Diposkan pada Cerita Pendek, Romance

Mimpi Itu Seperti Apa?

Mimpi

Kupandangi buku tulis bahasa Indonesia-ku yang masih bersih dengan pandangan nanar. Dalam sekejap aku mulai mengutuki Bu Dwi yang tiba-tiba saja menugaskan anak didiknya mengarang tentang mimpi di hari pertama semester baru.

Ah, sial, tahu apa aku tentang mimpi?

Aku bukan Agnes Monica yang begitu gigih hingga berani menuliskan quote ‘DREAM, belive, and make it happen!’ di bio Twitter-nya. Aku juga bukan penganut kata-kata bijak ‘gantungkan mimpimu setinggi langit’, yang ditempel di dinding kelasku waktu SD dulu. Ditambah lagi, orangtuaku bahkan tak pernah bertanya tentang mimpi karena mereka merasa telah memberikan semua yang kubutuhkan hingga aku tak perlu lagi bermimpi.

Jadi, kalau aku tak punya mimpi, apa yang harus aku tulis?

Aku hanya gadis 16 tahun yang menjalani hidup tanpa perlu memikirkan hal-hal berat seperti perekonimian dan semacamnya. Sementara tetek bengek seperti pekerjaan dan masa depan sudah jelas dihibahkan oleh kedua orangtuaku.

Bahkan saat aku duduk di bangku SD dan ditanya oleh guru apa cita-citaku, aku pun menjawab tanpa ragu:

 

“Terserah mama-papa saja, Bu!

Dan guruku pun sontak terdiam, lantas beralih ke anak-anak lainnya tanpa berkomentar tentang jawabanku.

Tapi masalahnya, sekarang aku bukan anak SD lagi! Wajar saja jika aku menjawab seperti itu saat umurku masih 7 tahun. Kalau aku menjawab hal yang sama di umurku yang sekarang, bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan!

Kuacak-acak rambut ikal sebahuku yang tergerai bebas dengan frustasi. Bel istirahat siang telah berdering sejak lima menit yang lalu, tapi suara yang biasanya mampu membakar semangatku untuk melangkah ke kantin itu kini lebih terdengar seperti cicitan tikus di telingaku. Argh, semua karena tugas mengarang konyol ini!

“Kenapa lu, Lin?”

Kuangkat wajahku dengan cepat ke arah suara itu berasal dan menemukan seorang cowok sedang melangkah mendekatiku sambil membawa sebungkus kripik kentang. Ukh, ternyata Wira, si begundal tengik—cowok langganan ruang BK yang saban minggu berurusan dengan membolos dan tindik di telinga.

 “Tugas bahasa Indonesia,” jawabku singkat sembari mendorong buku tulisku menjauh. Sebenarnya aku tak punya masalah apa pun dengan Wira, kami hanya jarang bicara satu sama lain sehingga tak begitu nyaman berada di ruangan yang sama. Dan seingatku, kali pertama dan terakhir kami bicara saat menjadi kolega tugas persentasi dinamika partikel di semester lalu.

“Ah, tugas seminggu lagi. Ngapain lu pikirin sekarang?”

Aneh. Ada angin apa Wira mengajakku bicara?

“Memangnya gue ini lu yang menganggap PR sama enggak bergunanya dengan sampah, hah?” sahutku tanpa bermaksud untuk ketus. Mungkin suasana hati yang lagi moody membuat kata-kata yang keluar dari mulutku terkesan tak bersahabat.

Wira diam saja, satu tangannya yang bebas mengambil buku tulisku dan melihat isinya. “Jadi lu dari tadi kayak orang stres cuman ngeliatin kertas kosong begini?” Aku diam saja, merasa tak perlu menjawab pertanyaan itu, hingga tiba-tiba saja Wira menambahkan pertanyaan lain.

“Memang lu enggak punya mimpi?”

Deg.

Kali ini aku terdiam bukan karena merasa tak perlu menjawab, tapi benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan.

“Ckckck, lu bosan hidup, ya?”

Aku memandang Wira kaget; tidak mengerti dengan korelasi antara mimpi dan bosan hidup.

“Maksud lu?”

Wira mendengung; terlihat berpikir untuk berkata-kata. Hingga akhirnya ia membuka suara dengan sesuatu yang tak pernah kupikirkan akan keluar dari mulut seorang begundal seperti dirinya.

“Hidup lu bakal mati tanpa mimpi, Orlin Cakradikara.”

Aku mengerjap. Memandang lekat-lekat Wira yang baru saja memanggilku dengan nama lengkap—menegaskan perkataanya untukku. Tapi pada akhirnya, ego yang menolak memahami pernyataan cowok itu, memaksaku membalas dengan nada sinis.

Well, meski enggak punya mimpi, buktinya gue masih hidup sampai sekarang ‘kan?” Kusandarkan tubuhku di sandaran kursi, melipat kedua tanganku di depan dada, serta menatap Wira yang berdiri tepat di depanku dengan tajam.

In fact, hidup gue baik-baik saja meski tanpa mimpi,” imbuhku dengan nada angkuh yang kentara.

Wira kembali terdiam, entah apa yang tengah cowok itu pikirkan tentang perkataanku barusan; aku tidak tahu.

“Sekarang gue baru tahu kenapa hidup lu kelihatan flat banget.”

Wira membuka bungkus kripik ketangnya dan sambil makan ia pun menambahkan, “Gue sering perhatiin lu di sekolah, Lin.” Tiba-tiba cowok begundal itu menawarkan kripik kentangnya padaku dan aku langsung menggeleng pelan sembari memintanya melanjutkan apa yang ingin ia katakan dengan ekspresi wajahku.

“Lu itu tajir, cantik, supel dan lain-lain. Tapi gue heran sama lu…” Wira memandangku lekat, “Lu itu kayak orang enggak semangat hidup. Lu datang ke sekolah, belajar, ngobrol ngalor ngidul, terus setelah bel, lu langsung pulang. Begitu-begitu saja setiap hari. Sampai-sampai gue kadang bingung; lu itu enggak bosen, ya?

“Lu enggak punya obsesi atau apa pun yang ingin lu capai, begitu?”

Wira benar-benar membuatku terperanjat dengan perkataannya barusan. Entah mengapa, semua ketidaktahuan akan mimpi yang sebelumnya membuatku bingung tiba-tiba saja terasa jelas dalam seketika.

“Dan baru sekarang gue tahu jawabannya…” Wira memasukan beberapa keping kripik kentang ke mulut dan menelannya sebelum melanjutkan perkataannya lagi. “Ternyata lu memang enggak punya obsesi atau hal yang ingin lu capai. Bahkan mimpi pun enggak ada. Keadaan lu lebih parah dari yang gue duga. Bener-bener parah.”

Wira tak berbicara lagi, sepertinya ia telah menyudahi pengakuan implisitnya tentang memata-mataiku selama ini. Dan karena ia diam, aku pun terdiam—aku terlalu terpaku dengan perkataannya hingga tak memiliki pikiran untuk marah padanya.

Keheningan pun menyelimuti kami, hanya ada suara senda gurau di luar kelas dan kripik kentang yang dikunyah Wira. Hingga akhirnya, aku membuka suara dengan pertanyaan:

“Lu tahu apa tentang mimpi?”

Wira menatapku lekat untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab, “Mimpi ya mimpi. Memangnya apa lagi?” Sadar kalau aku tak mungkin puas hanya dengan jawaban itu, maka ia pun menambahkan, “Gue bukan pakar mimpi, jadi gue enggak mungkin bisa menjabarkan mimpi karena gue enggak tahu. Tapi gue tahu satu hal, Lin…” Wira menatapku lurus-lurus dan menarik bibirnya ke atas. “Gue punya mimpi.”

Aku tertegun sejenak, lantas bertanya, “Apa mimpi lu?”

 “Gue ingin diingat sama semua orang,” jawab Wira cepat; terlihat sangat bersemangat, “Dan untuk diingat sama semua orang, gue harus terlihat berbeda, ‘kan? Tapi sayangnya, gue ini enggak jago soal pelajaran, gue juga enggak punya kemampuan ekstra. Jadi gue pikir, kalau gue enggak bisa diingat sebagai orang yang terbaik dalam hal-hal itu, kenapa gue enggak coba hal sebaliknya?” Wira terkekeh sebentar; memandangku jenaka. “Dan ternyata terkenal sebagai si Pembuat Onar itu asyik juga. Hahahaha.”

Aku memandang Wira tanpa ekspresi. Cowok ini bodoh, ya? Itu alasan yang konyol banget!

“Memangnya lu mau jadi troublemaker selamanya?” tanyaku dengan nada menantang, kurasa ia tak mungkin punya mimpi yang lebih baik dari itu.

“Ya enggak lah.” Wira menggeleng. “Gue enggak mungkin selamanya jadi anak SMA. Gue pasti lulus dan menghadapi kondisi hidup yang baru. Dan dengan begitu, mimpi gue pasti dengan sendirinya berubah,” kata Wira sambil tersenyum, sementara aku terkesiap dengan jawabannya.

“Mimpi itu fleksibel, Orlin. Kalau lu masih takut bermimpi tentang hal-hal besar, kenapa lu enggak mulai dari yang kecil saja?”

 

Teeeet… Teeeet… Teeeet…

Bersamaan dengan berakhirnya perkataan Wira, bel tanda istirahat telah selesai berbunyi. Teman-teman sekelasku yang lain mulai bermunculan dan Wira pun kembali ke bangkunya yang berada di sudut belakang; meninggalkanku yang masih terpaku dengan perkataannya.

Bermimpi dari yang kecil, huh? Aku merenung, memikirkan semua hal yang telah Wira bagi tentang mimpi padaku.

Well, yah, Wira ada benarnya juga. Bagiku yang tak pernah memiliki mimpi. Bermimpi tentang hal-hal berat seperti menguasai dunia itu sepertinya mustahil. Jadi…

Aku tersenyum; memandang buku tulis bahasa Indonesia-ku dengan perasaan jauh lebih baik. Bagaimana jika aku mulai bermimpi tentang hal yang paling senderhana?

Bermimpi untuk lebih mencintai mimpi.

Fin.

__________________________________

A/N:

Sebenarnya cerpen ini sempat menyabet juara 3 sebuah perlombaan menulis yang diadakan bulan September kemaren. Lomba tersebut merupakan lomba pembukaan sebuah komunitas menulis, dan aku sangaaaat senang dengan hal itu. Akan tetapi, aku agak kecewa dengan kinerja admin yang cenderung (dan terkesan) menelantarkan para pemenang lomba yang terdiri dari juara 1 – 3 dan 10 naskah terpilih. Pemenang pertama, kedua, dan ketiga mendapatkan hadiah pulsa dan kupon menerbitkan naskah di penerbit tersebut dan pulsa yang memiliki jumlah dan nominal yang berbeda.

Capture22_38_47

Sebagai juara tiga aku mendapatkan hadiah pulsa 25.000 dan satu kupon terbit, kemudian aku pun akan dicantumkan sebagai nama kontributor naskah di komunitas tersebut. Pulsa telah aku terima dengan selamat di handphone (namun segera habis karena keserap paketan BB #sial). Nah, masalahnya adalah, tanggal launcing komunitas tersebut selalu diundur dan membuat beberapa kontributor gelisah. Aku sempat protes sekali, dan itu pun dengan perasaan enggak enak karena aku ngerasa masih kecil dan junior dan enggak pantas untuk protes.

Akhirnya admin tersebut pun berjanji sesegera mungkin me-launcing-kan komunitasnya. Dan komunitas itu pun laucning. Aku sudah senang banget kalau seandainya namaku dicantumkan sebagai nama kontributor tersebut. Beliau menerbitkannya secara bertahap tulisan juara pertama, kemudian dua minggu kemudian, juara kedua. Aku pikir dua minggu kemudian tulisanku bakalan diterbitkan. Tapi… setelah satu bulan, dan sekarang tahun pun sudah nyaris berganti, tulisanku belum diterbitkan juga.

Tentu, aku sangat kecewa, tapi aku bukan tipe orang yang suka berkoar-koar dan protes di grup, karena aku sendiri sadar kalau aku masih muda dan masih perlu banyak belajar. Jadi kudiamkan saja dan lebih memilih untuk menerbitkan sendiri cerpen ini di blog. Yah, mungkin tulisanku masih belum pantas diterbitkan di komunitas mereka. Hehehe, meskipun begitu,  aku tetap berterima kasih karena ini pun merupakan sebuah penghargaan untukku.

Kemudian untuk kalian yang tengah menyimak tulisan ini. Terima kasih telah membaca tulisan ini, apresiasi kalian terhadap tulisanku ternyata lebih berharga dari hadiah apa pun. Semoga tulisanku dapat membuat kalian terhibur dan menyukainya!

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

6 tanggapan untuk “Mimpi Itu Seperti Apa?

    1. Makasih kak, telah kembali berkunjung ke blog saya. ^^ Iya, yang penting bisa nerbitin sendiri di blog ^^. Enggak usah muluk2. Hehehe.

      Terima kasih telah membaca dan menjejak kata ya Kak, silakan datang kembali! ^^

  1. hi benedicta…
    nice to know you with your wonderful world.
    i’m blogwalker here…
    sebenernya aku cuma mau kenalan sama si empunya blog, tapi nggak tau musti ninggalin jejak dimana. disini tak ada page seperti itu #tsahhh…..
    aku suka tulisan yang diatas, kayaknya “genremu” realita gitu ya

    1. Halo, kak Ayya! Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir ke lapak saya yang senderhana ini *sembunyiin barang-barang kotor dibawah kasur*
      Hehehe, biasanya teman-teman saya kenalan di postingan yang saya yang judulnya “Halo, Penikmat Kata!” Hehehe. Tapi mungkin saya bikin nanti, mengingat memang agak membingungkan kalau enggak ada pagenya.

      Emmmh, saya sendiri sebenarnya bingung genre saya apa. Tapi memang kebanyakan tulisan saya yang modelnya yang kayak gini. Hahahaha. Saya susah bikin yang temanya fantasi dan sebagainya. Tulisan yang kayak gitu bisa dihitung pake jari deh. Hahaha.

      Sekali lagi terima kasih sudah mampir ke blog saya, semoga suka dan bersedia datang kembali! ^^

    1. Iya, Kak, saya juga mikirnya gitu. Enggak papa enggak diterbitin sama komunitas mereka, yang penting penikmat kata yang sering mampir ke blog saya bisa lebih bisa mengapresiasi. 😀

      Terima kasih ya Kak sudah bersedia mampir ke tempat saya lagi. Silakan datang kembali!:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s