tiba saja Papa menarik kursi dan duduk di sebelahku. Kedua mata  beliau mengikuti gerakan tanganku pada keyboard juga kata-kata yang tertulis di layar monitor.

Aku yang sedikit risih dengan prilaku Papa yang menurutku aneh lantas bertanya, “Kenapa, Pa?”

Papa sontak menoleh ke arahku dan tersenyum. “Yah, enggak apa-apa. Memangnya Papa enggak boleh lihat?”

Aku balas menatap Papa dengan dahi berkerut-kerut dalam. “Ih, Papa aneh,” kataku polos. Maklumlah, waktu kecil aku memang cukup frontal. Hahaha.

Papa hanya tertawa, menyadari tabiat gadis kecilnya yang seperti itu. Hingga tiba-tiba saja papa meraih tangan kananku dan mengelus tanda lahirku. Papa bergantian menatapku dan tanda lahir itu. Hingga akhirnya Papa berhenti dan menatapku, lantas tersenyum.

“Kamu tahu, Dicta. Tangan kamu ini…” Papa menunjuk tanda lahirku dan terkekeh pelan, “Tangannya penulis.”

Aku terpaku, menatap Papa lekat-lekat untuk beberapa detik. Otak anak-anakku berusaha mencerna apa yang Papa katakan padaku. Hingga pada akhirnya aku memahami maksud Papa dan tertawa.

Hari yang biasa itu tiba-tiba saja berubah menjadi hari yang tak terlupakan bagiku. Yah, Papa mungkin sudah lupa dengan kata-katanya waktu itu—maklum, pengaruh usia—tapi aku akan terus mengingat kalimat sederhananya itu sebagai pedoman dunia kepenulisanku.

Well yeah,  in fact, aku belum menjadi apa pun—lulus SMA saja belum—tapi suatu hari nanti. Aku yakin, suatu hari nanti. Aku pasti mampu menulis bukuku sendiri dan menerbitkannya. Lantas dengan hati bangga akan kuberikan buku itu pada Papa, dan berkata pada beliau,

“Papa, terima kasih karena memberi jalan yang tepat untuk mencurahkan potensi hidupku. Terima kasih karena telah menjadi Papa nomor satu-ku. Terima kasih untuk segalanya.”

Spesial untuk Papa,

Agustinus Yanto Prasetyo


[1] Orang-orang kudus dalam Gereja Katolik (Roma)

Iklan

8 thoughts on “[Coretan Dicta] Papa dan Dunia Kepenulisan”

  1. suka bacanya.

    oh ya dicta, aku pernah lho seperti kamu. masuk kedalam imajinasiku. dijemput oleh Santa menggunakan kereta penuh lonceng dan diajak kerumah santa yang penuh dengan mainan. aku bicara kepada santa aku menginginkan sebuah boneka barbie beserta rumahnya, dan santa menjanjikanku asalkan aku menjadi orang yang baik. 🙂

    suka lucu sendiri dengan imajinasiku dan dulu sering menulisnya, harapan untuk santa. tetapi seiring aku dewasa dan terpisah dari Papa, aku juga sibuk dengan kehidupanku sendiri.

    Papa kamu keren, Dicta. dan tanda lahir kamu sama dengan aku tapi aku nemploknya di wajah. tapi gak cantik juga siy. jadi petanda apa, ya? *eh ini komentar gak banget* =))

    keren dicta!

    1. Halo, Kak!
      Terima kasih sudah mau datang dan mengirimkan komentar ya^^
      Wah, imajinasinya Indah sekali. Saya juga suka berpikiran seperti itu, rasanya kepengen merengek sama papa buat bikinin saya cerobong asap biar Santa bisa masuk ke dalam rumah saya buat kasih hadiah. Hahahaha.
      Wah, tanda lahirnya sama? Kalau tanda lahirnya di wajah, saya gak tahu artinya. Mungkin Papa tahu. #eh

      Sekali lagi, terma kasih sudah membaca, komentar, dan suka ya Kak^^ silakan bertandang lagi.^^

  2. tulisannya mengalir sekali… jadi teringat masa2 pas lagi rajin2nya nulis jaman sekolah dulu. *berasa tua bangka* papanya hebat, nggak ragu menunjukkan dukungannya sama hobi anak.

    1. Halo Kak Ilham!^^
      Wah, saya juga akhir2 ini lagi rajin menulis gara2 ada #WriterChallenge yang baru pertama kali saya ikut serta.
      Iya, Papa saya memang hebat #banggasedikitbolehdong

      Terima kasih sudah mengunjungi blog saya dan mengirimkan komentar…^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s