Petir di Siang Bolong

“Gila, panas banget!”

Kulirik sinis matahari yang bersinar panas terik di langit kota Banjarmasin sembari mengipasi wajah dengan buku catatan. Waktu telah menunjukkan pukul satu siang, tapi ojek jemputanku tak juga muncul. Ah, jangan-jangan bannya kempes lagi! Huh!

“Kenapa belum pulang, Ni?”

Aku tersentak, secepat kilat menoleh ke belakang dan menemukan seorang cowok berkacamata berdiri di sana. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang dengan cepat kutolak dengan kibasan tanganku. Ah, lengkap sudah penderitaanku.

“Belum dijemput,” jawabku ketus, berbalik kembali menghadap jalan di depan sekolahku. “Kamu sendiri kenapa belum pulang? Bukannya kamu bawa motor?”

Cowok bernama Endrew itu hanya mendengus, kemudian menyejajarkan tubuhnya denganku. Lengan atasnya nyaris menempel pada lenganku, refleks aku bergeser menjauh—sial, ternyata desiran itu masih saja terasa.

“Motor aku di bengkel,” jawab Endrew tenang; tak terganggu dengan tingkahku sebelumnya.

Hening menyergap. Aku diam saja, tak menanggapi perkataan Endrew lebih lanjut. Sejujurnya, aku enggan bertegur sapa dengan cowok ini. Banyak hal yang telah terjadi di antara kami dan berbicara dengannya bukanlah pilihan yang tepat.

“Kamu ngehindarin aku ya, Liani?”

Aku terkesiap, tak menyangka kalau Endrew langsung berkata seperti itu.

“Aku gak mau ada yang salah paham dengan hubungan persahabatan kita,” kataku akhirnya setelah terdiam cukup lama, “Kamu kan sudah punya pacar,” imbuhku lagi dengan suara lebih pelan, menahan perih di dada.

“Aku sudah putus sama Anik,”

“Hah? Kenapa?” aku menoleh dengan cepat. Berusaha memastikan kalau aku tak salah dengar.

“Dia cewek manja…” Endrew menggantung nada suaranya dan menoleh kepadaku, “…beda sama kamu, Ni. Kamu bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang-orang di sekitarmu. Kamu berbeda.”

Lagi-lagi aku terdiam, tapi kali ini memang tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku terlalu kaget dengan kabar itu.

Say something dong, Ni. Aku jadi bingung mau ngomong apa.”

Suara Endrew yang memohon padaku untuk bicara akhirnya membuatku lebih berani mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini.

“Aku kayak disambar petir, Drew,” kataku lirih sembari mengalihkan pandanganku kembali ke jalan.

“Maksud kamu?”

“Aku kayak disambar petir waktu Anik bilang kalau dia jadian sama kamu,” jelasku lagi sambil meremas-remas buku catatan yang ada di tanganku; gugup sekali.

“Aku tahu kalian dekat, tapi aku gak tahu kalian pacaran,” Aku menelan ludah; dadaku terasa sesak. “Setelah tahu kalian pacaran, aku jadi bingung dengan posisiku. Kenyataannya, aku ingin bersikap seperti biasa. Tapi statusmu sebagai pacar Anik memaksaku untuk menjaga jarak. Dan lama-kelamaan, aku pun menjauh darimu.”

Wajahku langsung memerah dan dadaku berdegup kencang. Kulirik Endrew sekilas, berdoa dalam hati agar perasaanku tak gamblang terbaca.

“Ni, kamu kepingin disambar petir lagi gak?”

Sontak aku menggeleng sembari menatap Endrew lekat-lekat, bingung dengan pertanyaannya barusan.

“Sayang sekali, Ni, kayaknya kamu bakal kesambar petir lagi setelah dengar apa yang akan aku bilang nanti,”

“Memangnya kamu mau bilang apa?”

Endrew tersenyum,  sebelah tangannya tiba-tiba saja menggenggam tanganku dan meremasnya kuat.

“Kamu mau gak jadi pacar aku?”

12 pemikiran pada “Petir di Siang Bolong

  1. hhii…
    sweet yaa si endrew nyaa… 🙂

    ini khas SMA sekalii.. ^^

    sejujurnya latarnya sih nggak ada yg spesial. yg bikin spesial itu karakter endrew yg cukup surprising.
    Saya jd bisa membayangkan deg2annya ditembak begitunya. hhii..
    tapi itu ada nama tika siapa ya? endrew punya 2pacar sebelumnya?

    1. Wak! Saya lupa ganti namanya! Nama awalnya Anik itu Tika, hahaha, saya ganti nama tokohnya karena kebetulan saya ngambil nama temen2 sekolah saya. Hahahaha. Terima kasih sudah dikasih tahu.

      Waaaaah, saya juga suka tuh si endrew, diam-diam menghanyutkan. Saya aja bikinnya senyum2 sendiri. Hahaha. Terima kasih sudah membaca ya onni! ^^

      1. ahahaa~ lil typo yaa.. ^^
        iya tuh, cowok macem endrew itu yg benernya bikin waswas. nggak tau dia itu bakal serius apa nggak ke depannya. hhe..
        sama2 dear..

        betewe, your theme blog is soooo cuutteee~~!

      2. Benedikta Sekar

        Iya, maaf ya Onni, agak mengganggu bacanya #deepbow
        Wakakakaka, semoga dia serius sama Liana, 😛 Kan katanya beda dari yang lain.

        Hahaha, makasih ya Onni, temanya ngambil ngacak nih, nggak tahu cocok apa enggak sama tulisan saya. Tapi yah, saya memang suka :3

  2. Diktaaa flashficmu membuatku menunda untuk analisis data. Ini lebih menarik dari pada tumpukan kuesioner itu =,=
    Aku udah baca tiga flashfic terakhir dan aku sukaaaa. Btw sekarang aku sadar ada satu hal/ide/alur (?) yang selalu kamu pake di setiap flashfic kamu yang temanya romance. Kamu selalu masukin sesuatu yang mengejutkan, sejauh yg aku ingat dan yg baru aku baca ini, satu karakter pasti selalu ‘nembak’ gitu di akhir. Dan saat nulis komen ini aku pun jadi keinget flashfic yang di tempat peminjaman komik itu, entah kenapa. Aduh gimana ya bilangnya? Aku juga bingung. Pokoknya gitu deh. Cara kamu mengakhiri konfliknya tuh selalu seperti itu. Tapi selama ini aku suka kok. Tapi hati-hati ya soalnya nanti bisa aja ini jadi style kamu tapi bisa aja reader bosen (meski aku sulit bosen kayanya sama tulisan kamu aaaaaa)

    1. Iya, saya juga akhir2 ini sadar dengan tipe flashfiction saya yang yang agak monoton, saya sedang mencari-cari cara agar bisa menggunakan metafora dengan baik dan menghidupkan benda-benda mati di sekitar saya. Biar enggak monoton seperti ini. Hahaha. Semoga berhasil!

      Terima kasih telah membaca tulisan saya, semoga suka yaaa! ^^

  3. zolakharisa

    Ya ampun Kak Dikta… kakak orang pertama yang aku baca fiksinya (di internet selama pakai akun wp) tokohnya itu orang Indonesia hehe. Cerita sedikit, aku terkadang gak tertarik sama fiksi orang lain yang cast-nya orang Indonesia, gak tau kenapa (tapi kalau novel suka.-.) dan pas baca ini… waw! Surprise banget, ternyata pemikiranku salah. Fiksi yang cast-nya orang Indonesia boleh juga, manis seperti itu *tunjuk yang di atas* haha. Kalau untuk koreksi, ada yang tulisan ‘bedoa’ itu maksudnya ‘berdoa’ bukan kak? Hihi itu aja, banyakin flashfiction-nya ya kak ^^

    1. Eh, nyelip typo yah, hahahaha… terima kasih atas ketelitiannya. Senangnya ada yang membantu^^
      Wah, sering-sering aja baca karya fiksi yang castnya orang indo, banyak lho yang kece-kece… *tengok blogroll dan blog that I follow* Beberapa di antara mereka ada blog yang memang isinya cerpen dan bercast orang Indo.

      Terima kasih ya sudah menyukai tulisan saya. Semoga tulisan saya bisa lebih manis lagi. Amin.

  4. Tam.P

    “Kamu kepingin di sambar petir lagi gak?”

    Awwww (´⌣`ʃƪ)♥
    Wkwkwk.. Tiba-tiba deg”an sendiri baca bagian situnya.. Kalo aku jadi liani psti speechless :p

    Good story ma 🙂 simple 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s