Meong-Meong!

persian-crystalline

Enak ya jadi kucingnya kamu.

Selalu dimanja, dikasih ini dan itu, macem-macem deh. Udah kayak istri kamu aja. Padahal kan aku cuman kucing—cuman peliharaanmu, tapi setiap  malam kamu malah lebih senang tidur denganku. Kalau aku iseng-iseng tanya kenapa, banyak deh alasan kamu. Buluku lebih halus lah, aku lebih enak dipeluk lah, aku enggak bawel lah. Banyak.

Padahal, sekali lagi, aku cuman kucing loh. Bukan istrimu.

Aku masih ingat waktu pertama kali kita ketemu. Aku sedang berdiri di pinggir jalan sembari menunggu seseorang memungut dan membawaku pergi, dan beruntungnya, malam itu kamulah majikan yang beruntung itu.

Tapi tak kusangka malam itu juga, kamu pun bilang padaku, “Mau enggak jadi peliharaan, Om? Om bakal sayangin kamu deh, asal jangan pergi sama yang lain.”

Aku tahu kamu esekutif muda yang kaya, jadi tanpa berpikir dua kali aku setuju jadi kucingmu. Siapa sih yang enggak mau jadi kucingmu? Kucing-kucing lain berlomba-lomba ingin jadi peliharaanmu. Tapi tentu saja, kemolekan kucing kampung mereka tak sebanding dengan seekor persia sepertiku.

Aku kucing terbaik, dan orang sepertimu pantas memeliharaku.

Tapi, aku sedang tak senang dengan polah istrimu akhir-akhir ini. Sepertinya ia mulai curiga kalau kamu memelihara kucing sehingga menuntutmu ini dan itu. Kamu jadi jarang tidur denganku, padahal banyak barang yang ingin aku minta darimu seperti mainan baru, kandang baru, dan lain-lain. Kamu kan sudah janji mau beliin apa pun yang aku mau, aku bahkan tak perlu mengeong untuk itu, kamu sendiri yang menawariku semuanya. Tapi gara-gara istrimu enggak suka kucing, kamu jadi enggak sempat nengokin aku.

Dan waktu berlalu dan kamu tak jua datang merawatku, rasa sabarku pun ada batasnya!

Meong… Meong… Meong…

Aku pun mengeong meminta makan. Kamu tahu kan kau perlu makan? Aku mau tuna, aku mau daging, aku mau makanan enak.

Meong… Meong… Meong…

Aku mau kandang baru! Kandangku yang lama sudah usang, jelek. Tak layak lagi ditempati. Aku mau yang lebih besar dengan banyak ruang untuk bergerak.

Meong… Meong… Meong…

Duh, jangan lupa dong kalau aku juga perlu perawatan. Biar bulu-bulu selalu rapi dan cantik, biar kamu juga seneng liat aku. Aku cantik kan  kamu yang untung!

Meong… Me—

DUAK!

“Dasar kucing liar!”

Duh, kaki siapa ini? Aku mendongak dan mendapati seorang perempuan paruh baya dengan wajah penuh kerutan memandangku beringas seakan-akan ingin membunuhku. Wah, istrimu sudah tahu tempat kamu menyembunyikanku, ya?

“Pergi kamu dari rumah ini! Dasar perusak rumah tangga orang!!”

Aku mengerang jengkel. Hal seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi padaku; majikanku yang lama pun terpaksa meninggalkanku karena istri-istri mereka tak suka kucing. Hanya saja, aku tak suka cara istrimu juga istri-istri mereka mengusirku seolah-olah akulah yang bersalah.

Hei, aku hanya seekor kucing ‘kan? Kucing mana yang tak ingin disayang sedemikian rupa? Kami menjadi peliharaan pun tujuannya  untuk menyambung hidup. Seharusnya salahkan kamu dan majikan-majikanku yang lain dong! Kok mereka masih mau memelihara aku meski tahu istri-istri mereka tak suka kucing?

Dasar! Istri-istri tidak punya otak!

DUAK!

Aku ditendang lagi dan kali ini lebih keras. Sadar jika aku tak ingin tendangan ketiga datang meringsekan tubuhku yang cantik, maka aku pun tanpa banyak mengeong, keluar dari kandangku dan pergi.

Kembali ke tempat biasa aku menunggu seseorang memungutku.

 Namun di perjalanan, aku berpapasan dengan sosokmu yang menunjukkan wajah bersalah padaku, sepertinya kau merasa tak enak denganku yang baru saja diusir oleh istrimu. Tapi nyatanya, aku hanya menyeringai dan berlalu begitu saja dari hadapanmu seolah-olah kita tak saling mengenal satu sama lain.

Mau tahu kenapa?

Karena aku sadar betul, masih banyak majikan lain yang ingin memelihara kucing cantik sepertiku.

Meong… Meong… Meong….

17 pemikiran pada “Meong-Meong!

  1. Meong.. meong.. meong! #kucingwannabe 😄
    Kyah! ini keyen kakak, ini keyeeen… meong, meong! 😀
    Jalan ceritanya ngena banget, bahasanya juga gampang banget dicerna.. mungkin anak SD pun bisa paham kalo baca ini… meong! 🙂
    Aku malah nggak kepikiran buat bikin flashfiction pake sudut pandang dari seekor binatang… 🙂 sukaa~~!

    1. Waduh, ada kucing di postingan saya! Hahahaha, kalau jadi kucing persia beneran sih boleh, kan unyu, tapi kalau jadi kucing persia seperti di cerita ini saya harap kamu TIDAK AKAN PERNAH ya? Hahahahaha.

      Yah, inilah satir, gaya bahasanya dibuat sesederhana dan sehalus mungkin, agar yang membaca tetap memahami siapa “kucing” dalam tulisan ini tanpa terkesan menyudutkan satu orang pihak. 🙂

      Terima kasih sudah mau membaca yaaa!:D silakan datang kembali 😀

  2. Ping-balik: [Coretan Dicta] Poetica’s Journal: Bermain Dengan Emosi di Dalam Satir! | Kata-Kata Dicta

    1. Kenapa enggak guguk? soalnya para guguk tidak unyu. Hahaha. Penggambarannya enggak cocok sebagai seorang wanita gitu 😛

      HAH?! Ciyus nih dek? Award? *shock* Terima kasih banyak yaaa! Duh, saya masih enggak pantes dikasih giniaaan.

  3. Hallooo dictaaaa /lambai2/ aku mengunjungi blogmu dan judul dari cerita ini seperti melambai-lambai padaku 🙂
    Eumm…sebenernya gasuka sama kucing sih, hampir condong ke arah alergi malah hahaha tapi aku penasaran aja dan baca hihii
    Lucu ya sudut pandangnya diambil dari si kucing dan menurut aku itu unik lho 🙂
    Tapi entah kenapa aku merasa kucing disini tuh punya makna lain gitu hehehe walaupun aku tau maksud kamu pasti bukan yang itu hahaha

    Si kucing ini ngebuat aku mikir kalo dia itu “Peliharaan” si om (ngerti kan maksudku?) Soalnya ngeliat tulisanmu itu tipenya selalu mengambil genre serius ato entah apa yang kamu liat di kehidupan nyata hihihi
    Tapi mau nanya, bener gak sih cerita ini memang cerita tentang kucing ato…”kucing”? hehehe

    Tapi aku berharapnya sih kucing beneran yang unyu2 gitu kan ya hahaha 🙂

    Oke deh, aku suka fic ini karena lucu, imajinatif, unik, dan tema yang diangkat juga ringan. It’s just about a little cat and you can write it so perfectly 🙂

    Me love it ❤

    1. AWWWH, YOU GOT THE POINT, KAKAK! *peluk eraaat* Bener bangeeet, yang daku maksud itu ya kucing “itu”

      Sebenarnya rada khawatir juga sih, kalau pembaca sampai enggak nemu inti dari tulisan saya ini. Saya enggak berani menyatakan satir dengan cara terang-terangan, sih, jadi pakailah kucing sebagai perumpamaan bahwa si kucing itu memang… errrh, yaaah, “kucing” (belibet banget sih bahasa lu) Tapi ternyata, cukup banyak yang salah paham gitu. T___T

      Tulisan ini tugas dari forum Poetica, kalau mau lebih jelasnya baca aja di tulisan saya yang Poetica Journal di atas postingan ini. Saya disuruh bikin satir (semacam sindiran gitu) dengan memilih salah satu tema dati tiga tema berikut: Kemiskinan, Politik, dan degradasi sosial (yah semacam kucing2 ini. dan hub. sesama jenis). Akhirnya saya pilih dengan degradasi sosial karena yang pertama dan kedua saya enggak nemu idenya juga. Hahahaha.

      Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca yaaa, errrr, tampaknya ini komentar pertama di blog saya. Semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi dari ini. Silakan berkunjung kembali 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s