[Puisi] Pikirkan Aku Sedikit Saja

Pernahkah kamu?

Ingat kala itu

Katika Senja menggelitik rasa

Ingkari waktu yang bergerak cepat

Rasaku itu, labil

Ada kalanya bersungut-sungut pada takdir

Namun nyatanya, tetap kembali ke titik awal

 

Ah…

Kala itu…

Untaian rasa itu

 

Sudahkah kamu mengingatnya?

Elegi kita di kala senja

Desiran hangat yang memanggut bibir kita

Indah benar ‘kan?

Kita kala itu

Impianku padamu

Tak lekang oleh waktu

 

Sudah pernah kuingat,” katamu

Aku mengulum senyum, berharap

Jadi, apa maumu?”

Ah… katam hatiku, ternyata, tak sedikit pun kamu memikirkannya

[Oneshot] Last Winter

Kemaren ikut Lomba di IFK dan mendapati kalau saya mendapat kehormatan sebagai salah satu author favorite ^^ enjoy it, please!

Then, ini penilaian mereka tentang FF tersebut!

Last Winter – DictaVIP
 
1. Ide awalnya keren tentang perselingkuhan yang benar-benar dilakukan oleh si penulis (bukan sekedar novel). Unik, kalau fic lain menceritakan tentang pihak yang diselingkuhi, kalau yang ini menceritakan tentang yang menyelingkuhi dari sudut pandang mereka masing-masing. Nggak nyangka si dicta sama TOP bakal putus.
2. Bebas typo, diksinya bagus. Tapi ada kata yang nggak di spasi… as ex : Hei, haruskah kau kembali secepat ini?Habiskan sisa musim dingin ini bersamaku. Seharusnya kan -> Hei, haruskah kau kembali secepat ini? Habiskan sisa musim dingin ini bersamaku..
3. Alurnya mengalir, ikut terbawa dan seakan melihat scenenya langsung. Feelingnya seperti sang author sendiri pernah merasakan yang namanya selingkuh. Atau memang pernah? :p
4. Pendeskripsian karakternya juga bagus… terasa banget rasa sakit hati + pengorbanan yang mereka (Seunghyun + Dicta + Bom) lakukan. Endingnya juga sweet… sesuai prediksi tapi tetep aja rasanya mencelos liat (atau baca) Boom nangis TT.TT
5. Feeling sangat kerasa, pengorbanannya, kekhawatirannya, kerinduan mereka, rasa percaya Surya ke Dicta, Bom ke Seunghyun, serta kegundahan Dicta dan Seunghyun juga. Pembawaan, scene yang tidak sia-sia itu buat jatuh cinta.
Point: 9,25/10
Awesome job!! Ini mau dipublish kan? Besok aku publish, ditunggu yaa unnie 😀 terus berkarya dan semangat!
– Tim Juri Indonesia Fanfiction Kpop –

IFK

Title                   :           Last Winter

Author               :           DictaVIP

Cast(s)               :

–          Benedikta Sekar (OC)

–          Surya Dirgantara (OC)

–          Choi Seung Hyun (Big Bang/YG Entertainment)

–          Park Boom (2NE1/YG Entertainment)

Lenght               :           Oneshoot (5.465 word)

Genre                 :           Romance, Angst

Rate                   :           G

Status                 :           Tema yang diambil; Season, Nine, Anniversary

Disclaimer          :           Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini; dalam bentuk uang mau pun honor materi. Semua cast yang bukan OC, bukanlah milik saya, melainkan milik diri mereka sendiri serta agensi dan maneger yang mendebutkan mereka. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

 

Benedikta Sekar

 

Dingin. Kenapa makhluk Proto Melayu sepertiku bisa berada di tengah-tengah iklim seperti ini?

Kualihkan perhatian pada jajaran ruko di sekitarku; mengabaikan dingin yang menggigit tulang hingga kesumsum. Bulan Desember belum juga menyingsing, tapi pernak-pernik Natal telah tertata rapi di toko-toko besar…

Lihat pos aslinya 5.548 kata lagi

Indahnya Begadang

Tik… tok… tik… tok…

“Berisik, woy!”

Brak! Prak!

Kulempar jam dinding di kamarku dengan kaleng Fanta kosong hingga jatuh dan pecah. Entah sudah berapa jam dinding yang bernasib sama dengan jam itu, kurasa mulai besok aku harus mengganti semua jam di flat ini dengan jam digital – suaranya tidak berisik.

Kulirik langit di luar melalui jendela kamarku, hitam pekat; tanpa berkas cahaya yang biasanya diciptakan benda-benda malam. Ah, aku baru ingat malam ini bulan mati, bintang pun enggan tampak bersama sang kawanan. Kuperkirakan jam telah menunjukkan waktu lebih dari tengah malam, menilik televisi yang tengah menayangkan iklan rokok dan alat kontrasepsi secara bergiliran.

Kantuk sebenarnya sudah mendera sedari tadi, kedua mata bulatku pun sudah sesipit ras Mongoloid yang akhir-akhir ini sering kali dielu-elukan remaja Indonesia dari segala kasta. Tapi keteguhanku untuk terjaga selalu bisa melawan rasa kantuk itu.

Yah, aku mungkin gila, karena para ilmuan telah mempropagandakan pada seluruh jagat raya ini tentang dampak buruk dari begadang; dimulai dari gangguan kesehatan hingga gairah sanggama yang menurun. Tapi aku tetap meneruskan kebiasaan ini tanpa peduli akibatnya.

 

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya

Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

 

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya

Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

 

Kalau terlalu banyak begadang

Muka pucat karena darah berkurang

Kalau sering kena angin malam

Segala penyakit akan mudah datang

Darilah itu sayangi badan

Jangan begadang setiap malam

Somplak! Apa maksud nih acara dangdut nyindir-nyindir gue!?

Baca lebih lanjut

Melodi

Aku terperangkap.

Ah, tidak, kita terperangap. Aku dengan segala prahara dan kamu dengan kebaikan yang terlampau kronis. Dua kepribadian yang bertolak belakang;  sebenarnya mampu saling memunggungi dan tak perlu berpapasan. Atau setidaknya hanya memandang; tak perlu mengikis jarak atau bahkan saling mengucap sapa.

Terlanjur.

Mungkin ini karena kebaikanmu—yang terlampau kronis, kubilang—mengendalikan nalarmu sehingga iba akan prahara yang terlalu berat untuk ditanggung remaja tolol sepertiku, yang menganggap menulis itu bebas tanpa kaidah, yang menganggap mencetak askara itu mudah tanpa penolakan.

Rasa ibamu, menuntun kita ke tepi jurang itu. Saling berhadapan; di sisi yang berbeda.

Kita belum memiliki cara untuk memanjangkan kaki agar jurang lebar itu terlewati (dan kita pun dapat bersua; berbagi rasa dengan intens). Tapi kita tahu, di sana, di tepi jurang itu, adalah tempat yang tepat untuk kita. Sekarang.

Tempat di mana timbunan mimpi abstrak berkumpul menjadi tunggal. Juga tempat yang sama untuk kumparan imaji yang tak sanggup ditangkap oleh para cendekiawan. Dan juga, karena tempat segala bentuk kemustahilan itu berada sangatlah cocok untuk kita berdua—alien dari planet antah-berantah yang terdampar di ranah yang bernama bumi.

Sampai malam menyingsing dan helios tak lagi menunjukkan kepongahnya. Kita bertukar colekan tak kasatmata yang hanya dapat dirasakan berdua. Kita pun berbagi potongan hari lewat cetakan konsonan dan vocal yang berpadu menjadi unsur bahasa di layar datar. Menciptakan melodi kita sendiri, yang bahkan tak dapat didengar oleh musikolog mana pun. Karena melodi kita tercipta dalam keheningan; hanya dapat didengar oleh mata juga hati. Telinga tak berguna di sini—pada melodi kita.

“Dek, cek e-mail ya. Revisinya sudah di kirim.”

“Oke, Kak! Terima Kasih, ya!”

….

“Dek, saya ada nge-post resensi buku di blog tuh. Kali saja membantu resensi bukumu.”

“Wah! Beneran?! Oke, Kak, saya baca dulu. Terima kasih ya, Kak!”

….

“Kakak, lagi ngapain?”

“Lagi nunggu UKM, nih. Sendirian.”

“Ikut kegiatan apa?”

“Ikutan forum Inggris doang kok, Dek.”

….

“Kak, sudah sudah disuruh tidur nih, pamit ya. Oyasumi.”

“Oke, Dek. G’nite, sweet dream.”

Ah, apa kataku? Melodi kita memang tak akan dimengerti oleh khalayak. Aneh, bisik mereka di belakang punggung. Bukankah kita dua orang yang terpisah oleh jurang dan hanya bersetatap dalam dunia tanpa suara? Bagaimana bisa?

Tapi biarlah begitu, kita memang terperangkap di tempat ini, toh melodi ini hanya milik kita berdua…

 

Untuk Kakak, juga sahabat penaku, Kak Azura