[Coretan Dicta] First Christmas Without Papa

Sad Christmas

Agustinus Yanto Prasetyo, 8 Januari 1963—30 November 2012

Aku pikir, aku nggak akan bikin tulisan ini panjang seperti corat-coretku sebelumnya tentang Papa dan Dunia Kepenulisan. Mengingat membaca posting-an itu saja aku sudah tak sanggup untuk membendung air mata dan kembali menyesali hal-hal bodoh di hidupku yang singkat bersama Papa.

Emmh, aku hanya ingin berbagi… kesedihan? Mungkin. Sebenarnya sudah lama aku ingin membuat tulisan seperti ini, sejak tujuh hari papa kemarin. Tapi aku terlalu sedih untuk memulai kalimat pertama dan takut aku malah tak menulis apa pun kecuali hanya menangisi Papa.

Maaf, jika posting-anku kali ini membuat kalian enggan untuk membaca. Terkesan kenak-kanakan juga mencari perhatian. Tapi aku selalu menulis ketika aku sudah tak punya tempat lagi untuk berbicara , orang-orang  di kehidupan nyataku hanya tahu betapa kuatnya aku untuk menghadapi para pelayat tanpa menangis. Juga mengisahkan sejarah penyakit papa dengan nada maklum. Mereka hanya tahu topengku.

Tanpa tahu betapa hancurnya hatiku menghadapi kenyataan ini.

Dan sebentar lagi Hari Natal, 25 Desember tinggal menghitung hari. Dan ini Hari Natal pertamaku tanpa Papa. Mama berencana  untuk merayakan Natal sekeluarga—aku, adikku, dan dirinya sendiri—di Banjarmasin saja. Mengingat papa sudah tiada dan kota Muara Teweh—Ibukota Kabupaten Barito Utara, tempat kedua orangtuaku tinggal—rasayanya terlalu besar hanya untuk kami bertiga. Entah, ini masih rencana, mungkin saja di tempat lain, tapi mama terlihat yakin kalau kami tak akan merayakan Natal di Muara Teweh.

Yah. Hatinya lebih hancur dariku. Mengingat yang meninggal adalah satu-satunya pria yang ia cintai di dunia ini.

Damn. Aku mulai menangis. Tapi aku masih bisa menyelesaikan tulisan ini. Tenang saja.

Jadi, harapanku, untuk Natal tahun 2012 ini. Semoga Papa juga bisa merayakan Natal bersama kami, aku tahu, meskipun tak terlihat ia masih berada di sekitarku. Ia masih suka mengecup keningku ketika malam dan mengungkapkan guyonan khasnya tentang ‘Putri Solo’. Ia masih menjagaku dan menghiburku ketika masalah datang. Ia masih memberikan kelapangan hatinya untuk mendengar semua kisahku. Ia masih berperan sebagai papaku.

Tentu. Aku pasti akan sangat rindu telepon tiba-tibanya ketika aku sedang les, aku pasti akan sangat rindu suaranya yang khas ketika memanggil namaku, aku pasti akan sangat rindu sentuhan tangan dan ciumannya di pipiku, aku pasti akan sangat rindu tawa khasnya yang memamerkan gigi-giginya yang tak lengkap, aku pasti akan sangat rindu Papa.

Tapi aku tahu. Aku bisa menjalani hidup ini dengan baik.  Karena papa ada.

Papa selalu ada di hatiku. Selamanya.

Iklan

24 thoughts on “[Coretan Dicta] First Christmas Without Papa

  1. Please accept my condolence.. it must be hard for you.
    tapi tenang, DictaAddict ada disini. semangat, uri-Dicta! He might rest in peace 🙂

  2. turut berdukacita, Dicta .. 😦
    mungkin ini berat untukmu, tapi kamu pasti kuat menjalani semuanya 🙂
    and, if he could read this post, your dad must be proud of you, knowing that his daughter love him so much 🙂

    1. Iya, Kak, terima kasih.
      Hehehe, saya tahu Papa baca ini. Hanya saja beliau tak terlihat dan tak bisa menunjukkan sosok secara nyata. I believe that. He’s still around me. But just watch me in the corner and smile while see me and what I do. #sedikitmenyeramkan Hahahaha.

  3. Meskipun baru sekali ini aku berkunjung, perkenankanlah aku juga ikut berbela sungkawa sedalam-dalamnya. Aku bisa merasakan hal yang sama dengan Dicta, karena tahun lalupun aku mengalaminya. Percayalah kalau sekarang Papa Dicta sudah berbahagia bersamaNya di surga.

    1. Selamat datang di blog saya Kak Chris! 😀 Semoga betah berlama-lama di sini meskipun langsung disuguhkan dengan tulisan gloomy seperti ini. Hehehe, silakan datang kembali ya kak!

      Iya, papa sudah berbahagia, papa udah enggak sakit lagi. 🙂 Terima kasih Kak.

  4. turut berduka cita ya Dicta. iya saya masih inget waktu kamu cerita tentang papamu yang ngeliatin waktu kamu lagi nulis2. saya yakin almarhum Papa masih akan terus mendoakan kamu.

  5. Kak Dicta pasti kuat! Keluarga kakak juga, semoga Tuhan memberkati beliau di sana. Seperti apa yang dikatakan Kak Dicta tadi, bahwa beliau selalu ada di hati kakak. Selamanya. Jadi, meskipun begitu, percaya dan berdoa bahwa Tuhan akan selalu ada untuk kakak juga papa kakak, serta keluarga yang lain. Sebelumnya, aku ikut berduka ya Kak. Pokoknya, semangat Kak Dicta! 🙂

  6. Hmm, sempat terpikir di benakku untuk mengeluarkan keluh kesahku tentang rasanya kehilangan ayah.

    Apa yang terjadi padamu, sepertinya terjadi pula pada diriku, atau mungkin terjadi pada orang lain.

    Rasa takut dalam mengungkapkan apa yang ku rasakan ke dalam sebuah tulisan itu terasa nyata.

    Seperti apa yang kau katakan di atas, takut curahan hati ini hanya di anggap cari perhatian orang lain.

    Pada dasarnya, aku pun merasakan apa yang kau tulis, kehangatan seorang ayah yang sekarang tinggal kenangan, hingga hidup di balik topeng yang seakan-akan tak mampu kau lepaskan, meskipun itu membuatmu terperangkap.

    Aku memang tidak pandai memberi kata-kata penyemangat, tapi satu yang ingin ku katakan, Kau harus bersyukur mempunyai kenangan hangat bersama ayahmu, tuhan mengambilnya bukan karena ingin membuatmu sedih, tapi tuhan mengambilnya karena ingin membuatmu merasakan makna ikhlas dan bersyukur.

    1. Like I said before, u make me speechless, oppa… :X
      Enggak pernah bosan baca komentar Kakak ini, bolak-balik bacanya tetap aja rasanya terharu sekaligus senang. There is ‘something’ in your words.

      Terima kasih atas jejak kata yang begitu ‘sesuatu’ ini, ya Kak! Wait for the another one. Hehehehe.

  7. be strong girl Kak!
    Rasanya ayah Kak akan sangat bangga anaknya begitu mencintainya seperti ini 🙂
    Ehm.. aku gak tau harus berkata apalagi kak
    Entahlah Kak,
    Aku gak punya kata-kata motivasi atau apapun,
    Aku tahu Kak kuat, topeng itu lama kelamaan akan menjadi sesuatu yang melindungi, Kak. Karena perlindungan itu, Kak menjadi hebat, menerima, dan… KUAT !
    Ikhlas ya Kak :’) Betapa senangnya ayah kakak jika mengetahui anaknya ‘bertambah kuat’ karena kepergiannya 🙂
    Tetep semangat ya kak!
    Maaf… kalau aku terkesan.. sok tau ya kak 😀

  8. kuat ya Dict ^____^ cumunguuut~ *mau ngehibur gagal*
    haduh, ntah saya speechless pas buka blog, ada kabar ini, turut berduka cita ya dict~
    *gatau mesti ngomong apa, aslinya -___-*

  9. aaa dikta aku sangat sedih, aku turut berduka yaa maaf aku br bisa ngucapn skrg. dan aku bisa merasakan apa yg kamu rasakan keep strong yaa , aku sampai terharu bacanya :’) smga ayah kamu ditempatkan disisi tuhan tempat yang menurut paling indaah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s