[Heaven Series] Potongan 3: The Man Who Holds The Key

Aku memandang gerbang besar berwarna abu-abu itu dengan pandangan nanar, telah lama kami berkawan dan tak sedetik pun aku meninggalkannya. Banyak kisah yang telah kami saksikan bersama, banyak pula air mata yang diam-diam mengalir dari mata-hati kami. Meskipun setiap masa yang berlalu selalu diisi dengan keheningan tanpa suara, aku tahu, kami selalu menemukan cara untuk berbagi rasa.

Ah,  tidakkah aku jenuh?

Tidak. Aku sangat menikmati pekerjaanku. Sungguh.  Tak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan ketimbang apa yang tengah aku lakukan sekarang ini. Meskipun kadang kala…

“Peter,”

Aku tersentak, seketika itu juga aku berbalik ke belakang dan mendapati  sepasang makhluk cahaya telah berdiri di sana; salah satu di antara mereka menggendong seorang bayi. Dan entah mengapa, setiap kali aku melihat pemandangan itu, hatiku langsung mencelus.

“Ia dibunuh ibunya sendiri.” Makhluk cahaya itu memulai kisahnya.

“Jantungnya telah berdetak, ia bahkan sudah bisa merasakan kehangatan ibunya. Namun ia dibunuh tepat saat ia mulai tumbuh dan siap untuk benar-benar hidup.” Ia diam sejenak, menatapku lekat-lekat.  “Kau tahu, Peter, ia bahkan belum sempat melihat cahaya pertamanya.” Sorot mata makhluk cahaya itu berubah sendu, tak kuasa menahan kesedihan hatinya atas apa yang lagi-lagi ia alami

 Aku diam saja, kupandangi  jiwa mungil yang menggeliat di pelukan makhluk cahaya itu. Oh, aku selalu berharap tak ada lagi jiwa-jiwa tak berdosa seperti ini hadir di depan gerbangku. Tapi siapa aku? Aku hanya seorang penjaga pintu gerbang, si pemegang kunci, sementara manusia-manusia itulah yang menjalani hidup.

“Bagaimana keadaan ibunya, Gabb?” tanyaku, sembari mengambil jiwa itu darinya, kemudian mendekapnya di dalam tanganku.

“Kuharap wanita itu kuat dan tak buru-buru menyusul jiwa mungilnya ini,” jawab makhluk cahaya itu, berusaha terdengar netral meski dapat kudengar nada sinis di suaranya, “rasa bersalah akan membuatnya depresi dan menghantuinya seumur hidup, kemudian…”

“…kemudian dia melakukan dosa keduanya, yaitu bunuh diri? Oh, Gabb, berhenti menggerutu!” potongku buru-buru, kemudian terkekeh pelan ketika menyadari kalau makhluk cahaya itu merasa tidak senang karena aku memotong kata-katanya. Partner-nya—yang memang tak begitu suka bicara—memandangku dengan tatapan berterimakasih, aku tahu ia kadang kala lelah dengan sikap makhluk cahaya yang satu ini.

“Dengar Gabb, rasa bersalah sudah cukup sebagai konsekuensinya,” kataku lagi sembari mengalihkan perhatian pada jiwa mungil yang sedari tadi tertidur nyenyak; tak menyadari kalau hidupnya telah berakhir sebelum ia sempat  menjalaninya.

“Manusia tak pernah tahu betapa ajaibnya diri mereka.” Kuusap wajah jiwa dalam dekapanku itu dan ia pun tertawa dalam tidurnya. “Ketika ada dua tubuh yang menjadi satu dalam sebuah ikatan suci, dari mereka akan muncul kehidupan baru yang selalu menanti kapan saatnya mereka mampu memiliki hidupnya sendiri. Tapi sayangnya, ketidaktahuan itu membuat mereka memiliki pikiran sempit dan menganggap sesuatu yang belum terlahir di dunia ini bukanlah sebuah kehidupan.”

Aku mengangkat wajahku dan menatap kedua makhluk cahaya yang berada di hadapanku itu secara bergantian.

“Bukankah itu menyedihkan?”

Mereka diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua meski kutahu mereka pun merasakan hal yang sama. Dan beberapa saat kemudian, makhluk cahaya yang sejak awal membungkam mulutnya akhirnya mengakhiri pertemuan ini.

“Kami harus pergi, Peter,” katanya tenang, ekspresi wajahnya tak berubah sementara satu tangannya menepuk bahu kawannya yang rasanya masih enggan untuk beranjak. “Masih banyak hal yang harus kami selesaikan,” katanya lagi. Dan akhirnya, mereka pun pergi untuk kembali bekerja. Meninggalkanku dengan sesosok jiwa mungil dalam dekapan.

Sepeninggal makhluk-makhluk cahaya itu, aku pun berbalik, sekali lagi menatap gerbang abu-abu yang masih setia mendengar seluruh kisah yang terlontar di hadapannya. Pelan-pelan kutujukan senyumku padanya; miris dan getir.

Ya, benar. Di saat-saat seperti inilah aku merasa pekerjaanku ini begitu berat. Membuatku kembali bertanya-tanya: tidakkah mereka tahu apa yang telah mereka perbuat ini?

Untuk yang kesekian kalinya, mata-hatiku kembali menangis.

[Coretan Dicta] Pak Comblang Fisika

Aku tidak begitu suka dengan Fisika. Demi apa pun juga? Apa yang menarik dari kumparan rumus yang saling tumpang tindih? Bertukar dan bertautan, membentuk persamaan ilmiah yang di mataku malah terkesan imajinatif dan tak masuk akal. Apa yang menarik dari itu?!

Sejak aku bersetatap dengan Fisika (SMP kelas 1), aku telah memiliki antisipasi tersendiri terhadap mata pelajaran  itu. Ada sebuah anggapan yang dibentuk khalayak umum kalau Fisika itu sulit, dan tak ada yang mampu untuk bersahabat dengannya. Semua menjauh darinya, merasa kalau tak ada faedahnya kita menggeluti lika-likunya toh di kemudian hari kita tak mungkin menggunakannya secara real.

 Dan waktu pun bergulir, anggapanku masih sama pada Fisika, dan masa SMP kulalui dengan berpuas hati memperoleh hasil 80 pada pelajaran itu di rapot. Oh, bukan karena aku suka ya, ini akibat belajar dengan sistem kebut semalam yang kulakukan sembari mengutuki Newton dan sederet ilmuan penemu-penemu di zaman dahulu kala. Grrrh, seandainya aku punya mesin waktu, mungkin aku akan ke masa lalu dan mencegah mereka semua menemukan persamaan-persamaan sialan ini!

At least,  kumasuki ranah SMA, masih dengan pola pikiran kalau Fisika adalah pelajaran yang akan membuatku stress dan tak bisa tidur karena memikirkan bagaimana caranya ngerpe atau mencontek. Dua semester telah kulalui di SMA dan aku berusaha mengimbangi kecepatan guruku menjelaskan satuan vektor dan sudut-sudut istimewa; serta gerak lurus dan melingkar; juga kalor jenis dan lain sebagainya.  Dan sayangnya, aku gagal. Nyaris di semua bab aku remedial, dan aku mulai stress.

Sampai pada suatu hari, ketika aku sedang bosan sembari membaca time line twitterku, aku pun menemukan beberapa retweet teman-teman SMP-ku yang sekarang sekolah di SMAN 2 Pahandut, Palangkaraya. Retweet-an mereka menuntunku ke sebuah akun yang entah mengapa membuatku tertarik, yaitu: @fisikarudy

Okay, saat kubuka akun itu, hal pertama yang aku dapat simpulkan adalah: ini akun seorang guru Fisika, dan guru itu bernama Pak Rudy. Tapi bukannya menutup jendela browser dan beralih pada video-video artis Korea, aku malah membaca TL guru tersebut. Dan… W-O-W! Ini guru gaul banget! Beliau tak segan-segan bercengkrama dengan muridnya di Twitter, kadang kala menggoda, dan mengajari di saat yang bersamaan. Beberapa TL-nya inspiratif, dan ia pun tak segan-segan menjawab setiap pertanyaan mengenai Fisika yang diajukan siapa saja pada akunnya.

Tanpa ragu ku-follow akun Pak Rudy, dan tak sampai sekian menit, beliau pun di-follback. Hal pertama yang kutanyakan padanya dengan cara me-mention akunnya adalah rumus perode gravitasi, dan sesungguhnya, pertanyaan itu hanya untuk iseng-iseng. Apakah Pak Rudy masih mau menjawab pertanyaan dari orang asing sepertiku? Dan ternyata… IYA!

Dan kalian tahu bagaimana caranya? Beliau langsung menuliskan rumusnya dan meberikan fotonya padaku! Wow, bayangkan, aku tak pernah betemu guru berdidikasi kepada murid seperti ini. Terkadang guru kadang malas meladeni pertanyaan muridnya, tapi Pak Rudy berbeda! Bahkan padaku yang notabenenya bukanlah murid beliau secara langsung. W-O-W lagi untuk Pak Rudy.

Tulisan tangan Pak Rudy sendiri nih! :O

Sejak itu, sekian kali aku dan Pak Rudy mengobrol di Twitter, beliau pun sering menfavorit link blog-ku yang kusebar di Twitter. Dan karena aku sedang beliau menikmati tulisanku, akhirnya aku pun mengunjungi blog Pak Rudy sebagai balasan karena beliau sering mengunjungi blog-ku

Awalnya aku menyangka, kalau aku pasti akan menemukan blog yang penuh dengan kumpulan rumus Fisika yang membingungkan, tapi ternyata aku malah lebih banyak menemukan tulisan konyol dan inspiratif seperti ini: Saat Terbalik, Bicara Jomblo, dan Merajut Kata Menuai Cerita

Hahaha, sungguh, baru kali ini aku mengenal guru seperti Pak Rudy. Kadang kala aku berharap, keajaiban datang dan Pak Rudy menjadi guru Fisika di sekolahku, padahal aku tahu kalau itu benar-benar mustahil. Tapi meski pun begitu, aku yakin, di mana pun aku berada, di mana pun kamu berada; siapa pun diriku, siapa pun dirimu. Pak Rudy pasti selalu menganggap kita muridnya dan bersedia menanggapi setiap pertanyaan kita. Hehehehe.

Bukan begitu, Pak?

Untuk Pak Rudy,

Guru dunia maya

Yang telah mencomblangiku dengan Fisika

Di Langit Ada Dirimu

Aku suka memandangi langit. Entah ia sewarna lembayung, sehitam jelaga, atau sebiru wajahnya sekarang. Langit memberiku arti tersendiri, karena ia selalu ada, kusadari atau tidak. Ia seperti temanku yang paling setia, ia mendengarku dengan baik; lalu merangkulku dengan keberadaannya yang nyata. Ia tak perlu bersusah payah menasihatiku, kehadirannya saja sudah cukup bagiku. Langit ada di mana saja dan kapan saja. Begitu juga kau.

“Ichikawa-san[1]!!”

Kutelengkan wajahku dari langit, dan menatapmu  yang tergopoh-gopoh berlari menghampiriku. Aku tahu kau pasti akan datang; kau selalu tahu di mana aku berada. Kau seperti langit; aku tak bisa sembunyi darimu.

“Hah… hah… lihat ini!” kau mengibas-ngibaskan selembar kertas ke udara; mengabaikan seragam birumu yang basah karena keringat akibat berlari ke bukit tempatku sedang memuja langit.

“Nilai matematika-ku dapat 75! Ichikawa-san! Aku tidak perlu remedial!”

Kau berjingkrak-jingkrak kesenangan, lalu berlari mengelilingiku seperti pesawat terbang. Aku hanya melihatmu sembari tertawa geli. Tingkahmu benar-benar seperti anak kecil.

Bruuk! Sraaak!

“Hei!”

Tiba-tiba saja kau menghempaskan dirimu tepat di belakangku, lalu dengan tiba-tiba kau memeluk  dan meletakkan dagumu di bahuku.

Arigatou[2], Ichikawa-san, ini semua karena kau,” bisikmu tepat di telingaku, aku hanya tersenyum dan memandang langit biru yang menggantung cerah di atas kita. Awan kumulus agaknya segan bergabung, tahu benar kalau ia hanya akan menjadi pengganggu pandanganku pada langit.

“Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya guru lesmu, Aoi,” sahutku; masih menatap langit dengan penuh puja. Ah, hari ini ia terlihat lebih biru dari biasanya.

“Ck,” kau mendecak jengkel, lalu mendorong kepalaku menggunakan dahimu, “Katakan sekali lagi, dan aku akan menyuruh Ayah mempekerjakanmu selamanya.” Kau mengeratkan pelukanmu dan kembali menyandarkan kepala di bahuku, “Kau kekasihku. Anggap saja pekerjaanmu sebagai guru les hanyalah jalanku untuk menemukanmu. Berhenti menganggap dirimu sebagai guruku.”

Aku terkekeh pelan, sudah terbiasa dengan reaksimu. Ah, langit terasa semakin menarik, apa ia juga ikut berbahagia denganku?

“Kenapa kau selalu melihat langit sih? Memangnya ada apa di langit?”

Aku tersentak, tiba-tiba saja suaramu berubah cemburu. Padahal langit tak pernah cemburu padamu. Tapi mengingat kalau usiamu yang masih muda, aku bisa memakluminnya.

“Menurutmu di langit ada apa?”

Kau mendengus kesal sembari mendongak. “Tidak ada apa pun di langit.”

Mendengar jawabanmu aku hanya tertawa. “Kau tidak melihat apa pun di sana?”

“Sudahlah, Ichikawa-san, jangan mempermainkanku. Memangnya di langit ada apa?”

Aku tersenyum lebar. “Bukankah di langit ada kau?”

“Huh?”

“…Aoi[3]?


[1] Panggilan hormat pada orang yang lebih tua

[2] Terima Kasih

[3] Biru

A/N:

Awalnya aku enggak mau ngeposting cerita ini lho, lumayan malu karena aku rasa tulisan ini ancur dengan twist yang kurang gereget juga. Tapi akhirnya tetap kuposting dari pada digerogotin jamur dan gulma di dalam leptopku. Hahaha.  Hope you like it ya! *crossing fingers*

Ibu

Aku mencintai kalian. Seperti ibu mencintai anaknya—tanpa pamrih, hanya ingin memberi.

Kita telah lama hidup berdampingan. Dari zaman ke zaman, kuiringi kalian berevolusi. Kuberi semua yang bisa diberi. Hingga luluh lantak tubuhku tergerus oleh tangan-tangan nakal kalian. Tapi tak mengapa, aku maklum. Kalian anak-anakku, sudah seharusnya aku memberi apa yang kalian mau. Cukup melihat senyuman kalian saja aku sudah merasa bahagia.

Tapi, anak-anakku, kenapa kian hari kalian semakin manja?

Tak sedikit pun terbersit di pikiranku untuk mendidik kalian menjadi manusia-manusia seperti itu. Aku hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi kalian, menjaga serta memberi kehidupan.

Salahkah jika kusediakan pohon-pohon sebagai tempat kalian berteduh?

Salahkah  jika kuberikan tubuhku menjadi lahan kalian untuk hidup dan bergerak?

Salahkah jika kubiarkan kalian membuka lahan untuk bercocok tanam?

Salahkah jika aku begitu mencintai kalian?

Oh, anak-anakku. Tak kusangka, kalian begitu tega mengkhianati pemberianku.

“Maafkan kami Ibu, kami perlu uang untuk membelikan anak-anak kami susu,” bisik kalian sembari menebangi pohon-pohonku, sementara aku diam saja. Meski sakit hati ini, tetap kubiarkan kalian menggunduli tubuhku.

“Maafkan kami Ibu, kami perlu membangun pabrik-pabrik untuk menunjang kehidupan kami,” bisik kalian lagi, ketika semen mulai saling tumpang tindih. Dan aku masih diam, membiarkan bangunan-bangunan itu membebani tubuhku.

“Maafkan kami Ibu, kami perlu membangun jalan untuk berpergian ke tempat-tempat yang jauh.” Kalian lagi-lagi berbisik sambil menuang aspal di kulitku. Sedangkan aku masih tak mampu bersuara, merelakan rasa panas membakar tubuh.

Ya, aku diam saja. Sementara kalian mengambil apa yang bisa kalian ambil dariku. Tapi ketika semua tindak-tanduk kalian membuahkan bencana longsor, banjir bandang juga bencana alam lainnya. Kenapa kalian tiba-tiba bertanya, “Ibu, kenapa engkau tidak mencintai kami?”

Oh, anak-anakku, tak tahukah kalau aku begitu mencintai kalian? Meski tubuh ini telah menua juga renta, sekuat tenaga kutopang kaki-kaki kalian untuk tetap berpijak. Tetap kuberikan sisa-sisa tenagaku untuk kehidupan kalian, juga anak-cucu kalian kelak.

Pahamilah aku. Tidakkah kalian merasa kasihan?

Dan kini, untuk yang pertama juga yang terakhir, izinkan ibu kalian ini meminta satu hal di hari tuanya. Hal yang sudah sepantasnya didapat oleh setiap orangtua.

Kumohon, rawatlah aku.

(The picture taken from: http://vasmanalightseeker.blogspot.com/2011/04/berikan-cahayamu-kepada-bumi.html)

Pelangi yang Menyedihkan

“Pelangi itu menyedihkan,” desismu sembari mengintip pelangi yang melengkung di langit abu-abu dari jendela mobilku.

Aku diam saja, tak menanggapi celetukanmu yang entah mengapa belakangan ini menggangguku. Sembari membuka jendela, kusulut sebatang Marlboro Menthol dan menghisapnya dalam-dalam sebelum akhirnya membuat gumpalan asap di udara. Ternyata aroma petrichor dan asap rokok itu paduan yang buruk.

“Matikan saja rokokmu, udaranya jadi bau,” celetukmu lagi, seakan-akan bisa membaca pikiranku.

Mau tak mau kusetujui juga ucapanmu itu. Dengan sekali hisapan panjang, kubuang rokok yang masih panjang itu keluar sembari mendesah untuk mengeluarkan asap dari paru-paruku.

“Ada apa dengan pelangi?”

Akhirnya kubuka juga suara, merasa sedikit sesak dengan keheningan yang tercipta di antara kita. Dulu, kita tak pernah menemukan keheningan seperti ini. Waktu selalu diisi dengan gelak tawa. Tapi  akhir-akhir ini, tawa itu menghilang, berganti dengan keheningan yang merengkuh kata.

“Dia… menyedihkan,” jawabmu, kembali menelengkan wajah ke arah pelangi yang mulai memudar seiring kemunculan matahari yang telah menanti waktu untuk menampakkan diri.

“Apa sebegitu menyedihkannya sampai kamu merasa prihatin?” sahutku sembari menyandarkan tubuh di sandaran kursi; berusaha bersikap santai meski hati merasa lelah. Lelah dengan semua ini.

Kamu mendesah pelan, sama sekali tidak memandangku dan memfokuskan diri pada pelangi yang kini semakin samar terlihat. Tak kusangka, permintaanmu untuk menghentikan mobil di pinggir tanah lapang hanya untuk memandang pelangi dan memulai percakapan bodoh ini. Aku semakin tak mengerti jalan pikiranmu.

“Pelangi itu…” kamu menggantung nada suaramu, seakan ragu dengan apa yang akan kamu ucapkan, “Mirip dengan kita.”

Aku terkesiap, tiba-tiba saja merasa sesak. Meski masih tak mengerti apa maksud dari ucapanmu itu, aku paham betul ini bertanda tak baik. Apakah sekarang waktunya? Secepat inikah?

“Kenapa?” Kuberanikan diriku untuk bertanya, penasaran dengan maksud perkataanmu.

Kamu kembali mendesah, kedua tanganmu bertautan. Berusaha keras menahan tangis yang membayang di matamu.

“Keindahan pelangi itu hanya sekejap,” katamu lirih, “Sama seperti kita ‘kan, Al?” tiba-tiba saja kamu menoleh dan menatapku begitu lekat. Aku tercekat.

“Bahkan…” kamu mulai berbicara lagi, mengabaikanku yang membatu, “Keindahan kita sudah lama menghilang.”

Hatiku tertohok. Untuk beberapa saat kita kembali dalam keheningan yang menyesakkan. Hingga akhirnya kunyalakan kembali mesin mobilku sembari mengakhiri percakapan menyakitkan ini dengan persetujuan.

“Sebaiknya kuantar kamu pulang, Ran,” suara mesin menderu, kumasukkan gigi dan kita pun kembali bergerak.

 ”Kamu benar, pelangi memang menyedihkan.”

[Puisi] Rindu

Malam menyingsing

Ada hati yang terasing

Dalam elegi tentang kesakitan

Dalam kidung tentang keperihan

Gelap tersungging

Ada senyum yang menguning

Dalam penantian  pada pelita

Dalam kerinduan pada cinta

_____________________

A/N: Hahaha, ini puisi yang saya pakai buat ulangan Bahasa Indonesia tadi pagi. Serius, ini mikirnya lama banget. Paragraf narasi, eksposisi, deskriptif, dan lain-lain udah beres. Tinggal ini yang kesisa. 😛 Semoga gak gaje ya?

Aku Hanya Udara

Kau selalu mendambakan dia—Matahari yang kau anggap milikmu seorang. Wajahmu yang elok selalu mengikuti gerakannya dari terbit  di timur hingga terbenam di ujung barat. Kau tak pernah sekalipun mengeluh akan ia yang tak pernah mampu kau gapai. Katamu, memandangnya saja adalah sebuah kebahagiaan, cukup seperti itu.

Tapi, apa benar begitu, bunga Matahari?

Aku tahu isi hatimu. Gamblang sekali kalau kau begitu mencintai matahari. Meski kau selalu berusaha untuk menghibur diri dengan berkata seperti itu, aku tahu kau ingin terbang tinggi sampai kau dapat memeluk Matahari dan membisikkan cintamu padanya.

Tapi apa dayamu, kau hanya bunga Matahari. Bunga yang selalu mendambakan Matahari, itu takdirmu. Jadi, mengapa kau tidak menyerah dan berpaling padaku?

Ya, padaku. Udara yang selalu berada di sekitarmu.

Jika kau mau sedikit saja berpaling dari Matahari, kau pasti akan menemukanku meski tak kasatmata. Aku  yang selalu menyelimuti, memenuhi serta menjagamu dari kerasnya kehidupan ini.

Aku juga mampu memberimu kehidupan,  sama seperti Matahari. Kenyataanya, aku bahkan lebih berperan dalam hidupmu. Jika kau mampu memeluk Matahari dan membisikkan cintamu padanya, apa kau sanggup hidup tanpa udara?

Di sana, di dekat Matahari, aku tak bisa menjangkaumu. Matahari memang tak membutuhkanku. Tapi kau? bunga Matahari?

Tidak. Kau tak mampu. Sudah kubilang, itu takdirmu. Kau lebih membutuhkanku ketimbang Matahari. Kau membutuhkanku untuk hidup, sementara bersama Matahari kau akan mati.

Tapi sayangnya, ini takdirku. Matahari begitu gagah di atas sana, memesonamu dengan segala keagungannya. Sedangkan aku tak terlihat, sosokku tertelan oleh kilau Matahari di hidupmu. Hingga menangkap hadirku saja kau tak mau.

Yah, apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku hanyalah aku.

Udara yang mencintaimu dalam ketidakberdayaan akan takdir.

(Terinspirasi dari #Sans Soleil by StellaRa)

A/N:

Sebenarnya sudah lama menulis Flash Fiction ini, tapi baru sempat nge-post-nya. Hahaha. Semoga gak terganggu dengan metafora dan Personifikasi saya yang hancur ya 😛

[Coretan Dicta] Masa Usang

Tanpa masa lalu, kamu bukan siapa-siapa!

Aku cukup suka pelajaran sejarah. Kadang kala terasa seperti sebuah dongeng yang menggelitik imajinasiku untuk bekerja ekstra membayangkan posisi jika berada di zaman itu. Terutama ketika sejarah tersebut menceritakan tradisi dan kebudayaan di masa itu. Tentang bagaimana para pujangga mereka menghadapi kemelut negeri serta penyair dan penulis mereka menggambarkan  kesenjangan sosial.

Sungguh. Aku benar-benar memuja Jane Austine dan Khalil Gibran, di mana penulis Indonesia Rendra dan Chairil Anwar pun menggugah perasaanku tentang betapa kayanya askara Indonesia. Serius deh, penulis dan penyair-penyair yang aku sebutin tadi, benar-benar membantuku dalam belajar dan memperdalam tulisan.

Hingga suatu ketika, beberapa kejadian di masa lalu memaksaku untuk mengakui kalau betapa aksara yang kuolah dari mimpi-mimpi liar masa remajaku itu hanyalah kumpulan sampah tak berarti.

Di satu titik aku marah dan muak, merasa sangat malu dan tolol hingga secara brutal aku menghapus semua tulisanku di dunia maya dan berhenti sebagai salah satu author di sebuah blog fanfiksi kenamaan. Banyak orang berkata kalau aku tak seharusnya begitu. Seharusnya aku mampu tertawa saat membaca tulisan-tulisan lamaku. Seharusnya aku bisa belajar dari sana dan membuat tulisanku lebih baik. Seharusnya aku tak seperti itu!

Maka… aku pun merenung.

Apakah aku mulai membenci masa lalu? Tidakkah aku harus berterima kasih pada masa lalu karena tanpa mereka aku tak mungkin menjadi seperti sekarang ini?

Pelan namun pasti aku belajar dan kembali membangun tulisanku. Merobak ulang isi blogku, menghapus semua tulisan, mengganti tema dan wedget, semua! Aku kembali belajar bersahabat dengan tulisan lamaku; dengan masa laluku. Dengan mimpi-mimpi liar masa mudaku, juga aksara.  Mengatakan pada diriku sendiri kalau aku bisa membuktikan pada dunia kalau semua orang bisa merubah hidupnya, merubah sejarah yang jelek menjadi lebih baik.

Butuh waktu yang lama sampai akhirnya aku menemukan diriku kembali mencintai aksara dan mimpi-mimpi liar yang telah lama kukurung dalam sudut hatiku. Mengobati lukaku dengan terus menulis dan mengasah kemampuan sebanyak yang kubisa. Hingga akhirnya, di sinilah aku berada, menulis tetang masa lalu dan menceritakannya pada kalian—para penikmat kata—yang diam-diam mengerling pada tulisanku, kadang kala hanya tersenyum simpul, ada pula yang berbaik hati menjejak kata. Tak mengapa, siapa pun Anda, saya adalah tipe penulis yang bahkan hanya melihat site stat di atas 50 aja sudah jingkrak-jingkrak. Hahaha.

 Kembali ke bercengkrama dengan masa lalu ternyata mampu membuat perasaanku lebih baik.

Tak urung aku malu menampakkan pada kalian betapa jeleknya tulisanku dulu. Ada beberapa penikmat kata yang sempat mengenal dan membaca tulisan lamaku, dan terkadang mereka menyayangkan perubahan gaya aksaraku ini. Tapi, mari kalian baca, lembaran masa lalu itu.

Apa kalian suka masa-masa usangku dulu?

A/N: Kalian bisa download tulisan lamaku di Magic Box yang ada di sebelah kiri layar, aku sudah masukin folder ‘Kepingan Kata Usang!’ Enjoy it please! Do not hesitate!

Petir di Siang Bolong

“Gila, panas banget!”

Kulirik sinis matahari yang bersinar panas terik di langit kota Banjarmasin sembari mengipasi wajah dengan buku catatan. Waktu telah menunjukkan pukul satu siang, tapi ojek jemputanku tak juga muncul. Ah, jangan-jangan bannya kempes lagi! Huh!

“Kenapa belum pulang, Ni?”

Aku tersentak, secepat kilat menoleh ke belakang dan menemukan seorang cowok berkacamata berdiri di sana. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang dengan cepat kutolak dengan kibasan tanganku. Ah, lengkap sudah penderitaanku.

“Belum dijemput,” jawabku ketus, berbalik kembali menghadap jalan di depan sekolahku. “Kamu sendiri kenapa belum pulang? Bukannya kamu bawa motor?”

Cowok bernama Endrew itu hanya mendengus, kemudian menyejajarkan tubuhnya denganku. Lengan atasnya nyaris menempel pada lenganku, refleks aku bergeser menjauh—sial, ternyata desiran itu masih saja terasa.

“Motor aku di bengkel,” jawab Endrew tenang; tak terganggu dengan tingkahku sebelumnya.

Hening menyergap. Aku diam saja, tak menanggapi perkataan Endrew lebih lanjut. Sejujurnya, aku enggan bertegur sapa dengan cowok ini. Banyak hal yang telah terjadi di antara kami dan berbicara dengannya bukanlah pilihan yang tepat.

“Kamu ngehindarin aku ya, Liani?”

Aku terkesiap, tak menyangka kalau Endrew langsung berkata seperti itu.

“Aku gak mau ada yang salah paham dengan hubungan persahabatan kita,” kataku akhirnya setelah terdiam cukup lama, “Kamu kan sudah punya pacar,” imbuhku lagi dengan suara lebih pelan, menahan perih di dada.

“Aku sudah putus sama Anik,”

“Hah? Kenapa?” aku menoleh dengan cepat. Berusaha memastikan kalau aku tak salah dengar.

“Dia cewek manja…” Endrew menggantung nada suaranya dan menoleh kepadaku, “…beda sama kamu, Ni. Kamu bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang-orang di sekitarmu. Kamu berbeda.”

Lagi-lagi aku terdiam, tapi kali ini memang tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku terlalu kaget dengan kabar itu.

Say something dong, Ni. Aku jadi bingung mau ngomong apa.”

Suara Endrew yang memohon padaku untuk bicara akhirnya membuatku lebih berani mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini.

“Aku kayak disambar petir, Drew,” kataku lirih sembari mengalihkan pandanganku kembali ke jalan.

“Maksud kamu?”

“Aku kayak disambar petir waktu Anik bilang kalau dia jadian sama kamu,” jelasku lagi sambil meremas-remas buku catatan yang ada di tanganku; gugup sekali.

“Aku tahu kalian dekat, tapi aku gak tahu kalian pacaran,” Aku menelan ludah; dadaku terasa sesak. “Setelah tahu kalian pacaran, aku jadi bingung dengan posisiku. Kenyataannya, aku ingin bersikap seperti biasa. Tapi statusmu sebagai pacar Anik memaksaku untuk menjaga jarak. Dan lama-kelamaan, aku pun menjauh darimu.”

Wajahku langsung memerah dan dadaku berdegup kencang. Kulirik Endrew sekilas, berdoa dalam hati agar perasaanku tak gamblang terbaca.

“Ni, kamu kepingin disambar petir lagi gak?”

Sontak aku menggeleng sembari menatap Endrew lekat-lekat, bingung dengan pertanyaannya barusan.

“Sayang sekali, Ni, kayaknya kamu bakal kesambar petir lagi setelah dengar apa yang akan aku bilang nanti,”

“Memangnya kamu mau bilang apa?”

Endrew tersenyum,  sebelah tangannya tiba-tiba saja menggenggam tanganku dan meremasnya kuat.

“Kamu mau gak jadi pacar aku?”

Petrichor

Aku suka wangi khas yang diciptakan Petrichor—senyawa yang ditimbulkan oleh tanah dan batu-batuan saat hujan selesai mengguyur; wangi yang mengingkatkan aku padamu, Peri Hujan-ku.

Kamu selalu duduk di sana, menyendiri di sudut perpustakaan dengan sebuah novel yang bukan berasal dari perpustakaan ini. Mungkin semua buku di tempat ini sudah kamu lahap, jadi kamu hanya perlu tempat untuk membaca dengan tenang dan memohon hujan turun.

“Kumohon, mendunglah. Aku ingin hujan turun dengan deras,”

Kamu selalu berbisik seperti itu sembari menatap kumulus yang berarak melalui kaca jendela di samping tempat dudukmu. Saat kamu memohon seperti itu, aku tak bisa melepaskan pandangku darimu. Kamu terlihat begitu polos, seperti anak-anak yang memelas meminta mainan. Tanpa saling bertukar sapa, aku jatuh cinta padamu.

Valerie Zerlinda.

Aku tahu namamu bukan karena aku menguntitmu, bukan. Tapi namamu selalu berada tepat sebelum namaku saat aku menulis di daftar hadir. Ya, aku sama sepertimu, pengunjung rutin di perpustakaan ini. Dan keberadaanmu semakin membuat rutinitasku  menyenangkan.

Tapi sayang,  sudah seminggu ini kamu tak lagi datang. Aku rindu namamu yang tertertulis di atas namaku; juga wajahmu yang menatap polos pada kumulus sembari berbisik memohon hujan.  Ah, aku rindu kamu.

Kamu kemana sih?

“Kamu Cakra Dikara, ‘kan?”

Aku tersentak, lantas berbalik. Ternyata, kamu berdiri di balakangku.

Kamu tersenyum. Manis sekali. Ya ampun! Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku!

“Aku tahu kok kalau kamu selalu liatin aku.” Kamu menarik kursi tepat di sampingku kemudian duduk di sana menghadapku sambil memandangku dengan mata kenarimu. “Jangan tegang gitu dong. Aku nggak marah kok.”

Ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa. Dan ternyata, kamu jauh terlihat lebih cantik saat sedang tertawa.

“Aku suka hujan,” katamu sembari mengalihkan matamu ke arah luar jendela,  membuatku cemburu kepada kumulus yang selalu menjadi objek pujaanmu. “Baunya harum.”

“Wangi senyawa petrichor.”

“Tak kusangka kalau kamu niat banget nge-stalk aku sampai tahu hal-hal seperti itu.”

Wajahku memerah saat mendengar tanggapanmu. Kenyataannya, memang begitu sih.

Sorry, kalau kelakuanku bikin kamu gak nyaman,” kataku lirih, merasa bersalah.

“Gak apa-apa kok, aku malah senang.”

“Eh?”

“Aku perlu teman untuk menikmati wangi hujan bersama-sama di tempat ini.” Kamu kembali menatap kumulus yang entah sejak kapan mulai sewarna abu-abu, sambil tersenyum senang.

“Kumohon, mendunglah, aku ingin hujan turun dengan deras dan…” kamu kembali menatapku, lalu tersenyum, “Aku bisa menikmati wanginya bersama laki-laki yang kusukai.”

(picture taken from : http://www.flickr.com/photos/mac_papi/6024586316/)