Cerita Pendek, Fantasi, Historical, Romance, Supernatural

Hades and Persefone

Hades persefone

Kucingku bisa bicara.

“Apa? Kau kaget, huh?”

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tidak percaya. Kucing berbulu hitam pekat itu sedang duduk dengan tubuh tegak di atas kasurku, kedua kaki depannya tegak lurus sedangkan sisanya ia tekuk untuk duduk. Mata Kuning topaz-nya mengerling bosan padaku, seakan-akan telah terbiasa dengan ekspresi wajah terkejut seperti yang aku tunjukkan padanya sekarang ini.

“Kau Bruno ‘kan? Kucingku?” aku  mengernyitkan dahiku dalam-dalam, seraya beringsut menjauh; nyaris saja jatuh terinjak rokku sendiri.

“Nama yang jelek,” kata kucing itu sembari membuang muka ke arah jendela kamarku, lantas menguap dengan memperlihatkan gigi-gigi tajamnya yang mengkilap, “Mengapa manusia selalu buruk dalam memberikan nama hewan peliharaannya? Sangat tidak kreatif.”

Aku menahan napas. Dia memang kucing hitam itu! Kucing hitam yang kutemukan lemas di pinggir jalan waktu itu!

“Aku punya nama.” Kucing itu berdiri dengan keempat kakinya, mengibaskan ekor dengan anggun di udara dan melompat dari ujung kasur menuju meja riasku; kini ia hanya berjarak satu meter dariku. “Panggil aku Hedes. Itu nama asliku.”

Aku menarik napas dalam-dalam dan menahannya di paru-paru. Sulit dipercaya, namun ini benar-benar nyata. Aku mendengar dan melihat sendiri bagaimana bibir kucing hitam itu bergerak dan berbicara dalam bahasa Italia—bahasaku. Oh, tolong tampar aku sekarang, pastikan kalau ini bukan mimpi.

“Aku tak bisa menamparmu, tapi aku bisa meyakinkanmu kalau ini bukan mimpi.”

Apa? Dia bisa membaca pikiranku?

“Tentu saja aku bisa,” kucing hitam itu  menggeliat, kemudian membasahi bibir dengan lidahnya, “Berbicara pun aku bisa, apalagi membaca pikiranmu.”

“Apa maumu?” aku melontarkan pertanyaan yang biasanya ditanyakan ketika bertemu dengan orang asing  yang mengajak bicara—dalam hal ini aku bertemu kucing yang bisa berbicara—dan mundur selangkah lagi untuk tetap menjaga jarak dengan makhluk ini.

“Tidak ada. Kupikir akan lebih nyaman jika aku menunjukkan kepada majikan pertamaku apa yang bisa aku lakukan,” kucing itu melompat ke lantai lalu menggosok-gosokan wajah berbulunya manja di rok panjangku. Aku ingin mundur untuk menjauh, tapi tak bisa karena secara ajaib tubuhku tak bisa bergerak sama sekali.

“Siapa namamu?” Hedes—okay, sedikit banyak aku mulai menyukai nama ini. Terasa unik di telingaku—mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan mata topaz yang mengkilat saat cahaya lampu kamarku membiaskannya.

“Persefone. Persefone Bianchi,” aku menjawab ragu. Namaku memang aneh, ibuku mengambil salah satu nama Dewi Yunani yang menurutnya bagus secara acak saat ia sedang membaca buku tentang Mitologi Yunani. Belakangan ini aku baru tahu kalau Dewi Persefone merupakan dewi kehidupan dan kematian. Saat aku bertanya mengapa ibuku memberiku nama asal-asalan seperti itu, ia hanya mengangkat bahu dan menjawab tidak tahu. Karena saat ibuku memilih nama itu, ia menyadari kalau aku yang berada di dalam kandungannya  bergejolak; seakan-akan senang akan pilihan itu.

Hedes, kucing hitam itu, tak berbicara lagi saat ia mengetahui namaku. Aku menduga-duga apa yang sedang ia pikirkan sekarang ini, tapi apa? Aku tak pernah tahu pikiran kucing.

“Akan sangat sulit untuk menjelaskan hal ini padamu, sayang…,” Hedes memutar tubuhnya dan berjalan menuju jendela kamarku yang terbuka lebar. Aku melihat Hedes melompat lalu duduk tegak di ambang jendela, pikiranku terlalu terfokus dengan pertanyaan bagaimana bisa kucing seperti dirinya mengobrol dengan pikiranku, sampai-sampai aku membiarkan Hades memanggilku ‘sayang’ seolah-olah aku adalah kekasihnya.

“Aku memang kekasihmu, Kore.”

Aku terperanjat.  Lagi-lagi ia mengobrol dengan pikiranku. Dan apa dia bilang tadi? Kore?

“Kita terikat. Turun temurun,” mata topaz Hades memandang bulan purnama yang bersinar sangat cemerlang malam ini. Dan  kemudian tersenyum sayu dan lembut. Aku bisa melihat ekspresi kelegaan di wajah kucing itu, “Pertemuan kita telah ditakdirkan, Kore.”

“Mengapa kau memanggilku Kore?” rasanya percuma dengan hanya memikirkannya, karena Hedes bisa membaca pikiranku.

“Karena itu juga namamu, sayang, selain itu di beberapa belahan dunia lain kau juga dipanggil Cora, ” jawab Hedes seraya menoleh padaku, dan mata topaz-nya menemukan mataku, “Apa kau tahu asal usul dirimu, sayang? Asal usul mengapa ibumu memilihkan nama itu padamu? Nama seorang dewi kehidupan dan kematian?”

Aku tak lagi terkejut bagaimana bisa Hedes tahu tentang nama peberian ibuku itu, karena aku memikirkannya beberapa saat yang lalu.

“Ah, tentu saja kau tidak tahu,” Hades kini meloncat lagi ke lantai dan berdiri gagah di atas keempat kakinya dengan jarak sekitar lima meter dari tempatku berdiri. Kami saling berhadapan dengan mata bertautan, dan tiba-tiba saja aku merasakan dunia ini runtuh dan hanya ada aku dan kucing hitam bernama Hedes itu yang tersisa.

“Persefone adalah seorang Dewi kehidupan dan kematian, Mitologi Yunani mengisahkan ia adalah anak dari Demeter dan Zeus sedangkan Mitologi Romawi memiliki kisahnya sendiri,” kudengar Hedes mulai bercerita, ia kembali duduk dengan tegak dan memandangku semakin lekat dengan sepasang topaz matanya.

 “Apa kau ingin mendengar kelanjutannya, sayang?”

Aku mengangguk. Rasa penasaran mempengaruhiku. Selama ini aku tidak begitu suka dengan mitologi dan sejenisnya. Jadi aku bahkan tidak begitu memahami siapa dewi yang namanya aku ambil sebagai namaku ini.

“Ia begitu cantik,” Hedes kembali bercerita dan aku mendengarkan. Debaran jantungku membuncah, suara Hedes yang rendah entah mengapa terdengar begitu seksi dan… menggetarkan birahiku, ”banyak dewa ingin mempersuntingnya, namun Demeter, ibunya, tak mengizinkan satu dewa pun menyentuh putri kesayangannya.”

Aku menahan napas. Kulihat asap mengepul keluar dari tubuh kucing itu, menyelubungi tubuh kecilnya hingga tak terlihat dengan mataku namun suaranya masih jelas terdengar.

“Namun suatu hari dewa dunia bawah menculiknya,” asap semakin mengepul, bahkan sampai menyentuh langit-langit kamarku. Namun anehnya, asap itu tak menyentuh tubuhku seinci pun, “dewa itu jatuh cinta pada Persefone.”

“Mengapa ia bisa jatuh cinta?” aku bertanya spontan, entah kekuatan apa yang memaksaku untuk melakukannya.

“Karena Persefone cantik,” jawab Hedes tenang, ”ia secantik dirimu, sayang. Dengan wajah oval dan dagu lancip yang terukir indah. Hidung mancung yang eksotis. Mata zamrud lembutnya. Senyum cerah yang mengalahkan sinar matahari. Tubuh yang berlekuk tapat dan menggoda. Dan ah, semua yang ada pada dirinya begitu indah.”

Aku menangkap sebuah sosok bayangan di balik asap tebal itu. Menduga-duga makhluk apa gerangan karena aku yakin itu bukan seekor kucing. Tubuhnya terlihat seperti… emh, manusia?

“Demeter sangat kehilangan putrinya,” Hedes melanjutkan kisahnya, dan aku berusaha untuk mengabaikan bayangan di balik asap itu untuk mendengarkan, “Kesedihannya menciptakan musim dingin di bumi dan tanaman tak dapat tumbuh; kekacauan di mana-mana dan umat manusia menderita. Zeus yang merupakan dewa langit dan sekaligus ayah dari Persefone, merasa harus turun tangan dengan meminta Persefone dari tangan dewa dunia bawah dan mengembalikannya kembali pada Demeter.

“Namun dewa dunia bawah tentu saja tak membiarkan dewi yang dicintainya itu pergi tanpa ada pengikat. Ia memberikan buah delima untuk dimakan Persefone, dan buah itu membuat Persefone, dewinya itu, selalu ingin kembali ke dunia bawah dan bersama-sama dengannya.”

Hawa di kamarku mulai terasa panas, tubuhku dibanjiri keringat yang entah mengapa membuatku ingin melepaskan pakaianku. Selain itu, suara Hedes semakin terdengar seksi membangkitkan gelora aneh di hatiku.

“Menghindari bencana, kesepakatan didapatkan. Persefone akan hidup di tempat yang berbeda secara bergiliran. Di dunia bawah dan di dunia atas. Setiap enam bulan sekali dalam setahun, dan karena itulah Persefone disebut sebagai dewi kehidupan dan kematian. Dia hidup di dua alam.”

Hedes sepertinya telah selesai bercerita, tapi ia lupa memberitahuku satu hal.

“Siapa nama dewa dunia bawah itu?”

Hedes tertawa. Terdengar kasar, namun entah mengapa aku sangat menyukai tawa itu.

“Seharusnya kau menyadarinya sejak awal, sayang. Ah, kau membuatku terluka.” Suara Hedes terdengar sedikit dibuat-buat, aku tahu ia hanya bercanda dengan kata ‘terluka’ itu.

“Maafkan aku Hedes, tapi aku benar-benar tidak mengerti,” ucapku membela diri. Dan hei, nama Hedes juga terdengar sangat mengairahkan ketika aku menyebutkannya di bibirku.

Bayangan di balik asap itu semakin terlihat jelas. Aku bisa mengenali bayangan itu sebagai sosok tubuh seorang pria. Pria yang sangat tegap dan gagah. Aku bahkan bisa meyakinkan hal itu hanya denga melihatnya saja.

“Aku sudah bilang kalau kau terikat padaku,” Hedes mengulur waktu dan aku mulai kesal, tapi aku tetap membiarkannya melakukan apa yang ingin dia lakukan, “pertemuan kita telah ditakdirkan, sayang. Dan ingatlah, sekarang awal musim dingin. Dan musim dingin adalah waktunya Persefone berada di dunia bawah, waktunya kau kembali bersama kekasihmu…”

“ yaitu aku, Hedes.”

Sosok pria dari balik asap itu muncul. Ia telanjang. Menampilkan keseluruhan tubuh indahnya di depan mataku. Aku terpana, tak sanggup berkata-kata atau bahkan mengembuskan napas barang sedetik.

Kulihat pria itu tersenyum padaku, mata topaz-nya mengingatkanku pada kucing hitam bernama Hedes tadi. Hingga akhirnya aku menyadari kalau pria itu adalah Hedes, ketika aku membiarkannya menyentuhku, menelanjangi tubuh dan hatiku, lalu mencumbuku dengan hasratnya yang menghentakkan gelora birahi nafsuku.

“Kita terikat, Persefone. Tubuh kita satu.”

Fin.

(Picture taken from: http://bwlight.deviantart.com/art/Hades-and-Persephone-The-Seduction-I-282367130)

A/N :

Wakakaka, another recycle from me! Ini cerita yang kubikin sekitar…. emmmh, 6-7 bulan yang lalu lah. Enggak kumasukin ke blog gara-gara terlalu aneh dan imajinatif menurutku. Aku memang suka baca mitologi-mitologi Yunani di Wikipedia, dan pernah bikin tulisan yang menyadur dari cerita dewa-dewa mereka. Tapi semua produk gagal dan menurutku sangat kurang riset, jadi tak pernah kutunjukkan pada kalayak umum. Cuman yang satu ini yang menurutku agak mendingan dan sudah kuedit sedemikian rupa agar bisa diterima. Hehehe. Semoga masih berkenan menjejak kata ^^

Iklan

26 thoughts on “Hades and Persefone”

  1. Ah Dikta, keluarkan saja semua tulisanmu, bisa jadi menurutmu aneh tapi tidak bagi sebagian orang. Dengan menuliskannya siapa tahu kau mendapatkan kritikan dan masukan.

    menurutku ini asyik, kebetulan aku juga suka baca cerita tentang mitos yunani dan suka juga dengan Film2 sejenisnya 😀
    dan menurutku ini keren. berhubung aku belum terlalu paham dengan anak dan keturunan zeus jadi aku belum pernah dengar Persefon, yang kutahu Pseidon..

    1. Kalau dikeluarkan semua, saya yang malu Kak, ketahuan jeleknya. Hahahaha. Tulisan saya yang dulu banyak yang elek-elek makanya saya malu. Jadi saya ingin berusaha keras menampilkan tulisan yang apik ke pembaca dari pada malah pembaca saya kurang sreg sama tulisan saya karena banyak salah ini-itu dan akhirnya mereka komentar. Bukannya saya gila pujian sih, saya senangnya mereka puas dengan tulisan yang saya kerjakan benar-benar tanpa menunggu mereka (para penikmat kata juga pembaca) mengoreksi saya :3

      Tapi yah ==” tetep aja, saya ini paling males kalau di suruh ngedit, pasti ada aja yang ketinggalan dan salah *korek-korek tanah*

      Wah! Asyik banget lho baca mitologi, hahahaha. Yah, sebenarnya dari yang kubaca persefone memang anak Zeus dan Dementer. Anak Zeus kan banyak kak. Herkules, Aprodate, Apollo, dll. Dia punya satu istri, Hera. Tapi selingkuhannya se-a-brek! Dari dewi sampai manusia. Eh, saya juga baru tahu ada anak Zeus namanya Pseidon, yang saya tahu Poseidon sih, tapi dia bukan anaknya Zeus, tapi saudaranya. Errr, setahu saya sih, saya udah lupa2 gitu juga. Hahaha.

      Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya ya kak..^^

  2. Tulisanmu selalu keren,, mskpun aku ga begitu ngerti mitologi yunani dan sejenisnya,, tp tulisan ini ga bikin ngantuk,, hehehe…. Terus berkarya yaaa 🙂

  3. Tertarik dengan kalimat pertama “Kucingku bisa bicara” Oke kak, saya terhipnotis dan lanjut membaca sampai akhir. Dan.. wow! Seperti biasa, apik. Kak hebat buat suatu alur yang ‘unik’ dengan kata-kata yang nggak terlalu rumit.
    Aku kurang tahu mitologi yunani atau romawi, tapi di sini aku nggak dibikin bingung juga. Suka deh.. keren 😀
    Mungkin kalo dijadikan sebuah novel keren kali kak, kkk~
    Terus berkarya ya, SEMANGAT!

    /nyasar lagi/

    1. Sungguh? Serius? Demi apa? *pake bahasa Indonesia nih!* Saya juga suka kalimat pertamanya, waktu itu saya lagi latihan sendiri bagaimana mengundang pembaca melalui kalimat pertama dalam sebuah cerita, dan ternyata berhasil (untuk kamu, kwkwkw. Saya sudah senang sekali ini) ^^ terima kasih banyak ya!

      Novel? –” enggak deh, yang begini dijadikan novel bakal riskan banget. Mengingat harus reseeeet. Hahaha.Saya kadang males kalau disuruh reset #plak.

      Terima kasih, telah membaca ya! ^^ Mari berkunjung kembali.

      1. Hahaha saya sedang mencoba berkata kata baku(?) membiasakan juga kkk~
        Aaah.. pasti banyak orang yang tertarik juga kak, kalimat pertama yang bikin ‘penasaran’. Dari pic-nya, manusia. Tapi kenapa kucing bisa bicara? Apa kucing titisan manusia atau manusia yang titisan si kucing kkk~~ /itu yang saya pikirkan sebelumnya/

        kkk~ tapi jangan menyerah sebelum mencoba! 😀

      2. Hahaha, santai aja sih, kata baku memang sangat perlu diperhatikan, tapi terlalu baku dan kaku pun kurang menguntungkan juga. Kayak kata ‘loe-gue’ atau ‘lo-gue’ sebenarnya bakunya adalah ‘lu-gue’, tapi banyak penulis yang lebih senang pake ‘lo-gue’ ketimbang pake ‘lu-gue. Terus untuk kata nggak dan gak, yang baku adalah enggak, tapi banyak novel-novel remaja yang pake nggak dan gak. Jadi santai aja, asal masih bisa di terima masyarakat, penggunaan kata tidak baku pun diperbolehkan ^^

        Hehehe, senangnya^^bantu promote dong *kedip-kedip* *maunya #plak*
        Sip, suatu hari nanti saya pasti bikin novel, tapi mungkin setelah saya lulus SMA ^^

      3. Nah 😀 terimakasih kak masukannya, sangat membantu diri yang sedang dirundung kelabilan bertata bahasa ini(?) hehehe….
        kkk~ akan saya coba semampunya(?) /apaini/
        semangat ya kak!! 😀

    1. Wah, judulnya aneh ya, hahaha. Jadi tertarik buat ngebaca. Emmh, saya sedang menulis sih kak, cuman belum selesai. Sabar ya kak, nanti pasti saya posting di blog ^^

      Terima kasih atas kunjungannya ya Kak Chris, semoga enggak bosan dan bisa datang kembali! ^^

      1. Judulnya gak aneh koq. Kebetulan aku juga suka dengan mitologi, jadi kedua nama itu tidak asing bagi aku, dan aku tahu kisah cinta mereka. Justru itu yang mendorong aku untuk mulai membaca :).
        Ok, aku tunggu tulisan-tulisan Dicta berikutnya.

      2. Wah, begitu toh? Mitologi Yunani memang agak vulgar, tapi entah mengapa saya suka hubungan Hades dan Persefone. Dan saya pun lebih suka Hades ketimbang Zeus. Karena Zeus terlalu banyak… er… pasangan? Hahahaha.

        Sip kak! 😀 Terima kasih telah mengunjungi blog saya ^^

    1. Wah, saya juga ngebayanginya dalam bentuk komik. Kayaknya asyik gitu kalau misalnya Hedes itu rambutnya panjang dan mukanya agak hentai #dikeplak

      Terima kasih sudah bersedia mampir di blog saya ya Kak, semoga betah dan sering-sering datang kembali kemari ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s