Sobat

Tidakkah kamu lelah, Sobat? Berkelakar pada dunia, sementara gigi-gigimu bergemeretak atas ketidakberdayaan akan takdir.

Tidakkah kamu bosan, Sobat? Mengangkat dagu setinggi awang-awang, sementara hatimu ternyata lebih rendah dari kerak bumi.

Tidakkah kamu berpikir, Sobat? Ketika kata-kata pongah keluar dari mulutmu, sementara itu ada hati di tubuh yang berbeda mengerut.

Tidakkah kamu berdosa, Sobat?
Berlaku merendahkan pada sesamamu, sementara dirimu sendiri tak lebih baik dari kumparan benang kusut di pematang jalan.

Tidakkah kamu tahu semua itu, Sobat?

Kuyakin kamu akan menggeram marah dan membantah habis-habisan seandainya aku mampu berkata seperti itu. Kamu pun pasti akan mencaci; berkata yang tidak-tidak tentangku dan berseru pada dunia kalau aku adalah si pembual ulung yang mencoba untuk menjatuhkanmu.

Yah, kamu selalu beranggapan ungkapan-ungkapan kebenaran tentang dirimu itu adalah percobaan menjatuhkanmu; kamu merasa lebih tinggi dari yang lain. Padahal sesungguhnya, ungkapan-ungkapan itu tak ubahnya cermin untukmu mematut diri.

Putarlah logikamu, kenapa ungkapan-ungkapan itu bisa ditujukan bagimu? Kenapa sesamamu beringsut menjauh dan merasa aman jika kamu tidak berada di dekat mereka? Kenapa begitu banyak orang yang membencimu, sementara ada orang lain dapat menuai cinta dari sesamanya? Dan kenapa… kamu merasa begitu bahagia dengan semua kebencian itu?

Lebih baik dibenci karena dirimu sendiri ketimbang dicintai karena bukan dirimu?

Ah, omong kosong. Ungkapan itu benar jika dirimu terlalu baik hingga banyak orang dengki padamu. Tapi jika buruk dirimu, apakah ungkapan itu bisa dibenarkan atas kasusmu?

Renungkanlah. Apa kata ubah tidak tertera dalam kamus hidupmu?

Tak akan ada yang mencemooh hanya karena kamu berkata baik, kecuali berkata baik adalah omong kosong bagimu.

Tak akan ada yang menggunjing jika perbuatanmu membahagiakan orang lain, kecuali membahagiakan orang lain itu membuatmu sengsara.

Tak akan ada yang melarangmu menjadi manusia yang lebih baik, kecuali dirimu sendiri merasa baik itu bukan kamu.

Sungguh, tak akan ada yang membenci jika kamu baik, Sobat!

Tapi… yah, sayang sekali, kata-kata ini tak akan pernah sampai padamu. Sayang sekali, aku tak mampu menolongmu. Sayang sekali, kondrat tak memungkinkanku bicara.

Tapi ketahuilah, Sobat. Ketika dunia menjauhimu berkat segala tindak-tandukmu; atas segala ucapan dan perangaimu.

Bercerminlah.

Dan kamu akan menemukanku. Sobat sepanjang masamu.

“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan”Matius 23 : 12

16 pemikiran pada “Sobat

  1. Saia suka sekali deh ini. Didasarkan pada Matius pula 😀 semoga yang memiliki telinga mendengarnya ya karena sepasang telingga diciptakan untuk mendengar. Bukan menutupnya rapat dan mendengar bisikan hati sendiri.
    Keep writing.

  2. mungkin dirinya yang asli takut dikritik atau tidak disukai temen2nya. jadinya dia menghina buat menutupi kekurangannya. seperti kata pak mario, orang yang dandanannya lebay itu justru yang pedenya rendah. apapun itu, semoga kalian jadi temen baik lagi. 🙂
    nice expression dicta.

  3. aku harus bilang apa ya? pokoknya tulisan ini menohok dan bagus banget, khususnya yang ini:
    Lebih baik dibenci karena dirimu sendiri ketimbang dicintai karena bukan dirimu?

    Ah, omong kosong. (dst)

    banyak orang yang berdalih seperti itu, mereka meminta orang lain memahami mereka, bila mereka dibenci karena perbuatan mereka, mereka memilih untuk cuek, padahal mereka telah mengabaikan standar moral yang ada *terkadang aku juga seperti itu*

    terima kasih sudah mengingatkan 😀

    1. Sebenarnya menulis ini pun saya memikirkan diri saya sendiri dan juga semua hal yang pernah terjadi di hidup saya… ^^ Terima kasih sudah membaca tulisan saya ya Kak. Semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi.

      1. hahaha saya baru nyadar ini kunjungan pertama 😀
        sebenerya pgn main kesini dari kemarin-kemarin, Dek, tapi tugas kuliah mencekikku seperti racun arsenik huhuhuhu. kalo ada waktu senggang lagi ntar aku mampir lagi ya Dek 🙂

  4. Renungan yang bagus ^^ Terima kasih ayatnyaaaaa…

    Aku bagi ayat juga ya yg cocok ihihihihihihi *jadi semangat*

    “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” (Amsal 27:6)

    Tapi sayangnya, seperti di quotes yg saya baca (maaf lupa sumbernya): most people would rather be ruined by (false) praises than saved by (honest) criticism.

    Mari menjadi teman menulis yang saling membangun 🙂 asah pena, asah penaaa…

    1. Hehehe, sama-sama 😀
      Yah, memang senang dikritik sih lebih bagus dari pada terlalu terlena sama pujian. Saya belajar dari banyak orang saat kendapati kritik habis-habisan. Daru yg masuk akal sampai yg enggak 😄

      Terima kasih sudah membaca *peluk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s