#WriterChallenge, Angst, Comedy, Family, Flash Fiction, Friendship, Kolaborasi, Menulis Duet, Renungan, Tragedy

[Kolaborasi] Udin Sapirudin Anak Orang Kaya

Udin Sapirudin tak pernah merasa kekurangan, semua hal yang tidak dimiliki teman sebayanya ia miliki. Rumah besar, gadget yang selalu up to date, sampai pacar yang selalu berganti. Padahal jika ditilik dari cara ia berpakaian serta wajah yang tidak begitu menarik perhatian, mana mungkin orang percaya jika ia adalah seorang anak anggota DPR yang memiliki kekayaan bertriliunan rupiah.

Sayangnya, seribu sayang, segala kelebihan itu ternyata tidak sebanding dengan perilaku si Anak Pak Dewan ini.

“Heh, lu! Kenapa jalan di depan gue enggak pake permisi?!”

Udin turun dari singgasananya—sebuah meja yang berada di tengah-tengah kantin sekolahnya—dan menatap seorang laki-laki berkacamata yang sedari tadi berkutat dengan buku Biologi di genggaman tangannya.

Laki-laki berkacamata itu menoleh singkat ke arah Udin dan mendengus, “Ini kantin bukan punya kamu aja,” sahutnya tenang, tak secuil pun merasa terintimidasi dengan perlakukan Udin. Semua orang yang berada di sekitar kejadian langsung bringsut menjauh. Hingga di kantin hanya ada laki-laki itu dan Udin beserta antek-anteknya.

“Heh!? Lu enggak tahu ya siapa gue?!” Udin mencengkram kerah baju laki-laki itu , ia menjilat bibir tebalnya dan menyeringai lebar—memamerkan gigi-gigi kuning yang tak rapi.

“Aku tahu kok, kamu cuman seorang anak yang dikuasai oleh harta orangtua, yang masuk sekolah ini karena nyogok, enggak pernah ngerjain tugas tapi selalu dapat nilai bagus di rapot, playboy cap cicak, sukanya cari masalah, dan masih banyak keburukan lain yang aku tahu dari kamu.”

Anak laki-laki itu mengangkat dagu setinggi mungkin, matanya penuh kilat kepercayadirian, tak sedikit pun ia takut pada Udin.

“Mulut lu di jaga, ya!”

Duak! Brak! Srak!

Bogem mentah Udin bersarang di wajah laki-laki itu dan membuatnya jatuh tersungkur di lantai. Baru kali ini ia menemukan seseorang yang berani melawannya dan ia benar-benar merasa terhina.

“Heh, lu!” Udin menunduk lantas meraih kerah laki-laki itu dengan kasar, “Lu ngomong sekali lagi! Gue tonjok lu!”
Laki-laki berkacamata itu diam saja, wajahnya tak berubah dari sebelumnya hingga membuat Udin semakin marah.

“Lu tuh ya—“

“Bos! Guru, Bos!”

Udin menoleh ke arah pintu masuk kantin, didapatinya beberapa orang guru merengsek masuk, dan ia pun sontak menghempaskan kembali tubuh laki-laki berkacamata itu ke lantai. “Dasar! Liat aja pembalasan gue!”
Udin dan para antek-anteknya buru-buru berlari melalui pintu lain, tapi sebelum sempat Udin melewati pintu keluar, ia mendengar laki-laki berkacamata itu berteriak nyaring, “UDIN! SEMUA YANG KAMU LAKUKAN PASTI ADA KARMANYA!!”

Udin membatu, napasnya kempat-kempot seakan-akan apa yang di dengarnya itu adalah sebuah kutukan. Sesegera mungkin ia menoleh ke belakang, dan terkaget-kaget, ketika ia tidak mendapati laki-laki berkacamata itu di tempatnya semula ia tinggalkan. Para guru yang berdatangan pun ikut bengong karena mereka hanya mendapati Udin di sana—tanpa laki-laki berkacamata seperti yang tadi dilaporkan—dan kemudian ada hening yang panjang.

Dalam keheningan itu, entah setan atau malaikat yang telah merasuki tubuh besar Udin. Ia berlari kencang meninggalkan kantin menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ia ingin segera pulang, menghempaskan tubuhnya di extra large bed-nya. Dalam rongga kepalanya, suara anak berkaca mata tadi terus menggema, membuat pikirannya kalut.

“Karma… karma… karma…”

Belum sempat ia memasuki pintu depan rumahnya yang terbuka, Udin mendengar kedua orang tuanya sedang bertengkar. Di antara mereka ada seorang gadis muda berpakaian seksi yang merangkul bahu anggota dewan itu.

“Siapa gadis ini, Pa? Selingkuhanmu? Dasar lelaki brengsek!” teriak Mama Udin.

“Kemarin juga ngapain Mama jalan bareng brondong anak teman arisan Mama? Pake ciuman di mobil segala lagi. Hih.”

“Dia…dia cuma nganterin Mama setelah arisan kemarin,” suara perempuan itu bergetar, menyiratkan kebohongan kepada suaminya.

“Udah, lupakan masalah brondong itu. Papa sudah muak. Lagian seharusnya Mama nyadar. Mama nggak bisa ngasih Papa keturunan, wajar dong kalau Papa menghadirkan perempuan lain dalam hidup Papa.”

“Kita kan udah mengadopsi Udin dari panti asuhan, Pa?” perempaun paruh baya itu memasang wajah memelas.

“Udin? Anak nakal itu? Kamu gagal mendidiknya. Kamu terlalu asyik belanja, arisan, nongkrong hore di mall bareng brondong-brondong kamu itu…”

Air mata Udin meleleh mendengar apa yang dibicarakan orang tuanya. Ia urungkan niat untuk bernyaman-nyaman di tempat tidurnya setelah kejadian di kantin tadi. Pikirannya semakin kalut menyadari bahwa ia bukan anak kandung anggota dewan itu. Pun terhadap perilaku orang tuanya yang doyan selingkuh dengan brondong dan cewek muda. Duh. Ia tak tahan lagi. Ia memutuskan untuk kabur dari rumah. Menggelandang.

* * *

Tiga hari kemudian…

Petugas kepolisian telah dikerahkan untuk mencari tahu keberadaan Udin. Nihil. Tak seorang pun mengetahui keberadaannya, pun antek-anteknya.

* * *

Dua hari yang lalu, anak berkaca mata itu menemui Udin yang sedang kelaparan di salah satu sudut taman kota. Ia memberikan seiris roti dan sekotak susu putih, lalu mengajak Udin untuk tinggal di rumahnya. Ia menarik tangan Udin. Dan seketika, kabut tebal melingkupi tubuh mereka. Mereka menghilang dari taman.

Fin.

“Collaboration With A. Abdul Muiz ‘Aam'”

A/N:

Our First Duet! Enjoy All!

Iklan

11 thoughts on “[Kolaborasi] Udin Sapirudin Anak Orang Kaya”

    1. Mari kita berspekulasi, Kakak ^^ Kemana si Anak berkacamata itu membawa Udin? Oh, atau lebih tepatnya, di mana kah ‘rumah’ anak berkacamata itu? #sokserem #biar *dijitak penikmat kata*

      Terima kasih sudah mau membaca cerita kami ya Kak ^^ Silakan baca yang lainnya juga ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s