Flash Fiction

Petrichor

Aku suka wangi khas yang diciptakan Petrichor—senyawa yang ditimbulkan oleh tanah dan batu-batuan saat hujan selesai mengguyur; wangi yang mengingkatkan aku padamu, Peri Hujan-ku.

Kamu selalu duduk di sana, menyendiri di sudut perpustakaan dengan sebuah novel yang bukan berasal dari perpustakaan ini. Mungkin semua buku di tempat ini sudah kamu lahap, jadi kamu hanya perlu tempat untuk membaca dengan tenang dan memohon hujan turun.

“Kumohon, mendunglah. Aku ingin hujan turun dengan deras,”

Kamu selalu berbisik seperti itu sembari menatap kumulus yang berarak melalui kaca jendela di samping tempat dudukmu. Saat kamu memohon seperti itu, aku tak bisa melepaskan pandangku darimu. Kamu terlihat begitu polos, seperti anak-anak yang memelas meminta mainan. Tanpa saling bertukar sapa, aku jatuh cinta padamu.

Valerie Zerlinda.

Aku tahu namamu bukan karena aku menguntitmu, bukan. Tapi namamu selalu berada tepat sebelum namaku saat aku menulis di daftar hadir. Ya, aku sama sepertimu, pengunjung rutin di perpustakaan ini. Dan keberadaanmu semakin membuat rutinitasku  menyenangkan.

Tapi sayang,  sudah seminggu ini kamu tak lagi datang. Aku rindu namamu yang tertertulis di atas namaku; juga wajahmu yang menatap polos pada kumulus sembari berbisik memohon hujan.  Ah, aku rindu kamu.

Kamu kemana sih?

“Kamu Cakra Dikara, ‘kan?”

Aku tersentak, lantas berbalik. Ternyata, kamu berdiri di balakangku.

Kamu tersenyum. Manis sekali. Ya ampun! Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku!

“Aku tahu kok kalau kamu selalu liatin aku.” Kamu menarik kursi tepat di sampingku kemudian duduk di sana menghadapku sambil memandangku dengan mata kenarimu. “Jangan tegang gitu dong. Aku nggak marah kok.”

Ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa. Dan ternyata, kamu jauh terlihat lebih cantik saat sedang tertawa.

“Aku suka hujan,” katamu sembari mengalihkan matamu ke arah luar jendela,  membuatku cemburu kepada kumulus yang selalu menjadi objek pujaanmu. “Baunya harum.”

“Wangi senyawa petrichor.”

“Tak kusangka kalau kamu niat banget nge-stalk aku sampai tahu hal-hal seperti itu.”

Wajahku memerah saat mendengar tanggapanmu. Kenyataannya, memang begitu sih.

Sorry, kalau kelakuanku bikin kamu gak nyaman,” kataku lirih, merasa bersalah.

“Gak apa-apa kok, aku malah senang.”

“Eh?”

“Aku perlu teman untuk menikmati wangi hujan bersama-sama di tempat ini.” Kamu kembali menatap kumulus yang entah sejak kapan mulai sewarna abu-abu, sambil tersenyum senang.

“Kumohon, mendunglah, aku ingin hujan turun dengan deras dan…” kamu kembali menatapku, lalu tersenyum, “Aku bisa menikmati wanginya bersama laki-laki yang kusukai.”

(picture taken from : http://www.flickr.com/photos/mac_papi/6024586316/)

Iklan

10 thoughts on “Petrichor”

  1. endingnya so sweet

    dari awal ampe akhir gak membosankan. Banyak kata-kata yang tidak umum, tapi tidak terkesan berat.

    Ringan, rapih, dan manis sekali (?)

    sepertinya saya mulai tertarik bikin flashfiction, kamu guru ku di genre ini hoho

  2. Flashfiction emang pendek ya unn -_- aku mau full nya/dikepret. Well, BAGUS UNN! Kali ini aku suka banget sama ide unni yang ngebahas tentang bau hujan di atas aspal (?) aku ga terlalu suka si ama baunya, tapi ngangenin (lah?) =,=a ngawur jadinya, pokoknya aku suka flash ini! Mwehehe suka suka~
    Lanjut unn! Semangat, sebelum lupa itu gambar blog aku yang baru ^^ annyeong 😀

    1. YUP! Sudah diganti tuh zen! Keren banget deeeeeh *kecup gambarnya*

      Wah onni suka tuh baunya, asyik banget. Apalagi kalau onni lagi dikafe nyambi nulis. Ihiy, kayak momen di novel-novel gitu. Hahahaha. Iya, pendek, macem drabble Zen.

      Terima kasih sudah mau membaca tulisan onni ya…^^

  3. Kak, kayaknya kalau aku muji kakak udah bosen kali ya? Hihi habis ini flash fiction-nya aku ngerasain banget feel-nya… kebetulan juga pas aku baca ini di kotaku lagi turun hujan. Dan omong-omong soal hujan, aku juga suka banget *cerita sendiri* wanginya emang khas, apalagi kalau awalnya anginnya udah lumayan kencang… wiiih, akhirnya ngerasain juga Indonesia bisa dingin 😀 pokoknya semangat buat tetap nulis ya kak! Hehe

  4. Ujan itu romantisss (´⌣`ʃƪ)♥ apapun ceritanya ttp aja romantis..

    Endingnya sweet banget >< dan lagi" aku deg"an.. Sukaa.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s