Indahnya Begadang

Tik… tok… tik… tok…

“Berisik, woy!”

Brak! Prak!

Kulempar jam dinding di kamarku dengan kaleng Fanta kosong hingga jatuh dan pecah. Entah sudah berapa jam dinding yang bernasib sama dengan jam itu, kurasa mulai besok aku harus mengganti semua jam di flat ini dengan jam digital – suaranya tidak berisik.

Kulirik langit di luar melalui jendela kamarku, hitam pekat; tanpa berkas cahaya yang biasanya diciptakan benda-benda malam. Ah, aku baru ingat malam ini bulan mati, bintang pun enggan tampak bersama sang kawanan. Kuperkirakan jam telah menunjukkan waktu lebih dari tengah malam, menilik televisi yang tengah menayangkan iklan rokok dan alat kontrasepsi secara bergiliran.

Kantuk sebenarnya sudah mendera sedari tadi, kedua mata bulatku pun sudah sesipit ras Mongoloid yang akhir-akhir ini sering kali dielu-elukan remaja Indonesia dari segala kasta. Tapi keteguhanku untuk terjaga selalu bisa melawan rasa kantuk itu.

Yah, aku mungkin gila, karena para ilmuan telah mempropagandakan pada seluruh jagat raya ini tentang dampak buruk dari begadang; dimulai dari gangguan kesehatan hingga gairah sanggama yang menurun. Tapi aku tetap meneruskan kebiasaan ini tanpa peduli akibatnya.

 

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya

Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

 

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya

Begadang boleh saja, kalau ada perlunya

 

Kalau terlalu banyak begadang

Muka pucat karena darah berkurang

Kalau sering kena angin malam

Segala penyakit akan mudah datang

Darilah itu sayangi badan

Jangan begadang setiap malam

Somplak! Apa maksud nih acara dangdut nyindir-nyindir gue!?

Aku menggeram. Stasiun televisi yang tengah kutonton tiba-tiba saja menayangkan acara dangdut tengah malam yang mempertunjukkan seorang pria pendek, berbulu dada, dan berjanggut tebal, bersama orkesnya yang dulu berjaya saat ayahku masih bujangan. Dengan lantangnya ia menyeru-nyerukan apa-apa saja yang akan terjadi jika begadang setiap malam, seakan-akan mengejekku yang memang selalu begadang.

Klik!

Kumatikan televisi dan melempar remote kontrolnya ke lantai. Aku mulai jengah dengan semesta yang memprakarsai kontra terhadap kebiasaan begadangku. Setelah berdiam diri selama beberapa detik, aku pun bangkit dari kursi malasku dan melangkah menuju kamar mandi. Sedikit air dingin kurasa bisa membantu menyegarkan wajahku yang lengket.

Tapi ketika aku berdiri tepat di depan wastafel dan memandang ke cermin… Astaga, siapa pria berwajah seperti setan itu?

Aku mengerjap-ngerjap takjub pada sesosok pria di dalam kaca. Pria itu berkantung mata tebal juga memiliki kerutan yang seharusnya tidak ada di pada usia 21 tahun. And most of that, kenapa wajah pria itu sangat pucat? Mengerikan sekali!

Kalau terlalu banyak begadang

Muka pucat karena darah berkurang

Okay, sepertinya lagu dangdut tadi ada benarnya juga. Aku memang tampak mengerikan di dalam kaca. Aku tidak tahu berapa liter darah telah berkurang sepanjang malam-malam aku berjaga, tapi yang pasti, wajahku tak ubahnya mayat yang telah membusuk 40 hari.

Setelah secepat kilat aku membasuh wajahku dengan air dingin – meski kutahu hal itu tak mungkin bisa membuat wajahku menjadi sedia kala– aku lantas keluar dari kamar mandi dan  memilih untuk mendatangi balkon kamar ketimbang menghabiskan waktu di kamar yang pengap.

 

Srrrrrrh…

Tepat saat kedua kakiku berpijak pada lantai balkon, seketika itu juga angin malam menerpa deras. Tubuh jangkungku yang hanya berbalutkan celana basket dan kaos oblong langsung menggigil, hidungku juga membeku; sepertinya aku terserang selesma dadakan.

Kalau sering kena angin malam

Segala penyakit akan mudah datang

Apa lagi ini? Kenapa lagi-lagi aku mengingat larik lagu dangdut itu seakan-akan ada kekuatan gaib yang membuatku melakukannya?

Yah, in fact, aku memang sering menghabiskan waktu begadangku di luar – balkon. Meski dingin, hal itu malah memaksa mataku itu tetap membelalak, bukannya buru-buru bergelut dengan kasur dan selimut, lantas tertidur. Sebenarnya, di balkon pun tak banyak yang aku lakukan, paling-paling menyandarkan perutku di pagar pembatas dan memandang langit yang biasanya sangat indah ketika bulan purnama; tak peduli akan bayu yang menggigit tulang.

Tapi efek dari angin malam memang baru-baru ini saja terasa, segala macam penyakit mulai mendera, seperti: flu, pusing, selesma akut, dan banyak lagi. Namun aku mengabaikannya dan tetap melanjutkan kebiasaan begadangku.

Darilah itu sayangi badan

Jangan begadang setiap malam

Dua larik terakhir dari lagu yang bermakna persuasif itu akhirnya mau tidak mau datang ke ingatanku. Bisa dibilang larik itu adalah inti dari keseluruhan lagu, dan harus kuakui kalau hal itu ada benarnya juga. Aku memang pelan-pelan merusak tubuhku dengan melakukan rutinitas begadang ini – rasanya aku akan menua sepuluh tahun lebih awal. Tapi tetap saja aku tak bisa meninggalkannya. Bukan karena ketagihan, aku memang membutuhkan kegiatan ini untuk tetap merasakan kehadiran wanita itu dihidupku…

Namanya Valentina Hilaria, biasanya aku memanggilnya Val. Umur Val sama denganku, hanya saja aku lebih tua satu bulan darinya.

Aku sudah mengenalnya bahkan sejak kami masih di dalam kandungan. Saking dekatnya aku dan Val, kata pertama yang Val ucapkan saat masih bayi bukanlah panggilan mama-papa seperti bayi-bayi lain lakukan, melainkan namaku – Michael Agung; Mika.

Rumahku dan Val bersebelahan, dan kala aku dan Val masih balita, sering kali kami mencuri-curi waktu tidur siang untuk bermain bersama; entah itu di pekarangan rumah Val yang asri atau pun ruang mainanku.

Namun sepertinya, kedekatanku dan Val telah direncanakan sejak dulu; kedua orangtua kami telah mengusahakan perjodohan antara aku dan Val. Tapi tentu saja akal bulus itu sudah diketahui sejak awal, dan hanya menjadi bahan tertawaan kami berdua.

Hahaha, cara orang tua kami menunjukan kiat-kiat menjodohkan memang kentara sekali. Dimulai dari memasukkan aku dan Val di sekolah yang sama, hingga memaksa kami mengikuti les dan kursus yang sama pula. Aku bahkan masih ingat bagaimana mama memaksaku ikut kursus memasak lantaran Val mengikuti kursus itu saat aku masih kelas 2 SMP. Aku berusaha mati-matian untuk menolak hingga mogok makan, tapi mama tetap bersikeras. Sampai akhirnya Val memutuskan untuk berhenti kursus memasak agar mama tidak memaksaku lagi. Kala itu aku benar-benar sangat berterima kasih pada Val, mengingat ia begitu ingin belajar memasak dan harus merelakan keinginannya itu demi aku.

Meski sejak awal aku tahu kalau orangtua kami memaksakan sebuah perjodohan, namun ternyata usaha-usaha mereka berhasil padaku. Aku tidak tahu sejak kapan sosok Val terlihat begitu berbeda di mataku. Yah, aku mungkin tak menyadarinya saat kami masih sama-sama bocah ingusan yang lugu. Tapi saat kami berdua telah merangkak ke dunia di mana puber dan pergaulan memengaruhi pikiran, aku pun mulai memandang Val dengan cara yang berbeda; bukan sebagai sahabat masa kecil, tapi seorang perempuan.

Mata bulat dengan iris berwarna tembaga itu berubah menjadi sangat menakjubkan setiap kali Val mengerling atau pun menatapku dengan berbagai cara – terutama saat mata itu ikut tersenyum beriringan dengan bibir delimanya, aku tak bisa mencurahkan dengan kata-kata betapa indah pemandangan itu terlihat.

Tubuh Val yang dulu kecil dan terlihat lemah pun berubah drastis saat ia mendapatkan tamu bulanan pertamanya (tentu saja ia tak pernah menceritakan hal itu kepadaku; mama yang bilang kalau aku harus sedikit menjaga jarak pada Val karena kami sudah besar) tubuh Val berubah lampai, dengan S-line seksi yang ia dapatkan dari kursus salsanya – aku mengancam akan bunuh diri saat mama memaksaku untuk ikut kursus ini. Sungguh perubahan yang drastis.

Aku pun menyadari betul perubahan perasaanku, seiring perubahan wanita itu di mataku – perubahan fisik atau pun psikis. Namun sayang, batas sahabat yang aku dan Val bangun di antara kami menjadi pengahalang terbesar. Sudah pasti ini menyakitkan, seumur-umur aku tak pernah merasa seperti ini. Tapi kupikir, asalkan Val masih berada di dekat dan bergantung padaku, semua akan baik-baik saja; aku bisa bertahan.

 Namun bencana yang tak terduga itu datang, saat kami telah lulus SMA dan mulai menatap dunia dengan cara yang baru…

Val memutuskan untuk pergi! Berpisah denganku!

Pada awalnya kupikir kami hanya akan berbeda universitas, tapi ternyata tidak hanya itu, kami juga berbeda kota! Bahkan negara!

Val sendiri yang menyampaikan hal itu padaku. Ia terlihat sangat gembira; sementara aku nelangsa – menahan diri untuk tidak membayangkan hari-hariku tanpa kehadirannya, tanpa wanita yang aku cintai itu…

Kring! Kring!

Aku tersentak dan bayangan kejadian 4 tahun lalu pun buyar, lantas kutolehkan kepalaku ke dalam kamar dan menemukan Blackberry-ku berkedip-kedip – panggilan masuk. Dengan sedikit tergesa-gesa aku berlari kembali ke dalam dan mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa nama yang tertera di layar; aku sudah tahu siapa yang memanggil.

“Halo?”

“Mikaaaa!”

Senyumku mengembang tak tertahankan. Ini dia yang aku tunggu.

“Hai, Val,” sapaku tenang, berusaha menyembunyikan gejolak rindu yang tertahan di tenggorokan. Kulangkahkan kaki menuju balkon dan menyandarkan perutku di pagar pembatas; menikmati bintang-bintang semu yang bertaburan di pelupuk mataku.

“Lu belum tidur, Mik?”

“Menurut lu?”

Val hanya terkekeh, menyadari pertanyaan bodohnya lantas buru-buru mengganti pertanyaan. “Apa kabar, Mik?”

“Baru juga kemaren kita teleponan…,” aku mengulum senyum dan mendesah, “…gue baik, kalau lu?”

“Gue lagi bad mood; homesick,” jawab Val cepat.

“Baru juga semester kemarin lu pulang, memang NY udah gak asyik lagi, ya?” tanggapku sekenanya.

“Gak asyik gara-gara gak ada lu di sini,” sahut Val lirih; aku terkesiap. Ini pertama kalinya Val berkata seperti itu. Selama empat tahun kami terpisah, yang ia kisahkan padaku hanyalah betapa menyenangkannya NY; sama sekali tak pernah menyinggung soal hidup-tanpa-Mika.

“Lu pasti punya banyak temen di sana ‘kan? Gak mungkin lu yang bawel tiba-tiba aja jadi kuper,” balasku, lantas tertawa sumbang. Aku tidak tahu harus bekata apa, kurasa menanggapi hal itu dengan  candaan adalah pilihan yang terbaik.

Kudengar Val mendesah berat lalu berkata, “Di sini gak ada yang kayak lu, Mik…”

“Hahaha,” lagi-lagi aku tertawa; masih sumbang, “Memangnya gue kenapa?”

Val diam, yang bisa kudengar hanyalah suara embusan napasnya yang menyambar jaringan. Hingga beberapa saat kemudian ia berkata dengan nada lembut, “Gak ada orang yang bisa bikin gue kangen setengah mati kecuali lu, Mik.”

Mataku melebar; nyaris keluar. Kata-kata yang mati-matian kutahan malah terucap oleh orang yang paling ingin kutemui di dunia ini.

“Gue kangen sama lu, Mika,” Val berkata lagi, sementara aku kehilangan kata-kata, “Gue kangen cara lu menatap gue, apalagi kalau lu senyum sambil ngeliatin gue… lu ganteng banget. Sumpah.”

Napasku tertahan di paru-paru; hanya mampu berbisik di dalam hati kalau aku juga merasakan hal yang sama.

“Mik, kita udah kepisah selama empat tahun gini…,” suara Val berubah lirih, “…apa lu masih gak sadar juga apa yang sudah berubah di antara kita berdua?”

Aku tetap diam. Mulutku masih kelu untuk mengucapkan satu patah kata pun, sekiranya ada meteor jatuh di depanku pun aku tak akan peduli.

“Seharusnya lu gak perlu begadang setiap malam, Mik…”

“Gue gak begadang setiap malam kok!” tanpa sadar aku memotong ucapan Val; menyadari wanita itu mulai menyeret pembicaraan ini menuju kata ‘begadang’.

“Jangan mengelak, Mik, jangan kira gue gak tahu alasan di balik kebiasaan begadang lu itu!” Val membentakku, aku tak pernah tahu Val bisa membentak, dan hal itu membuatku kembali bungkam, “Kenapa sih kita harus membuang waktu empat tahun ini dengan percuma?” lanjut Val dengan nada lebih tenang; cenderung menyesal.

Lagi-lagi pertanyaan yang tak mampu kujawab, rasanya telinga ini telah panas mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang menuntut dari bibir wanita itu. Tapi aku tak bisa memutuskan sambungan; aku menanti akhir dari pembicaraan ini, menerka-nerka apa yang sebenarnya Val inginkan dariku.

“Gue tahu lu cinta sama gue.”

Deg.

Sekujur tubuhku membeku; kalimat itu bahkan lebih mengejutkan dari penuturan yang telah Val ungkapkan padaku sebelumnya. Dan apakah ini tujuannya? Menelanjangiku dengan mengungkapkan semua rahasia yang sekuat tenaga kusembunyikan darinya? Ataukah aku yang terlalu naif, berpikiran kalau Val tak mungkin menyadari perasaanku yang meluap-luap untuknya?

“Kalau  gak cinta, lantas alasan apa yang bikin lu tahan begadang tiap hari cuman buat teleponan sama gue yang tinggal di NY, huh?” ada kejemawaan yang terbersit di suara wanita itu; senang karena berhasil mempermalukanku di depannya, “Perbedaan waktu Indonesia dan NY itu 22 jam, lu bela-belain begadang biar bisa telepon gue pas siang hari. Dan hal itu udah berlangsung lama banget, 4 tahun, Mik! Kentara banget kalau lu ada perasaan sama gue!”

Okay, wanita ini mulai terdengar terlalu percaya diri – kalau aku tak bisa menyebutnya arogan. Val memang acapkali bersikap seperti ini, itu salah satu kekurangannya, tapi aku tak bisa memungkiri kalau kekurangan yang satu ini juga menjadi salah satu daya tarik. Tipeku bukanlah seorang wanita lemah yang harus selalu aku lindungi. Aku lebih suka wanita yang mampu berdiri sendiri, namun saat mereka berada di titik terlemah, mereka pun akan datang padaku; seperti itulah Val di mataku.

Akhirnya Val diam, ia mungkin memintaku untuk mengatakan sesuatu dengan cara ini, dan sepertinya itu berhasil…

“Terus, kalau lu sudah tahu semuanya, kenapa lu masih mau teleponan sama gue? Lu bisa aja kan gak usah ngacuhin tindakan gue dan lanjutin hidup lu?” aku menyadari betul suaraku yang terdengar sinis; berusaha menaikan lagi harga diri sebagai laki-laki.

“Gue cuman pengen tahu, apa keputusan gue pindah ke NY ini tepat atau enggak.” aku mengerutkan dahiku dalam-dalam, bingung dengan arti perkataan Val barusan.

 “Gue capek sama tindak-tanduk orangtua kita yang ngejodoh-jodohin gue sama lu. Kalau gue masih bocah ingusan, gue pasti nyantai saja sama kelakuan mereka, malah jadi bahan tertawaan gue. Tapi semuanya akan jadi beda kalau gue ada perasaan sama lu, Mik…,” Val diam, desahan suaranya yang berat terdengar sangat jelasi di telingaku.

“Gue gak tahu sejak kapan perasaan ini muncul; lu tiba-tiba aja berubah di mata gue. Dan hal itu yang bikin gue gak nyaman untuk terus berada di dekat lu,” tengkukku berkeringat, rasanya aku belum siap menghadapi kenyataan yang tiba-tiba seperti ini, “Jadi gue memutuskan untuk kuliah di NY agar gue jauh dari lu, karena kalau gue terus ada di dekat lu, gue hanya akan sakit hati dengan tembok persahabatan yang terbangun di antara kita.”

“Dan keputusan lu bener atau salah?” aku memberanikan diri bertanya, meski aku tak tahu apa aku sanggup untuk mendengar jawabannya.

Val tertawa; entah karena apa. “Kalau gue belum tahu jawabannya, gue gak bakal ada di sini sekarang,” katanya di sela tawa.

“Maksud lu?”

“Lu gak liat ya nomor apa yang gue pakai?”

Buru-buru aku menarik Blackberry-ku dan menatap layar benda itu, lantas terkejut karena Val tidak menggunakan nomor NY seperti biasanya!

“Val! Lu…”

 Val tertawa nyaring, memenuhi duniaku dengan suara cantiknya, sementara aku hanya bisa mematung. Menyadari bintang-bintang semu di pelupuk mataku bercahaya lebih terang dari sebelumnya dan percayalah, aku telah melupakan wajah pucatku berserta penyakit-penyakit malam yang mendera. Karena yang aku rasakan sekarang hanyalah…

…indahnya begadang.

______

A/N :

Hahaha, ini cerpen diikutkan lomba dan kalah, kayaknya memang belum pantas untuk lolos ya? Bagaimana menurut kalian?

Iklan

28 thoughts on “Indahnya Begadang

  1. Aku ga tau mau ngomong apa ya unn, dari segi tulisan dan bahasa ini tuh udah WAH banget. Tapi entah mengapa ya unn, menurutku ada satu yang kurang. Mungkin ide unnie kurang apik, gimana ya … ga ada sesuatu yang ngebuat orang untuk merasa kalau orang dalam cerita itu dirinya–biasanya orangkan selalu mengayal kalau orang dalam cerita adalah mereka.

    Engga jelek kok unn, bagus kok. beneran, tapi ya itu. -______- mian nih unn kalau aku sotoy atau gimana gitu. Aku gak bermaksud buat unni down atau apa, tapi aku cuman mau kasih saran aja buat unnie. Aku rasa hal pertama yang orang liat itu adalah ide dari cerita, baru berlari ke arah tata bahasa dan yang lain.

    Sebenernya aku juga bukan seorang penulis yang baik, engga juga seseorang yang udah pro dalam dunia tulis menulis. Bahkan aku nulis ini juga merasa ga enak, berasa kalau aku itu udah sok gimana gitu.

    Mwehehe jangan marah ya unn, eh mian nih baru sempet mampir -____-” dan komentar gajebo kayak gini.

    regards,

    Orizuruzen.

    1. Waaaahh, terima kasih untuk masukannya ya say! Membantu banget. Dan saya setuju sama yang kamu bilang tentang menulis tulisan yang bisa bikin pembacanya; GUE BANGET!
      Sebenarnya jenis tulisan seperti itu adalah kelemahan onni, karena onni pribadi merasa cukup sulit untuk menulisan kebiasaan sehari-hari ke dalam sebuah cerpen atau cerita. Well, lain kali onni coba untuk lebih baik lagi. ^^ Terima kasih ya.

  2. bagus.. Bagus..
    Aku suka.. Walaupun yah,, aku baru bisa mengagumi saja tanpa memberi masukan apa2.. Hehe..
    Terus berkarya..

  3. aku suka idenya bahasanya aja udah bagus tapi mungkin konflik’ya kurang jadi emosinya kurang terpanggil(?) tapi ok kx…ada lanjutannya nich..???

  4. oiya ijin share ya link’ya k pesbuk biar bnyak yg baca :D(bukan q copas atau plagiat ya q bner2 share link’ya)buka aja FB
    ni nama pesbuk q Dinar sii moon’orchid ni e-mail’ya zahra.dinar@yahoo.com

    1. Iya, konfliknya ecek-ecek banget…–___–” saya akan perbaiki lagi! Terima kasih atas kritikannya 😀
      Dan untuk lanjutannya *mikir* Kayaknya enggak ada deh ya… hahahaha.

      Ah, enggak papa kok, share aja. 😀 yang lainnya mau di share juga enggak papa *maunyaaa!*
      Hahahaha.
      Terima kasih telah membaca tulisan saya, mari berkunjung lagi! ^^

  5. DictAddict was started from here… 😛
    posting pertama yang kubaca di kkd.wp suatu malam, tanpa komen, like, atau nge-bookmark-this-page-anymore. so much regrets on my shoulder -__-”
    sepihak sama Hyora Kim, baru bisa mengagumi tanpa memberi masukkan apapun.
    DictAddict is officially exist ^^

    1. Serously? kenapa mulai baca dari sini? *dikeplak* Aku malu banget loh sama cerita ini, padahal Aku sempat cukup PD kalau ini bakalan tembus, tapi ternyata kurang dangdut. Hahahaha.

      Tapi terima kasih karena telah menyukai tulisanku ini, semoga tulisanku bisa lebih baik dan lebih bagus dari ini! 😀

      1. entah.. lupa banget waktu itu entah iseng-iseng klik link dari blog ff lain, atau ngambil dari google. kkkkkk.

        sama-sama, Dict! malah seharusnya orang sepertiku yang mustinya berterimakasih pada Dicta.
        Amiin! 😀

  6. Cerpennya moodbooster Kak! Sempat bikin aku lupa sama presentasi bahasa Indonesia besok 😀 buat alur ceritanya gak berat, ringan. Kalau buat aku gaya penulisan kakak udah gak usah ditanya lagi, cuma *maaf kalau aku sok tau ya kak* menurutku entah kenapa seperti ada yang kurang… apa akunya aja ya yang gak terlalu fokus bacanya._. tapi ini bagus kok kak, apalagi pas bagian di lirik lagu Rhoma itu… aduh, aku ngakak kak hehe ^^

  7. Bukannya gak bagus, tapi yang menang mungkin lebih baik lagi. Personally aku suka.
    Mungkin karena aku sendiri orangnya romantis. Lah malah muji sendiri wkwkwk.

    Btw, salam kenal. Akan kulihat-lihat artikel lainnya.

    1. iya, pasti lebih baik lagi, mangkanya saya pun harus lebih banyak belajar lagi. Ehehehe, terima kasih banyak ya Kak, telah menyempatkan diri untuk bertandang ke lapak saya, silakan melihat-lihat. Dan jangan lupa kembali lagi kemari ya? Hehehehe.

      Salam kenal, Kak Wisnu!

  8. Halo, aku nyasar nih blogwalking di wp kamu. Aku Ajeng, salam kenal (^o^)

    disaat aku blogwalking mostly aku nemuin mereka adalah author ff ber-cast ras Mongoloid yang
    akhir-akhir ini sering kali dielu-elukan
    remaja Indonesia dari segala kasta —> ngutip kata2mu. Dewa bgt sih perbendaharaan katamu, ngejelasin orang korea aja diksinya bisa se-wah itu. Kamu suka makan kamus ya? #plak

    dan agak surprise ketika ada cerita indonesia bgt (?) macem begini.

    I’M YOUR FAN !!!! XD
    aku langsung jatuh cinta sama tulisan kamu. Aku bakal baca postingan lainnya dan sering mampir kesini hihihii

    1. Halo, Kak Ajeng! Saya Dicta, terima kasih sudah bersedia mampir, mengerling, dan menjejak kata di blog saya.

      wakakaka, saya enggak pernah makan kamus kak, Hahahaha. Kebetulan aja, mungkin, hahaha. Emmmh, kebanyakan blogger sekarang emang suka pake tema-tema korea gitu sih. Sebenarnya saya juga. Cuman, mungkin, bedanya saya suka banget masukin tentang Indonesia di tulisan saya. Saya ngerasa wow kalau misalnya bisa menggabungkan sesuatu seperti itu. Hahahaha.

      Wah, jangan ngefans sama saya Kak, rugi. Hahaha. Mari kita saling membantu dan membenarkan ya Kak, saya juga bisa salah loh Kak.

      Sekali lagi, terima kasih sudah mampir ke blog saya juga menjejak kata. Silakan mampir kembali ya Kak! ^^

  9. Indahnya begadang HAHA
    kata2 ini cocok banget sama saya dik,
    makhluk malam yang tak bisa tidur lebih dari 5 jam wkwkw
    derita banget itu benernya, tapi susah jg ngilanginnya *curcol

    ini cerpen bagus, tapi kurang kliatan konfliknya hehehe ._.v
    tulisanmu keren loh… diksinya apik 🙂

    1. Hahahaha, #tooossss sama kayak saya lah, mahkluk noktural juga 😛 Serius, saya pernah rekor loh, enggak tidur semalaman sampai jam 6 pagi. Dan tidur dua jam aja terus pergi ke sekolah. Hahahaha.

      Yah, kerasa sih Chi, konfliknya terlalu ditahan di awal dan bikin pembaca bosen dan langsung skip2 gitu. Dan pantas aja sh kalah. hahaha. Terima kasih sudah membaca tulisan saya ya, sering2 datang kemari 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s