[Coretan Dicta] Kage Bunshin no Jutsu!

kage bunshin no jutsu

Aku iri sama Naruto pake banget!

Bukan karena dia ditaksir sama cewek ber-boobs besar macam Hinata, atau karena dia punya ketenaran yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Tapi aku iri, karena sebenarnya Naruto punya potensi sebagai orang multifungsi dan jenius!

Kebayang enggak sih? Kalian harus melakukan tiga sampai empat job dalam suatu waktu yang nyaris bersamaan dan kalian kelabakan nge-handle-nya?

Mungkin untuk orang yang pintar bagi waktu edukasi, organisasi, kompetisi, hobi dan lain-lain, hal ini bukanlah masalah besar. Tapi jika aku—yang nyatanya sebelas-dua belas sama tingkat kecerdasan Naruto dalam menangkap pelajaran di Akademi Ninja—mengalami hal itu, yang terjadi adalah sebuah kekacauan besar!

Pertengahan Januari aku terkesima dengan sebuah event di Twitter dengan hastag #30HariMenulisSuratCinta. Event ini dimulai dari tanggal 14 Januari sampai 14 Februari, dan memiliki banyak sekali sub-event seperti Sahabat Pos Cinta, Curat Kaleng dan sebagainya. Event ini pun enggak serta merta hanya ajang kongkow-kongkow para penulis di dunia maya, tapi juga salah satu event kompetisi yang memiliki banyak sekali hadiah menggiurkan. Dan aku, sebagai anak labil yang punya rasa kepedean yang tinggi, pun ikut memberanikan diri mengikuti ajang ini.

Tanggal 14 Januari datang dan aku menulis surat pertamaku untuk laptop tercintaku yang sudah rusak (Terima Kasih dan Maaf), tulisanku disambut dengan cukup baik dengan terpilih sebagai salah satu tulisan yang dimasukan ke blog mereka hari itu. Hal itu sungguh sebagai sebuah motivasi buatku untuk melanjutkan event ini hingga akhir.

Tapi! Well, kita bisa merencanakan sesuatu tapi tentu saja Tuhan yang menentukan takdir. Aku pikir dengan menulis separuh halaman surat di malam hari dan melanjutkan separuhnya besok untuk sekalian di-posting pada hari itu—okay, berapa kali harus kukatakan pada kalian bahwa kecepatan menulisku setara dengan siput keseleo—adalah sebuah teknik yang sangat efisien. Namun, aku tidak memperkirakan bahwa hobiku itu ternyata bisa bersinggungan kegiatan hidupku yang lain, yaitu organisasi.

Aku salah satu panitia lomba HUT SMA-ku yang bertugas mengurusi bagian lomba SDC (Smaven Debating Competition). Dan lomba tersebut, berlangsung dari tanggal 22 sampai 23 Januari yang notabenenya memakan persiapan yang enggak sebentar, Bung. Dan, akhirnya, aku pun memperioritaskan lomba tersebut dan hiatus mengikuti event #30HariMenulisSuratCinta hingga acara itu selesai.

Dan ketika lomba tersebut selesai dengan sukses, aku sudah sangat berharap kalau aku bisa melanjutkan hobiku dan ikut kembali dalam event tersebut. Tapi! Tiba-tiba saja ketua klub debat Bahasa Inggrisku berkata bahawa aku akan ikut lomba debat di Unlam (Universitas Lambung Mangkurat) Banjarmasin akhir bulan ini!

Arrrrgh!

Sebenarnya aku sudah menolak untuk ikut ketika ketua klub debatku itu menawari jauh-jauh hari, tapi ternyata dia telah mendaftarkan namaku tanpa sepengetahuanku! Woah, otomatis aku shock dan speechless.

You know, persiapan ikut lomba debat itu lebih berat dari persiapan menyelenggarakan lomba debat! Apa lagi tekanan batin menganalisis kasus yang diberikan dan kerjasama tim yang harus ditingkatkan. Itu sangat memakan waktu, pikiran, tenaga, juga hati bangeeeeet. Tapi akhirnya, setelah dibujuk dengan sedemikian rupa dan alasan karena uang pendaftaran enggak bisa diambil kembali, akhirnya aku mau ikut berpartisipasi (sigh).

Lomba debat ini diadakan pada tanggal 28 sampai 30 Januari itu artinya aku cuman punya waktu sekitar satu mingguan untuk mempersiapkan diri. Okay, aku pikir jika aku fokus dan tak terganggu dengan berbagai hal, aku bisa mengatasi hal ini.

Tapi, masalah muncul ketika aku lupa, jika tanggal 30 Januari ekstrakurikulerku yang lain yaitu KSK (Kelompok Study Katolik) mengadakan acara jalan-jalan bersama sekaligus merayakan ulang tahun salah satu anggota. Arrrgh WTF! Padahal aku KETUA ekstrakurikuler itu! Dan aku dengan mudahnya LUPA! Kenapa aku harus bilang IYA pada mereka sih?!

Aku enggak bisa menyalahkan kesibukanku dan pikiranku yang terpecah belah, dan nyatanya ingatanku pun entah mengapa tak begitu baik. Jadi, aku pun berusaha untuk memberikan pengertian pada temanku itu bahwa aku tak bisa mengikuti acara itu. Dan syukurlah, sepertinya dia bisa mengerti.

Oh, kalian pikir masalah selesai sampai di sini?

Tidak, Bung, ternyata masalah masih datang bertubi-tubi padaku. Pihak kesiswaan sekolah tiba-tiba saja mengadakan seminar kepemimpinan untuk seluruh ekstrakurikuler yang harus dihadiri oleh pengurus inti yang diadakan pada tanggal… JENG-JENG! 28 Januari sampai 30 Januari juga!! AAAAAKKKH!!

Masalah semakin rumit, aku sudah pusing dengan tekanan dari lomba debat dan seminar ini semakin membuatku sakit kepala. Lebih-lebih hal ini pun “katanya” akan mempengaruhi keeksistensian ekstrakurikuler yang bersangkutan; dengan kata lain kalau enggak ikut ya ekstrakurikuler itu bakal di hapus.

 Jujur, aku berharap ada orang yang bisa membantuku mengatasi hal ini, tapi tak ada yang bisa diharapkan. Anggotaku, bahkan pengurus inti lebih mengutamakan hal lain selain ekstrakurikuler keagamaan ini. Aku dipaksa untuk memimpin, sementara di lain pihak aku harus dipaksa fokus pula pada lomba debat ini.

Aku bingung, memilih prioritas antara kedua hal ini, namun akhirnya aku memprioritaskan lomba dan berhasil memaksa satu anggotaku untuk ikut seminar.

Selesai?

BELUM!

Masih ingat kegiatan KSK yang tanggal 30? Yeah, acara itu masih berbenturan dengan seminar. Temanku sudah mulai gelisah dan marah, ia merasa kalau acaranya kurang diprioritaskan. Aku juga bingung, lombaku tengah berlangsung dan anggotaku yang mengikuti seminar BBM bahwa ekstrakurikuler kami harus memberikan anggaran dana, program kerja, dan semua tetek bengeknya yang seabrek! Kemudian sekertarisku telepon kalau tiba-tiba saja nyaris semuanya membatalkan janji untuk ikut kegiatan KSK tanggal 30 itu karena punya kesibukan masing-masing!

GILA! Bayangkan jika kalian jadi aku!? Aku dipaksa memimpin organisasi dengan segudang masalah ketika aku tengah berdiri di depan juri-juri dengan tatapan killer! Aku sudah di Unlam waktu itu, dan mulai masuk penyisihan kedua, dan tim kami dalam posisi kritis. Bagaimana bisa aku membagi pikiranku untuk dua hal yang sangat riskan ini.

Muak.

Aku pun akhirnya memfokuskan diri ke lomba yang telak-telak sedang aku hadapi ini. Tim kami harus tembus babak perempat final besok harinya! Harus!

Dan yeah! Kami lolos! Kami menyisihkan sepuluh tim yang lainnya untuk melajur ke babak ini. Horeee! Hahahaha.

Senang?

ENGGAK TUH.

Kenapa?

Karena ternyata, setelah seluruh nilai debat kami di penyisihan ditabulasi dan dijumlahkan dan diurutkan untuk menentukan lawan kami di perempat final; tim kami, yaitu tim B, HARUS melawan tim A dari sekolah kami sendiri!!

Kanibalisme!

Tapi JELAS. Kami harus “mengalah” secara tidak langsung dan tidak perlu diminta untuk ini. Mengingat tim A dari sekolah kami adalah The Star dari lomba ini dan sejak penyisihan (bahkan sejak mendaftar) sudah dicanangkan akan memasuki babak grand final.

Sebel?

Lumayan sih, kayaknya aku sudah mengorbankan semuanya tapi ujung-ujungnya malah enggak enak gini. Tapi mau bagaimana lagi, hadapi saja mereka dengan semampunya, siapa tahu ada keajaiban muncul dan kami menang…

Dan sayangnya, keajaiban itu tidak muncul, Bung. Kami tetap kalah, dan yeah, tim A kami masuk final. Mereka menyabet juara 1? Sayangnya lagi, keberuntungan sepertinya tidak berpihak pada sekolah kami. Dalam perlombaan ini, kami hanya dapat menyabet juara 2.

Maka, setelah petandingan, aku pulang. Ada sedikit beban yang terkuras jadi aku pun berencana untuk curhat habis-habisan di blog perihal apa yang terjadi di hidupku beberapa waktu belakangan ini sehingga hobi unyu-ku mengurus blog ini terbengkalai.

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ceritain, aku belum cerita tentang tugas-tugas sekolahku yang keteteran, tugas KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang enggak maju-maju, dan sebagainya! Tapi kalau dijelasin lebih lanjut, aku yakin tulisan ini bahkan lebih panjang dari pada novel Harry Potter. Hahahaha.

Jadi, kembali lagi ke awal, kenapa Naruto sebenarnya punya potensi jadi orang multtifungsi dan jenus?

Karena dia punya jurus seribu bayangan!!

Aku super duper iri banget dengan jurus itu! Seandainya aku bisa melakukannya, mungkin kejadian seperti di atas tadi enggak bakalan terjadi dan hidupku bisa lebih tenang. Kusuruh satu bayanganku ikut lomba, ngurus organisasi, ikut kompetisi, mengurus semuanya! Beugh, mantap deh!

Semua beres-res-res!

Tapi sayangnya, aku enggak mungkin bisa, dan jurus seribu bayangan cuman ada di anime. Jadi sekarang, yang bisa aku lakukan hanyalah mencegah hal-hal seperti itu terjadi. Mulai sekarang aku harus bisa belajar untuk lebih menentukan prioritas dan memahami, kemana arah yang aku tuju kedepannya.

Hey, aku sudah berada di tengah-tengah masa SMA-ku, dan aku sudah harus memikirkan dengan serius mau ke mana kuliahku nanti, mau jadi apa aku nanti, dan lain-lain. Lebih mawas dirilah, Dict, kamu sudah 17 tahun loh, seharusnya enggak perlu bingung lagi mau begini-mau begitu. Tegas!

Intinya, menjadi lebih dewasa.

Dan terus berusaha hingga akhirnya nanti, aku enggak perlu lagi berkhayal jika aku membutuhkan jurus seribu bayangan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini. Karena aku sudah berhasil mengatasi semua permasalahanku dengan kekuatanku sendiri. Hohohoho.

KAGE BUNSHIN NO JUTSU!

Pom! Pom! Pom!

Iklan

23 thoughts on “[Coretan Dicta] Kage Bunshin no Jutsu!

  1. Jangan bingung dek, ketika kamu seolah seperti dibebani banyak kegiatan itu sebenernya kan tolak ukur sampai sebatas mana kamu sanggup melakukan semua hal itu. Dan memang harus dibuat skala prioritas. Dunia kuliah/kerja akan lebih bnyak kegiatan atau hal-hal yang harus menjadi prioritas. Tapi jangan takut yah, kamu pasti akan bisa seperti Naruto (eh?). Semangkaaaaa…

    1. Iya, saya pun mikirnya gitu loh Kak. Ini sudah ngebuktiin kala saya enggak begitu berhasil dalam me-manage waktu saya dengan baik. Dan saya pun sedikit-banyak sadar kalau di dunia kuliah dan kerja bahkan lebih berat dari ini.
      Hehehehe, terima kasih semangatnya ya Kak! Saya pasti bisa!! (harus)

  2. Kondisi gini pasti akan selalu muncul koq. Yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan masalah yang timbul, selain bikin prioritas, juga catat semua rencana kita di agenda, jadi bisa menghindari numpuknya kegiatan di suatu waktu. Sorry bukan menggurui ya, cuma sharing apa yang aku lakukan sekarang, karena sebelumnya aku juga sering ngalamin seperti yang Dicta alamin. Tetap semangat ya.

    1. Saya sudah pernah coba, dan sekarang lagi mencoba untuk seperti itu sih Kak, cuman masalahnya, kadang kala saya tidak disiplin dalam membuat agenda tersebut (atau mungkin saya masih tidak paham gimana menulis agenda yang benar itu) jadi kadang masih keteteran gitu. Sigh.

      Hehehe, terima kasih atas saran dan semangatnya ya kak! Saaaangaat membantu!

    1. Tapi kadang hal yang enggak kita suka malah jadi tolak ukur yang harus diprioritaskan, kayak belajar dll. Hohohoho. *ketahuan deh malesnya*

      Btw, ini pertama kalinya ya Kakak komentar di blog saya. Terima kasih ya udah mau mampir dan menjejak kata! Semoga bisa sering2 kemari lagi:D

      1. Sebenernya kuantitas gak begitu penting, kan yg lebih penting kualitas tulisannya 🙂 Oke, mungkin bagi beberapa penulis, produktifitas menjadi prioritas. Tapi nggak bagi saya 🙂

      2. *sob sob* terharu banget ada penikmat kata seperti Kakak! Kadang saya takut loh, kalau pembaca blog saya jadi sedikit gara2 jarang update. Tapi satu orang aja yg pola pendapatnya kayak kakak saya jadi senang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s