Pelangi yang Menyedihkan

“Pelangi itu menyedihkan,” desismu sembari mengintip pelangi yang melengkung di langit abu-abu dari jendela mobilku.

Aku diam saja, tak menanggapi celetukanmu yang entah mengapa belakangan ini menggangguku. Sembari membuka jendela, kusulut sebatang Marlboro Menthol dan menghisapnya dalam-dalam sebelum akhirnya membuat gumpalan asap di udara. Ternyata aroma petrichor dan asap rokok itu paduan yang buruk.

“Matikan saja rokokmu, udaranya jadi bau,” celetukmu lagi, seakan-akan bisa membaca pikiranku.

Mau tak mau kusetujui juga ucapanmu itu. Dengan sekali hisapan panjang, kubuang rokok yang masih panjang itu keluar sembari mendesah untuk mengeluarkan asap dari paru-paruku.

“Ada apa dengan pelangi?”

Akhirnya kubuka juga suara, merasa sedikit sesak dengan keheningan yang tercipta di antara kita. Dulu, kita tak pernah menemukan keheningan seperti ini. Waktu selalu diisi dengan gelak tawa. Tapi  akhir-akhir ini, tawa itu menghilang, berganti dengan keheningan yang merengkuh kata.

“Dia… menyedihkan,” jawabmu, kembali menelengkan wajah ke arah pelangi yang mulai memudar seiring kemunculan matahari yang telah menanti waktu untuk menampakkan diri.

“Apa sebegitu menyedihkannya sampai kamu merasa prihatin?” sahutku sembari menyandarkan tubuh di sandaran kursi; berusaha bersikap santai meski hati merasa lelah. Lelah dengan semua ini.

Kamu mendesah pelan, sama sekali tidak memandangku dan memfokuskan diri pada pelangi yang kini semakin samar terlihat. Tak kusangka, permintaanmu untuk menghentikan mobil di pinggir tanah lapang hanya untuk memandang pelangi dan memulai percakapan bodoh ini. Aku semakin tak mengerti jalan pikiranmu.

“Pelangi itu…” kamu menggantung nada suaramu, seakan ragu dengan apa yang akan kamu ucapkan, “Mirip dengan kita.”

Aku terkesiap, tiba-tiba saja merasa sesak. Meski masih tak mengerti apa maksud dari ucapanmu itu, aku paham betul ini bertanda tak baik. Apakah sekarang waktunya? Secepat inikah?

“Kenapa?” Kuberanikan diriku untuk bertanya, penasaran dengan maksud perkataanmu.

Kamu kembali mendesah, kedua tanganmu bertautan. Berusaha keras menahan tangis yang membayang di matamu.

“Keindahan pelangi itu hanya sekejap,” katamu lirih, “Sama seperti kita ‘kan, Al?” tiba-tiba saja kamu menoleh dan menatapku begitu lekat. Aku tercekat.

“Bahkan…” kamu mulai berbicara lagi, mengabaikanku yang membatu, “Keindahan kita sudah lama menghilang.”

Hatiku tertohok. Untuk beberapa saat kita kembali dalam keheningan yang menyesakkan. Hingga akhirnya kunyalakan kembali mesin mobilku sembari mengakhiri percakapan menyakitkan ini dengan persetujuan.

“Sebaiknya kuantar kamu pulang, Ran,” suara mesin menderu, kumasukkan gigi dan kita pun kembali bergerak.

 ”Kamu benar, pelangi memang menyedihkan.”

Iklan

18 thoughts on “Pelangi yang Menyedihkan

  1. entah ya, aku suka banget waktu denger kata “Keindahan kita sudah lama menghilang” kayaknya ngenes banget..
    Tapi bagus kog 🙂

  2. Wah, ternyata pelangi tidak selalu indah ya, padahal biasanya orang yang lihat pelangi tuh pasti berseru “Wah, ada pelangi.”
    Tapi disini keadannya lebih sedih dari itu 🙂

    Bagus dikta, serasa baca novel buatan seseorang ^^

    1. Iya, saya memang kepengen menunjukkan sisi lain dari pelangi. Kadang orang mau liat bagusnya aja, enggak pernah mau memahami kalau semua hal itu enggak sempurna 🙂

      Terima kasih telah membaca tulisan saya ya! ^^ Sering2 berkunjung ke mari!

  3. /uhuks. saia bingung mau komen apa, dari awal si penulisnya sudah menginterpretasikan suasana yang super duper sendu. ditambah dengan rinai hujan dan aroma petrichor… er, rasanya pembaca emang digiring ke sebuah tanda lapang beneran. bingung. di tengah kekosongan. ada dua orang bercakap-cakap tapi gak sengaja dipotong di tengah jalan.
    sebenernya flashfiction ini agak kurang saia suka dibanding cerita Aoi dan guru lesnya *diganyang* *kabur*

    *balik lagi*
    karena sifatnya samar, terlebih karakter ‘kau’ di sini, tapi ya, begitulah flashfiction. kadang disuguhkan kenyataan seperti ini bisa membuat membaca juga ikut terhibur.
    oya dek, ada saran untuk kata petrichor, sebaiknya diberi italic aja deh, soalnya itu kata bukan bahasa Indonesia kan ya? Dan juga, kalimat langsung: Mirip sama kita.

    Mirip dan sama sebenernya punya makna yang nyaris sama. Saia mengerti maksudmu di sini, ingin mengganti ‘dengan’ dengan ‘sama’ agar terlihat lebih Indonesia, tapi saia perhatikan gaya ceritamu di sini mengarah ke roman yang formal alias bahasanya serius banget, kalau disandingi kata yang terkesan ‘sehari-hari’, malah membuat kalimat itu ambigu 🙂

    keep writing.

    1. Roger! sudah dibenerin Kak! ^^
      Iya, –____–” baru sadar kalau ini banyak kurangnya, mungkin akan lebih baik kalau saya bisa bikin flash fiction yang menunjukan perwatakan yang jelas ketimbang yang absrud begini. saya akan lebih belajar lagi! 😀

      Terima kasih atas komentarnya yang selalu membangun saya! ^^

      1. Er, soal perwatakan sih itu tergantung selera kok. Ya, mungkin karena saia suka sekali melihat warna, karakter kan bisa diibaratkan warna-warni dalam sebuah cerita. Belakangan ini saia lagi ingin lihat yang cerah, jadi keberadaan dua orang ini… ya, suram menurut saia, tapi ya… itu hanya dari sudut pandang saia aja lho 🙂

      2. Hehehe, iya, saya juga suka sih. Cuman entah mengapa saya malah kepengen menunjukkan suasana yang menyedihkan di sini. Karena tokoh utama sebenarnya dari FF ini itu ‘pelangi’ yang ingin saya tunjukkan sisi menyedihkannya. Hahahaha.

        :3

  4. astagaa ;____; ini…ini….#mengenang masa lalu sama seseorang :’) “Keindahan kita sudah lama menghilang.” apalagi ini mewakilkan banget haha ini emg jleb bgt
    pengen bisa bikin flashfiction kagak bisa2 -.-

    1. Wah, maaf ya, tulisan saya bikin Kakak ingat masa-masa lalu yang seharusnya tak boleh diingat 😦 Tapi semoga tetap bisa bikin Kakak semangat dan terus move on yaaa! 😀

      Waduh, saya malah kepengen nulis yang panjang2 macem oneshot. Tapi malah enggak bisa2 –”
      Terima kasih sudah membaca ya Kak, silakan datang kembali! 😀

  5. ada apa dgn pelangi?? Aku suka pelangi tp waktu kecil skr udh g tll trtarik. Iya sih, nikmatin indahnya pelangi cuma bentar, tp untk mdptinya itu loh langka butuh proses.
    Ngejlebb ceritanya…tulisan yg bagus Dicta

    1. Hohoho. Saya pribadi enggak ada masalah sama pelangi sih. Suka-suka aja.Cuman kebetulan nemu temanya yang kek gini, jadi saya ambil analogi pelangi.
      Hehehehe, terima kasih sudah membaca ya Kak Nurul! Silakan datang kembali!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s