Ketika Malam Telah Larut

Ketika malam telah larut dan tak ada lagi suara yang mengecup cuping telinga, aku pun mengerjap, mencari-cari sebuncah ingatan yang setidaknya mampu memenuhi angan-angan.

Aku perlu ingat kamu. Sekarang.

Ketika malam telah larut dan tak ada lagi ada suara yang menyingsing di penghujung rindu, aku pun terjaga, mencari-cari sebuncah rasa yang setidaknya mampu memenuhi dahaga sukma.

Aku perlu rasa kamu. Sekarang.

Ketika malam telah larut dan tak ada lagi suara yang membuai kantuk  pada sang waktu, aku pun melangkah, mencari-cari sesosok kamu yang setidaknya mampu membawa mimpi padaku.

Aku perlu sosok kamu. Sekarang, tentu saja.

When The Love Fall

 (Listen: When The Love Fall – Yiruma in Magic Box)

Kau akan merasa bumi berhenti berputar dan hening menyergap. Langit teduh dan udara menekan paru-parumu. Suaramu bahkan tak dapat terdengar, hanya jantungmu yang membunyikan genderang sangkakalanya. Otakmu akan bersendat, macet. Hingga tak memungkinkan bagimu untuk menggerakan tubuhmu barang seinci pun.

Ya. Saat cinta datang, kau hanya akan menjadi seonggok daging tak berguna, hanya korban cinta yang jatuh atas emosimu.

***

Gabriella Angelica.

Ia gadis yang cantik. Rambutnya lurus berwarna hitam. Bermata sipit, karena di darahnya mengalir marga Liong dari Ayahnya. Kulitnya sangat putih, namun tidak pucat, membuat ia terlihat mencolok jika berdiri di tengah-tengah kerumunan orang. Tubuhnya lampai, berlemak di tempat yang tepat.

Yah, Gabriella memang gadis yang cantik; dari luar mau pun dalam. Memiliki banyak penggemar dan begitu terkenal di SMA-nya. Tak urung banyak pria ingin menjadikan Gabrella gadisnya, tapi hati Gabrella bukanlah lagi milik gadis itu sendiri…

… hatinya terbagi kepada seorang pria yang sudah ia kagumi sejak lama. Sejak pertama kali ia mengenal apa itu cinta.

Hatinya tidaklah utuh.

“Kau tak lelah memandanginya terus, Ella?”

Gabriella dikejutkan oleh sebuah suara rendah seorang pria; namun ia langsung dapat mengenalinya karena ia tahu, satu-satunya orang di dunia ini yang suka memanggilnya ‘Ella’ hanya orang itu.

Dengan cepat gadis itu menoleh ke arah samping tubuhnya dan senyum Gabriella langsung merekah ketika ia memang menemukan pria itu di sana. “Aku tak mungkin merasa lelah hanya karena memandangnya, Erik,” jawab Gabriella tenang, seraya kembali menatap lapangan bola sekolahnya dari jendela kelasnya yang berada di lantai dua. Kedua manik matanya mengekori seorang pria yang sedang bermain bola di sana. Tubuh liat pria itu terlihat bercahaya saat matahari memantulkan sinarnya atas tubuh yang bermandi keringat itu.

“Kau tak mencoba untuk mendekatinya?” suara pria bernama Erik itu terdengar lagi. “Sudah setahun kau menyukainya, tapi kau tak juga menyatakan perasaanmu, ” tambah pria itu lagi.

Gabriella hanya melirik kecil ke arah Erik dan kemudian kembali menatap lapangan bola di hadapannya, meski pikirannya tidaklah sefokus sebelumnya.

“Menyatakan perasaanku pada Allan tidaklah segampang kedengarannya, Erik.” Gabriella berusaha membela dirinya, mencari-cari alasan untuknya dapat mengelak dari pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu apa jawabannya. “Dia berbeda, dan hal itu membuatku hanya mampu  memendam perasaan ini.”

“Tapi jika kau hanya memendamnya tanpa kau mengutarakannya kau sama saja dengan menghancurkan hatimu sendiri secara berlahan-lahan.” Erik membalas cepat, membuat langkah Gabriella untuk mengelak menjadi mati.

Ya. Memang itu yang Gabriella rasakan sepanjang satu tahun terakhir ini. Perasaannya selalu teriris-iris setiap kali ia melihat Allan bersama gadis lain. Tertawa bersama gadis lain, berbicara, memandang, semuanya!

Berkali-kali Gabriella berusaha untuk bersikap lebih menunjukkan perasaannya kepada Allan. Tapi setiap kali ia berpapasan dengan pria  itu di koridor ataupun di tempat lainnya, gadis itu bahkan tak mampu bernapas ketika ia membayangkan menghirup udara yang sama dengan pria itu. Ah, cinta melumpuhkannya.

“Kau memang sahabatku sejak kecil Erik…” setelah terdiam cukup lama dan merenungi segalanya, Gabriella kembali bersuara, “…tapi meskipun begitu, kau tak akan cukup mengerti untuk memahami perasaanku saat ini. Kita sahabat, tapi kita tetap orang yang berbeda,” tambah Gabriella lagi dengan penekanan yang cukup jelas di suaranya.

“Aku tahu dengan pasti bagaimana perasaanmu, Ella.” Erik menjawab dengan mantap dan membuat Gabriella terkesiap, “Aku tahu bagaimana rasanya memendam perasaan sayang ketika kau berada sangat dekat dengan orang yang kau sayangi. Bagaimana berisiknya jantungmu dan darahmu yang mendesir hangat ketika kau berada di ruangan yang sama dengan orang itu. Bagaimana napasmu berhenti dalam seketika saat kau tahu ia menyadari keberadaanmu.” Erik berhenti, ia memandang Gabriella semakin dalam dan kemudian tersenyum tipis.

“Aku tahu semua yang kau rasakan Gabriella, karena aku juga merasakannya.”

Hening. Gabriella hanya bisa menatap pria bermata coklat di hadapannya itu dengan dada yang tiba-tiba saja bergemuruh nyaring.

Baca lebih lanjut

[Resensi Buku] The Crystal Stopper – Maurice LeBlanc

Judul buku: The Crystal Stopper

Penulis: Maurice LeBlanc

Penerjemah : Airin Kusumawardani

Penerbit dalam Bahasa Indonesia : Bukune

Tahun terbit: April, 2012

Tebal: 368 halaman

Rate: 4/5 bintang

SUNGGUH MENDEBARKAN!!

Tidak seperti di buku-buku Serial Arsene Lupin yang lain, di buku ini Om Maurice menceritakan petualangan sang Gubernur dari sudut cerita tokoh utama kita, Arsene Lupin! Bagaimana Lupin akhirnya bertemu dengan seorang yang dapat menandingi kegeniusan, kelicikan, kelicinan, dan kekeraskepalaannya! Yang mampu membuatnya pusing tujuh keliling dan yang mampu membuatnya nyaris menghadapi kematian!

Semua ini bermula karena Lupin dikejar-kejar oleh waktu yang mempertaruhkan keselamatan anak buah kesayangannya, Gilbert, yang karena tipu daya rekannya maka pria malang itu pun harus berhadapan dengan tiang pancungan. Oh, Gilbert yang malang! Seru Arsene Lupin berkali-kali dalam buku ini. Dan aku sangat suka bagian itu! Hahahaha. Begitu menyenangkan membayangkan tokoh utama kita yang dilanda stres seperti itu. Padahal ia biasanya sangat percaya diri dengan semua tindak-tanduknya.

“Ya, aku akan menyiapkan segalanya. Dalam waktu dua jam Daubrecq akan berada dalam genggamanku. Malam ini, cara apa pun yang akan aku gunakan, ia akan buka mulut” – Arsene Lupin, The Crystal Stopper, hal.174

Kemudian hadirnya seorang wanita–Mm. Clarisse Mergy, ibu Gilbert, yang juga ingin menyelamatkan anaknya–pun menjadi salah satu pemanis dari cerita ini, di mana pada akhirnya ia bekerja sama dengan sang Gubernur untuk menyelamatkan Gillbert dan membuat petualangan semakin menarik karena Lupin mulai jatuh hati padanya.

Lantas? Bagaimana Lupin bisa menyelamatkan Gilbert? Satu-satunya cara tentu saja dengan mengalahkan lawannya yang super itu. Ada sesuatu yang dimiliki lawannya yang dapat menyelamatkan anak buah kesayangannya itu dan membuat Mm. Mergy terbebas dari ancaman pernikahan yang tak diinginkannya. Sesuatu yang tersembunyi dalam… sebuah sumbat kristal!

***

Hahaha, begitulah, kalau diceritain semuanya tentu aja enggak seru ‘kan? Pendapat aku tentang buku ini, jelas! Aku suka banget! Lebih-lebih ini lebih menegangkan ketimbang The Blonde Lady. Lantas, kenapa aku kasih rate 4 aja?

Ini karena Penerbitnya dalam bahasa indonesia –____–” Penerbit Bukune!
Oke, mungkin aja kesalahan cetak ini hanya ada dalam bukuku, tapi Aku sudah terlanjur kecewa! Banyak sekali paragraf-paragraf yang ke-double, halaman yang sama, dll. Dan itu bikin aku agak risih bacanya dan mengganggu konsentrasi. Huh.

Tapi tenang saja, buat kalian penggemar buku crime dan petualangan! Serial Arsene Lupin akan menjadi salah satu kegemaran kalian. Apa lagi kalian yang kurang begitu gemar “Homlock Shere”. Hehehe. Aku jamin kalian akan sangaaaaat menyukai pria ini!!

Sekotak Rindu

Ini, sekotak rindu untukmu, maukah kamu mencicipinya? Selagi Tuan Waktu masih memberikan detik-detiknya untukmu. Tak mengapa, rindu ini manis kok, tak ubahnya cinta karamel yang kamu berikan padaku tempo dulu. Nyatanya, aku tak memiliki rindu yang asin karena air mata, atau bahkan pahit yang dilumuri kemarahan sih.

Jadi aman.

Kamu mau ‘kan rinduku?

Oh jangan takut, tak ada tanggal kadaluwarsanya. Jadi, jika kamu tak ingin mencicipinya sekarang, simpanlah. Di mana saja, ia pun tak rewel, rindu-rinduku tetap sama meskipun kamu menyimpannya di lemari yang lembab atau di kulkas yang dingin. Ia pun tak membutuhkan ruang yang banyak, hanya sekotak ‘kan? Sekotak rindu. Aku yakin di rumahmu masih banyak tempat kosong yang dapat diselipi rindu-rinduku.

Tapi jangan lama-lama menyimpannya. Karena rindu-rinduku selalu menantimu mencicipinya.

Biar kamu tahu betapa manisnya penantian-penantian panjang itu. Yang dilewati tanpa sedikit pun berhenti memikirkanmu, yang dijalani tanpa sedikit pun  berpaling darimu.

Ya, rindu ini milikmu. Memang khusus hanya untukmu.

Jadi jangan takut untuk meninggalkanku. Pergilah sejauh mungkin. Kelilingilah bumi ini sampai kamu terpuaskan. Dan ketika kamu kembali, lelah dengan petualanganmu, jenuh dengan langkah-langkah panjang yang menjauh, pasti akan ada sekotak rindu yang menanti dicicipi olehmu di rumah.

Sekotak rindu manis dariku.

_______________________________

A/N:

Intinya gini sih ya, aku kepengen jadiin ‘sekotak rindu’ ini sebagai pemeran utamanya. Tapi…=,=” nampaknya gagal. Kok yang menonjol malah aku-nya. Tapi ya sudahlah, I try my best, nanti aku bikin lagi. Hehehe. Aku pribadi belum puas sama tulisan ini.

A Belated Birthday Gift

Bodoh.

Satu kata itulah yang terlintas di benakku kala aku menyadari waktu telah terlampau jauh untuk diputar kembali. Sebuah keterlambatan yang tak sepatutnya terjadi tatkala sebuah antisipasi jauh-jauh hari telah terencana dalam benak.

Aku harus memberikan sesuatu di hari ulang tahunnya, teguhku kala waktu masih menunjukkan kelonggarannya; percaya jika aku akan mengingatnya dan melaksanakannya dengan sangat baik.

Lantas. Berbagai rancangan aksara menggumpal dalam benakku, menanti untuk di olah oleh tangan-tangan mimpi dan pengharapan.

Semoga seluruh cita-citanya tercapai.

Semoga langkah hidupnya baik.

Semoga ia sehat selalu.

Semoga bakti dan kebaikannya berbalas.

Semoga Tuhan menyertainya di setiap langkah hidupnya.

Oh, semoga ia mendapatkan yang terbaik!

Kuyakinkan diriku jika ini akan menjadi sesuatu yang akan sangat menyenangkan untuk diberikan. Meski hanya sepotong tulisan yang terpampang melalui media jaringan, aku berharap hadiah ini masih berarti.

Tapi…

Inilah yang terjadi, sebuah kebodohan besar. Manakala sesaknya prahara dunia nyata mendesakkan kata-katanya sendiri hingga tanpa sadar… semua terlupa. Menghilang begitu saja. Bagai kepulan asap yang mula-mula menggumpal pekat namun akhirnya menghilang ditelan udara.

Sungguh. Tak ada pembelaan diri. Kuakui ini sebuah kesalahan fatal dari seorang yang mendeklarasinya sebagai sahabat dunia maya. Maka, maafkan aku.

Maaf. Untuk keterlambatan yang seharusnya dapat kuhindari ini. Maaf. Untuk kecerobohan tolol ini.  Maaf. Untuk doa dan pengharapan yang nyaris berkarat namun tetap berasal dari hati ini.

Waktu tak dapat diputar kembali. Adaikata bisa pun, aku tak yakin dapat melupakan kegagalan yang terjadi. Maka, biarkan kuucapkan selamat ulang tahun sekarang. Serta-merta berdoa untuk yang terbaik. Meski, tak banyak berharap masih ada senyum untukku nanti.

 

3.11.12

Selamat ulang ke-18 Kak Anastasia Cynthia!

Semoga seluruh cita-citamu tercapai.

Semoga langkah hidupmu baik.

Semoga kamu sehat selalu.

Semoga bakti dan kebaikanmu berbalas.

Semoga Tuhan menyertaimu di setiap langkah hidupmu.

Oh, semoga kamu mendapatkan yang terbaik!

 

 

Dengan cinta,

Benedikta Sekar

14.11.12

[Kolaborasi] Putri Intan Cari Pacar!

“Papiiiii!! Aku mau punya pacaaaar!” Putri Intan melangkah memasuki ruang kerja ayahandanya dengan wajah kusut. Rambut bergundinya berkibar ke sana kemari setiap kali kepalanya bergoyang dasyat; kebiasaannya saat sifat manjanya kembali kambuh.

 “Pacar? Bukankah banyak lelaki di kerajaan kita yang hendak menjadi pacarmu?” sahut Raja Permata tenang tanpa sekalipun mengalihkan pandangan matanya dari koran pagi ini. Ckckckck, nilai Ruby menurun drastis, sepertinya ia masih harus menunggu sampai nilai jual batu itu kembali naik.

 “Aaahhh Papiiii… mereka tidak keren…. Senyumnya terlalu dibuat-buat. Aku tak suka. Makanya, ijinkan aku untuk jalan-jalan sebentar keluar istana. Siapa tahu aku bisa dapat pacar disana….” kalimat panjang diberondong Putri Intan kepada ayahanda. Ia mengguncang-guncang lengan Raja Permata yang hanya mengangguk-angguk pelan. “Papiii… jangan hanya mengurus batu… ” rengeknya lebih serius.

 “Kamu mau cari pacar di mana?” Raja Permata masih menanggapi putri tunggalnya itu dengan tenang, “Belajar aja yang benar, baru cari pacar.”

 “IKKKH! Tapi aku malu sama Putri Lily dari Kerajaan Bungaaa! Dia udah punya pacar yang kereeeen!” Putri Intan menghentak-hentakkan kakinya lebih kencang. Ia paling benci jika ayahandanya itu mulai bersikap seperti itu.

 “Memang kamu tahu dari mana, emm?”

 “Tadi dia BBM aku, Piiii!” seru Putri Intan gemas. “Dia pamerin pacarnya ke akuuu!”

 Mendengar cerita Putri Intan, Raja Permata justru tertawa terbahak-bahak. Sambil sesekali mengelus kepala putri tunggalnya. “memangnya menurut kamu, pacar itu apa sih?” tanya Raja Permata.

Putri Intan menatap lugu kepada Sang Ayahanda. Ia menunduk, memainkan jemarinya sendiri, sambil berpikir, apa artinya pacar. Sesekali dia mengerut-ngerutkan dahinya. “Mmmm…mmmm…” suara Putri Intan kemudian terdengar setelah cukup lama terdiam.

Raja Permata melekatkan tatapannya pada sang putri. Mencoba meraba-raba apa yang akan diucapkan putri tunggalnya itu. “Pacar ituuuuu…. yang bisa diajak ketawa-ketawa dan makan es krim bersama, Pi….” ujar Putri Intan sambil memetik ibu jari dan jari tengahnya. “Iya kan, Piiii…? ” senyumnya lepas tanpa ada yang ia sembunyikan.

 Mendengar jawaban Puri Intan, Raja Permata justru merasa sedih. Ia berpikir bahwa Putri Intan sedang merasa sangat kesepian. Sejak Permaisuri, sang ibunda meninggal, Putri Intan tak banyak waktu lagi bermain, atau sekadar bercerita. Raja Permata menyadari, ia tak punya waktu banyak untuk mendengarkan cerita-cerita putri tunggalnya. lalu ia berpikir, mencari-cari cara untuk membuat sang putri tak lagi kesepian.

“Putriku…” Raja Permata meletakan koran paginya, kemudian berdiri dan menggenggam kedua tangan putrinya. “Apa kamu membutuhkan seorang pacar karena Papi jarang menemanimu, emmh?”

Putri Intan terkesiap, sesungguhnya ia tak pernah berpikiran seperti itu, tapi ia tetap tak bisa memungkiri jika kadang kala ia merasa kesepian karena ayahandanya terlalu sibuk dengan urusan kerajaan dan perdagangan batu-batuan.

 “Errrh, sebenarnya Intan nggak pernah mikir gitu sih, Pi…” kata Putri Intan jujur.

“Lantas, kenapa kamu begitu ingin punya pacar?”

“Kan Intan sudah bilang, Papiiii! Intan NGIRI sama Putri Lily! HUH!” tiba-tiba saja Putri Intan meledak, ia pun berkacak pinggang dan menatap ayahnya jengkel. “Dia pasang foto pacarnya di DP BBM-nya, terus mention-mention-an sama pacarnya di Twitter! Terus Intan ngiri! Terus Intan pengen punya pacaaaar, Papiii!

 “Hmmmm bagaimana kalau kamu pasang saja foto Papi waktu masih muda. Papi juga ganteng lohh… Nihhh…” seru Raja Permata tiba-tiba seraya menunjukkan sebuah foto pemuda cungkring dengan rambut mohawk dan sedang tersenyum dengan memamerkan sebaris giginya yang putih.

Putri Intan menganga ,melihat foto sang ayahanda.”Nah, nanti Papi juga akan membuat akun twitter, kamu bisa mention Papi di sana, nanti Papi balas,” lanjut Raja Permata bersemangat.

Putri Intan semakin bersungut-sungut. “Iiihh Papi deh… masa aku mention-mention-an sama Papi?! Itu kan pacar palsu namanya…” Putri Intan menukas sambil menahan geram.

“Hmmm pacar palsu? Tapi kasih sayang Papi tak pernah palsu, Nak… Bagaimana dengan pacar? Bisa saja mereka membohongimu kan?” berondong Raja Permata sekali lagi.

 Bibir Putri Intan spontan mengatup. Bayangan masa lalu bersama ayahandanya berkelebat di kepalanya. Ia masih ingat bagaimana ayahandanya itu selalu berusaha menyempatkan diri mencium dahinya setiap malam di tengah-tengah kesibukan harinya. Bagaimana ayahandanya bekerja mati-matinya untuk memimpin Kerajaan Batu-Batuan hingga semakmur sekarang ini. Bagaimana ayahandanya tetap berusaha menjadi ibunda baginya meski ia sendiri tahu, tak ada seorang pun yang dapat menggantikan Ratu Ruby; ibunda Putri Intan dan istri tercintanya.

Bagaimana ayahandanya, Raja Permata, menjadi satu-satunya orang terdekat baginya dan selalu berusaha menjadi orang yang paling pertama tahu segala permasalahannya. Oh, semua hal itu mulai membuat Putri Intan semakin enggan untuk memikirkan masalah pacarnya lagi!

“Bagaimana? Kamu mau terima tawaran papi?”

 Suara Raja Permata membuyarkan lamunan Putri Intan. Namun setelah terdiam cukup lama, akhirnya Putri Intan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan; sebuncah perasaan sentimentil tiba-tiba saja merasuki hatinya. Kapan terakhir kali ia menghabiskan waktu bersama ayahandanya itu secara khusus?

 Rasanya sudah lama sekali.

 “Papi… maafin Intan,” kata Putri Intan lirih.

 Putri Intan memeluk Raja Permata. Ia justru menangis sejadi-jadinya. “Intan janji nggak lagi-lagi minta pacar, Pi… Papi sudah cukup sayang sama Intan..” kalimat sang putri tetap bisa dipahami Raja Permata meski diantara sesenggukan tangisnya. Raja Permata mengelus kepala putrinya, kemudian mencium keningnya. “Tapi, Pi… ” sela Putri Intan tiba-tiba.

“Apa lagi, sayang?” tanya Raja Permata lembut.

“Aku mau jalan-jalan keluar istana…sama Papi…” ucap Putri Intan dengan semburat senyum yang menggantikan sembab wajahnya.

Raja Permata pun tergelak dan menganngguk dengan pasti. Ia terlihat sangat bersemangat dengan tawaran putri tunggalnya itu.  “Ayo! Ayo kita pergi! Kebetulan Papi ada keperluan di Pasar Berlian, ada barang baru yang harus Papi beli untuk keperluan proyek di tambang batu bara. Hehehe.”

“Ehhhh!? PAPI JANGAN PIKIRIN KERJA MULU?!”

Fin

“Collaboration With Wulan Martina (Again 😛 We Love Comedy!)”

[Kolaborasi] Pangeran Cinta

“KAMPRET!!”

Sulis berseru pada Teguh, ketika cowok berambut bergundi itu menyambar dengan kasar buku tulisnya.

“Apa-apaan si lo?!”

Teguh hanya cengar-cengir dan teetap menyembunyikan buku tulis Sulis di balik punggungnya. Sulis mencoba meraih sebisanya. Tapi Teguh justru membawa buku itu, berlari ke seluruh penjuru kelas.  Spontan teman-teman sekelasnya bersorak-sorai. Pipi Sulis memerah. Ia malu, kesal, dan entahlah

“Oh, pangeran! Kapankah enggkau datang? Menghampiriku dengan cinta yang menggebu-gebu!” Teguh membacakan tulisan yang tertera di buku tulis Sulis keras-keras. Sorak-sorai di kelas semakin menjadi-jadi, bahkan sampai ada yang tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk-nunjuk Sulis.

Wajah Sulis lama-kelamaan berubah menjadi merah, tak kuasa menahan malu yang ia tanggung akibat berbuatan Teguh yang menurutnya telah di ambang batas. Tapi karena ia tak bisa berbuat apa-apa, rasa kesal serta malu, juga rasa-rasa yang lainnya pun menjadi satu dan membuat kantong air matanya pecah.

“Lo TEGA!”

Sulis menangis. Ia berlari keluar kelas. Ia bersembunyi di kamar mandi. Sulis sesenggukan. Mirna, sahabatnya, mengejar Sulis, dan berusaha menenangkannya.

Teguh terdiam diantara riuh teman-teman sekelasnya. Ia sebenarnya bingung harus berbuat apa. “Kejar Guh.. kejar…” sorak beberapa teman kepadanya.

Teguh membuka lagi tulisan Sulis, kemudian cepat menutupnya kembali. Ia berlari mengejar kemana Sulis pergi. Langkahnya pun terhenti, tak mungkin ia masuk ke kamar mandi putri. “Ahh”, desahnya sambil menggaruk kepalanya.

“SULIS!!”
Teguh berseru nyaring, tak tahu apa yang harus ia lakukan lagi. Beberapa orang yang lewat menatapnya heran, namun rasa bersalah membuat rasa malunya mengkerut seketika.

“SULIS!! MAAFIN GUE!”  Lagi-lagi Teguh berseru, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya

Di dalam Sulis dan Mirna mendengar jelas teriakan Teguh. Mirna mencoba membujuk sahabatnya untuk keluar dan menemui Teguh.

Sulis berjalan pelan, di depan pintu kamar mandi, Sulis melihat Teguh sudah basah dengan keringatnya sendiri. Seperti habis mengikuti lomba lari. Seketika matanya berbinar mendapati Sulis ada di depannya. “Maafin gue ya.. gue nggak punya niat nyakitin lo.. Ini buku lo”, katanya pada Sulis.

“Gue suka aja dengan tulisan-tulisan yang ada di setiap halaman belakang buku kamu. Dan, ini buat lo…” lanjut Teguh sambil menyerahkan selembar kertas dari saku seragamnya.

Wahai bidadariku, aku akan datang menjemputmu. Mengajakmu menari di angkasa, melukis bahagia. Maukah kau menjadi milikku?

Sulis menganga melihat tulisan di selembar kertas yang diberikan Teguh padanya. Ada kupu-kupu yang menari dalam perutnya. Ia tak bisa menahan derap jantung yang kian cepat.

Wajahnya semburat memmerah. Ini Rona malu karena cinta. Terjawab sudah segala tanya dalam puisi-puisinya. Ya, pangerannya telah hadir dihadapannya.

Fin

“Collaboration With Wulan Martina”

[Puisi] Fana

Dia menyenandungkan gema hujan di batas senja

Memeluk bulan dalam kesendirian abadi

Kenangan tumbang di keheningan nuansa mendung

Sementara di semenanjung lautan, mimpi kesatria musnah

Angan suci sirna

Suara keberhasilan semu

Bayangan kebahagiaan binasa

Kasih sayang pun lenyap

Fana

Kini Dunia berusaha bersandiwara

Menuai bencana antara hidup dan mati

___________________________

A/N:

Aku tahu ini gaje sodara-sodaraaaa! *sembunyi di kolong meja* Salahkan Guru Bahasa Indonesia-ku yang tiba-tiba saja menyuruh setiap muridnya menulis 3 kata ke depan, kemudian dengan santainya berkata, “Silakan bikin puisi dari kata-kata tersebut!”

Omaigat! Itu kata-kata pada enggak nyambung semuaaaa!!

Akhirnya, dengan perjuangan yang berdarah-dara (ehem, lebay) akhirnya aku berhasil membuat puisi di atas. Semoga masih nyambung dan artinya dapat dipahami ya? *crossing fingers*