[Heaven Series] Potongan 2: Angel’s Jobs

“Aku tak pernah tahu ternyata meninggal itu biasa saja,” kata gadis yang baru saja kujemput itu datar. Jiwa yang tembus pandang itu berdiri tenang di samping jasadnya yang kini telah berada di dalam peti mati.

Terlihat sekali perbedaan dirinya yang berada di dalam peti itu dengan yang kini kulihat sekarang. Rambutnya yang dulu rontok dan nyaris botak kembali lebat melewati bahunya. Wajahnya yang sebelumnya pucat pun sekarang terlihat bercahaya. Gadis itu juga terlihat sangat cantik dengan pakaian yang terbuat dari serpihan bintang dan cahaya bulan.

Yah, seperti biasa, mereka lebih terlihat hidup setelah meninggal.

“Jadi aku harus menunggu 40 hari sebelum bisa pergi?” gadis itu menoleh ke arahku juga Raffa yang berdiri bersisian di belakangnya dan menatap kami dengan wajah tanpa ekspresi. “Kenapa lama sekali? Aku tak ingin berlama-lama di dunia ini. Aku lelah.”

Aku dan Raffa tak menjawab pertanyaan gadis itu, kami tak diperbolehkan banyak bicara karena itu bukanlah tugas kami.

“Hah, ternyata malaikat tugasnya cuman begini saja?” gadis yang umurnya belum genap 15 tahun itu melipat kedua tangannya di depan dada sembari memicingkan matanya ke arah kami berdua. “Aku pun bisa jadi kalian! Hanya mendaftar dan memisahkan jiwa dan raga saja kan? Itu pekerjaan gampang!” katanya angkuh; memancing kami untuk bicara. Namun bibirku dan Raffa tetap bergeming.

Jujur saja, aku jengkel dengan apa yang gadis itu katakan barusan. Dia pikir pekerjaan kami gampang apa?! Heh, yang benar saja! Menghadapi jiwa-jiwa yang seperti dia itulah yang membuat pekerjaan kami sulit. Apalagi kalau jiwa itu masih anak-anak. Errrh, rasanya tak tega melihat bocah-bocah itu menangis sambil memeluk orangtuanya yang berdoa di samping jasad mereka. Apalagi pekerjaan malaikat itu tak boleh melibatkan perasaan. Aku hanya bisa menahan diri sembari menatap datar pada peristiwa-peristiwa seperti itu.

Sigh, kulirik Raffa di sampingku. Malaikat itu lebih pandai menyembunyikan perasaannya ketimbang aku. Yah, nyatanya, pekerjaan menjemput jiwa-jiwa ini memang tugasnya. Sedangkan aku hanya menemani karena keharusan malaikat yang bekerja berpasang-pasangan. Tapi yah, aku selalu bersyukur karena dipasangkan dengan Raffa. Sungguh, aku tak bisa membayangkan diriku bekerja sama dengan Mika yang bossy itu—well, in fact, dia memang bos kami sih.

“Hei, kenapa kalian diam saja?!”
Suara gadis yang baru kuingat bernama Clara itu berseru lagi, membuyarkan lamunanku tentang pekerjaan.

“Ayolah, katakan sesuatu, jangan diam saja!”

Ya ampun, gadis itu ternyata lebih berisik daripada yang kusangka. Baru pertama kalinya aku bertemu jiwa yang cerewet seperti dia. Inilah kenapa aku lebih senang menjemput jiwa-jiwa yang telah berusia senja. Mereka lebih tenang menghadapi kematian karena telah puas menuai di ladang Sang Empunya.

Aku kembali melirik Raffa, berharap ia mengatakan sesuatu yang dapat membungkam mulut gadis ini. Tapi sepertinya malaikat itu terlalu sibuk membekukan telinga juga hatinya sehingga ia hanya balas menatap gadis itu dengan wajah datar.

Ah, haruskah aku yang bicara? Tapi aku…

“Tenanglah, Clara,”

Jangan lihat aku! Bukan aku yang berbicara!

“Gunakan waktu 40 hari ini untuk mempersiapkan diri pergi ke tempat penantian. Hibur hatimu dengan keyakinan kalau tugasmu telah selesai dan kamu berhak mendapatkan tempat yang lebih baik. Orangtuamu akan mendoakan kekekalan hidupmu. Yang kamu bisa lakukan sekarang hanyalah mempertanggungjawabkan semuanya dengan bantuan doa-doa itu.”

Clara menatap Raffa tanpa berkedip, gadis itu sepertinya baru menyadari sesuatu yang telah ia lupakan. Hingga akhirnya ia hanya mendesah berat dan kembali berbalik memunggungi kami berdua; jauh terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

“Terima kasih,” bisik Clara lirih, sebelum akhirnya ia melangkah dan duduk di samping kedua orangtuanya yang tengah bersimpuh memanjatkan doa baginya.

Sepeninggal gadis itu, kulirik Raffa dengan hati bertanya-tanya, tapi malaikat itu hanya membalasku dengan ekspresi wajah yang seakan-akan berkata:

Aku tahu kapan waktu untuk bicara, Gabb, kamu sebaiknya diam saja kalau tidak ingin semuanya menjadi lebih buruk.

Ah, Raffa, kamu memang tahu kalau aku paling tidak bisa berbicara dengan jiwa-jiwa itu.

***

(Sekuel dari: When I’m Thinking Like Angel)

A/N:
Ini murni fiksi belaka. Akibat dari imaji saya yang telah berkarat berhari-hari. Tampaknya saya harus lebih bisa mengontrol imajinasi yang lama-kelamaan semakin liar. Sigh, maafkan saya. *membungkuk*

13 pemikiran pada “[Heaven Series] Potongan 2: Angel’s Jobs

  1. Hihi kalau kamu bilang ini imajinasi liar, saya bilang ini ide unik. Kalau saya, mana kepikiran kaya begini. Ini mah sayanya aja kali ya yang kurang mahir berimajinasi. Saya harus ngomong apa lagi? Saya terhanyut ceritanya dan gak merhatiin typo atau kejanggalan lain. Huaa maaf komen saya kali ini bener-bener miskin masukan T.T

    1. Hehehe, terima kasih ya Kak telah bertandang. Sebenarnya ini pengalaman pribadi yg saya aplikasikan jadi cerpen. Kadang saya suka berimajinasi seperti ini.
      Terima kasih telah mengunjungi lapak sederhana saya😀

  2. Aloha, sepertinya saia bakal mengutip komen-komen di atas. Well, ini idenya memang tidak biasa di tengah lingkungan yang biasa sehingga menciptakan sebuah pemikiran yang unik dan menarik. Buat miss-typed. Sudah tidak dijumpai lagi lho. Tuh kan nyaris sempurna. Dan mengenai 40 hari itu. Well, saia mengalaminya. Saia dicolek papa waktu kurun 40 hari dan itu bikin saia ngikik. lols.

    1. Kalau Kakak dicolek, dulu Eyang Kakung saya nyanyi lagu keroncong sepanjang hari di rumah. Kata Tante saya yang bisa ngeliat, suara eyang kakung saya bagus banget. Dan dia terlihat lebih dan sangat muda. Keren. Hehehehe :3

      Terima Kasih telah membaca cerita saya ya Kak! Semoga Kakak senang!😀

  3. Wuah, keren loh ini…
    Latar sama ide ceritanya nggak biasa, dan walopun baru pertama kali aku baca fiksi pendek non-FF tapi aku baca ini ngalir dan enak.
    Kayaknya bakalan sering maen ke WP ini nih, bagus2 nampaknya tulisanmu… ^^
    Ohya, aku reader baru, panggilnya Ai ^^

    1. Benedikta Sekar

      Selamat datang! Kunjungan pertama ya? Terima kasih atas kunjungannya!

      Hahaha, iya, ini idenya murni pake pengalaman pribadi. Jadi mungkin kerasa enggak biasa.

      Sering-sering aja main ke sini, kerlingan matanya di tunggu, serta jejaknya di harapkan. Terima kasih banyak!

  4. Ping-balik: [Coretan Dicta] Mengumbar Luka | Kata-Kata Dicta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s