[Pos Cinta #6] Bonjour, Monsieur Lupin!

Arsene-Lupin

Bonjour, Monsieur Arsène Lupin!

Ini! Ada surat tantangan dariku! Jika kau ingin barang milikmu kembali! Datanglah ke alamat yang telah kita janjikan sebelumnya dan buktikan padaku, jika kau bukan hanya seorang pencuri ulung; tapi juga pecinta yang beruntung.

Kusayangkan semua teman wanita dan mendiang istri-istrimu, mereka sebenarnya tak pantas mendapatkan nasib buruk hanya karena begitu mencintai pria berbahaya sepertimu. Tapi kau selalu datang, dan menunjukkan pesona kepicikanmu yang mampu meluluhkan hati-hati mereka—menjanjikan perlindungan dan cinta yang besar.

Oh, masih ingatkah dirimu pada wanita pirang itu[1]? Yang senantiasa memberikan jiwa raganya padamu demi mendapatkan perlindungan dari tindakannya membunuh karena membela diri. Oh, Clotilde yang malang, pada akhirnya ia tertangkap dan kau berhasil kabur dari inspektur Ganimard dan kawanannya yang ceroboh karena terlalu pongah mengira telah mengikat seluruh tubuhmu.

Ada lagi, Sonia Kirchnoff dan penggantinya, Raymonde[2]. Kedua wanita tolol itu rela mengikat janji pernikahan denganmu, namun, pada akhirnya mereka tewas hanya karena cinta yang diberikan seutuhnya padamu. Baiklah, aku tak menyalahkanmu yang ditodong pelatuk oleh rival abadimu Holmlock Shere (dan pria kalap itu menembakannya padamu) aku hanya menyayangkan tindakan Raymonde yang tanpa ragu meloncat di depanmu sembari menyerahkan diri pada kematian. Isidore Beautrelet—detektif muda yang nyaris mengalahkanmu—pun sampai tergugu, syok dengan kejadian yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Emmh, lalu siapa lagi? Ah, Madame Mergy[3]? Terberkatilah wanita itu! Untunglah kekerasan hati mampu melindungi dirinya dari rayuan serta kata-kata cintamu. Memang, kaulah penyelamat kedua buah hatinya—Gilbert, sekertaris kesayanganmu dan Jacques kecil yang malang—tapi rasa terima kasih tak serta merta dihibahkan dengan cara menyerahkan cinta. Dua perasaan itu berbeda, Gubernur, berbeda!

Dan masih banyak lagi, wanita-wanita bernasib malang di hidupmu yang penuh petualangan. Wanita-wanita itu punya kisah tersendiri bagimu dan menjadi bagian dari petualanganmu. Namun sayangnya, mereka bukanlah akhir dari petualanganmu yang hebat.

Maka, terimalah tantanganku! Sederhana saja, kau datang dan kita saling mengenal. Aku mungkin bukan wanita yang menantang dengan segala kemolekan duniawi. Tapi jika kau ingin barangmu kembali, maka beranikanlah diri meninggalkan komplotanmu dan akhiri petualanganmu bersamaku.

Kupastikan, kali ini, aku tak akan membiarkanmu meninggalkanku atau bahkan mati karenamu.

Si Pencuri Hatimu,

Mademoiselle  Béné


[1] The Blonde Lady – Maurice LeBlanc

[2] The Hollow Needle – Maurice LeBlanc

[3] The Crystal Stopper – Maurice LeBlance

[Oneshot] Loving You Was Red

Loving You Was Red

Title                       :               Loving You Was Red

Author                  :               Benedikta Sekar (Dictavip)

Cast (s)                 :

-Park Jung Min (SS501)

-Lee Soon Hye/Sonia (Sonia Luice Andreta’s OC)

-Kim Yesung (Super Junior)

Lenght                  :               Oneshot—1756 kata

Genre                   :               Romance, Angst, Fluff

Rate                       :               G

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk yang atau pun materi. Semua cast bukan milik saya, namun plot dan cerita murni dari imajinasi saya sendiri.

“Merah.”

Sonia menjawab bahkan sebelum petugas salon menanyakan warna yang ingin dipilih untuk menuntaskan sesi manicure pedicure-nya.

“Ingin diberi warna lain atau—“

“Merah,” potong Sonia lagi, “merah saja. Hari ini aku ingin merah.”

Petugas salon tersebut pun tersenyum, lantas melanjutkan pekerjaannya dengan mewarnai kuku-kuku pucat Sonia dengan kuteks merah.

“Anda baru di sini?” tanya Sonia dan petugas itu mengangguk.

Ne, saya baru bekerja dua minggu yang lalu,” jawab petugas itu sembari tersenyum; Sonia mengangguk-angguk mengerti.

Pantas ia tidak tahu hari ini hari apa, gumam Sonia dalam hati, seraya tersenyum dan bersenandung menirukan suara manis Taylor Swift—penyanyi yang beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu nama wajib di playlist mp3-nya.

 

***Loving him is like driving a new Maserati down a dead end street***

Baca lebih lanjut

[Pos Cinta #4] Untuk W

love letters cookes

Untuk W  yang tak akan pernah tahu,

Kupastikan, surat ini tak akan bertele-tele dan mengumbar banyak kata padamu karena waktuku yang kian menipis di penghujung Minggu ini—oh! Salahkan seluruh kegiatanku yang tak pernah mau berhenti barang sejenak.

Jadi, aku hanya ingin bilang, aku cinta kamu. Sudah lama, sebenarnya, sejak tahun-tahun yang kita lewati di sekolah dasar hingga kita terpisah di pendidikan menengah pertama sampai sekarang.

Aku memang mem-follow Twitter-mu, kita berteman di Facebook, bahkan aku dapat dengan mudahnya mengirim BBM. Tapi aku tak menggunakannya, aku tak pernah berani merangkai alasan bahkan hanya untuk mengucapkan ‘hai’ padamu.

Iya, aku pengecut. Sampai saat ini pun aku masih menjadi pengecut.

Tapi hari ini, akan kuambil secuil keberanianku, dan melalui surat ini aku ingin mengakui perasaanku padamu di depan khalayak umum–pengunjung blog-ku. Perasaanku yang tak pernah tersampaikan untuk cinta pertama yang kini telah memiliki cintanya sendiri.

Akhir surat untukmu W, sekali lagi aku tulis, aku cinta kamu.

I will move on, but my first love never dies.

Terima kasih telah memberikan perasaan ini padaku, karena hadirmu menjadikan masa mudaku begitu sempurna.

Dari aku,

Yang tak pernah berani mengaku

(Photo taken from: http://www.baking-in-heels.com/2012/01/love-letter-cookies.html)

[Pos Cinta #3] Untuk Kamu, Penikmat Kata!

Jemari menulis

Iya, untuk kamu, siapa lagi orang yang membaca surat ini selain kamu di sana.

Keget ya?

Sama. Aku juga kaget, kenapa tiba-tiba kepikiran nulis surat ini untuk kamu. Padahal kita enggak pernah ketemuan. Kamu ‘kan cuman penikmat kata yang enggak sengaja terdampar di blog remaja ababil ini. Niat menjejak kata pun tak ada, hanya sekedar ingin tahu, apa gerangan yang tertulis pada setiap halaman dan terbitan di lapak kumuh ini.

Tapi tetap terima kasih ya sudah mau bertandang! Tak mengapa jika hanya kerlingan yang kamu berikan; sekilas menatap heran pada pemilik-blog-narsis-yang-menempatkan-namanya-sendiri sebagai-domain-blog pun aku senang.

Maaf ya, untuk setiap kata absrud yang kusuguhkan di sini. Aku tahu kata-kataku tak lebih baik dari sekedar kumparan kertas usang di pelipir jalan. Tapi, aku begitu senang berbagi kisah denganmu. Seperti kawan lama yang sudah tak bertemu, tak ayal, aku pun ingin kita dapat bertukar pikiran dan saling menanggapi.

Tapi tetap terima kasih, kamu menyimak saja aku sudah senang.

Aku tak pernah berharap banyak darimu, kata kepala sekolahku saat upacara bendera bendera minggu lalu, “Bekerjalah tanpa pamrih.”

Jadi, aku pun berkisah tanpa mengharapkan balasan darimu.

Hihihi, aneh. Katakanlah aku ini aneh. Jika berkisah sendiri bukannya sama saja dengan orang gila?

Tapi mau bagaimana lagi, aku jarang memilik orang atau bahkan tempat untuk benar-benar berkisah tentang segalanya. Blog inilah satu-satunya tempatku untuk membuka diri dan menunjukkan siapa diriku sebenarnya—aku yang bersembunyi dibalik bongkahan kata-kata absrud ini.

Aku memang bukan orang yang terbuka, bercerita pada keluarga bahkan hal terakhir yang ingin aku lakukan (mungkin aku hanya tak ingin diceramahi tentang hidup zaman dulu, hahaha). Jadi aku bercerita dalam tulisan dan menaruhnya di sini, siapa saja boleh menyimak, dan punya hak untuk tertawa, mencemooh, atau apa pun itu.

Ada kolom komentar di bawah, dan kusediakan untukmu berkata-kata. Digunakan atau tidak, itu hakmu. Aku telah memberikan milikku, dan tak menuntutmu untuk melakukan hal yang sama.

Karena inilah cintaku padamu, Penikmat Kata. Kuberikan semua kata-kata yang kupunya; tanpa pamrih dan setulus hati padamu. Tapi jika ada setitik cinta yang ingin kamu beri padaku.

Sudikah kamu memberitahuku?

Si Pengumbar Kata,

Benedikta Sekar

[Pos Cinta #2] Jatuh Cinta Pada Kata-Kata

love

Teruntuk kicauan yang selalu kunanti di @frostbitiggy

Terima kasih atas perkenalan tak terduga yang terjalin di antara  140 karakter Twitter hingga akhirnya melipir pada malam-malam panjang penuh kata yang berserakan melalui jaringan GSM. Tak pernah kusangka kita akan menjadi sejoli yang marak bertukar kisah—entah itu hal umum tentang cuaca hingga yang spesifik tentang penempatan imbuhan –kan yang benar.

Padahal kita tak pernah bersetatap, yang terdekat hanyalah bertukar gelak tawa di   saluran telepon GSM dan itu pun kadang kala tak benar-benar sejalan. Hahaha, well, kita memang hanya ahli mencacak balok-balok kata di ranah layar digital, tak sungguh mampu bersuara dalam arti harafiah—atau itu hanya probelmatika diriku?

Entah.

Yang jelas, aku yakin kamu pasti bertanya-tanya, kenapa surat ini teruntuk padamu? Apa yang spesial dari kicauanmu yang saban hari menyesaki TL followers-mu dengan kalimat-kalimat absrud?

Ya, bagimu absrud. Tapi bagiku pribadi, kutemukan kegembiraan tersendiri tatkala mata ini menemukan namamu di TL-ku.

Tak pernah bosan kutelusuri petak-petak kicauan keluh kesah atau pun komentarmu pada sesuatu. Pun kicauanmu tentang buku terbaru yang kamu baca, juga perkembangan tulisanmu yang sangat kunanti-nanti. Ada juga tentang penyanyi lawas atau baru kegemaranmu, serta beberapa kutipan berdasarkan pengalaman pribadi.

 Tapi yang paling aku suka dari semua kicauanmu adalah ketika unsername-ku tertera di sana; dan kita pun berakhir dengan saling berbalas mention. Entah tujuan kicauanmu itu hanya untuk memberitahu ada sesuatu yang baru di blog-mu atau menanggapi kacauan ababilku tentangmu juga masalahku.

Aku sangat suka itu.

Kita bak orang yang terjebak dalam dunia tersendiri meski terpisah berpuluh-puluh kilometer. Layar datar jadi penuh dengan seluruh isi percakapan kita tentang apa saja, dan ketika kata-kata itu melipir kepada problema hidupku—yang penuh kisah remaja picisan tentang fisik buruk rupa yang mengganggu hubungan sosial. Kamu hanya berkicau…

“Jangan gitu, Dek. Kamu cantik kok. Coba denger lagu ini deh: Backstreet Boys-What Makes You Different  *saia suka nangis kalau denger lagu ini* *obat pengusir hawa jelek*”

Aku pun langsung tersenyum sumringah dan buru-buru membuka Google untuk mencari situs men-download lagu itu. Ludes sudah rasa kalutku, beriringan dengan musik asing yang memiliki lirik yang mendalam itu. Perasaanku lebih baik. Selalu lebih baik setiap kali kudengar saran dan tanggapan darimu.

Dan kicauan itu hanyalah sepersekian dari semua kata penuh makna yang kamu bagi untukku. Sepersekian dari semua kata yang menjadikanku begitu beruntung mengenal sosokmu yang telah menjadi sahabat juga kakak bagiku.

Karena meski benar, kamu bukan selebtwitt terkenal dengan ribuan followers. Benar, kicauanmu absrud dan biasa-biasa saja. Benar, kamu ya kamu, nothing special.

Tapi bagiku, bukan hanya kamu yang kusayangi, melainkan setiap kata yang kamu toreh untukku juga khalayak.

Aku jatuh cinta pada kata-katamu. Jatuh setengah mati.

Dikirim oleh

Benedikta Sekar (@Okage_de)

Note: Ditulis sembari mendengar lagu Backstreet Boys-What Makes You Different 

[Pos Cinta #1] Terima Kasih dan Maaf

Untuk kamu yang kini tak berdaya,

Terima kasih dan maaf kusisipkan di setiap sudut surat ini untukmu. Ya, terima kasih untuk malam-malam indah yang telah kamu bagi untukku; juga untuk semua cumbu serta kepasrahan dirimu akan tindak tanduk bringasku. Terima kasih.

Tapi juga ada maaf, yang kuberikan dari hati kacil yang kadang terhimpit oleh ego serta keserakahan diri menjajah; karena aku sadar, kamu begini pun karena ulahku.

Yah, benar, semua orang tahu jika penyesalan selalu datang terlambat.

Apa lagi yang bisa kuperbuat ketika pria berseragam putih itu sudah berkata dengan mimik muka datar kepadaku, ‘maaf, kami sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi’ hah?

Sesak.

Hanya sesak yang terasa. Aku bahkan nyaris limbung ketika kudekap kamu yang tak lagi bernyawa keluar dari tempat berdinding hijau itu. Semua orang di lorong menatapku prihatin; berdoa dalam hati agar milik mereka tak bernasib sama denganku, bahkan si penjaga pintu yang acapkali melihatku di sana pun hanya tersenyum kaku—turut berbelasungkawa.

Kini. Setelah kepergianmu.

Bagaimana nasibku?

Di mana lagi bisa kubuang semua sampah birahi imajiku?

Siapa lagi yang dapat menggantikanmu?

Kamu terlalu berharga untukku.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk dihabiskan bersama. Kita telah saling memahami. Jemariku ini telah terbiasa menari di atasmu; menyentuh setiap lekuk tubuh dinginmu, hingga sesekali kudengar kamu mendesah lelah dan kemudian sesaat menghilang ditelan kegelapan. Tapi kamu selalu kembali… kembali hidup, dan membiarkan jemari ini kembali menjajah tubuhmu.

Melampiaskan nafsu yang tertunda sepanjang hari.

Oh, bagaimana mungkin aku berhenti mencintaimu yang seperti itu? Kamu terlalu berharga untuk dilupakan. Terlalu berharga untuk direlakan.

Seandainya ada hal yang bisa aku lakukan untukmu, mengembalikanmu dan menghidupkanmu lagi. Aku pasti akan melakukannya. Pasti kulakukan…

Jika biayanya tidak lebih dari dua juta.

Your owner,

Benedikta Sekar

Dalam Kenangan: Baca lebih lanjut

[Coretan Dicta] Bitter-Sweet Seventeen

Aku sudah memutuskan untuk tidak mengharapkan hal besar di ulang tahunku yang ke-17. Aku hanya ingin makan ramai-ramai di rumah Eyang Putri dan berkumpul dengan seluruh keluarga. Ada Agung (adikku), ada Mama, juga… ada Papa.

Hadiah pun aku tak minta banyak, aku hanya ingin KTP, SIM, dan jam tangan. Ketiga benda itu adalah tradisi yang dijalankan oleh mendiang Eyang Kakung untuk anak-anaknya, dan aku pun menginginkan hal yang sama. KTP adalah tanda jika aku sudah sah secara hukum menjadi penduduk Indonesia. SIM adalah tanda kalau aku sudah bisa dilepas sendiri dan punya tanggung jawab ke mana pun aku pergi. Sedangkan jam tangan adalah peringatan kepadaku, kalau mulai berumur 17 tahun, waktu bukan lagi perihal main-main; waktu adalah uang.

Jadi… tanggal 7 Januari kemaren aku ulang tahun yang ke-17.

Tapi, apa yang aku harapkan sebelumnya tak satu pun terlaksana. Sedih? Tidak juga, sejak dulu aku tak pernah memiliki ulang tahun yang selalu aku harapkan. Jadi aku sudah mengantisipasi segala-galanya dan tak berharap terlalu banyak.

Cukup berdoa mendapatkan yang terbaik di hari itu, itu saja.

Pagi di tanggal 7 Januari-ku di mulai dengan ucapan selamat ulang tahun dari Eyang Putri, Mama, Om-Tante, dan adik-adik sepupuku. Setelah malam sebelumnya aku mendapat petuah-petuah dari Eyang Putri di kamarnya—dan berakhir saat aku menemukan diri dirundung kegelapan alam mimpi—aku merasa cukup baik pagi itu.

Baca lebih lanjut

I Found You

holding hands

Dea ingin tahu: bagaimana rasanya mati?

Udara kota Palangkaraya masih lembab, tak ada tanda-tanda matahari bersinar hari ini. Suasana pun sama suramnya di hati Dea, ditiliknya lapangan sekolah dari sudut jendela dan mendapati kenihilan di sana; tak ada yang ingin bermain hari ini—lagi. Semua anak lelaki di SMA 2 Pahandut sepertinya tak ingin melakukan sesuatu di lapangan, mereka lebih senang duduk di selasar kelas sembari menyenandungkan lagu-lagu galau yang diaransemen ulang seenak jidat.

Jreng! Jreng!

“Aku sungguh masih sayang padamu~ uwooo-uwooo~ jangan sampai~ kau meninggalkan aku~  uwooo-uwooo~ hahahaha!”

Mau tak mau Dea menarik sedikit bibirnya ke atas, suara Indra yang tak ubahnya tikus baru menelan racun itu memang memaksa seluruh penghuni kelas tertawa. Tapi, senyum itu tak lama bersarang di wajah Dea; ia kembali muram.

Hah, mati lebih mudah dari pada hidup ‘kan? Pikir Dea lagi, jemari tangan kanannya memainkan pulpen di atas meja; mengetuk-ngetuk, mengisi keheningan di hatinya.

Kalau mati ia tak perlu merasa sakit, juga sedih; tak perlu merasa sendirian dalam kepura-puraan. Jika mati, dia tidak perlu hidup…’kan?

Oh, tolong. Jangan salahkan perasaan perempuannya yang melankolis, atau pun lingkungan sosialnya yang terasa menekan. Dan tolong. Jangan salahkan hubungan percintaannya yang tak pernah beruntung, juga nilai-nilai yang biasa saja.

Tolong jangan.

Ini hanya pemikiran yang tercetus begitu saja di kepala Dea. Andaikata ia mati, apa akan ada yang menangis untuknya?

Hump. Dea menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil; merasa geli dengan dirinya sendiri. Akan ‘kah dia mau bunuh diri?

“DEA ‘Ndut! Jangan ngelamun pas hujan! Nanti kesambet!”

Dea tersentak, tatapannya langsung tertuju pada pintu kelas dan mendapati Axcel berada di sana. Dilihatnya lelaki berkulit putih itu pun sontak tertawa renyah dan melambai padanya, terlihat sangat senang ketika mata mereka bertemu.

“Cieee! Cieee! Ada yang nyamperin!” Dea menoleh singkat ke sudut kelas—tempat cewek-cewek penggosip berkumpul—untuk meleparkan ekspresi sebal, setelah itu, secepat kilat kembali memagut matanya pada sosok tampan itu.

“Sini kamu, Pecel Jelek!”

Mendengar perintah Dea, Axcel pun menurut, dan langsung mengambil kursi kosong di samping pacarnya itu. Dunia Dea pelan-pelan mulai teralihkan pada sosok memesona itu, tak dihiraukannya lagi udara lembab kota Palangkaraya, juga lapangan sekolah yang sepi; tak lagi tertawa mendengar suara jelek Indra, juga mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja. Ia duduk di sana, dan mendengarkan suara Axcel  menyesap masuk dari telinganya hingga memenuhi hatinya.

Membuat Dea lupa jika kata ‘bunuh diri’ sempat terlintas di benaknya.

Huh, bunuh diri?

Tidak, tidak. Kali ini pikirannya melantur terlampau jauh. Umurnya baru 17 tahun, dan ia masih punya banyak sekali hal yang belum ia capai. Mana mungkin ia ingin mati?

Ya, memang benar jika mati ia tak akan merasa sedih, juga sakit—tidak akan merasa sendirian dalam kepura-puraan. Ditambah lagi, ia tak perlu menjadi melankolis, dan merasakan lingkungan sosialnya menekan hidupnya. Bagusnya lagi, ia tak perlu jatuh cinta, atau bahkan memikirkan nilai sekolah!

Bukankah mati begitu menyenangkan?

Tapi tidak. Dea tak perlu mati untuk mengatasi rasa sedih juga sakit itu—tidak perlu mati untuk berhenti berpura-pura. Jika ia ingin perasaan melankolisnya teratasi, menjadikan lingkungan sosial bukan lagi tekanan, jatuh cinta adalah hal yang indah, dan yakin, nilai di atas kertas bukanlah penentu masa depan…

Dea hanya perlu menemukan orang yang mampu membuatnya menjadi seperti itu.

“Kenapa kamu senyum-senyum gitu, De?”

Axcel mentap Dea heran, dan gadis itu hanya menggeleng pelan sembari menyisipkan jemarinya pada jari-jari besar Axcel di bawah meja. Kemudian, Dea mendekatkan bibirnya di telinga Axcel dan berbisik,

“I’m so glad, I found you.”

 Fin.

“Special for Dea Monica Lotama

[Kolaborasi] Udin Sapirudin Anak Orang Kaya

Udin Sapirudin tak pernah merasa kekurangan, semua hal yang tidak dimiliki teman sebayanya ia miliki. Rumah besar, gadget yang selalu up to date, sampai pacar yang selalu berganti. Padahal jika ditilik dari cara ia berpakaian serta wajah yang tidak begitu menarik perhatian, mana mungkin orang percaya jika ia adalah seorang anak anggota DPR yang memiliki kekayaan bertriliunan rupiah.

Sayangnya, seribu sayang, segala kelebihan itu ternyata tidak sebanding dengan perilaku si Anak Pak Dewan ini.

“Heh, lu! Kenapa jalan di depan gue enggak pake permisi?!”

Udin turun dari singgasananya—sebuah meja yang berada di tengah-tengah kantin sekolahnya—dan menatap seorang laki-laki berkacamata yang sedari tadi berkutat dengan buku Biologi di genggaman tangannya.

Laki-laki berkacamata itu menoleh singkat ke arah Udin dan mendengus, “Ini kantin bukan punya kamu aja,” sahutnya tenang, tak secuil pun merasa terintimidasi dengan perlakukan Udin. Semua orang yang berada di sekitar kejadian langsung bringsut menjauh. Hingga di kantin hanya ada laki-laki itu dan Udin beserta antek-anteknya.

“Heh!? Lu enggak tahu ya siapa gue?!” Udin mencengkram kerah baju laki-laki itu , ia menjilat bibir tebalnya dan menyeringai lebar—memamerkan gigi-gigi kuning yang tak rapi.

“Aku tahu kok, kamu cuman seorang anak yang dikuasai oleh harta orangtua, yang masuk sekolah ini karena nyogok, enggak pernah ngerjain tugas tapi selalu dapat nilai bagus di rapot, playboy cap cicak, sukanya cari masalah, dan masih banyak keburukan lain yang aku tahu dari kamu.”

Anak laki-laki itu mengangkat dagu setinggi mungkin, matanya penuh kilat kepercayadirian, tak sedikit pun ia takut pada Udin.

“Mulut lu di jaga, ya!”

Duak! Brak! Srak!

Bogem mentah Udin bersarang di wajah laki-laki itu dan membuatnya jatuh tersungkur di lantai. Baru kali ini ia menemukan seseorang yang berani melawannya dan ia benar-benar merasa terhina.

“Heh, lu!” Udin menunduk lantas meraih kerah laki-laki itu dengan kasar, “Lu ngomong sekali lagi! Gue tonjok lu!”
Laki-laki berkacamata itu diam saja, wajahnya tak berubah dari sebelumnya hingga membuat Udin semakin marah.

“Lu tuh ya—“

“Bos! Guru, Bos!”

Udin menoleh ke arah pintu masuk kantin, didapatinya beberapa orang guru merengsek masuk, dan ia pun sontak menghempaskan kembali tubuh laki-laki berkacamata itu ke lantai. “Dasar! Liat aja pembalasan gue!”
Udin dan para antek-anteknya buru-buru berlari melalui pintu lain, tapi sebelum sempat Udin melewati pintu keluar, ia mendengar laki-laki berkacamata itu berteriak nyaring, “UDIN! SEMUA YANG KAMU LAKUKAN PASTI ADA KARMANYA!!”

Udin membatu, napasnya kempat-kempot seakan-akan apa yang di dengarnya itu adalah sebuah kutukan. Sesegera mungkin ia menoleh ke belakang, dan terkaget-kaget, ketika ia tidak mendapati laki-laki berkacamata itu di tempatnya semula ia tinggalkan. Para guru yang berdatangan pun ikut bengong karena mereka hanya mendapati Udin di sana—tanpa laki-laki berkacamata seperti yang tadi dilaporkan—dan kemudian ada hening yang panjang.

Dalam keheningan itu, entah setan atau malaikat yang telah merasuki tubuh besar Udin. Ia berlari kencang meninggalkan kantin menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ia ingin segera pulang, menghempaskan tubuhnya di extra large bed-nya. Dalam rongga kepalanya, suara anak berkaca mata tadi terus menggema, membuat pikirannya kalut.

“Karma… karma… karma…”

Belum sempat ia memasuki pintu depan rumahnya yang terbuka, Udin mendengar kedua orang tuanya sedang bertengkar. Di antara mereka ada seorang gadis muda berpakaian seksi yang merangkul bahu anggota dewan itu.

“Siapa gadis ini, Pa? Selingkuhanmu? Dasar lelaki brengsek!” teriak Mama Udin.

“Kemarin juga ngapain Mama jalan bareng brondong anak teman arisan Mama? Pake ciuman di mobil segala lagi. Hih.”

“Dia…dia cuma nganterin Mama setelah arisan kemarin,” suara perempuan itu bergetar, menyiratkan kebohongan kepada suaminya.

“Udah, lupakan masalah brondong itu. Papa sudah muak. Lagian seharusnya Mama nyadar. Mama nggak bisa ngasih Papa keturunan, wajar dong kalau Papa menghadirkan perempuan lain dalam hidup Papa.”

“Kita kan udah mengadopsi Udin dari panti asuhan, Pa?” perempaun paruh baya itu memasang wajah memelas.

“Udin? Anak nakal itu? Kamu gagal mendidiknya. Kamu terlalu asyik belanja, arisan, nongkrong hore di mall bareng brondong-brondong kamu itu…”

Air mata Udin meleleh mendengar apa yang dibicarakan orang tuanya. Ia urungkan niat untuk bernyaman-nyaman di tempat tidurnya setelah kejadian di kantin tadi. Pikirannya semakin kalut menyadari bahwa ia bukan anak kandung anggota dewan itu. Pun terhadap perilaku orang tuanya yang doyan selingkuh dengan brondong dan cewek muda. Duh. Ia tak tahan lagi. Ia memutuskan untuk kabur dari rumah. Menggelandang.

* * *

Tiga hari kemudian…

Petugas kepolisian telah dikerahkan untuk mencari tahu keberadaan Udin. Nihil. Tak seorang pun mengetahui keberadaannya, pun antek-anteknya.

* * *

Dua hari yang lalu, anak berkaca mata itu menemui Udin yang sedang kelaparan di salah satu sudut taman kota. Ia memberikan seiris roti dan sekotak susu putih, lalu mengajak Udin untuk tinggal di rumahnya. Ia menarik tangan Udin. Dan seketika, kabut tebal melingkupi tubuh mereka. Mereka menghilang dari taman.

Fin.

“Collaboration With A. Abdul Muiz ‘Aam'”

A/N:

Our First Duet! Enjoy All!

[Coretan Dicta] Poetica’s Journal : PR-nya Sudah Selesai Belum?

menulis

Okay, setelah didesak oleh perasaan aku-harus-bikin-jurnal-biar-ingat-pelajarannya juga karena kakak-kakak yang lain pun bikin; maka aku pun membuat jurnal ini sebagai rangkuman jurnal-jurnal sebelumnya. Untuk ke depannya, aku usahakan untuk terus membuat jurnal di setiap pertemuan. Menyadari daya ingatku yang sempit, kurasa, aku memang harus melakukan ini.

Pertama-tama, mungkin kalian bertanya-tanya, apa itu Poetica? Poetica secara harafiah berarti ‘karya sastra’ yang dicetuskan oleh Mbah Aristotle. Maka, kata itu pun kami—aku dan seluruh kakak-kakak di Poetica—jadikan sebuah spirit dan dan semangat untuk terus berkarya di dunia yang ‘kepalang tanggung’ kami cintai ini. Hehehe.

Poetica berdiri sekitar 3 – 4 bulan yang lalu, tapi kalau aku ceritakan gimana bisa bergabung dengan kakak-kakak kece di Poetica ini, mungkin  bakal belibet dan aku sendiri enggak sanggup untuk nulisnya. Tapi yang jelas, waktu itu aku dan Adiez onni (Dandelion Notes)  dikenalkan oleh Kak Teguh  (Petrichor Majesty) kepada Kak Wulan (Luna Story) selaku admin juga pengatur jadwal pertemuan Poetica. Maka, kami pun bergabung dan saling berkenalan dengan penulis-penulis kece lainnya.

Pertemuan Pertama:

Baca lebih lanjut