Diposkan pada Angst, Flash Fiction

Aku Hanya Udara

Kau selalu mendambakan dia—Matahari yang kau anggap milikmu seorang. Wajahmu yang elok selalu mengikuti gerakannya dari terbit  di timur hingga terbenam di ujung barat. Kau tak pernah sekalipun mengeluh akan ia yang tak pernah mampu kau gapai. Katamu, memandangnya saja adalah sebuah kebahagiaan, cukup seperti itu.

Tapi, apa benar begitu, bunga Matahari?

Aku tahu isi hatimu. Gamblang sekali kalau kau begitu mencintai matahari. Meski kau selalu berusaha untuk menghibur diri dengan berkata seperti itu, aku tahu kau ingin terbang tinggi sampai kau dapat memeluk Matahari dan membisikkan cintamu padanya.

Tapi apa dayamu, kau hanya bunga Matahari. Bunga yang selalu mendambakan Matahari, itu takdirmu. Jadi, mengapa kau tidak menyerah dan berpaling padaku?

Ya, padaku. Udara yang selalu berada di sekitarmu.

Jika kau mau sedikit saja berpaling dari Matahari, kau pasti akan menemukanku meski tak kasatmata. Aku  yang selalu menyelimuti, memenuhi serta menjagamu dari kerasnya kehidupan ini.

Aku juga mampu memberimu kehidupan,  sama seperti Matahari. Kenyataanya, aku bahkan lebih berperan dalam hidupmu. Jika kau mampu memeluk Matahari dan membisikkan cintamu padanya, apa kau sanggup hidup tanpa udara?

Di sana, di dekat Matahari, aku tak bisa menjangkaumu. Matahari memang tak membutuhkanku. Tapi kau? bunga Matahari?

Tidak. Kau tak mampu. Sudah kubilang, itu takdirmu. Kau lebih membutuhkanku ketimbang Matahari. Kau membutuhkanku untuk hidup, sementara bersama Matahari kau akan mati.

Tapi sayangnya, ini takdirku. Matahari begitu gagah di atas sana, memesonamu dengan segala keagungannya. Sedangkan aku tak terlihat, sosokku tertelan oleh kilau Matahari di hidupmu. Hingga menangkap hadirku saja kau tak mau.

Yah, apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku hanyalah aku.

Udara yang mencintaimu dalam ketidakberdayaan akan takdir.

(Terinspirasi dari #Sans Soleil by StellaRa)

A/N:

Sebenarnya sudah lama menulis Flash Fiction ini, tapi baru sempat nge-post-nya. Hahaha. Semoga gak terganggu dengan metafora dan Personifikasi saya yang hancur ya 😛

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

14 tanggapan untuk “Aku Hanya Udara

  1. Halo Kak, aku mampir lagi setelah berhari-hari ini butuh refreshing buat penyegaran otak selama uts 😀 dan aku kepikirannya sama blognya kakak, jadi aku ke sini deh hihi. Jujur aja kak aku suka bagian yang ini; “Tapi sayangnya, ini takdirku. Matahari begitu gagah di atas sana, memesonamu dengan segala keagungannya. Sedangkan aku tak terlihat, sosokku tertelan oleh kilau Matahari di hidupmu. Hingga menangkap hadirku saja kau tak mau.”

    Aaa, gak tau kenapa aku suka kata-katanya. Ngebayangin aku jadi sosok itu, dan rasanya seperti pernah… *lupakan* oke, aku kembali menjelajah lagi ya kak ^^

  2. gunakan In My World milik Seungri sebagai backsound itu…… tears almost drop……
    menyesali kenapa diri susah banget buat nangis ;___;
    padahal kena banget… ini kayak… aku banget….
    ah… sudahlah….

    uri Dicta, saranghae!!! /make a love sign/ xD

  3. Yuhuuuu Diktaaa :”D
    “apa kau sanggup hidup tanpa udara?” –> AAAAAAK! Sadar kamu sadarrr *tampar si bunga matahari*

    Everyone is loved.
    It’s just that sometimes we are stupid enough to just look at one direction.
    Not realizing on others, someone is waiting each time.

    Holding the same hope we’re holding,
    while looking at our loved one’s back.

    Gripping the same heartache we’re gripping,
    while waiting for that one particular person to turn it’s head.

    Tulisan kamu entah kenapa bikin aku ingin nulis yang diatas ituu 😉
    Eheheh.

    —-ini spoiler—–
    Dan ps: Foto kamu ituuu ahaha aga menipu (but in a good way)
    Kukira tadinya bunga matahari itu dicintai bunga lain. Eh ga taunya, Udaraaaa *langsung peluk udara di sekeliling* hehehe.

    Nice one 😉
    Teruslah berkarya!

    1. “Everyone is loved.
      It’s just that sometimes we are stupid enough to just look at one direction.
      Not realizing on others, someone is waiting each time.

      Holding the same hope we’re holding,
      while looking at our loved one’s back.

      Gripping the same heartache we’re gripping,
      while waiting for that one particular person to turn it’s head.”

      Kyaaaaaah! Tulisan saya kalah bagus sama komentar iniiiiii! *meres-meres bantal dengan girang*
      Hahaha, enggak nyangka aja saya malah dapat balesan tulisan cute kayak gini. Terima kasih atas jejaknya yang manis dan agak ngenes ini *dilempar*

      Yah, untuk fotonya memang rada2 asal caplok dari mbah google, dan baru menyadari betapa pentingnya sebuah gambar di atas sana. Emmmmh, lain kali saya akan lebih perhatikan lagi gambar2 itu. Biar kesannya lebih wow! Hehehe.

      Btw, Kak Stella enggak marah kan? Saya senang banget sama tulisan Kakak, mangkanya sampai bikin begini. Takutnya Kakak marah dan anggap saya caplos ide. Tapi syukurlah, sepertinya Kak Stella enggak marah, semoga tulisan saya bisa lebih baik dan lebih menginspirasi orang lg seperti tulisan Kakak! Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya!

      1. Nooooooo :”) sama sekali tidak marah.
        I’m very honored instead. Sungguh :”)

        Saat tau kamu bikinin post balasan yang terinspirasi dr tulisanku,
        ingin rasanya aku bungkusin daleman bigbeng untuk dikado-in ke kamu (Eh? Kenapa harus daleman :”D LOL)

        Really, I’m honored 🙂

        “Kyaaaaaah! Tulisan saya kalah bagus sama komentar iniiiiii!” –> Tidaakk Dikta tidaaak *cubit dengan gaya ibu tiri* ahahaha. Tulisanmu bagus 😉

        Kamu ikut sayembara GPK giih :”3
        sama-sama belajar 😉 hyuuuukkkkk

      2. Wah, syukurlah kalau Kakak tidak marah 😀 Kekekeke~ Please, bungkusin daleman mereka biar saya bisa santet mereka! Hahaha #Piktor

        Eh, saya kepengen, sungguh. Tapi saya takut, jika saya bergabung dengan GPK, saya hanya akan menjadi batu sandungan. Karena saya masih sekolah, saya sibuk dengan segala hal tentang sekolah. Apa lagi saya sekarang kelas 2, takutnya pelajaran saya keteteran dan enggak sempat bercengkrama dengan pelanggan-pelanggan di sana. Sungguh, saya ini penjaja yang buruk #bow

        Tenang, saya bantuin promosi kok ^^

  4. Aku galau baca ini ._.
    Jleb” gimanaaa gitu..
    Trus setingnya asik xD apalagi bunga matahari.. Warnanya kuning cerah gitu di gambar.. Plus lang biru cerah.. Ahh.. Sukaa.. Trus cara berceritanya.. Ahh.. Sukaaa 😀

  5. entah yah, ini semacam udara termalang didunia gitu ya dict! ngahaha 😄
    kece deh, aku pengen juga bikkin yang kek begini >.<
    aku udah baca yang povnya matahari, pas mau maen lg k blog itu, aku lupa nama blognyaaa hiyaaa~~~ #gelindingan
    kakakss~ minta alamat wpnya dong 😀

    1. Iya, malang banget nasipnya tak terliht begitu, padahal dia berusaha setengah mati. 😦
      Bikin aja kak, asyik kan bikin benda mati seolah-olah hidup ^^

      Itu, ada di blog roll saya di sebelah kiri, nama blognya Gadis Penjaja kata ^^

      Btw, terima kasih sudah membaca tulisan saya ya Kak, semoga sukaaaa! :*

  6. Halo Dicta. Salam kenal.

    Petualangan aku ngubek2 isi blog GPK bikin aku terdampar di blog kamu yang indah ini. Mungkin satu kata ‘bagus’ tidak akan cukup untuk menggambarkan bagaimana tulisan Stella dan tulisan kamu ini mempermainkan emosi pembaca, khususnya aku. Ini ngingetin aku sama cerita daun-ranting-angin yang sampe sekarang jd salah satu cerita bermajas favorit aku.

    Aku udah sering baca tulisan tentang bunga matahari yang terus mendamba matahari, dan itu dituliskan dengan sangat baik oleh Stella. Lalu kamu, kamu datang ngasih satu cerita lain yang sama bagusnya. Jujur, baru kali ini aku baca cerita versi udara. Aku malah ga nyangka versi kayak gini bakalan ada. And it’s sooooo lovely. Semacam angin segar di tengah tumpukan jurnal penelitian yang belakangan bikin otak aku berasap *curcol dikit*

    Keep writing 🙂

    1. Halo, Kak Adanindra. Terima kasih telah berkunjung ke lapak saya yang sederhana ini. Di bandingkan dengan GPK saya sangat sadar kalau tempat saya masih gubuk reot yang perlu banyak perbaikan. Tapi setidaknya, semoga kata-kata saya masih bisa memberikan arti untuk Kakak ^^.

      Terima kasih telah membaca tulisan saya, menyukainya, dan meninggalkan sedikit jejak kata untuk saya. Terima kasih ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s