When The Love Fall

 (Listen: When The Love Fall – Yiruma in Magic Box)

Kau akan merasa bumi berhenti berputar dan hening menyergap. Langit teduh dan udara menekan paru-parumu. Suaramu bahkan tak dapat terdengar, hanya jantungmu yang membunyikan genderang sangkakalanya. Otakmu akan bersendat, macet. Hingga tak memungkinkan bagimu untuk menggerakan tubuhmu barang seinci pun.

Ya. Saat cinta datang, kau hanya akan menjadi seonggok daging tak berguna, hanya korban cinta yang jatuh atas emosimu.

***

Gabriella Angelica.

Ia gadis yang cantik. Rambutnya lurus berwarna hitam. Bermata sipit, karena di darahnya mengalir marga Liong dari Ayahnya. Kulitnya sangat putih, namun tidak pucat, membuat ia terlihat mencolok jika berdiri di tengah-tengah kerumunan orang. Tubuhnya lampai, berlemak di tempat yang tepat.

Yah, Gabriella memang gadis yang cantik; dari luar mau pun dalam. Memiliki banyak penggemar dan begitu terkenal di SMA-nya. Tak urung banyak pria ingin menjadikan Gabrella gadisnya, tapi hati Gabrella bukanlah lagi milik gadis itu sendiri…

… hatinya terbagi kepada seorang pria yang sudah ia kagumi sejak lama. Sejak pertama kali ia mengenal apa itu cinta.

Hatinya tidaklah utuh.

“Kau tak lelah memandanginya terus, Ella?”

Gabriella dikejutkan oleh sebuah suara rendah seorang pria; namun ia langsung dapat mengenalinya karena ia tahu, satu-satunya orang di dunia ini yang suka memanggilnya ‘Ella’ hanya orang itu.

Dengan cepat gadis itu menoleh ke arah samping tubuhnya dan senyum Gabriella langsung merekah ketika ia memang menemukan pria itu di sana. “Aku tak mungkin merasa lelah hanya karena memandangnya, Erik,” jawab Gabriella tenang, seraya kembali menatap lapangan bola sekolahnya dari jendela kelasnya yang berada di lantai dua. Kedua manik matanya mengekori seorang pria yang sedang bermain bola di sana. Tubuh liat pria itu terlihat bercahaya saat matahari memantulkan sinarnya atas tubuh yang bermandi keringat itu.

“Kau tak mencoba untuk mendekatinya?” suara pria bernama Erik itu terdengar lagi. “Sudah setahun kau menyukainya, tapi kau tak juga menyatakan perasaanmu, ” tambah pria itu lagi.

Gabriella hanya melirik kecil ke arah Erik dan kemudian kembali menatap lapangan bola di hadapannya, meski pikirannya tidaklah sefokus sebelumnya.

“Menyatakan perasaanku pada Allan tidaklah segampang kedengarannya, Erik.” Gabriella berusaha membela dirinya, mencari-cari alasan untuknya dapat mengelak dari pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu apa jawabannya. “Dia berbeda, dan hal itu membuatku hanya mampu  memendam perasaan ini.”

“Tapi jika kau hanya memendamnya tanpa kau mengutarakannya kau sama saja dengan menghancurkan hatimu sendiri secara berlahan-lahan.” Erik membalas cepat, membuat langkah Gabriella untuk mengelak menjadi mati.

Ya. Memang itu yang Gabriella rasakan sepanjang satu tahun terakhir ini. Perasaannya selalu teriris-iris setiap kali ia melihat Allan bersama gadis lain. Tertawa bersama gadis lain, berbicara, memandang, semuanya!

Berkali-kali Gabriella berusaha untuk bersikap lebih menunjukkan perasaannya kepada Allan. Tapi setiap kali ia berpapasan dengan pria  itu di koridor ataupun di tempat lainnya, gadis itu bahkan tak mampu bernapas ketika ia membayangkan menghirup udara yang sama dengan pria itu. Ah, cinta melumpuhkannya.

“Kau memang sahabatku sejak kecil Erik…” setelah terdiam cukup lama dan merenungi segalanya, Gabriella kembali bersuara, “…tapi meskipun begitu, kau tak akan cukup mengerti untuk memahami perasaanku saat ini. Kita sahabat, tapi kita tetap orang yang berbeda,” tambah Gabriella lagi dengan penekanan yang cukup jelas di suaranya.

“Aku tahu dengan pasti bagaimana perasaanmu, Ella.” Erik menjawab dengan mantap dan membuat Gabriella terkesiap, “Aku tahu bagaimana rasanya memendam perasaan sayang ketika kau berada sangat dekat dengan orang yang kau sayangi. Bagaimana berisiknya jantungmu dan darahmu yang mendesir hangat ketika kau berada di ruangan yang sama dengan orang itu. Bagaimana napasmu berhenti dalam seketika saat kau tahu ia menyadari keberadaanmu.” Erik berhenti, ia memandang Gabriella semakin dalam dan kemudian tersenyum tipis.

“Aku tahu semua yang kau rasakan Gabriella, karena aku juga merasakannya.”

Hening. Gabriella hanya bisa menatap pria bermata coklat di hadapannya itu dengan dada yang tiba-tiba saja bergemuruh nyaring.

***

“Kuhargai perasaanmu, dan aku berterima kasih karena hal itu. Tapi maafkan aku. Aku sudah memiliki kekasih dan aku sangat mencintainya.”

 

Gabriella mengingat kembali apa yang  baru saja ia dengar beberapa saat yang lalu. Itu mimpi buruk. Oh, tidak, jika itu mimpi ia masih bisa terbangun. Tapi itu tadi kenyataan. Kenyataan yang buruk. Sejak semula ia tahu kalau perasaannya pada Allan hanyalah sebuah kesia-siaan semata. Tapi Gabriella tidak tahu kalau Allan sudah memiliki kekasih.

Itu mungkin karena Allan yang begitu hebatnya menyembunyikan hubungannya dengan kekasihnya atau itu hanyalah alasan yang dibuat Allan untuk menolak Gabriella agar gadis itu tak begitu merasa sakit hati. Ah, Gabriella pun sudah tak peduli lagi, yang pasti sekarang hatinya telah hancur. Ia tak menyangka kalau Allan akan menolaknya. Meski ia tak membanggakan parasnya yang cantik tapi hal itu cukup menjadikannya sedikit berani untuk menyatakan perasaannya pada Allan. Tapi ternyata, pria itu menolaknya. Memang tidak secara mentah-mentah, tapi Gabriella tetap ditolak, bukan? Memangnya apa yang bisa lebih buruk dari itu?

“Kau baik-baik saja, Ella?”

Gabriella mengangkat wajahnya dan matanya langsung menemukan sosok Erik kini telah berdiri di hadapannya yang sedang duduk merenung di taman belakang sekolahnya. Entah apa yang membuat Gabriella merasa seperti ini, tapi ketika ia tahu kalau Erik mendatanginya. Ia merasa bahagia. Erik tak pernah meninggalkannya. Dari dulu hingga sekarang.

“Aku ditolak, Rik,” kata Gabriella lirih, dan Erik hanya tersenyum menenangkan seraya duduk di samping gadis itu.

“Aku bisa melihatnya di wajahmu,” kata Erik.

“Apa yang salah dariku, Rik?” Gabriella bertanya seperti orang yang putus asa, ia memang sudah berusaha menerima kenyataan ini tapi rasa sakit karena penolakan ini masih belum tertebus.

“Kau tak salah apa-apa Ella. Allan bukan pria yang pantas untukmu.” Suara Erik menenangkan hati Gabriella dan gadis itu selalu merasakan kehangatan pada dadanya setiap kali Erik begitu. “Allan tidak tahu kalau kau itu gadis paling cantik di sekolah ini. Allan tidak tahu meskipun kau gadis yang cantik sifatmu pemalu dan kurang percaya diri. Allan tidak tahu meskipun sikapmu begitu, kau selalu memikirkan orang lain. Allan tidak tahu kalau kau tak suka dipandangi saat berjalan-jalan di tempat keramaian. Dan Allan tidak tahu kalau kau itu mencintainya sepenuh hatimu.”

Gabriella mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Erik dengan pandangan tak percaya. Bagaimana Erik bisa tahu semua itu?

Seakan bisa membaca ekspresi wajah Gabriella yang bertanya-tanya, Erik hanya tersenyum dan menatap gadis itu ringan.

“Aku tahu semua itu karena aku mencintaimu.”

Deg.

Seketika itu juga Gabriella merasakan bumi berhenti berputar dan hening menyergap pendengarannya. Langit terasa teduh dan udara menekan paru-parunya kuat. Suaranya tak dapat keluar, hanya suara jantungnya yang sibuk membunyikan genderang sangkakalanya. Otaknya juga terasa tersendat, macet. Hingga tak memungkinkan baginya untuk menggerakan tubuhnya barang seincipun

Yah, saat cinta jatuh atas emosimu. Kau hanya akan menjadi seonggok daging yang tak berguna.

Fin.

________________________________

A/N:

Ini tulisanku setahun yang lalu, hahaha,  baru ingat kalau Aku pernah membuat tulisan berdasarkan instrumental-nya Yiruma. Tulisan ini gak banyak kuedit sih, tapi semoga masih bisa terima. Hehehe. Mohon komentarmya!

7 pemikiran pada “When The Love Fall

  1. zolakharisa

    Halo Kak Dicta, aku dateng lagi nih, hehe. Jangan bosen ya kak, aku mampir emang sengaja–butuh penyegaran awalnya–dan keinget sama blognya kakak, berharap ada postingan baru, lalu… tada!
    Di paragraf awal jujur aku bacanya diulang-ulang lho kak, soalnya aku sekalian mikir gimana rasanya… gimana… dan pada akhirnya menemukan satu-dua titik temu, tapi gak mau dipikirin lebih lanjut *kamu masih kecil* hehe. Seperti biasa tulisan kakak selalu rapi dan bagus, bacanya nggak pernah bosen malah mikir terus; kenapa harus ada kata end?^^. Oh, ya di sini juga aku nemuin dua kata yang masih aku bingung kak; karna dan perduli. Kalo karna itu gak pake ‘e’ ya kak? Lalu perduli juga pake ‘r’ ya kak? Soalnya aku pernah baca cerita orang lain ada yang pake ‘e’ dan ‘r’, ada juga yang nggak. Hihi maklumin ya kak kosakata bahasa indo-nya masih sedikit 😀

    1. Halo, Zolaaaa! *cupika-cupiki* Selamat datang ya, terima kasih sudah mau mampir lagi di blog saya ^^
      Menjawab pertanyaan kamu. Hihihi, yang bener itu peduli dan karena

      Terima kasih banyak ya udah dibenerin, kemaren ngeditnya enggak perkata cuman baca scaning dan ganti kalimat yang ambigu. Jadi enggak keliatan kata-katanya. kwkwkwkw. Maklum, setahun yang lalu saya masih menjadi penulis golongan anak-anak alay. Hahaha. Lain kali saya akan lebih hati-hati lagi.

  2. adanindra

    Soooo sweeeet!
    Lucky you, Gabriella! Kamu ga perlu lama-lama patah hati. Aku malah jadi ga yakin kalo penolakan Allan bikin kamu benar-benar patah hati ㅋㅋㅋ

    Kadang kita memang terlalu asyik memandang dia yang begitu jauh, sampai kita lupa kalau sebenarnya, di dekat kita, ada dia yang lain yang tidak pernah mengalihkan perhatiannya.

      1. Wkwkwkwkw, sudah saya benerin, apa betul begitu? Hahahaha. Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Meski ini tulisan lama, semoga masih berkenan ya! ^^ *melambai bareng Gabriella yang digandeng Erik*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s