Lost Together

Pasar terapung di kalimantan selatan

‘Cause you are not alone

I’m always there with you

And we’ll get lost together 

***

Sepertinya takdir benar-benar ingin kita bersama sampai-sampai berbuat sejauh ini untuk menyatakannya.

“Apa kabar?” itu pertanyaan yang pertama kali kamu kemukakan saat tanpa sengaja kita bersisian di barisan turis-turis yang ingin menaiki kapal itu.

Untuk beberapa saat aku hanya terdiam, nyaris tak mengenalimu karena penerangan yang tak begitu memadai, tapi aku tahu itu kamu—aku hafal posturmu.

“Masih gini-gini aja,” jawabku dingin, tak berniat menyambung balasan.

“Masih jadi penulis freelance di blog sendiri? Kuliah kamu gimana?” tanyamu lagi, seakan tak menghiraukan jawabanku yang tak bersahabat.

“Itu urusanku,” sahutku ketus, kemudian menyambut tangan awak kapal wisata yang ingin membantuku naik.

“Kamu  lagi writer’s block ya?” kamu menyusul, lantas duduk di sebelahku sembari berhati-hati meletakan kamera SLR yang sedari tadi kamu genggam di dekat kakimu.

Aku diam saja, tak membenarkan jawabanmu meski kenyataannya memang begitu. Sudah nyaris sebulan blog-ku kosong, tak ada yang kutulis di sana. Rasanya agak stres melihat statistik blog yang kian hari kian menurun. Tulisanku memang belum pantas diterbitkan di mana pun selain di blog pribadi, jadi mendapati sepuluh visitor per hari itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri buatku.

“Aku sering baca blog kamu.”

Baca lebih lanjut

Mimpi Itu Seperti Apa?

Mimpi

Kupandangi buku tulis bahasa Indonesia-ku yang masih bersih dengan pandangan nanar. Dalam sekejap aku mulai mengutuki Bu Dwi yang tiba-tiba saja menugaskan anak didiknya mengarang tentang mimpi di hari pertama semester baru.

Ah, sial, tahu apa aku tentang mimpi?

Aku bukan Agnes Monica yang begitu gigih hingga berani menuliskan quote ‘DREAM, belive, and make it happen!’ di bio Twitter-nya. Aku juga bukan penganut kata-kata bijak ‘gantungkan mimpimu setinggi langit’, yang ditempel di dinding kelasku waktu SD dulu. Ditambah lagi, orangtuaku bahkan tak pernah bertanya tentang mimpi karena mereka merasa telah memberikan semua yang kubutuhkan hingga aku tak perlu lagi bermimpi.

Jadi, kalau aku tak punya mimpi, apa yang harus aku tulis?

Aku hanya gadis 16 tahun yang menjalani hidup tanpa perlu memikirkan hal-hal berat seperti perekonimian dan semacamnya. Sementara tetek bengek seperti pekerjaan dan masa depan sudah jelas dihibahkan oleh kedua orangtuaku.

Bahkan saat aku duduk di bangku SD dan ditanya oleh guru apa cita-citaku, aku pun menjawab tanpa ragu:

 

“Terserah mama-papa saja, Bu!

Dan guruku pun sontak terdiam, lantas beralih ke anak-anak lainnya tanpa berkomentar tentang jawabanku.

Tapi masalahnya, sekarang aku bukan anak SD lagi! Wajar saja jika aku menjawab seperti itu saat umurku masih 7 tahun. Kalau aku menjawab hal yang sama di umurku yang sekarang, bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan!

Kuacak-acak rambut ikal sebahuku yang tergerai bebas dengan frustasi. Bel istirahat siang telah berdering sejak lima menit yang lalu, tapi suara yang biasanya mampu membakar semangatku untuk melangkah ke kantin itu kini lebih terdengar seperti cicitan tikus di telingaku. Argh, semua karena tugas mengarang konyol ini!

“Kenapa lu, Lin?”

Baca lebih lanjut

[Award] Sunshine Award

KYA! This is The First time I got this kind of award and I never imagine that it will happen to me. I saw this award in every cool blog that I ever visit, and… and… now I got it too! What a wonderful present in my gloomy Christmas!

I must give my big thanks to my teacher, my coach, my friend, my brother and my inspiring person, Kak Teguh Puja (The owner of Petrichor Majesty); then my blogger friend, my spamming sister, my dorama freak friend, Adiez Onni (The Owner of Dandelion notes); and my another blogger friend, my duet friend lately, Kak Aam (The Owner of De Reizen); and for my little sister, My pyscho friend, Helmyshin1 (The Owner of Psycho Addict); then The last, for my beloved sister,  The Writer who always gives her reader Happiness, Kak Nandita (The Owner of Simple Happiness) for giving this award to me. I know I have to learn more about how-to-write-something-good-and-acceptable-to-read, but let me enjoy this award for a moment, yes? Hahaha.

Hope this award will make my writing better and  be the best!

Then, there are some rules that come with the award.

  • Include the award’s logo in a post or on your blog (done)
  • Thank the person who gave this award (done)
  • Answer the questions below (Here I go)
  • Pass on the award to 10 fabulous bloggers (okay)
  • Let them know you awarded them (got it!)

My question answers are:

  • Favorite Color : Purple and Blue
  • Favorite Animal : emmh, snake? I always imagine that I could take care one of baby python, but I know, I can’t. Hahaha.
  • Favorite Number : 7 (because my birtday date, hehehe)
  • Favorite Drink : Bitter Tea
  • Facebook or Twitter : Both. But, I prefer twitter I guess.
  • Your Passion : Make a book? No! Two Books? No! MANY BOOKS!
  • Giving or Getting Presents : Getting. For a moment let me be selfish, I’m tired to be the one who gives my everything #teenagers
  • Favorite Physical Activity: Writing? Hahaha.
  • Favorite Day of the Week : Sunday
  • Favorite Flower : Bougenville

The nominations for the Sunshine Award are for these amazing people who always inspiring me with their stories, they are.

Actually, there are still many blogs that I want to choose, but this award only lets me to choose 10 blogs. So, Here they are, I’m choosing these blogs not only because they have cool writing, but also because I know that this award could make them more rise and shine. Like The meaning of this award, Sunshine Award, I hope they can rise and shine and keep writing!

update: So far I got The same award from four different blogger, I don’t how to express my feeling right now. This is very wonderful! Lets shine and rise!

Update: I think Kak Nandita will be the last person who gives this kind of award to me. Hihihihi.

Hades and Persefone

Hades persefone

Kucingku bisa bicara.

“Apa? Kau kaget, huh?”

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tidak percaya. Kucing berbulu hitam pekat itu sedang duduk dengan tubuh tegak di atas kasurku, kedua kaki depannya tegak lurus sedangkan sisanya ia tekuk untuk duduk. Mata Kuning topaz-nya mengerling bosan padaku, seakan-akan telah terbiasa dengan ekspresi wajah terkejut seperti yang aku tunjukkan padanya sekarang ini.

“Kau Bruno ‘kan? Kucingku?” aku  mengernyitkan dahiku dalam-dalam, seraya beringsut menjauh; nyaris saja jatuh terinjak rokku sendiri.

“Nama yang jelek,” kata kucing itu sembari membuang muka ke arah jendela kamarku, lantas menguap dengan memperlihatkan gigi-gigi tajamnya yang mengkilap, “Mengapa manusia selalu buruk dalam memberikan nama hewan peliharaannya? Sangat tidak kreatif.”

Aku menahan napas. Dia memang kucing hitam itu! Kucing hitam yang kutemukan lemas di pinggir jalan waktu itu!

“Aku punya nama.” Kucing itu berdiri dengan keempat kakinya, mengibaskan ekor dengan anggun di udara dan melompat dari ujung kasur menuju meja riasku; kini ia hanya berjarak satu meter dariku. “Panggil aku Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] First Christmas Without Papa

Sad Christmas

Agustinus Yanto Prasetyo, 8 Januari 1963—30 November 2012

Aku pikir, aku nggak akan bikin tulisan ini panjang seperti corat-coretku sebelumnya tentang Papa dan Dunia Kepenulisan. Mengingat membaca posting-an itu saja aku sudah tak sanggup untuk membendung air mata dan kembali menyesali hal-hal bodoh di hidupku yang singkat bersama Papa.

Emmh, aku hanya ingin berbagi… kesedihan? Mungkin. Sebenarnya sudah lama aku ingin membuat tulisan seperti ini, sejak tujuh hari papa kemarin. Tapi aku terlalu sedih untuk memulai kalimat pertama dan takut aku malah tak menulis apa pun kecuali hanya menangisi Papa.

Maaf, jika posting-anku kali ini membuat kalian enggan untuk membaca. Terkesan kenak-kanakan juga mencari perhatian. Tapi aku selalu menulis ketika aku sudah tak punya tempat lagi untuk berbicara , orang-orang  di kehidupan nyataku hanya tahu betapa kuatnya aku untuk menghadapi para pelayat tanpa menangis. Juga mengisahkan sejarah penyakit papa dengan nada maklum. Mereka hanya tahu topengku.

Tanpa tahu betapa hancurnya hatiku menghadapi kenyataan ini.

Dan sebentar lagi Hari Natal, 25 Desember tinggal menghitung hari. Dan ini Hari Natal pertamaku tanpa Papa. Mama berencana  untuk merayakan Natal sekeluarga—aku, adikku, dan dirinya sendiri—di Banjarmasin saja. Mengingat papa sudah tiada dan kota Muara Teweh—Ibukota Kabupaten Barito Utara, tempat kedua orangtuaku tinggal—rasayanya terlalu besar hanya untuk kami bertiga. Entah, ini masih rencana, mungkin saja di tempat lain, tapi mama terlihat yakin kalau kami tak akan merayakan Natal di Muara Teweh.

Yah. Hatinya lebih hancur dariku. Mengingat yang meninggal adalah satu-satunya pria yang ia cintai di dunia ini.

Damn. Aku mulai menangis. Tapi aku masih bisa menyelesaikan tulisan ini. Tenang saja.

Jadi, harapanku, untuk Natal tahun 2012 ini. Semoga Papa juga bisa merayakan Natal bersama kami, aku tahu, meskipun tak terlihat ia masih berada di sekitarku. Ia masih suka mengecup keningku ketika malam dan mengungkapkan guyonan khasnya tentang ‘Putri Solo’. Ia masih menjagaku dan menghiburku ketika masalah datang. Ia masih memberikan kelapangan hatinya untuk mendengar semua kisahku. Ia masih berperan sebagai papaku.

Tentu. Aku pasti akan sangat rindu telepon tiba-tibanya ketika aku sedang les, aku pasti akan sangat rindu suaranya yang khas ketika memanggil namaku, aku pasti akan sangat rindu sentuhan tangan dan ciumannya di pipiku, aku pasti akan sangat rindu tawa khasnya yang memamerkan gigi-giginya yang tak lengkap, aku pasti akan sangat rindu Papa.

Tapi aku tahu. Aku bisa menjalani hidup ini dengan baik.  Karena papa ada.

Papa selalu ada di hatiku. Selamanya.