Sigh

Hujan.

Aku mendesah di dalam hati; melirik tetesan air dari langit yang tiba-tiba saja mengguyur kota Banjarmasin melalui kaca jendela kamarku. Tak urung aku mendecak jengkel, langit Banjarmasin memang agak labil akhir-akhir ini. Kadang panas, tapi tahu-tahu sudah hujan. Ah, padahal aku ingin ke tempat kamu.

“Kalau hujan, kamu gak usah datanglah, Rea. Ngerepotin saja.”

Sigh. Hujan begini saja, aku tak mungkin mati kali, Lih, gerutuku dalam hati ketika kuingat perkataanmu saat aku datang hujan-hujanan beberapa waktu yang lalu. Tubuhku memang lemah pada hujan. Tapi tidak parah-parah banget kok, paling-paling pilek beberapa hari, tapi kamu berlebihan sekali menanggapi kenyataan itu. Pakai bilang merepotkan segala lagi. Ah, sebal.

Lih, sebenarnya kita ini pacaran gak sih?

Teman-teman banyak mempertanyakan hal itu, aku juga. Memang aku yang tembak kamu duluan, tapi kalau kamu bilang ‘iya’, seenggaknya kamu tanggung jawab dong. Jadi pacar yang perhatian sedikitlah.

Kamu tahu kan kalau aku benar-benar cinta sama kamu?

Tapi kamu selalu sibuk di restoran keluargamu. Setiap pulang sekolah kamu ke sana, tidak memberi kesempatan aku buat ngajak kamu pulang bareng atau sekedar tanya-tanya kegiatanmu setelah pulang sekolah, soalnya setiap pulang sekolah kamu pasti bantu masak di sana.

 Sigh again, mangkanya aku bela-bela datang ke restoran keluarga kamu, bukan sebagai pembeli, tapi pekerja. Aku mau bantuin apa saja. Cuci piring? Ngepel lantai? Melayani tamu?  Jaga kasir? Oke! Aku pasti kerjakan dengan suka cita. Karena aku ingin dekat dengan kamu. Lihatin kamu masak sebentar saja aku sudah senang banget, apalagi kalau kamu mau ngajak aku ngomong; aku bisa tidak tidur semalaman membayangkan suara kamu yang seksi.

One more sigh, kayaknya kelihatan banget kalau cuma aku yang cinta sama kamu ya, Galih? Tapi bagaimana pun juga, aku gak mungkin bisa putusin kamu. Aku terlalu cinta sama kamu.

Ting! Tong!

Suara bel rumah tiba-tiba saja membuyarkan lamunanku tentangmu. Siapa sih yang datang pas hujan deras begini?

Cekreeek.

“Cari siapa ya—…”

Aku terkesiap; mataku melebar. Kutemukan kamu di balik pintu saat aku membuka benda itu. Badan jangkungmu basah sepenuhnya; tak seinchi pun yang kering.

“Galih?  Ya ampun, kenapa kamu datang hujan-hujan begini?”

Kamu diam saja, tak begerak. Tapi wajahmu yang biasanya kaku, membentuk ekspresi senang yang baru pertama kali aku lihat.

“Aku gak beres waktu kerja di restoran, uring-uringan. Jadi mama suruh aku datangin kamu. Dia kayaknya tahu kalau aku kacau begitu karena kamu gak ada di sana buat bantu-bantu restoran…” Galih menarik bibirnya ke atas, membentuk senyum canggung di sana, “Aku kangen kamu, Orea. Sorry buat kata-kataku yang bilang kalau kamu enggak usah datang ke restoran pas hujan. Aku khawatir sama kesehatanmu dan… enggak mikir gimana perasaan aku kalau kamu gak ada di sana.”

Aku terpana. Kutemukan kejujuran di matamu. Seketika itu juga perasaan haru menyergap dan memaksa kedua mataku melelehkan cairannya. Aku menangis; kamu pun panik. Tapi  buru-buru kupeluk tubuhmu yang basah kuyup dan membiarkan air mataku bercampur dengan air hujan.

Sigh, ternyata… aku memang gak salah sudah jatuh cinta sama kamu, Lih.

(Picture taken from: http://8tracks.com/noxfeather/petrichor)

 

 

 

2 pemikiran pada “Sigh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s