[Resensi Buku] Seasons to Remember – Ilana Tan

Judul buku : Seasons to Remember

Pengarang : Ilana Tan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : Januari, 2013

Tebal : 160 halaman

Rate : 3/5 bintang

Harga : Rp 57.000,-

“Aku tidak tidak membuat rencana atau kerangka ketika menulis. Satu cerita hanya diawali dengan satu ide cerita sederhana, lalu aku menunggu ide itu berkembang dengan sendirinya.” – Ilana Tan

Enggak butuh waktu lama untuk membaca buku ini, nyatanya, isi buku ini hanyala kutipan-kutipan manis yang berada di dalam tetralogi empat musimnya Ilana Tan. Ada rasa ketipu juga sih, awalnya aku berharap kalau ini lanjutan dari cerita 4 musim tersebut. Meniliki tak ada sinopsis di belakang buku ini dan cover yang super mengundang; membuatku benar-benar berharap dan percaya kalau aku bakal menemukan cerita-cerita manis seperti yang aku temukan di tetralogi empat musim. Sayangnya, TIDAK, seperti yang kubilang tadi, isinya hanyalah kutipan-kutipan dari buku empat musim, kesan-kesan penggemar dan prakata dari Ilana Tan sendiri tentang tetraloginya yang empat musim. Padahal, aku yang sebelumnya cukup kecewa dengan buku terakhir Ilana Tan–Sunshine Become You–berharap buku yang satu ini mampu mengembalikan rasa cintaku pada tulisannya.

Kemudian, nilai minus yang lain adalah, banyaknya bagian kosong di setiap lembarnya. Okay, kalau kalian mau tahu, setiap halaman buku tersebut hanya memiliki SATU kutipan saja. Bayangkan, betapa ruginya kalian membayar uang 57.000 hanya untuk membeli 160 halaman yang isinya bahkan bisa di kompres menjadi 50 halaman saja. Emmmh, aku sungguh tak tahu apa maksud membuat ruang kosong itu, jadi mungkin, agar aku tidak merasa rugi telah membeli buku itu. Bagian-bagian yang kosong agan kucoret-coret dengan pensil, hahaha 😛

Namun, yang harus diacungi jempol di sini adalah si pembuat cover buku dan si penggambar ilustrasi pada setiap bagian kutipan yang dibagi empat, yaitu:

– Bag. 1 Summer in Seoul
– Bag. 2 Autumn in Paris
– Bag. 3 Winter in Tokyo
– Bag. 4 Spring in London

Sangat menggambarkan isi dari cerita tersebut, terutama bagian ke-2, jatuh cinta dengan ilustrasi apartemen Tara yang kesannya sangat sendu dan sepi. Great job GPU! Memang tak salah kalian menjadi perusahan pernerbitan terbesar di Indonesia.

Kemudian, nilai plus lagi dari buku ini adalah, membangkitkan rasa kangenku pada buku-buku empat musim. Benar-benar buku nostalgia yang apik. Bagi kalian yang sudah pernah membaca buku tetralogi empat musim dan kalian ingin membaca ulang buku itu namun tak memiliki waktu? Aku sarankan untuk membeli buku ini, kalian akan kembali tersenyum, menangis, dan marah saat membaca semua kutipan itu.

Jadi, kesimpulannya, bintang tiga ya. Satu bintang untuk cover, satu bintang untuk ilustrasi, satu bintang untuk kutipan nostalgianya! 🙂

[Kolaborasi] Tertawa Kembali

cincin pernikahan

Tawa bukan lagi cara terbaik untuk mengisi kekosongan suara di antara kita. Kini detik-detik berlalu percuma dan banyak hal yang kita lewati begitu saja, tanpa tawa yang berkumandang untuk menyatakan rasa bahagia. Hanya nada datar darimu atau balasan dingin darikulah yang menjadi melodi yang mengiringi perjalanan panjang kita.

“Din, aku tidur duluan ya?” Pria itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut menutupi dada. Tanpa melihatku terlebih dulu, ia langsung memunggungiku dan memejamkan mata.

“Iya. Selamat malam, Bi,” sahutku tanpa sedikit pun mengalihkan  pandangan dari punggung lebarnya. Ingin aku menyelinap masuk ke dalam selimut, dan memeluknya, tapi tumpukan pekerjaan yang masih menuntut tanggung jawabku merantai kaki hingga aku tak punya pilihan lain selain membuang keinginan itu.

“Malam.” Pria itu membalas lirih, dan tak lama kemudian hanya ada dengkuran pelan yang terdengar dan bahunya yang naik-turun beraturan.

Aku meringis di dalam hati, kemudian kembali dengan naskah-naskah di hadapanku. Ucapan selamat malam yang dulu terdengar manis, kini hanya sekedar basa-basi; pembuktian bahwa bahtera ini masih memiliki penghuni yang mencoba untuk tidak terjun dan  saling meninggalkan satu sama lain.

Aku tak tahu bagaimana cara menyelamatkan bahtera rumah tangga ini, yang semakin lama semakin mendekati karang kehancuran. Perlahan tapi pasti, kami berdua seperti bukan lagi seperti sepasang kekasih yang sama-sama saling mencintai. Tapi kami malah seperti tamu yang datang untuk singgah. Hanya untuk singgah makan, mandi, dan tidur.

Sementara itu, pekerjaanku sebagai penulis, membuatku semakin tak punya waktu memikirkan rumah tanggaku. Suamiku, dengan pekerjaannya sebagai seorang desainer interior, juga sama sibuknya. Aku merasa kami hampir-hampir tak saling mengenali. Semua terasa hambar. Tanpa kehadiran anak di antara kami, semua terasa sunyi.

Aku membenamkan wajahku di kedua tanganku, dan tiba-tiba merasakan tanganku basah. Aku menangis? Ya, tanpa sadar air mataku tumpah ruah. Ternyata, aku tak rela rumah tanggaku menuju kehancuran. Jauh dalam hatiku, ternyata aku tak mau kekakuan dan kesenyapan ini terus berlangsung. Aku ingin semua kembali seperti semula, seperti dulu, di saat kami masih dipenuhi rasa sayang di hati kami. Tapi aku bingung, apa yang harus aku lakukan?

Baca lebih lanjut

Pacaran? So, What Banget?

Jomblo

Coba gue tanya: Apa enaknya punya pacar?

Okay, biar gue jawab sendiri. Pertama, itu membuktikan kalau lu laku dan peluang untuk punya suami atau istri keren itu besar. Seperti yang kita ketahui bersama, pacaran itu semacam fase yang wajib dimiliki semua manusia yang enggak memilih hidup jadi Pastor atau Biarawan-Biarawati. Lu mau punya istri, Bro? Cari pacar dulu! Pacar aja enggak punya, apa lagi istri. Iya, enggak?

Kedua, punya pacar itu semacam meningkatkan derajat sosial lu di mata kalayak umum. Apa lagi kalau pacar lu itu seorang bintang sekolah atau apa pun itu. Lu bakal jadi sorotan publik dan ‘wow’ lu pun bakal punya pamor yang sama kayak pacar lu itu. Ingat, sifat dasar manusia yang bernama gue-pengen-jadi-orang-tenar? Punya pacar beken, adalah salah satu cara tercepat untuk mendapatkan ketenaran itu.

Ketiga, ortu lu bakal bangga dan enggak bakal nanya kayak gini: ‘kapan bawa calon ke rumah?’ Untuk yang sudah cukup berumur, pertanyaan kayak gini sangat-sangat annoying. Setiap kali lu ditanya ortu dengan pertanyaan itu, lu pasti langsung bete. Lu ngerasa kalau ortu lu sendiri enggak percaya dengan kemampuan lu membawa calon istri atau suami yang layak ke rumah. Apa lagi kalau ortu sudah mulai ke taraf yang lebih ekstrem dengan berbicara seperti ini: ‘Eh, kamu tahu enggak, anaknya Tante Marni temen arisan Mama itu? Duh, cantik banget, calon dokter pula. Mau ya Mama kenalin?’Ukh, di mana harga diri lu, Brooooo? Pacar aja dicariin sama ortu!

Keempat, lu pengen punya babu cinta. Lu punya pacar, itu sama artinya lu pun punya orang yang lu tuntut untuk selalu perhatian sama lu. Dan siapa yang enggak mau punya orang yang seperti itu? Orang yang selalu antar jemput lu ke sekolah atau ke kampus. Orang yang selalu nanyain soal makanan lu. Orang selalu bayarin kencan lu. Orang yang bela-belain nunggu lu pulang. Dan sebagainya, dan sebagainya. Ini, kutipan dari gue: ‘Kadar cinta lu berbanding lurus dengan kadar duit atau perhatian yang lu keluarkan untuk pacar lu.’ Ingat ya, modal utama untuk semua yang pengen punya pacar itu bukan cinta, tapi duit, Bro!

Terakhir, pelampiasan hasrat muda dalam diri lu. Ini nih yang sebenernya paling gue sebelin dari pacaran. Pada hakikatnya, pacar lu bukan sebagai banda nyata untuk lu cium atau lu grape-grape seenak jidat. Pacar lu bukan objek seksual lu! Tapi mind set anak-anak muda zaman sekarang (khususnya untuk mereka yang menyabet predikat 4lAyz) menganggap bahwa cinta sama dengan ‘bersentuhan’. It’s okay, kalau lu cuman gandengan, atau ngelus kepala, atau duduk berdua dengan bahu bertempelan, atau bahkan berciuman untuk menunjukkan rasa sayang dan cinta lu pada pacar lu. Tapi  lebih dari itu? Gue harap jangan! Terutama buat lu yang ngerasa diri perempuan, jangan biarkan pacar lu berbuat semaunya pada diri lu karena di kemudian hari, yang jadi korban itu lu sendiri, bukan orang lain.

Jadi, kesimpulannya, punya pacar itu enak atau enggak? Baca lebih lanjut

[Award] Very Inspiring Blogger Award

 very-inspiring-blogger-award

Gila! Enggak nyangka dapat award lagi dari teman sesama blogger. Dan kali ini award-nya sangat elit menurutku.

Very Inspiring Blogger, katanya. Padahal, tulisan aku enggak ada apa-apanya dibandingkan dengan bloggerblogger lain yang lebih berdidikasi dalam dunia ini. Tapi tetap saja, terima kasih ya untuk Adik Ruri (The Owner of Words of Thousand Stories) karena sudah memberikan award ini padaku. Sebuah penghargaan banget karena menurutku, tulisan kamu lebih keren dari punyaku. Jadi ngerasa enggak pantes gini nerimanya. Hehehehe. Semoga tulisanku bisa lebih menginspirasi semua orang, karena tujuanku sebagai penulis memanglah seperti itu.

Kemudian, seperti biasa, dapat award berarti ada aturan yang harus dipatuhi saat menerima award ini.

The rules:

  1. Copy and place the award in your post (Okay)
  2.  Thank the person who nominated you and link back their blog (Give a big hug to Ruri)
  3. Tell 7 things about yourself (Kasih tahu enggak ya?)
  4.  Nominate 15 fellow bloggers for the award, tell them by posting a coment on their blogs (Hummh, boleh lebih enggak?)

So, ini 7 hal tentang diri aku. Sorry, kalau gaje:

–          Rendah diri. Jadi, waktu aku baru masuk SMA, aku sempat di-bully secara mental sama orang-orang di sekitarku. Aku pernah stres juga, sampai-sampai nilai anjlok. Tapi sekarang sudah enggak papa sih, aku rasa aku bisa mengatasi itu. Tapi imbasnya, ya ini, rasa rendah diri yang entah kenapa akhirnya melekat erat di kepalaku. Kepengen ngilangin, tapi lama kelamaan malah semakin lengket. Ya udah, dibiarin aja. Semoga bisa ilang sendiri. Hahaha.

–          Fujoshi. Aku enggak mau ngejelasin lebih sih, kalau yang paham istilah ini pasti ngerasa aku aneh atau bahkan kaget dan mikir “masa sih?”. Tapi kalau yang enggak paham enggak usah nanya 😛 nanti nyesel. Kepengen tobat jadi fujoshi, tapi kadang susah ngelepasin dunia unyu-unyu ini, hahaha. Entar ada masanya aku sudah bisa lebih dewasa dan berhenti kok. He.

–          I love begadang! Salahkan golongan darah O yang mengalir di sekujur tubuhku ini. Pernah baca di sebuah posting-an blog kalau orang-orang golongan darah O itu baru tidur kalau badannya minta untuk tidur. Enggak punya kemauan tidur sendiri dari otaknya. Hahaha. Jadi, semenjak ada wifi di rumah, waktu tidur paling cepatku adalah jam… 00.00 WITA. Kadang molor sampai setengah satu juga sih soalnya susah tidur. 😛

–          Penggila komik dan novel. Tentu saja, semua blogger atau penulis pasti suka sama buku kan? Nah, aku pribadi sukanya komik dan novel. Komik-komik yang aku suka biasanya bergenre Shoujo Ai (Komik percintaan Cewek), Shounen (Naruto, Detektif Conan, One Peace, dll), sama yaoi (biasanya baca online kalau yang ini). Kalau novel, er, yang mana yang asyik saja. Enggak ada genre yang spesifik. Tapi akhir-akhir ini lagi suka baca novelnya Maurice Leblanc, hahaha, dia adalah pencipta tokoh Arsene Lupin—si Petualang, pencuri asal Prancis yang menjadi musuh abadi Homlock Shere. Aku ada bikin salah satu resensi bukunya, nanti deh bikin yang lain juga 😀 (The Crystal Stopper)

–          YG Family Stand. Tahu dong Gangnam Style? Tahu dong Fantastic Baby? Tahu dong I’m The Best? Mau tahu di mana lagu-lagu keren-beken-cetar-menggelegar-ulala itu dibuat? Ya, di sinilah tempatnya! YG Entertainment! Tempat sebuah keluarga yang dibangun dari zero, hingga akhirnya mampu menyampaikan musik mereka ke seluruh dunia. Boleh jujur, aku akui kalau YG Family hanyalah sebuah keluarga kecil yang sangat teratur mengkonsumsi KB hingga bikin fans-fansnya stres karena di-troll-in melulu. Tapi kualitas musik mereka? UH! Enggak terbantahkan lagi sih, sudah banyak buktinya kok. Hahaha.

–          Paling suka menulis dengan latar Indonesia dan Kalimantan. Aku sering menghubung-hubungkan tokoh-tokoh fantiction Korea dengan Indonesia atau di cerpenku dengan latar Banjarmasin. Well, karena aku lahir di Indonesia, otomatis aku cinta tanah air. Jadi, setiap kali ada temen yang minta dibikinin fanfiction atau pun dapat PR dari Poetica, aku bakal masukin unsur Indonesia di dalamnya. Mungkin untuk pembaca yang emang setia baca tulisan aku dari awal aku membangun blog ini juga menyadari hal itu. Dan semoga saja, kesukaanku ini tidak mengganggu kalian ya. Hehehe. Aku akan berusaha mengembangkan kemampuan untuk lebih mengeksploitasi latar-latar di tempat lain.

–          Dan yang terakhir tentang diriku adalah… enggak bisa berhenti ngecek statistik blog setiap satu jam sekali! Well, aku sudah sering bilang kepada kalian kan. Aku ini blogger yang bakal jingkrak-jingkra cuman karena viewer-nya 50. Aku enggak pernah paksa orang-orang untuk komentar di blog aku, mereka baca aja sudah senang enggak ketolongan. Jadi, kepada siapa pun kalian yang teratur mengunjungi blogku. Menanti-nanti tulisan terbaruku. Aku ucapkan terima kasih banyak! Blog ini enggak akan ada tanpa kalian. Hehehe.

Jadi, segitu aja tenang aku. Semoga kalian enggak ngacir kemana-mana setelah baca hal-hal tersebut di atas. Sempat mikir nulis hal-hal biasa aja, tapi kayaknya malah bikin si pemberi award merasa enggak dihargai. Jadi aku nulis panjang-panjang. :3

Nah, berikut ini 15 blog milik blogger yang sangat menginspirasiku:

–          Butterflychaser

–          Simple Happiness

–          Petrichor Majesty

–          dandelion notes

–          LoeXie

–          Krishna’s Pictures and Notes

–          Not My Cup Of Tea

–          CrossZero

–          lunastory

–          C’EST LA VIE

–          De Reizen

–          Inspiration of My Words

–          Blog Guru Fisika

–          Aa! Ooo! Aaa!

–          A Sanctuary

Sebenarnya, masih  banyaaaaaaak, blog yang ingin aku masukin. Tapi kalau kebanyakan entar menyalahi aturan dari award ini. Jadi baiklah, ke-15 blog inilah yang aku pilih. Blog-blog itu sangat menginspirasi. Aku selalu menyempatkan diri mampir jika senggang dan selalu menunggu-nunggu tulisan terbaru mereka. Hehehe. Terima kasih telah memberi banyak inspirasi padaku, semoga tulisan kalian akan lebih banyak menginspirasi orang-orang sepertiku! 😀

Terima kasih!

[Coretan Dicta] Poetica’s Journal: Bermain Dengan Emosi di Dalam Satir!

pena

Tolong setrap adik tukang bolos ini, Bung!

Sebenarnya , aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau pada pertemuan keenam ini aku harus masuk forum dan ikut belajar langsung. Tapi ternyata… seperti yang kuceritakan di posting-anku yang ini. Aku benar-benar sibuk dan enggak bisa melakukan apa pun lagi selain fokus pada hal-hal dunia nyataku.

Untunglah, Poetica itu forum nyantai dengan para senior dan pelatih yang enggak ketolongan baiknya. Jadi, meskipun aku tidak menghadiri forum malam itu, aku masih dikirimi e-mail tentang materi dan chit-chat-nya *peluk Kak Wulan*.  Dan tentu saja aku masih dapat PR dari Kak Teguh yang kali ini pun kukerjakan dengan sangat terburu-buru.

So, dari chit-chat yang aku baca, pertemuan keenam ini menerangkan dua materi yang saling berkesinambungan, yaitu:

–          Bagaimana kita mengendalikan emosi pembaca; dan

–          Menulis satir

Mari deh, dibahas satu-satu. Tapi karena aku enggak ikut pertemuannya jadi aku hanya berusaha memahami dari tulisannya Kak Teguh (Menakar Emosi) dan e-mail yang diberikan Kak Wulan, jadi jika ada kesalahan mohon dimaklumi dan akan segera saya perbaikan.

Nah, baiklah, yang pertama adalah, bagaimana cara kita mengendalikan emosi pembaca. Secara garis besar ada tiga teknik yang Kak Teguh sampai kan malam itu, antara lain:

–          Plausabilitas

Makna plausabilitas secara harafiah adalah sesuatu yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita. Dan seperti yang kita ketahui  bersama, kalau inti dari sebuah karya fiksi adalah dapat dipercaya oleh para pembaca. Kita enggak mungkin kan bikin cerita yang tidak dapat dipercaya sama pembaca kita sendiri.

Contohnya saja kayak cerita Twilight Saga yang sangat terkenal itu, kita tahu bahwa vampire hanyalah mitos yang beredar di kalangan masyarakat. Namun, Stephenie Mayer menvisualisasikan sosok vampire dengan sangat nyata sehingga kita seolah-olah percaya jika vampire itu memang ada.

Maka, setelah kita menyelesaikan sebuah fiksi—entah itu bergenre romantis, fantasi dan lain-lain—selalu tanyakan pada diri kita sendiri:

Apa tulisan kita ini masuk akal? Baca lebih lanjut

Meong-Meong!

persian-crystalline

Enak ya jadi kucingnya kamu.

Selalu dimanja, dikasih ini dan itu, macem-macem deh. Udah kayak istri kamu aja. Padahal kan aku cuman kucing—cuman peliharaanmu, tapi setiap  malam kamu malah lebih senang tidur denganku. Kalau aku iseng-iseng tanya kenapa, banyak deh alasan kamu. Buluku lebih halus lah, aku lebih enak dipeluk lah, aku enggak bawel lah. Banyak.

Padahal, sekali lagi, aku cuman kucing loh. Bukan istrimu.

Aku masih ingat waktu pertama kali kita ketemu. Aku sedang berdiri di pinggir jalan sembari menunggu seseorang memungut dan membawaku pergi, dan beruntungnya, malam itu kamulah majikan yang beruntung itu.

Tapi tak kusangka malam itu juga, kamu pun bilang padaku, “Mau enggak jadi peliharaan, Om? Om bakal sayangin kamu deh, asal jangan pergi sama yang lain.”

Aku tahu kamu esekutif muda yang kaya, jadi tanpa berpikir dua kali aku setuju jadi kucingmu. Siapa sih yang enggak mau jadi kucingmu? Kucing-kucing lain berlomba-lomba ingin jadi peliharaanmu. Tapi tentu saja, kemolekan kucing kampung mereka tak sebanding dengan seekor persia sepertiku.

Aku kucing terbaik, dan orang sepertimu pantas memeliharaku.

Tapi, aku sedang tak senang dengan polah istrimu akhir-akhir ini. Sepertinya ia mulai curiga kalau kamu memelihara kucing sehingga menuntutmu ini dan itu. Kamu jadi jarang tidur denganku, padahal banyak barang yang ingin aku minta darimu seperti mainan baru, kandang baru, dan lain-lain. Kamu kan sudah janji mau beliin apa pun yang aku mau, aku bahkan tak perlu mengeong untuk itu, kamu sendiri yang menawariku semuanya. Tapi gara-gara istrimu enggak suka kucing, kamu jadi enggak sempat nengokin aku.

Dan waktu berlalu dan kamu tak jua datang merawatku, rasa sabarku pun ada batasnya!

Meong… Meong… Meong…

Aku pun mengeong meminta makan. Kamu tahu kan kau perlu makan? Aku mau tuna, aku mau daging, aku mau makanan enak.

Meong… Meong… Meong…

Aku mau kandang baru! Kandangku yang lama sudah usang, jelek. Tak layak lagi ditempati. Aku mau yang lebih besar dengan banyak ruang untuk bergerak.

Meong… Meong… Meong…

Duh, jangan lupa dong kalau aku juga perlu perawatan. Biar bulu-bulu selalu rapi dan cantik, biar kamu juga seneng liat aku. Aku cantik kan  kamu yang untung!

Meong… Me—

DUAK!

“Dasar kucing liar!”

Duh, kaki siapa ini? Aku mendongak dan mendapati seorang perempuan paruh baya dengan wajah penuh kerutan memandangku beringas seakan-akan ingin membunuhku. Wah, istrimu sudah tahu tempat kamu menyembunyikanku, ya?

“Pergi kamu dari rumah ini! Dasar perusak rumah tangga orang!!”

Aku mengerang jengkel. Hal seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi padaku; majikanku yang lama pun terpaksa meninggalkanku karena istri-istri mereka tak suka kucing. Hanya saja, aku tak suka cara istrimu juga istri-istri mereka mengusirku seolah-olah akulah yang bersalah.

Hei, aku hanya seekor kucing ‘kan? Kucing mana yang tak ingin disayang sedemikian rupa? Kami menjadi peliharaan pun tujuannya  untuk menyambung hidup. Seharusnya salahkan kamu dan majikan-majikanku yang lain dong! Kok mereka masih mau memelihara aku meski tahu istri-istri mereka tak suka kucing?

Dasar! Istri-istri tidak punya otak!

DUAK!

Aku ditendang lagi dan kali ini lebih keras. Sadar jika aku tak ingin tendangan ketiga datang meringsekan tubuhku yang cantik, maka aku pun tanpa banyak mengeong, keluar dari kandangku dan pergi.

Kembali ke tempat biasa aku menunggu seseorang memungutku.

 Namun di perjalanan, aku berpapasan dengan sosokmu yang menunjukkan wajah bersalah padaku, sepertinya kau merasa tak enak denganku yang baru saja diusir oleh istrimu. Tapi nyatanya, aku hanya menyeringai dan berlalu begitu saja dari hadapanmu seolah-olah kita tak saling mengenal satu sama lain.

Mau tahu kenapa?

Karena aku sadar betul, masih banyak majikan lain yang ingin memelihara kucing cantik sepertiku.

Meong… Meong… Meong….

[Drabble] Empty

empty heart

Title                       :               Empty

Author                  :               Benedikta Sekar

Cast                       :

–          Harris Li (Harris Lim’s OC)

–          Wang Fei Fei (Miss A/JYP Enertainment)

Lenght                  :               Drabble – 527 kata

Genre                   :               Angst, Romance

Rate                       :               PG

Disclaimer           :

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dalam pembuatan fanfiksi ini, dalam bentuk uang mau pun materi. Semua cast bukan milik saya. Namun plot dan latar cerita murni dari imajinasi saya.

.0.0.0.

Secangkir kafein dan aroma lavender di ruangan ini bukan alasan Harris Li untuk menangis diam-diam dalam keheningan. Meski earphone di telinganya menyerukan suara digital Megurine Luka yang akhir-akhir ini menjadi playlist favorite-nya, ia masih saja merasakan kekosongan yang entah sejak kapan hadir tiap kali ia menatap wajah cantik itu.

Wang Fei Fei, gadis Mongoloid yang kini tengah memintal benang merah bersamanya, lebih memilih mematut perhatian pada lembaran kertas novel di tangannya ketimbang menyentuh gelas Macchiato-nya atau bahkan membuka pembicaraan. Pemandangan itu membuat Harris sangsi dengan tujuan Fei mengajaknya ke café yang telah menjadi tempat ribuan pertemuan mereka selama ini; tidak kah gadis itu lelah dengan semua ini?

Harris mendesah; kepalanya tiba-tiba saja terasa pening. Tubuhnya beringsut menenggelamkan diri pada tumpukan busa sofa, seraya melirik warna abu-abu yang tengah menggantung di langit kota Beijing.  Sejenak ia melamun, memikirkan semua hal yang telah terjadi di hidupnya.

Yah, tak terasa 15 tahun telah berlalu dengan begitu cepat di kota ini. Ia masih ingat ketika seluruh keluarganya terpaksa pindah ke kampung halaman ibunya di Beijing karena toko mereka habis dijarah akibat kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Begitu banyak luka batin yang Harris rasakan akibat tragedi itu,  namun, meninggalkan negeri tropis nan asri itulah sebenarnya luka terbesarnya.

Indonesia adalah bagian dari dirinya.

“Li…”

Harris tersentak ketika ia merasakan tangannya digenggam; secepat kilat ia kembali memandang gadis di hadapannya dan mendapati wajah itu kini teralih padanya.

“Kau memanggilku?” Harris menggantung earphone di tengkuknya dan membebaskan telinganya untuk mendengar.

“Kenapa kau melamun?” Fei malah balas bertanya; merasa tak penting menjawab petanyaan yang menurutnya bodoh itu.

Harris tersenyum kecut, kemudian menjawab dengan nada sinis, “Yah, karena kau mengabaikanku, tentu saja.”

“Hei, ada apa denganmu?” suara Fei meninggi, dilipatnya kedua tangan di depan dada sembari menyandarkan punggunya di sofa. “Kupikir masalah kita sudah selesai.”

Hening.

Diam adalah prioritas utama Harris sekarang; ia tak ingin mengulang pertengkaran besar mereka tempo hari yang nyaris membuat lima tahun hubungan mereka kandas begitu saja. Tapi, setelah pertengkaran besar itu, Harris justru menjadi sadar, mungkin saja berpisah adalah yang terbaik… bagi  mereka berdua.

“Katakan sesuatu, atau kau lebih suka aku pergi?”

“Hah…” Harris benci ancaman Fei. “Aku hanya melamun.”

“Tentang?”

“Indonesia.”

Kini giliran Fei yang terdiam. Harris tahu kalau Fei merasa heran; kenapa ia mengungkit kembali negeri yang sudah lama ia relakan. Namun, Harris tak senang berbohong, terutama berbohong pada Fei.

 “Ada apa dengan Indonesia?” tanya Fei setelah ia terdiam cukup lama.

Harris mencoba tersenyum, namun, menyuarakan kenyataan bukanlah perkara gampang. “Tiba-tiba saja aku teringat, dan kini, aku merindukan tempat itu.”

“Kau ingin ke sana?”

“Kau gila?” Harris tertawa sumbang. “Aku bisa dibunuh orangtuaku.”

Dahi Fei berkerut dalam, dan memandang Harris dengan pandangan penuh pertanyaan. “Lantas, kenapa sekarang kau tiba-tiba saja merindukan tempat itu?”

Untuk yang kesekian kalinya Harris bungkam; kembali bimbang dengan pilihan jujur dan bohong. Namun, kenyataan bahwa berbohong pada Fei adalah hal yang tabu, maka Harris pun menjawab apa adanya.

“Karena sekarang, aku tak punya siapa apa pun lagi untuk mengisi kekosonganku.”

Fei terpekur; Harris diam.

Secangkir kafein dan aroma lavender memang bukan alasan Harris menangis diam-diam dalam keheningan. Namun sekarang, Harris punya alasan untuk menangis terang-terangan dalam mengambil keputusan terbaik.

Fin.

Special For Harris Lim

(Photo taken from: http://www.flickr.com/photos/froggylady/galleries/72157626728213730)

[Coretan Dicta] Kage Bunshin no Jutsu!

kage bunshin no jutsu

Aku iri sama Naruto pake banget!

Bukan karena dia ditaksir sama cewek ber-boobs besar macam Hinata, atau karena dia punya ketenaran yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Tapi aku iri, karena sebenarnya Naruto punya potensi sebagai orang multifungsi dan jenius!

Kebayang enggak sih? Kalian harus melakukan tiga sampai empat job dalam suatu waktu yang nyaris bersamaan dan kalian kelabakan nge-handle-nya?

Mungkin untuk orang yang pintar bagi waktu edukasi, organisasi, kompetisi, hobi dan lain-lain, hal ini bukanlah masalah besar. Tapi jika aku—yang nyatanya sebelas-dua belas sama tingkat kecerdasan Naruto dalam menangkap pelajaran di Akademi Ninja—mengalami hal itu, yang terjadi adalah sebuah kekacauan besar!

Pertengahan Januari aku terkesima dengan sebuah event di Twitter dengan hastag #30HariMenulisSuratCinta. Event ini dimulai dari tanggal 14 Januari sampai 14 Februari, dan memiliki banyak sekali sub-event seperti Sahabat Pos Cinta, Curat Kaleng dan sebagainya. Event ini pun enggak serta merta hanya ajang kongkow-kongkow para penulis di dunia maya, tapi juga salah satu event kompetisi yang memiliki banyak sekali hadiah menggiurkan. Dan aku, sebagai anak labil yang punya rasa kepedean yang tinggi, pun ikut memberanikan diri mengikuti ajang ini.

Tanggal 14 Januari datang dan aku menulis surat pertamaku untuk laptop tercintaku yang sudah rusak (Terima Kasih dan Maaf), tulisanku disambut dengan cukup baik dengan terpilih sebagai salah satu tulisan yang dimasukan ke blog mereka hari itu. Hal itu sungguh sebagai sebuah motivasi buatku untuk melanjutkan event ini hingga akhir.

Tapi! Well, kita bisa merencanakan sesuatu tapi tentu saja Tuhan yang menentukan takdir. Aku pikir dengan menulis separuh halaman surat di malam hari dan melanjutkan separuhnya besok untuk sekalian di-posting pada hari itu—okay, berapa kali harus kukatakan pada kalian bahwa kecepatan menulisku setara dengan siput keseleo—adalah sebuah teknik yang sangat efisien. Namun, aku tidak memperkirakan bahwa hobiku itu ternyata bisa bersinggungan kegiatan hidupku yang lain, yaitu Baca lebih lanjut