#WriterChallenge, Corat-Coret Dicta, Renungan

[Coretan Dicta] Hari Tua NKRI

Sakit pas 17-an itu rasanya enggak banget. Dan hal itulah yang terjadi padaku hari ini.

Semalam badanku benar-benar enggak bisa diajak kompromi. Hidung mampet, badan meriang, pusing, pokoknya sakit. Segala macam obat Eyang Putri kasih biar aku cepat mendingan. Beliau juga pijetin kakiku, terus bikinin teh panas dan nyelimutin aku. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan beliau sendiri sudah ngantuk berat. Ah, super sekali Eyang Putri-ku itu.

Menjelang pukul 05.00 WITA, aku baru bisa tidur dengan nyenyak karena badanku sudah jauh mendingan. Sebelum tidur aku sempat mengutuki nasibku yang sial. Demi apa pun juga, menghabiskan tanggal 17 Agustus di rumah sambil nonton Upacara Bendera di televisi itu sama buruknya dengan membaca buku dengan plot common dan sudah ketebak ending-nya dari bab pertama. Ah, sial banget deh.

Well, at least, aku tidur cukup nyenyak sekitar 3 jam, sampai tiba-tiba saja Tanteku—FYI saja, aku ini perantau, sekarang tinggal sama Eyang Putri dan keluarga Om-ku—membangunkan dan bertanya tentang keadaanku.

Kubilang saja aku sakit dan enggak enak badan. Tante langsung suruh aku minum obat dan makan. Tapi saat aku sudah ingin kembali tidur, Tente-ku itu tiba-tiba saja bilang begini:

“Dict, kalau kamu udah mendingan, nanti jam 10-an kamu ke Gereja ya.”

Aku yang masih merem melek langsung mengerutkan kening. “Ngapain, Tante?”

Tante-ku itu cuman nyengir dan menepuk-nepuk dahiku. “Ada lomba 17-an setelah Misa di Gereja. Kamu ikut lomba keluarga sama Tante dan Om ya? Hehehe.”

Aku langsung melongo enggak percaya. Gila nih Tante! Tahu saja keponakannya bete berat gara-gara sakit!

Kusambut ajakan itu dengan hati riang. Dan setelah beristirahat cukup sampai jam 10, aku pun  go ke Gereja pakai motor. Yah, Papa dan Mama—kebetulan mereka tinggal di Banjarmasin untuk sementara waktu—sempet khawatir sih, tapi aku bisa meyakinkan mereka kalau anak gadis mereka ini enggak bakal pingsan tiba-tiba di jalan.

Okay, singkat cerita, aku pun ikut lomba 17-an di Gereja. Dan dengan kondisiku yang sebenarnya enggak fit, secara ajaib aku dan keluarga Om-ku menyabet juara satu!

Sumpah ya! Enggak nyangka banget! Seumur-umur aku ikut lomba 17-an, enggak pernah sekali pun dapat juara satu. Paling tinggi cuman juara 3, dan itu pun karena pesertanya hanya 3 orang! Buset, girangnya bukan main.

Setiap keluarga yang menang mendapat empat buah hadiah, dan sebagai juara pertama, kami pun dapat hadiah terbesar, yaitu: Sepeda Pixie, helm, magic jar dan handphone. Langsung saya aku minta helm-nya. Soalnya helm-ku yang lama dicuri, dan beberapa bulan terakhir ini aku pinjem helm sama sepupu.

 

Yak, kayaknya coretan kali ini kebanyakan euforiaku karena menang lomba ya? Enggak ada hubungannya sama sekali dengan judul. Hahaha.

Ya sudah, dari pada kalian ngiri terus (cieee, sombong sedikit enggak apa-apa toh?) aku mau cerita soal pemikiranku di tanggal 17 Agustus ini.

Wah, enggak terasa ya, tahun ini umur NKRI sudah 67 tahun. Kalau disetarakan dengan umur manusia, negara kita ini sudah masuk masa tuanya. Dan di usia seperti inilah kita harusnya menikmati kesuksesan yang telah diraih di masa muda. Usia di mana kita duduk di kursi goyang sembari menikmati secangkir teh dan dibuai oleh angin sepoi-sepoi pedesaan.

Tapi menurut kalian, apa NKRI sudah bisa merasakan hal seperti itu? Menikmati masa pensiun karena telah berhasil memiliki negeri yang rakyatnya hidup makmur?

Yah, saya pribadi berpendapat kalau negeri kita yang sudah tua ini belum mampu bersantai dan menikmati masa tuanya. Terlalu banyak yang masih harus diurus dan dibenarkan. Selayaknya pekerja senior yang tidak diperbolehkan pensiun karena junior-juniornya enggak ada yang becus bekerja, NKRI masih belum bisa berpuas diri dengan apa yang telah di capai para negarawannya sekarang.

Sayang sekali Bapak kita, Bung Karno, tak diberikan umur yang sedikit lebih panjang oleh Yang Maha Kuasa. Seandainya beliau masih ada, tentu Bung Karno akan punya banyak pemikiran yang bisa dibagi untuk junior-juniornya—para pemimpin kita sekarang.

Bukannya aku nge-judge negarawan kita sekarang tidak lebih baik dari Bung Karno dan kawan-kawan, tapi memang begitu keadaannya ‘kan?

Okay, aku ambil satu contoh, bukan masalah-masalah berat seperti kemiskinan, ekonomi, korupsi dan sebagainya, tapi tentang SDA (Sumber Daya Alam) saja.

Kebetulan aku tinggal di Kalimantan, yang sumber daya alamnya sangat melimpah, terutama batu bara dan kelapa sawit. Bahkan di Martapura, Kalimantan Selatan, kami punya tambang intan dan batu-batu berharga lainnya! Bayangkan, betapa kaya rayanya tanah ini. Pastilah masyarakatnya makmur dan sejahtera. Tapi kenyataannya?

Sigh, kalau kalian sempat bertandang ke Banjarmasin, kalian pasti tak menyangka kalau kota ini memiliki banyak sekali kaum papa dan peminta-minta. Nyaris di setiap lampu merah pasti ada saja yang mengulurkan tangan, meminta sekiranya seribu atau dua ribu dari kita. Apa lagi para homeless yang saban malam berbaring di trotoar jembatan atau teras ruko-ruko, menambah suasana kumuh di kota ini. Sungguh bayangan kota yang sama sekali tak kalian duga berada di pulau yang kaya raya seperti Kalimantan.

Jadi, kenapa demikian? Ke mana larinya batu bara, sawit serta intan-intan itu? Jawabannya, ke kantong para pejabat dan perusahaan-perusahaan luar negeri.

Kenapa Malaysia bisa dinobatkan sebagai negara penghasil sawit terbanyak di seluruh dunia bersama dengan Indonesia, padahal lahan mereka enggak sebegitu besar? Karena mereka memproduksi sawit di tanah Kalimantan milik Indonesia dengan izin para pejabat daerah! Dan hal itu juga terjadi pada perusahaan batu bara dan pendulangan intan.

Negara-negara lain yang mengetahui kekayaan alam pulau Kalimantan berlomba-lomba membangun perusahaan di pulau ini. Mereka keruk tanah-tanah dan peras sungai-sungai di Kalimantan hingga kerontang, dan tak menyisahkan sedikit pun untuk kami. Mengerikan, memang.

Secara pribadi, aku akan dengan rela hati jikalau perusahaan-perusahaan itu berasal dari pulau Jawa dan sekitarnya. Setidaknya kekayakan pulau ini masih untuk mengenyangkan perut saudara sebangsa dan setanah air. Lha ini?! Kenapa malah perut negeri orang yang kenyang?

Kenapa?

Ah, rasanya enggak bakal habis kalau kita bertanya ‘kenapa’ pada orang lain juga pada negarawan kita.

Kenapa Anda tidak bisa bijaksana, Pak?

Kenapa Anda membiarkan ini terjadi, Bu?

Kenapa korupsi semakin merajalela, Pak?

Kenapa kemiskinan semakin meningkat, Bu?

Kenapa, Pak?

Kenapa, Bu?

Ah! Pusing! Kenapa kita enggak bertanya pada diri sendiri dulu sebelum bertanya pada orang lain?!

Well, tiba-tiba saja aku mau mengutip perkataan salah satu Presiden Amerika, John F. Kennedy, yang berbunyi:

Don’t ask what your country can do for you. Ask instead what you can do for your country.

Jujur saja, sedikit-banyak quote itu menampar bahkan sampai menggelindingkanku ke tanah.

Di umurku yang  menginjak 16 tahun, apa yang sudah aku lakukan untuk Indonesia? Apa?

Aku pernah menulis satu cerpen yang cukup menyindir anak-anak negeri kita yang lebih memilih pergi ke negeri lain dan berkarya di sana (klik di sini) ketimbang di Indonesia, dan ada salah satu dialog yang aku pribadi sangat suka dalam cerpen ini.

“Mereka sukses dan berhasil, tapi mereka tak mau kembali,” Arya menatap Sekar lekat dan gadis itu langsung salah tingkah dengan wajah bersemu merah, “Mereka beralasan pemerintah Indonesia tak mampu memberikan hidup yang layak dan lain sebagainya. Tapi aku tahu alasan sebenarnya, mereka hanya tidak ingin berada di Indonesia. Mereka tidak ingin kembali, dan menggunakan apa yang mereka miliki untuk membangun Indonesia.”

Sepertinya cukup jelas maksudku melalui kutipan itu. Intinya, kalau negarawan kita sudah begitu bebal dan tak bisa berbuat apa pun lagi. Kenapa kita enggak berani mencetuskan sesuatu yang mampu membuat negara kita lebih baik?

Kenapa kita enggak bisa membantu NKRI menikmati hari tuanya dan mempercayakan negara ini pada generasi muda?

Iklan

8 thoughts on “[Coretan Dicta] Hari Tua NKRI”

  1. selamat ya dapet hadiah 17an… 😀
    “…menampar saya bahkan sampai menggelindingkan saya ke tanah.” 😆
    negara kita ini memang masih harus banyak berbenah. dan sadar bahwa yang bagus2 dari indonesia itu terancam nggak lestari karena asik dieksploitasi sama orang indo sendiri dan orang luar. lama2 sumber alam bisa habis tuh. 😕 tapi tetep merdeka lah pokoke.

  2. Selamat yak. Helmnya bagus. Mau dong. :p

    apa pun tulisannya, semoga bentuk kemerdekaan seperti apa pun yang kita rasakan, tetap membawa manfaat bagi orang2 di sekitar kita 😉

    1. Eh, tidak bisaa, ini punya saya… Hehehe…

      Huwwaaa, maaf ya Kak Tegus, saya baru pertama kali ikut Writer Challege beginian, jadi gak tahu kalau gak boleh bikin fakta kayak gini. T__T maaf ya Kak, besok-besok saya bakal bikin cerpen.
      Terima kasih sudah datang, membaca, dan memberikan komentar ya Kak. Semoga suka.

      1. Hihi. Jurnal harian bisa berubah jadi satu cerita yang menarik padahal, hanya tinggal dikurangi sedikit di beberapa bagian tertentu, ini sudah bisa dikatakan cerita pendek juga. 😀

        Well, tetap menulis ya, kamu punya potensi yg bagus. Pertahankan ya. 😉

      2. Semenjak ada Writer Challenge aja saya bikin jurnal harian kayak gini. Hahaha. Terima kasih ya Kak atas semangatnya, saya akan belajar lebih giat biar tulisan saya bisa lebih baik lagi.Terima kasih. ^^

  3. masukan yang bagus, memang mestinya kita yg bertindak, bukan cuma ngandalin pemerintah.

    btw, kemaren baca twit orang, 67 tahun itu masih tergolong muda. Negara kita masih tumbuh, dan butuh banyak belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s