Diposkan pada Corat-Coret Dicta

[Coretan Dicta] Bitter-Sweet Seventeen

Aku sudah memutuskan untuk tidak mengharapkan hal besar di ulang tahunku yang ke-17. Aku hanya ingin makan ramai-ramai di rumah Eyang Putri dan berkumpul dengan seluruh keluarga. Ada Agung (adikku), ada Mama, juga… ada Papa.

Hadiah pun aku tak minta banyak, aku hanya ingin KTP, SIM, dan jam tangan. Ketiga benda itu adalah tradisi yang dijalankan oleh mendiang Eyang Kakung untuk anak-anaknya, dan aku pun menginginkan hal yang sama. KTP adalah tanda jika aku sudah sah secara hukum menjadi penduduk Indonesia. SIM adalah tanda kalau aku sudah bisa dilepas sendiri dan punya tanggung jawab ke mana pun aku pergi. Sedangkan jam tangan adalah peringatan kepadaku, kalau mulai berumur 17 tahun, waktu bukan lagi perihal main-main; waktu adalah uang.

Jadi… tanggal 7 Januari kemaren aku ulang tahun yang ke-17.

Tapi, apa yang aku harapkan sebelumnya tak satu pun terlaksana. Sedih? Tidak juga, sejak dulu aku tak pernah memiliki ulang tahun yang selalu aku harapkan. Jadi aku sudah mengantisipasi segala-galanya dan tak berharap terlalu banyak.

Cukup berdoa mendapatkan yang terbaik di hari itu, itu saja.

Pagi di tanggal 7 Januari-ku di mulai dengan ucapan selamat ulang tahun dari Eyang Putri, Mama, Om-Tante, dan adik-adik sepupuku. Setelah malam sebelumnya aku mendapat petuah-petuah dari Eyang Putri di kamarnya—dan berakhir saat aku menemukan diri dirundung kegelapan alam mimpi—aku merasa cukup baik pagi itu.

Tanggal 7 Januari adalah hari Senin, dan tepat pada hari itu aku mulai masuk sekolah—SMAN 7 Banjarmasin. Lalu, apa kalian pikir aku akan mendapatkan ucapan selamat bertubi-tubi dari teman-temanku? Sorry, kalian salah besar. Hanya satu temanku yang tahu kalau aku ulang tahun hari itu, dan itu pun karena pemberitahuan di akun Facebook-nya.

Apa aku sedih? Tidak juga. Sejak tahun lalu, aku pun tak berharap banyak teman-teman sekolahku mengingat tanggal ulang tahunku—ngomong-ngomong, teman sekolahku yang mengucapkan selamat ulang tahun  pertama kali itu pun murid pindahan di semester lalu—mereka berteman dekat denganku, namun tak cukup dekat hingga peduli kapan aku berulang tahun. Jadi tak mengapa, beberapa ucapan pun cukup membuat hariku di sekolah pada tanggal 7 Januari menjadi baik.

Pulang sekolah, jam 14.00 WITA pada tanggal 7 Januari, hal pertama yang aku lakukan adalah mengganti pakaian dan makan. Sedikit berbincang dengan Eyang Putri dan Mamaku, kemudian pergi ke kamar untuk online, membalas semua wall di Facebook, mention di Twitter dan BBM, cukup lama sih aku berada di depan laptop. Hingga aku pun disuruh membantu hal-hal ringan di dapur untuk acara nanti sore.

Acara ulang tahunku?

Bukan. Tepat hari itu, tanggal 7 Januari, adalah peringatan 40 hari Papa. Akan ada Misa di rumah Eyang Putri dan semua keluarga serta anggota lingkungan Gereja pun akan datang. Apa menurut kalian ini mengenaskan? Merayakan ulang tahun ke-17 bertepatan dengan peringatan 40 hari meninggalnya Papa?

Tidak juga.

Aku pikir ini cara Tuhan untuk memberikan hadiah padaku. Nyatanya, sampai sekarang aku belum mendapatkan KTP juga SIM-ku, dan Mama lupa kalau aku ingin sebuah jam tangan untuk hari ulang tahunku yang ke-17—well, Mama berdalih, kalau lebih baik kami membelinya bersama agar sesuai seleraku, kurasa aku pun tak bisa menyalahkannya mengingat sekarang ia telah menjadi singel parent. Jadi, yang tersisa hanyalah merayakan ulang tahun bersama  Agung, Mama, dan… Papa.

Then, God gave me that moment. The last one and that was very important.

Misa di mulai jam setengah delapan malam dan dipimpin langsung oleh Romo Pardi yang dulu juga memimpin Misa Rekuem Papa. Di Misa, Romo Pardi pun mendoakanku yang tengah berulang tahun hari itu. Dan ketika Misa selesai, kue ulang tahun pun dikeluarkan.

Ini dia acara ulang tahunku sebenarnya; yang sebenarnya bukanlah sebuah kejutan, karena aku sendiri tahu kalau di akhir Misa akan ada hal seperti ini (satu-satunya kejutan yang aku dapatkan adalah di ulang tahunku ke-15 dari teman-teman SMP-ku saat study tour. Wow, mereka sukses bikin aku kedinginan tengah malam). Jadi, saat kue dikeluarkan aku hanya tersenyum lebar dan tertawa pelan.

Setelah di beri aba-aba, semua orang di sana menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan aku pun ikut bernyanyi. Sembari bernyanyi, kulirik foto Papa yang terpajang di sampingku dan sejurus kemudian, tanpa kuduga, aku tak dapat membendung air mataku.

Ini bodoh memang.

Menangis di saat kamu seharusnya tersenyum bahagia memang sebuah tindakan konyol. Tapi mau bagaimana lagi?

Aku berharap Papa benar-benar di sana waktu itu. Ikut bernyanyi  bersamaku dan kusuapi dia potongan pertama kue ulang tahunku.

Tapi aku tahu, itu tak mungkin kan?

Jadi, seperti ini saja cukup. Meski aku tak dapat merasakan kehadiran Papa secara nyata, aku tahu… Papa pasti menyaksikannya.

ultah 17 tahun

Terima kasih, Pa, untuk 17 tahun hidup Papa yang sudah Papa berikan untuk Dicta. Terima kasih untuk semua cinta yang Papa kasih untuk Dicta. Sekarang Dicta udah 17 tahun, Pa, sudah besar. Maaf, Pa, kita enggak bisa ngurus KTP bareng, Dicta tahu Papa pengen banget ngurusin KTP Dicta. Tapi, Dicta pun tahu, Tuhan panggil Papa biar anak Papa yang satu ini mandiri dan tak bergantung terus dengan orang lain.

Terima kasih, Pa, Dicta sayang Papa.

Jadi, pada akhirnya, tanggal 7 Januari berakhir dengan uang 450 ribu di tanganku. Hahaha, sembari mengucapkan selamat ulang tahun, beberapa orang-orang tua di lingkungan Gereja menyelipkan uang saat ia menjabat tanganku; satu dari banyak hal yang selalu kutunggu di setiap ulang tahunku, hahaha (Hei, maklumi aku! Setelah umur ini aku tak mungkin mendapat kenikmatan diberi ‘jajan’ seperti itu!). Tapi pada akhirnya uang itu pun tandas karena aku harus membayar uang daftar ulang di tempat lesku. Huks. Tak apalah, hitung-hitung bantu Mama. Hahaha.

Inilah Bitter-Sweet Seventeen-ku, aku tambahkan bitter di depan karena aku menyadari ulang tahun ke-17-ku tak semanis yang dimiliki orang kebanyakan. Ada perasaan gloomy di hatiku menyadari Papa yang sudah tiada. Tapi aku pun menyadari satu hal, enggak cuman aku yang mengalami hal ini. Banyak orang yang kehilangan orangtuanya bahkan sebelum sempat mengingat wajah mereka. Banyak orang yang terlahir tanpa orangtua. Banyak orang yang seperti aku, dan aku pun hanya salah satu di antara mereka.

Jadi, yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menata kembali perasaan juga hidupku. Jangan terus-terusan mewek kalau ingat Papa, aku harus kuat dan menjalani hidupku sebaik mungkin. Karena semua ini pun untuk Papa.

Akhir kata, ya, tahun ini ada rasa bitter di hari ulang tahunku, dan ya, aku menangis sedih pada hari itu. Tapi yang jelas, dan aku pun harus menjamin, kalau tahun depan, tahun depan, dan tahun kedepannya lagi. Hanya akan ada sweet yang tertera di sana!!

Terima kasih, Tuhan, untuk kado yang Engkau berikan!

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

23 tanggapan untuk “[Coretan Dicta] Bitter-Sweet Seventeen

  1. Happy birthday! Kamu mesti lebih bersyukur, tahun lalu temanku merayakan ulang tahunnya persis ketika ayahnya meninggal. Selalu dan selalu saja ada yang lebih menyedihkan, maka bersyukurlah. Amorfati.

    Btw, bener juga sih, kalo nggak ada pesbuk, nggak akan ada orang yg inget ultah temennya, hihihi..

    1. Iya, makanya saya pun enggak boleh terus2 sedih dan menyesali diri. Soalnya enggak cuman saya yg ngerasa gini. Teman saya pun baru2 ini kehilangan ayahnya,padahal rasanya baru kemaren dia ngelayat papa saya. Hah… Hidup manusia siapa yang tahu? 🙂

      Yo’i kak, makanya, facebook cukup berguna. Seenggaknya dia ngucapin. Hehehe.

      Terima kasih ucapannya ya kak! 😀

  2. Tetap menjadi 17 tahun yang istimewa ya Dic, 17 tahun bukan waktu yang pendek untuk dijalani dan sudah tak terhitung nikmat yang diterima..

    Selamat ulang tahun ya.. semoga KTP dan SIM segera kau miliki dan terus menulis tentunya 🙂

    1. siaaaap! 😀 iya, meski rada gloomy, saya tetap menganggap 17 tahun saya ini pun berkesan dan menyenangkan. 😀 benar2 banyak kebaikan yang saya terima di hari itu.

      Amin kak, semoga saya segera dapat KTP dan SIM 😀 hihihihi, terima kasih ucapannya! 😀

  3. Tsaah, aku bener-bener lupa sama ultah eonni._____. maafkan lah teman sejawatmu ini eooon~~~~~ SELAMAT ULANGTAHUN EON!!!!! eih tanggal berapa ini? 16? ENAMBELAS? telat berapa hari ini aku -.- ehehehe. Bitter ya? /sign/ semua ultahku juga pada bitter/lupakan/anginlewat/ Pokoknya dibalik rasa sakit itu pasti ada kebahagiaan eon, walaupun kita bohongin diri sendiri itu juga termasuk kebahagiaan lah. Setidaknya kita masih bisa mainin perasaan kita sendiri/terussudmadloapehzen?!/ Entahlah aku juga bingung.

    JANGAN SEDIH LAGI EON! Aku doain eon sehat selalu, bahagia, terus apa yang dicita-citain tercapai, segala sesuatu jadi mudah, menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan tetep senyum. AMINN! AMIIIN! AMIIIN/ngesot/elapingus/

    Semangat~

    1. Terima kasih untuk semua doanya ya Zen! Telat enggak papa kok, niat ngucapin aja aku sudah senang banget! 😀 Wah, jangan gitu dong, meskipun gloomy, seperti yang kamu bilang. Menghibur diri itu lebih baik. Aku juga belajar mengatasi hal-hal buruk di ulang tahun dengan tidak berharap banyak seperti di atas. Aku enggak ngarep temen2 aku ngasih ucapan, aku enggak ngaret di kasih banyak ini-itu. Aku enggak ngarep apa pun. hahaha. yah, meskipun alhasil enggak ada yang istimewa, tetap aja perasaan akan lebih baik kalau kita belajar untuk tidak terlalu banyak berharap. 🙂 Yah, aku sih gitu ngatasinnya, tapi tetap aja sih Zen. Rasa sedih kalau ultah enggak diingat itu selalu ada.

      Terima kasih banyak ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s