Rumah Hati

I’m an architect
Of day that haven’t happened yet
I can’t believe a month is all it’s been
You know my paper heart
The one I filled with pencil marks
I think I might’ve gone and inked you in

“Lagu yang paling aku suka dari album Born and Rise-nya John Mayer,” katamu tiba-tiba saat kedai kopi tempat kita bertemu ini mengumandangkan sebuah lagu yang asing di telingaku.

“Dengerin deh, judulnya A Face to Call Home. Bagus ‘kan?” katamu lagi.


Little by little, inch by inch
We built a yard with a garden in the middle of it
It ain’t much but it’s a start
You got me swaying right along to the song in your heart

“Ah, lagu banci,” komentarku. Cukup sadis, karena aku pribadi bukan laki-laki menikmat musik.

Alih-alih marah, kamu hanya tertawa sembari menyedot ice coffee di hadapanmu. Kamu memang sudah terbiasa denganku yang cukup frontal mengungkapkan perasaan ketimbang menyimpannya berlarut-larut. In fact, aku ini laki-laki, bukan sifat kaumku untuk memendam rasa seperti perempuan. Kami selalu dituntut untuk bergerak lebih dulu sementara kalian menunggu kami bergerak.

Ah, perempuan itu rumit.

A face to call home. A face to call home. You got face to call home.” Kamu bersenandung mengikuti lagu itu sembari menggoyang-goyangkan kepala ringan. Rambut panjangmu bergerak anggun; kedua mata sipitmu terpejam. Jujur saja, meski aku tak begitu menyukai lagu ini, melihatmu seperti itu membuatku cukup terhibur dan melupakan kalau kebersamaan kita ini hanya sejenak.

Untuk beberapa saat kamu masih bersenandung mengikuti lantunan lagu itu. Dan aku yang menikmati wajahmu cukup terhibur dengan suaramu yang lebih menarik ketimbang lagu aslinya. Hingga kamu berhenti dan menatapku lekat-lekat.

“Orang-orang pasti enggak nyangka kalau kita ini LDR-an ya, Roy,” katamu sambil terkekeh pelan sementara aku hanya tersenyum kaku.

Well, aku sendiri saja enggak nyangka kalau kita udah pacaran dengan cara seperti itu selama 3 tahun,” sahutku; kamu kembali tertawa.

“Hey, jujur sama aku…” kamu menencondongkan tubuhmu ke depan dan menatapku semakin lekat, “Kamu pernah kepikiran buat selingkuh enggak?”

Aku terkesiap, sedikit gugup karena tiba-tiba kamu bertanya tentang hal yang tak kusangka keluar dari mulutmu atau… terucap di bibir kita berdua. Rasanya kita selalu menghindari topik tentang ini.

“Yah, aku laki-laki, Gita…” Aku mulai berbicara setelah terdiam cukup lama, berusaha untuk menyusun kata-kata yang setidaknya mampu mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan, “Pasti ada satu-dua kali aku kepikiran buat selingkuh dari kamu. Bahkan ada beberapa teman aku yang nyaranin buat selingkuh.”

Kamu masih diam, menunggu kata pamungkas itu meluncur dari mulutku.

Sorry, Git. Aku cuman memikirkan hal itu, enggak pernah sampai kejadian.”

Tak kusangka kamu hanya terkekeh mendengar pengakuanku itu. Seperti biasa, kamu selalu menanggapi apa yang aku katakan atau lakukan dengan hati ringan tanpa beban. Kadang aku bertanya-tanya, sebegitu positif-nya ‘kah pikiranmu itu?

“Enggak perlu minta maaf segala, Roy, aku juga pernah kok,” katamu ringan, “Bahkan ada orang Korea yang ngejar-ngejar aku sampai ke asrama cuman buat tanya nomor telepon. Hahaha.”

Aku mengerjap. Jujur saja, aku cukup kaget dengan kenyataan itu. Tak kusangka kesempatan kamu untuk selingkuh di NY lebih besar ketimbang aku.

“Tapi… kamu enggak—“

“Aku enggak bisa selingkuh di sana,”potongmu cepat sebelum sempat aku menyelesaikan kalimatku. Sepertinya kamu sudah bisa menduga apa yang akan aku katakan tadi.

“Selain peraturan di asramaku itu ketat banget, aku juga memang enggak bisa selingkuh karena tiap kali aku lihat cowok keren, bawaannya ingat kamu melulu. Hehehe.”

Aku diam saja, wajahku masih kaku. Meski kamu bilang begitu, tetap saja rasa khawatir ini terlanjur ada. Dan seakan-akan menyadari perasaanku sekarang ini, kamu pun kembali berbicara.

“Dan setiap kali aku ingat kamu, aku pun menyadari satu hal,” kamu melebarkan senyummu dan memandangku lembut, “Cuma kamu satu-satunya tempat aku kembali, Roy. Meski banyak cowok yang ngejar-ngejar atau bahkan menyatakan cinta padaku di NY sana. Tetap saja hatiku berpulang padamu.

“Cuman kamu rumah hatiku.”

Aku terperanjat. Menatapmu tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Kini, aku baru tahu kenapa kamu suka mendengar lagu banci itu.

A face to call home
A face to call home
You got face to call home

15 pemikiran pada “Rumah Hati

  1. Aw… so sweet.
    Sometimes we don’t need tons of words to describe love; our job is to give new meanings and special overtones to absolutely ordinary love story.

    And love the reference to John Mayer’s song, he’s such a talented musician. Sayang sekarang dia gondrong lagi jadi kayak gelandangan, padahal di Battle Studies ganteng banget *lho jadi menyimpang :’)*

    Sedikit koreksi nih…
    LDR itu ditulisnya tidak pakai italic karena itu singkatan, singkatan meskipun berasal dari serapan bahasa asing tidak ditulis dengan italic.

    Sekian *terbuai kembali oleh Mr Mayer*

    1. Setuju sama Kakak! Lagu2nya John Mayer emang kerasa banget bedanya. Dan ya, saya juga setuju sama rambutnya Mr. Mayer itu. waktu saya surffing di internet rambutnya yang dulu-dulu itu keren abis. Dan cukup risih sama rambutnya di MV Shadow Days. Kayak pengelana homeless gitu *digetok John Mayer* Tapi sejujurnya, saya juga baru kenalan sama Mr. Mayer, Kak. Gara2 baca reviewnya Kak Azura soal albumnya yang born and rise. Saya pun langsung fall in love. Hehehehe.

      Oke Kak, sudah dibenerin, terima kasih infonya :3 terima kasih juga sudah mampir dan memberikan komentar. 😀 *peluk*

  2. *segera racunin*
    donlod album Battle Studies deh! Dan dengerin Edge of Desire, Heartbreak Warfare, Half of My Heart. Lucu deh yg Half of My Heart itu kan dia duet sama Taylor Swift, then he went and broke her heart and she wrote Dear John :p

    1. Hahahaha *ngakak* saya diceritain sama teman yg kebetulan suka sama TS dan bilang kalau dia benci sama John Mayer gara-gara bikin TS broken heart. Saya pribadi sih baru dengerin Half of My heart, nanti saya download yg lainnya juga :3

      Btw, John Mayer itu sekarang pacarnya siapa yah?

  3. Beberapa lama saya gak main ke sini dan udah banyak tulisan kamu yang udah saya lewatkan dan sayang kalau gak dibaca.

    Simple tapi sweet banget. Yang unik di sini adalah karakter Gita, seperti yang dipertanyakan sama Roy “sebegitu positif-nya ‘kah pikiranmu itu?” Perempuan jarang banget kaya gitu kayanya, kecuali mungkin kalau udah gak sayang lagi sampe segitu cueknya. Atau mungkin memang karena dia melihat semua hal dengan ringan, gak mau ambil pusing, dan cenderung liat dari sisi positifnya? Hal gini aja bikin saya mikir tentang karakter umum perempuan hehehe.

    Bagus banget seperti biasa, penggunaan kata dan diksinya mudah dimengerti. Gak perlu pake kata yang sulit dan tidak lazin lalu bikin saya pusing tepat di kalimat pertama. Saya suka gaya nulis kamu 🙂 Semangat terus!

    1. Selamat datang Kak, jangan bosan-bosan kemari ya!
      Hahaha, kalau menurut saya pribadi karakter Gita memang agak nyeleneh dari karakter perempuan pada umumnya. Tapi saya hanya ingin menunjukkan sisi lain dari sudut pandang seorang perempuan. Hahaha. Kalau biasanya yang setia banget itu cewek, saya mau putar balik aja jadi cowok. Begitu. :3

      Terima kasih sudah membaca ya Kak, semoga senang! 😀

  4. uwoo… dicta, maaf yaaa unn baru baca sekarang.
    #ditendang

    saya mau komen bole yak yakk~~
    unn sih suka sama diksi kamu yg lugas. tapi kadang kalo keinget tulisan kamu yg dulu, ngerasa sayang gituh. yg dulu emang indah, tapi bertele. tapi yg sekarang lugas, tapi kurang indah. menurut unn sih ya.ga
    terusan, unn agak nggak sreg sama percakapan2nya. Ya iya sih, maksudnya biar kayak obrolan sehari2. tapi rasanya ada beberapa kata yg menurutku kalo diedit bakal jadi lebih nyaman.
    misalnya, “enggak.” –> “nggak” dan “cuman” –> “cuma”

    tapi yaa.. itu… saya cuma ngasih saran aja sih, kan lagi sama2 belajar. hehe…

    diterima boyeh, nggak juga gppa. kekeke~

    dadahh dicta sayang.. :***

    1. Hahaha, duh, maaf ya Onni. Tulisan saya enggak indah *garuk2 kepala sampai botak* sebenarnya emang ngerasaain sih perbedaannya. Tapi saya sudah kandung enak nulis begini #duh. Nanti saya akan belajar lebih baik lagi.

      Oh, kalau kata “enggak” itu di kamus memang bakunya begitu: enggak. Saya pernah nulis “gak” dan disalahin, pas ngecek kamus bakunya enggak. :3

      Cuma dan cuman? Oke Onni, saya akan lebih perhatikan lagi.

      Terima kasih sudah mampir dan memberikan kritik ya! 😀 *peluk*

  5. Tam.P

    Eommaaa~ ~(‾▿‾~) (~‾▿‾)~
    Ngeliat tokohnya Gita itu bikin aku bangga jadi wanita. Setia.

    Ya.. Gatau mau komen apalagi.. Mancabs laa 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s