Diposkan pada Family, Flash Fiction

Ibu

Aku mencintai kalian. Seperti ibu mencintai anaknya—tanpa pamrih, hanya ingin memberi.

Kita telah lama hidup berdampingan. Dari zaman ke zaman, kuiringi kalian berevolusi. Kuberi semua yang bisa diberi. Hingga luluh lantak tubuhku tergerus oleh tangan-tangan nakal kalian. Tapi tak mengapa, aku maklum. Kalian anak-anakku, sudah seharusnya aku memberi apa yang kalian mau. Cukup melihat senyuman kalian saja aku sudah merasa bahagia.

Tapi, anak-anakku, kenapa kian hari kalian semakin manja?

Tak sedikit pun terbersit di pikiranku untuk mendidik kalian menjadi manusia-manusia seperti itu. Aku hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi kalian, menjaga serta memberi kehidupan.

Salahkah jika kusediakan pohon-pohon sebagai tempat kalian berteduh?

Salahkah  jika kuberikan tubuhku menjadi lahan kalian untuk hidup dan bergerak?

Salahkah jika kubiarkan kalian membuka lahan untuk bercocok tanam?

Salahkah jika aku begitu mencintai kalian?

Oh, anak-anakku. Tak kusangka, kalian begitu tega mengkhianati pemberianku.

“Maafkan kami Ibu, kami perlu uang untuk membelikan anak-anak kami susu,” bisik kalian sembari menebangi pohon-pohonku, sementara aku diam saja. Meski sakit hati ini, tetap kubiarkan kalian menggunduli tubuhku.

“Maafkan kami Ibu, kami perlu membangun pabrik-pabrik untuk menunjang kehidupan kami,” bisik kalian lagi, ketika semen mulai saling tumpang tindih. Dan aku masih diam, membiarkan bangunan-bangunan itu membebani tubuhku.

“Maafkan kami Ibu, kami perlu membangun jalan untuk berpergian ke tempat-tempat yang jauh.” Kalian lagi-lagi berbisik sambil menuang aspal di kulitku. Sedangkan aku masih tak mampu bersuara, merelakan rasa panas membakar tubuh.

Ya, aku diam saja. Sementara kalian mengambil apa yang bisa kalian ambil dariku. Tapi ketika semua tindak-tanduk kalian membuahkan bencana longsor, banjir bandang juga bencana alam lainnya. Kenapa kalian tiba-tiba bertanya, “Ibu, kenapa engkau tidak mencintai kami?”

Oh, anak-anakku, tak tahukah kalau aku begitu mencintai kalian? Meski tubuh ini telah menua juga renta, sekuat tenaga kutopang kaki-kaki kalian untuk tetap berpijak. Tetap kuberikan sisa-sisa tenagaku untuk kehidupan kalian, juga anak-cucu kalian kelak.

Pahamilah aku. Tidakkah kalian merasa kasihan?

Dan kini, untuk yang pertama juga yang terakhir, izinkan ibu kalian ini meminta satu hal di hari tuanya. Hal yang sudah sepantasnya didapat oleh setiap orangtua.

Kumohon, rawatlah aku.

(The picture taken from: http://vasmanalightseeker.blogspot.com/2011/04/berikan-cahayamu-kepada-bumi.html)

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

2 tanggapan untuk “Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s