[Coretan Dicta] Poetica’s Journal: Bermain Dengan Emosi di Dalam Satir!

pena

Tolong setrap adik tukang bolos ini, Bung!

Sebenarnya , aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau pada pertemuan keenam ini aku harus masuk forum dan ikut belajar langsung. Tapi ternyata… seperti yang kuceritakan di posting-anku yang ini. Aku benar-benar sibuk dan enggak bisa melakukan apa pun lagi selain fokus pada hal-hal dunia nyataku.

Untunglah, Poetica itu forum nyantai dengan para senior dan pelatih yang enggak ketolongan baiknya. Jadi, meskipun aku tidak menghadiri forum malam itu, aku masih dikirimi e-mail tentang materi dan chit-chat-nya *peluk Kak Wulan*.  Dan tentu saja aku masih dapat PR dari Kak Teguh yang kali ini pun kukerjakan dengan sangat terburu-buru.

So, dari chit-chat yang aku baca, pertemuan keenam ini menerangkan dua materi yang saling berkesinambungan, yaitu:

–          Bagaimana kita mengendalikan emosi pembaca; dan

–          Menulis satir

Mari deh, dibahas satu-satu. Tapi karena aku enggak ikut pertemuannya jadi aku hanya berusaha memahami dari tulisannya Kak Teguh (Menakar Emosi) dan e-mail yang diberikan Kak Wulan, jadi jika ada kesalahan mohon dimaklumi dan akan segera saya perbaikan.

Nah, baiklah, yang pertama adalah, bagaimana cara kita mengendalikan emosi pembaca. Secara garis besar ada tiga teknik yang Kak Teguh sampai kan malam itu, antara lain:

–          Plausabilitas

Makna plausabilitas secara harafiah adalah sesuatu yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita. Dan seperti yang kita ketahui  bersama, kalau inti dari sebuah karya fiksi adalah dapat dipercaya oleh para pembaca. Kita enggak mungkin kan bikin cerita yang tidak dapat dipercaya sama pembaca kita sendiri.

Contohnya saja kayak cerita Twilight Saga yang sangat terkenal itu, kita tahu bahwa vampire hanyalah mitos yang beredar di kalangan masyarakat. Namun, Stephenie Mayer menvisualisasikan sosok vampire dengan sangat nyata sehingga kita seolah-olah percaya jika vampire itu memang ada.

Maka, setelah kita menyelesaikan sebuah fiksi—entah itu bergenre romantis, fantasi dan lain-lain—selalu tanyakan pada diri kita sendiri:

Apa tulisan kita ini masuk akal?

 

–          Suspense

Intinya kayak membuat pembaca merasa kurang pasti dengan ending di cerita kita. Khususnya apa yang akan terjadi dengan tokoh utama kita atau tokoh yang diberikan simpati oleh pembaca. Kita bisa kasih semacam petunjuk-petunjuk yang membantu pembaca berspekulasi dan menganalisa cerita kita.

Sebuah cerita, tentu harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan rasa penasaran pembaca; enggak asyik kan, kalau baca tulisan yang sudah ketebak ending-nya gimana hanya dengan baca tiga paragraf awal? Tapi suspense tidak semata-mata hanya seperti itu saja, kita pun harus mampu mengikat dan membawa pembaca ke dalam cerita hingga pembaca ‘setia’ untuk mengetahui akhir dari tulisan kita.

–          Surprise

Setelah perasaan pembaca diombang-ambing dan dibikin penasaran sama efek suspense yang kita berikan. Kita harus mampu memberkan ending yang  mengejutkan atau hal-hal lain yang mampu bikin pembaca ngerasa gue-enggak-nyangka-ternyata-begini-jadinya.

Kalau menurut aku perbadi,  efek ini harus kerasa banget untuk tulisan yang pendek-pendek macem flash fiction, drabble, ficlet dan kawan-kawan. Tapi ingat, unsur ini harus masuk akal dan berkesinambungan dengan cerita.

Misalnya, kita kasih petunjuk di cerita kita kalau si A bakal mati, tapi tahu-tahunya ternyata si B yang mati tanpa alasan yang jelas. Itu malah terkesan enggak masuk akal karena sejak awal kita tidak memberikan petunjuk apa pun tentang hal itu.

Nah, sekian untuk bermain dengan emosi, let’s go to satir!

Untuk satir sendiri, kesan awal yang saya dapat saat membaca chit-chat pertemuan sebelumnya adalah semacam sindirian. Tapi ternyata tidak tepat begitu, satir itu semacam: kita “mentertawakan” sesuatu yang mengandung ironi.

Semisal kita menuliskan tentang kemiskinan yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta.  Kita tahu kan kalau Jakarta itu kota besar sejatinya Jakarta itu adalah kota yang makmur dan sejahtera. Namun, ternyata masih banyak pengamen, pengemis, dan lain-lain. Itu adalah sebuah ironi yang bisa kita angkat menjadi sebuah cerita. Tidak hanya perihal soal kemiskinan sih, kita juga bisa mengangkat satir dari hal-hal yang bersangkutan dengan politik, prostitusi, homoseksual dan lain-lain.

Penyampaian satir pun terbagi menjadi tiga, yaitu:

–          Kasar. Terdapat sarkasme dan ironi yang terbaca jelas di tulisan tersebit. Menurut aku, cara ini mungkin lebih cocok untuk para senior yang notabenenya lebih hebat. Sehingga mampu menyampaikan satir secara blak-blakan

–          Mentertawakan. Fakta yang sesungguhnya merupakan ironi diubah menjadi bahan tertawaan. Jika kalian pernah menonton acara SentilanSentilun yang ada di MetroTV, maka seperti itulah satir yang ditertawakan; meski dalam konteks bahan obrolan, intinya tetap sama

–          Halus. Memakai cara eufimisme atau menghaluskan kata-kata sehingga pembaca kita tidak kaget dengan apa yang coba kita sampainya. Semisal, “Kebanyakan politikus di Indonesia adalah koruptor” itu sangatlah blak-blakan atau lebih cenderung ke arah kasar. Sehingga kita ubah menjadi, “Kebanyakan dari politikus kita adalah tikus-tikus negara.”

Nah, sekian sih isi dari pertemuan kemarin. Untuk PR-nya, kami di suruh membuat satu buah tulisan satir yang boleh dipilih dari tiga tema ini, yaitu: Politik, kemiskinan dan degradasi sosial. Dan karena aku tidak pandai politik, kemiskinan rasanya tak ada ide, maka aku pun membuat dengan tema ketiga, yaitu degradasi sosial. Penyampaiannya pun aku gunakan cara ketiga, yaitu eufimisme. Berikut PR yang beberapa hari yang lalu sudah kuterbitkan: Meong-Meong!

Yak, segitu saja isi jurnalnya,  semoga di pertemuan ketujuh saya bisa ikutan lagi dan enggak ketinggalan pelajaran kayak gini. Hehehehe. Semangat!

4 pemikiran pada “[Coretan Dicta] Poetica’s Journal: Bermain Dengan Emosi di Dalam Satir!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s