Di Langit Ada Dirimu

Aku suka memandangi langit. Entah ia sewarna lembayung, sehitam jelaga, atau sebiru wajahnya sekarang. Langit memberiku arti tersendiri, karena ia selalu ada, kusadari atau tidak. Ia seperti temanku yang paling setia, ia mendengarku dengan baik; lalu merangkulku dengan keberadaannya yang nyata. Ia tak perlu bersusah payah menasihatiku, kehadirannya saja sudah cukup bagiku. Langit ada di mana saja dan kapan saja. Begitu juga kau.

“Ichikawa-san[1]!!”

Kutelengkan wajahku dari langit, dan menatapmu  yang tergopoh-gopoh berlari menghampiriku. Aku tahu kau pasti akan datang; kau selalu tahu di mana aku berada. Kau seperti langit; aku tak bisa sembunyi darimu.

“Hah… hah… lihat ini!” kau mengibas-ngibaskan selembar kertas ke udara; mengabaikan seragam birumu yang basah karena keringat akibat berlari ke bukit tempatku sedang memuja langit.

“Nilai matematika-ku dapat 75! Ichikawa-san! Aku tidak perlu remedial!”

Kau berjingkrak-jingkrak kesenangan, lalu berlari mengelilingiku seperti pesawat terbang. Aku hanya melihatmu sembari tertawa geli. Tingkahmu benar-benar seperti anak kecil.

Bruuk! Sraaak!

“Hei!”

Tiba-tiba saja kau menghempaskan dirimu tepat di belakangku, lalu dengan tiba-tiba kau memeluk  dan meletakkan dagumu di bahuku.

Arigatou[2], Ichikawa-san, ini semua karena kau,” bisikmu tepat di telingaku, aku hanya tersenyum dan memandang langit biru yang menggantung cerah di atas kita. Awan kumulus agaknya segan bergabung, tahu benar kalau ia hanya akan menjadi pengganggu pandanganku pada langit.

“Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya guru lesmu, Aoi,” sahutku; masih menatap langit dengan penuh puja. Ah, hari ini ia terlihat lebih biru dari biasanya.

“Ck,” kau mendecak jengkel, lalu mendorong kepalaku menggunakan dahimu, “Katakan sekali lagi, dan aku akan menyuruh Ayah mempekerjakanmu selamanya.” Kau mengeratkan pelukanmu dan kembali menyandarkan kepala di bahuku, “Kau kekasihku. Anggap saja pekerjaanmu sebagai guru les hanyalah jalanku untuk menemukanmu. Berhenti menganggap dirimu sebagai guruku.”

Aku terkekeh pelan, sudah terbiasa dengan reaksimu. Ah, langit terasa semakin menarik, apa ia juga ikut berbahagia denganku?

“Kenapa kau selalu melihat langit sih? Memangnya ada apa di langit?”

Aku tersentak, tiba-tiba saja suaramu berubah cemburu. Padahal langit tak pernah cemburu padamu. Tapi mengingat kalau usiamu yang masih muda, aku bisa memakluminnya.

“Menurutmu di langit ada apa?”

Kau mendengus kesal sembari mendongak. “Tidak ada apa pun di langit.”

Mendengar jawabanmu aku hanya tertawa. “Kau tidak melihat apa pun di sana?”

“Sudahlah, Ichikawa-san, jangan mempermainkanku. Memangnya di langit ada apa?”

Aku tersenyum lebar. “Bukankah di langit ada kau?”

“Huh?”

“…Aoi[3]?


[1] Panggilan hormat pada orang yang lebih tua

[2] Terima Kasih

[3] Biru

A/N:

Awalnya aku enggak mau ngeposting cerita ini lho, lumayan malu karena aku rasa tulisan ini ancur dengan twist yang kurang gereget juga. Tapi akhirnya tetap kuposting dari pada digerogotin jamur dan gulma di dalam leptopku. Hahaha.  Hope you like it ya! *crossing fingers*

Iklan

12 thoughts on “Di Langit Ada Dirimu

  1. Aoi aoi ano sora~
    Ceritanya bagus.. Tp entahlah, kurang greget.. 🙂 tp yang aku suka itu cerita cinta org yg jauh lbh tua dgn remaja.. I like it ><

  2. Halo, dek. Lama banget deh saia gak mampir ke sini, wah… tampilannya sudah beda 🙂 tapi gak tau kenapa saia lebih suka yang dulu /diinjek. Mungkin karena tampilannya yang lebih sistematis ya? Tapi yang ini tampilannya pas banget lho sama isinya, manis dan rasanya girly banget. Maaf ya kalau gak sempat baca postingan2 barumu semua, ini mungkin saia hanya sempat baca tiga dulu. Nanti kalau ada waktu lagi pasti saia mampir 🙂

    Well, makin lama kaenya tulisanmu tidak perlu diberi kritik deh. Saia cuma pengen memberi komentar membangun. Saia suka fiksi yang ini, walaupun flashfiction, tapi ya… berbeda dengan flashfiction yang saia baca di sebelumnya. Ada dua karakter yang bertolak belakang di sini, jadi meski singkat. Plotnya terlihat dan terasa lucu. Saia suka karakter Aoi di sini (berikut artinya karena nama kita bermakan serupa /diinjek.), gimana kamu mendeskripsikan dia yang kekanak-kanakan. Beneran asli terasa, sebaliknya karakter ‘aku’ di sini juga menyanggah, dia bersikap dewasa, good job. Oya, tapi ada kalimat yang agak janggal di sini: Kumulus agaknya segan bergabung, tahu benar kalau ia hanya akan menjadi pengganggu pandanganku pada langit.

    Di belakang ‘kumulus’ kaenya kamu melupakan kata ‘awan’ deh karena kumulus itu ya cuma kumpulan gitu, tapi biasa dipake untuk menjelaskan onggokan awan 🙂

    Overall, saia suka dengan flashfictionnya. Pendek tapi bercerita banyak. Keep writing.

    1. Kak Azura emang one of kind deh! Bener-bener lho ya, Kakak bisa menemukan hal yang saya sendiri aja enggak sadari lho! Dan satelah saya bandingkan tulisan ini dan tulisan saya yang ‘pelangi yang menyedihkan’ saya pun tiba2 saya jadi lebih suka yang ini (awalnya suka yang itu). hahahaha.

      Rojer! semua kritikan sudah di benerin, dan buat tema blog… hahahaha, iya, yang dulu lebih ke tata dan yang ini memang lebih girly2 gimana gitu. Tapi tema yang ini lebih cerah dari yang dl menurut saya. Dulu kan ungunya tua banget. Hahahaha.

      Terima kasih sudah menyempatkan diri memberikan komentar ya Kak, ditunggu jejaknya yang lain…^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s