Diposkan pada Drabble, FanFiction

[Drabble] Dream

Title                    :           Dream

Author                :           Benedikta Sekar Arum Setyorini (DictaVIP)

Cast(s)               :

–       Asa Butterfield

Length                :           Drabble – 467 kata

Genre                :           family, mystery

Rate                   :           G

Keterangan  gambar   :           Street Life in London, 1876 – John Thomson

Disclamer          :           Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang atau pun honor materi. Asa Butterfield bukan milik saya, melainkan milik dirinya sendiri, Tuhan dan agency yang mendebutkan dirinya. Sementara plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

“Siapa namamu, Nak?”

Suara rendah pria paruh baya itu akhirnya memecah keheningan yang sudah terjalin di antara kami sejak pertama kali ia memanggilku dengan bahasa tubuhnya. Tolong semir sepatuku sampai mengkilap, wajah penuh kerutan itu berkata dalam diam; aku pun menurut tanpa suara.

“Asa Butterfield, Sir,” jawabku, lantas mendongak untuk memberikan senyum padanya.

“Berapa umurmu?” tanya pria itu lagi, sembari menggerakkan dagu memintaku untuk kembali fokus pada sepatunya.

“15 tahun.” Aku buru-buru menunduk, mematut wajahku pada sepatu pantofel pria bertopi fedora itu—kutilik sekilas warna rambutnya mulai memutih di balik benda itu.

Pria itu diam sejenak, namun bisa kurasakan tatapan matanya mengarah padaku.

“Bisakah kau ceritakan padaku tentang hidupmu?”

Aku membatu, kuhentikan pekerjaanku lalu kembali mendongak menatap pria itu.

“Kenapa Anda ingin tahu, Sir?” kuberanikan diri untuk bertanya; enggan menjawab tanpa alasan.

Pria itu menarik satu sisi bibirnya ke atas, membentuk senyum yang terlihat aneh bagiku.

“Karena aku ingin tahu,” jawabnya tenang, namun dengan nada menekan.

Aku menelan ludah, lalu kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaanku; merasa tak berhak menolak pertanyaan ini.

“Hidupku pas-pasan…” aku memulai ceritaku, sementara tanganku bekerja tanpa minat, “…aku tinggal bersama kedua orangtuaku serta kakak laki-laki dan adik perempuanku.

“Ayahku pegawai rendahan di sebuah pabrik sepatu, sedangan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Kakak laki-lakiku, Morgan, lebih senang menghabiskan waktunya dengan mabuk-mabukkan sementara adikku terlalu kecil untuk dipaksa bekerja. Hanya aku yang ayah-ibu harapkan membantu perekonomian keluarga. Jadi, di sinilah aku sekarang. Menjadi penyemir sepatu.”

Aku selesai bercerita, hanya itu saja. Rasanya tak pantas menceritakan hal sensitif seperti itu kepada orang asing, toh, ia tak bisa mengubah apa pun—hanya bersimpati.

“Apa kau punya mimpi?”

Aku terperangah, tak menduga dengan reaksi pria paruh baya itu. Mimpi? Kapan terakhir kali aku berpikir tentang mimpi? Dulu aku punya mimpi, dulu sekali, sampai-sampai aku  melupakannya.

Tak ingin dicap rendah karena tak memiliki mimpi; aku pun memandang sekitar dan mencari-cari hal yang bisa dijadikan mimpi, hingga aku menemukan seorang fotografer sedang mengambil gambar di dekatku.

“Tentu, aku punya mimpi,” jawabku buru-buru, takut ia menyadari kalau aku baru saja menemukan mimpiku secara tidak sengaja; mimpi yang tidak masuk akal, ”Aku ingin bekerja di depan kamera, dan semua orang mengenaliku.”

Pria itu terpekur sesaat; melihat si fotografer,  lantas berseru padanya.

“Hey, John! Foto aku dan anak ini!”

Aku terperanjat. Tiba-tiba saja pria pemegang kamera itu mengarahkan kamera analognya ke arah kami. Beberapa pasang mata menatap ingin tahu, sementara aku hanya menunduk dalam-dalam hingga…

Jepreeet!

Suara kamera mengambil gambar terdengar, aku masih menundukkan kepalaku sampai pria paruh baya itu menarik kakinya dan menjabat tanganku.

“Jika di masa kini kau tak bisa mewujudkan mimpimu. Aku yakin di masa yang akan datang kau akan mewujudkan mimpimu; bekerja di depan kamera.”

Pria paruh baya itu berbalik dan pergi beriringan dengan si fotografer, meninggalkanku yang terkesiap mendapati uang 100 pound telah berada di tangan.

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

9 tanggapan untuk “[Drabble] Dream

  1. Eom~ma~ ~(‾▿‾~) (~‾▿‾)~
    Idenya bagus, terus aku bisa dapet suasananya di sana. Tapi aku masih bingung dengan bagian foto itu. Kenapa tiba-tiba dia di foto? *telmi ><*

    Itu aja si ma.. 🙂 makasi 😀

  2. nice drabble!
    aku bisa ngebayangin suasana jalanan Inggris jaman dulu *berbekal gambar itu* trus aku ngebayanginnya si Asa ini tipikal anak lugu yang terpaksa harus bertahan di dunia yang keras *maaf kalau interpretasiku salah*
    100 pound? wow! saya juga mau 😀
    make your dream, Asa! 😀 walaupun namanya kurang ‘Inggris’ tp it’s ok

  3. Ngeh sama butterfield nya… Brasa prnh dnger, trus dibawah katanya aktor cilik… Ooh yg film Hugo itu yaa -__-‘
    #nepok jidat
    betewe,, berasa lg nonton deh, suasananya berasa banget… T.O.P dah… ^^
    o ya typo pas bagian ‘adikku perempuanku’ hehehe….

    1. Sip! Sudah diperbaiki, terima kasih atas koreksinya ya. Iya, yang main film Hugo. Hahahaha. keren banget deh dia. saya juga seneng bayangin tulisan ini di tokohin sama dia.

      Terima kasih sudah membaca tulisan saya ya ^^

  4. emakk… ^^
    nice story like usually, awalnya mau nanya siapa Asa Butterfield… tapi ternyata sudah di jawab di comment sebelumnya hehehe
    maaf ya baru berkunjung -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s