Diposkan pada Corat-Coret Dicta, Flash Fiction

Melodi

Aku terperangkap.

Ah, tidak, kita terperangap. Aku dengan segala prahara dan kamu dengan kebaikan yang terlampau kronis. Dua kepribadian yang bertolak belakang;  sebenarnya mampu saling memunggungi dan tak perlu berpapasan. Atau setidaknya hanya memandang; tak perlu mengikis jarak atau bahkan saling mengucap sapa.

Terlanjur.

Mungkin ini karena kebaikanmu—yang terlampau kronis, kubilang—mengendalikan nalarmu sehingga iba akan prahara yang terlalu berat untuk ditanggung remaja tolol sepertiku, yang menganggap menulis itu bebas tanpa kaidah, yang menganggap mencetak askara itu mudah tanpa penolakan.

Rasa ibamu, menuntun kita ke tepi jurang itu. Saling berhadapan; di sisi yang berbeda.

Kita belum memiliki cara untuk memanjangkan kaki agar jurang lebar itu terlewati (dan kita pun dapat bersua; berbagi rasa dengan intens). Tapi kita tahu, di sana, di tepi jurang itu, adalah tempat yang tepat untuk kita. Sekarang.

Tempat di mana timbunan mimpi abstrak berkumpul menjadi tunggal. Juga tempat yang sama untuk kumparan imaji yang tak sanggup ditangkap oleh para cendekiawan. Dan juga, karena tempat segala bentuk kemustahilan itu berada sangatlah cocok untuk kita berdua—alien dari planet antah-berantah yang terdampar di ranah yang bernama bumi.

Sampai malam menyingsing dan helios tak lagi menunjukkan kepongahnya. Kita bertukar colekan tak kasatmata yang hanya dapat dirasakan berdua. Kita pun berbagi potongan hari lewat cetakan konsonan dan vocal yang berpadu menjadi unsur bahasa di layar datar. Menciptakan melodi kita sendiri, yang bahkan tak dapat didengar oleh musikolog mana pun. Karena melodi kita tercipta dalam keheningan; hanya dapat didengar oleh mata juga hati. Telinga tak berguna di sini—pada melodi kita.

“Dek, cek e-mail ya. Revisinya sudah di kirim.”

“Oke, Kak! Terima Kasih, ya!”

….

“Dek, saya ada nge-post resensi buku di blog tuh. Kali saja membantu resensi bukumu.”

“Wah! Beneran?! Oke, Kak, saya baca dulu. Terima kasih ya, Kak!”

….

“Kakak, lagi ngapain?”

“Lagi nunggu UKM, nih. Sendirian.”

“Ikut kegiatan apa?”

“Ikutan forum Inggris doang kok, Dek.”

….

“Kak, sudah sudah disuruh tidur nih, pamit ya. Oyasumi.”

“Oke, Dek. G’nite, sweet dream.”

Ah, apa kataku? Melodi kita memang tak akan dimengerti oleh khalayak. Aneh, bisik mereka di belakang punggung. Bukankah kita dua orang yang terpisah oleh jurang dan hanya bersetatap dalam dunia tanpa suara? Bagaimana bisa?

Tapi biarlah begitu, kita memang terperangkap di tempat ini, toh melodi ini hanya milik kita berdua…

 

Untuk Kakak, juga sahabat penaku, Kak Azura

 

 

 

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

8 tanggapan untuk “Melodi

  1. Ah, tidak, kita terperangap. Aku dengan segala prahara dan kamu dengan kebaikan yang terlampau kronis. Dua kepribadian yang bertolak belakang; sebenarnya mampu saling memunggungi dan tak perlu berpapasan. Atau setidaknya hanya memandang; tak perlu mengikis jarak atau bahkan saling mengucap sapa.

    ^ bahasanya indah sekali!! ngiler, jadi berharap bisa menginspirasi seseorang di luar sana untuk menuliskan sesuatu tentang saya <– kemudian digampar realita

    Bagus banget, lho.
    Dewasa sekali, seperti ditulis oleh seseorang yang tak lagi duduk di bangku SMA

  2. Ini luar biasa banget kak! Oh ya, sebelumnya kenalin nama aku Zola ya kak salam kenal^^ pertama kali (sekarang) ke blog kakak itu waktu lagi blog-walking, dan akhirnya ketemu blog dengan cerita-cerita yang bagus kayak begini. Diksinya… pengen bisa kayak gitu, keren banget 😀 dan ketika tahu kakak 96liner benar2 nggak nyangka, habis pemilihan katanya bikin merinding hihi

    1. Kerima kasih atas kunjungan pertamanya! Semoga betah berlama2 di tempat ini ya Zolaaa! 😀

      Woah, tulisan saya masih banyak yang harus diperbaiki, diksi pun tak sebagus kebanyakan orang. Tapi saya memang berusaha sebisa saya. Terima kasih atas apresiasinya! 😀

      Sering2lah berkunjung ya :3

      1. Sama-sama ya kak, insyaAllah pasti betah kak apalagi tulisannya bikin ketagihan 😀

        Diksinya bagus kok kak, harus sering2 belajar lagi nih aku supaya bisa kayak kakak hehe terkadang kalau baca karangan seseorang yang diksinya bagus bgt bisa jadi motivasi, termasuk kak Dicta. Hehe sama-sama lg ya kak^^

        Siap kak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s