I Found You

holding hands

Dea ingin tahu: bagaimana rasanya mati?

Udara kota Palangkaraya masih lembab, tak ada tanda-tanda matahari bersinar hari ini. Suasana pun sama suramnya di hati Dea, ditiliknya lapangan sekolah dari sudut jendela dan mendapati kenihilan di sana; tak ada yang ingin bermain hari ini—lagi. Semua anak lelaki di SMA 2 Pahandut sepertinya tak ingin melakukan sesuatu di lapangan, mereka lebih senang duduk di selasar kelas sembari menyenandungkan lagu-lagu galau yang diaransemen ulang seenak jidat.

Jreng! Jreng!

“Aku sungguh masih sayang padamu~ uwooo-uwooo~ jangan sampai~ kau meninggalkan aku~  uwooo-uwooo~ hahahaha!”

Mau tak mau Dea menarik sedikit bibirnya ke atas, suara Indra yang tak ubahnya tikus baru menelan racun itu memang memaksa seluruh penghuni kelas tertawa. Tapi, senyum itu tak lama bersarang di wajah Dea; ia kembali muram.

Hah, mati lebih mudah dari pada hidup ‘kan? Pikir Dea lagi, jemari tangan kanannya memainkan pulpen di atas meja; mengetuk-ngetuk, mengisi keheningan di hatinya.

Kalau mati ia tak perlu merasa sakit, juga sedih; tak perlu merasa sendirian dalam kepura-puraan. Jika mati, dia tidak perlu hidup…’kan?

Oh, tolong. Jangan salahkan perasaan perempuannya yang melankolis, atau pun lingkungan sosialnya yang terasa menekan. Dan tolong. Jangan salahkan hubungan percintaannya yang tak pernah beruntung, juga nilai-nilai yang biasa saja.

Tolong jangan.

Ini hanya pemikiran yang tercetus begitu saja di kepala Dea. Andaikata ia mati, apa akan ada yang menangis untuknya?

Hump. Dea menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil; merasa geli dengan dirinya sendiri. Akan ‘kah dia mau bunuh diri?

“DEA ‘Ndut! Jangan ngelamun pas hujan! Nanti kesambet!”

Dea tersentak, tatapannya langsung tertuju pada pintu kelas dan mendapati Axcel berada di sana. Dilihatnya lelaki berkulit putih itu pun sontak tertawa renyah dan melambai padanya, terlihat sangat senang ketika mata mereka bertemu.

“Cieee! Cieee! Ada yang nyamperin!” Dea menoleh singkat ke sudut kelas—tempat cewek-cewek penggosip berkumpul—untuk meleparkan ekspresi sebal, setelah itu, secepat kilat kembali memagut matanya pada sosok tampan itu.

“Sini kamu, Pecel Jelek!”

Mendengar perintah Dea, Axcel pun menurut, dan langsung mengambil kursi kosong di samping pacarnya itu. Dunia Dea pelan-pelan mulai teralihkan pada sosok memesona itu, tak dihiraukannya lagi udara lembab kota Palangkaraya, juga lapangan sekolah yang sepi; tak lagi tertawa mendengar suara jelek Indra, juga mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja. Ia duduk di sana, dan mendengarkan suara Axcel  menyesap masuk dari telinganya hingga memenuhi hatinya.

Membuat Dea lupa jika kata ‘bunuh diri’ sempat terlintas di benaknya.

Huh, bunuh diri?

Tidak, tidak. Kali ini pikirannya melantur terlampau jauh. Umurnya baru 17 tahun, dan ia masih punya banyak sekali hal yang belum ia capai. Mana mungkin ia ingin mati?

Ya, memang benar jika mati ia tak akan merasa sedih, juga sakit—tidak akan merasa sendirian dalam kepura-puraan. Ditambah lagi, ia tak perlu menjadi melankolis, dan merasakan lingkungan sosialnya menekan hidupnya. Bagusnya lagi, ia tak perlu jatuh cinta, atau bahkan memikirkan nilai sekolah!

Bukankah mati begitu menyenangkan?

Tapi tidak. Dea tak perlu mati untuk mengatasi rasa sedih juga sakit itu—tidak perlu mati untuk berhenti berpura-pura. Jika ia ingin perasaan melankolisnya teratasi, menjadikan lingkungan sosial bukan lagi tekanan, jatuh cinta adalah hal yang indah, dan yakin, nilai di atas kertas bukanlah penentu masa depan…

Dea hanya perlu menemukan orang yang mampu membuatnya menjadi seperti itu.

“Kenapa kamu senyum-senyum gitu, De?”

Axcel mentap Dea heran, dan gadis itu hanya menggeleng pelan sembari menyisipkan jemarinya pada jari-jari besar Axcel di bawah meja. Kemudian, Dea mendekatkan bibirnya di telinga Axcel dan berbisik,

“I’m so glad, I found you.”

 Fin.

“Special for Dea Monica Lotama

Iklan

17 thoughts on “I Found You

  1. Wahahaha.. Gabisa bayangin nih ekspresi sang pemilik nama :p
    So sweet 🙂 apalagi kata terakhirnya
    “I’m so glad, I found you”
    Bagus ma! 🙂

    Buat pemilik nama, cocok eon –a jangan sering mikir yg macem-macem :p

  2. Kalo saya nyang nulis, pasti Dea itu akan saya buat mati bunuh diri (menenggak racun atau menyilet nadinya sendiri) dan Axcel cuman bisa menangisi makamnya. #Psikopat

    1. Wah! Sebenarnya saya ada pikiran ke sana sih waktu temen saya bilang dia req dengan tema dasar ‘mati’, tapi sayangnya tulisan gitu enggak cocok untuk dia yang suka galau. Hahaha. Jadi yah, saya bikin fluffy gaje gini.

      Terima kasih udah mau baca ya Kak! Sering2 kemari :3

  3. Wah, yang ini manis banget ya kata-katanya. I’m so glad, I found you. Singkat, manis, dan ngena. Ya, berbicara tentang pengalih dunia, sepertinya saia perlu satu. Gagasan: “mati menyenangkan” sangat benar. Saia pernah berpikir kae gitu sekali hehehe.
    Ah, entah deh. Saia bingung mau komen apa lagi hahaha.

    1. Hahaha, sebenarnya saya agak takut pake bahasa inggris di bagian endingnya itu, soalnya takut grammarnya salah. Tapi syukurlah, perasaannya kayaknya nyampe aja. hahaha.

      Wah, saya sih belum pernah mikir ke sana, tapi teman saya Dea yang saya bikinin cerpen ini suka banget ngomong soal mati–” makanya saya bikin begini. Hahaha.

      Terima kasih sudah membaca cerita ini ya Kak! 😀 Semoga senang dan sering-sering kemari ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s