Diposkan pada Cerita Pendek, Renungan, Romance

Pacaran? So, What Banget?

Jomblo

Coba gue tanya: Apa enaknya punya pacar?

Okay, biar gue jawab sendiri. Pertama, itu membuktikan kalau lu laku dan peluang untuk punya suami atau istri keren itu besar. Seperti yang kita ketahui bersama, pacaran itu semacam fase yang wajib dimiliki semua manusia yang enggak memilih hidup jadi Pastor atau Biarawan-Biarawati. Lu mau punya istri, Bro? Cari pacar dulu! Pacar aja enggak punya, apa lagi istri. Iya, enggak?

Kedua, punya pacar itu semacam meningkatkan derajat sosial lu di mata kalayak umum. Apa lagi kalau pacar lu itu seorang bintang sekolah atau apa pun itu. Lu bakal jadi sorotan publik dan ‘wow’ lu pun bakal punya pamor yang sama kayak pacar lu itu. Ingat, sifat dasar manusia yang bernama gue-pengen-jadi-orang-tenar? Punya pacar beken, adalah salah satu cara tercepat untuk mendapatkan ketenaran itu.

Ketiga, ortu lu bakal bangga dan enggak bakal nanya kayak gini: ‘kapan bawa calon ke rumah?’ Untuk yang sudah cukup berumur, pertanyaan kayak gini sangat-sangat annoying. Setiap kali lu ditanya ortu dengan pertanyaan itu, lu pasti langsung bete. Lu ngerasa kalau ortu lu sendiri enggak percaya dengan kemampuan lu membawa calon istri atau suami yang layak ke rumah. Apa lagi kalau ortu sudah mulai ke taraf yang lebih ekstrem dengan berbicara seperti ini: ‘Eh, kamu tahu enggak, anaknya Tante Marni temen arisan Mama itu? Duh, cantik banget, calon dokter pula. Mau ya Mama kenalin?’Ukh, di mana harga diri lu, Brooooo? Pacar aja dicariin sama ortu!

Keempat, lu pengen punya babu cinta. Lu punya pacar, itu sama artinya lu pun punya orang yang lu tuntut untuk selalu perhatian sama lu. Dan siapa yang enggak mau punya orang yang seperti itu? Orang yang selalu antar jemput lu ke sekolah atau ke kampus. Orang yang selalu nanyain soal makanan lu. Orang selalu bayarin kencan lu. Orang yang bela-belain nunggu lu pulang. Dan sebagainya, dan sebagainya. Ini, kutipan dari gue: ‘Kadar cinta lu berbanding lurus dengan kadar duit atau perhatian yang lu keluarkan untuk pacar lu.’ Ingat ya, modal utama untuk semua yang pengen punya pacar itu bukan cinta, tapi duit, Bro!

Terakhir, pelampiasan hasrat muda dalam diri lu. Ini nih yang sebenernya paling gue sebelin dari pacaran. Pada hakikatnya, pacar lu bukan sebagai banda nyata untuk lu cium atau lu grape-grape seenak jidat. Pacar lu bukan objek seksual lu! Tapi mind set anak-anak muda zaman sekarang (khususnya untuk mereka yang menyabet predikat 4lAyz) menganggap bahwa cinta sama dengan ‘bersentuhan’. It’s okay, kalau lu cuman gandengan, atau ngelus kepala, atau duduk berdua dengan bahu bertempelan, atau bahkan berciuman untuk menunjukkan rasa sayang dan cinta lu pada pacar lu. Tapi  lebih dari itu? Gue harap jangan! Terutama buat lu yang ngerasa diri perempuan, jangan biarkan pacar lu berbuat semaunya pada diri lu karena di kemudian hari, yang jadi korban itu lu sendiri, bukan orang lain.

Jadi, kesimpulannya, punya pacar itu enak atau enggak? Menurut sebagian orang udah pernah ngerasain semua yang gue bilang di atas pasti bilang enak. Tapi buat yang enggak pernah ngerasain pacaran? Para kaum fakir asmara? Para jomblowan dan jomblowati? Gue yakin jawabannya: ‘enggak enak’.

Sama kayak gue.

Hahahaha. Iyeee, gue jomblo, malam minggu ini gue cuman duduk di pinggir café tempat biasa gue menulis sendirian; hanya ditemanin secangkir black coffee kegemaran gue dan laptop di hadapan. Inilah ritual malam minggu gue.

Gue jomblo bukan karena gue enggak laku, well, emang enggak banyak cewek yang gue deketin atau deketin gue balik. Tapi bagi gue, pacaran bukan hal main-main. Karena sekali gue pacaran, gue berharap kalau gue bakal bersama cewek itu sampai nanti gue tua dan mati.

Yeah, bilang aja gue ini selektif soal cewek tapi gue enggak pernah liat cewek dari mukanya doang. Cewek gendut dan jelek pun kalau misalnya punya hal yang bisa bikin gue jatuh cinta, gue bakal tembak. Tapi sayangnya, gue belum nemu cewek yang seperti itu, bahkan cewek gendut dan jelek sekali pun. Yang ada cuman cewek-cewek kayak gini yang entah kenapa semakin banyak terlihat di lingkungan gue…

“Hai, sendirian aja?”

Gue mengangkat wajah dari layar laptop dan mendapati cewek yang sedari tadi memperhatikan gue sejak pertama kali menjejakkan kaki di café ini. Pakaiannya seronok, sangat seronok; one peace ketat yang hanya menutupi seperempat pahanya. Gue enggak ngerti, apa yang membuat cewek-cewek kayak gini percaya semakin sedikit kain yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh, semakin berkelaslah penampilan mereka. Gue pribadi, enggak pengen pacar gue nanti berpenampilan kayak gini. Kecuali kalau kita sudah nikah dan penampilan itu memang khusus buat gue. Hahahaha.

“Yup, seperti yang lu lihat. Gue cuman nulis sendirian di sini,” jawab gue lalu tertawa singkat. Gue enggak suka sama cewek ini, tapi gue bukan tipe orang yang jutek sama orang lain.

Tanpa gue tawari cewek itu menarik kursi dan duduk di depan gue. “Lu penulis?” tanyanya lagi.

Gue cuman senyum, lalu mengangguk. “Cuman freelancer di salah satu majalah enggak terkenal kok.”

“Oh, ngomong-ngomong, lagi nulis apa?” cewek ini masih kepo, sembari mencondongkan tubuhnya untuk mengintip layar datar laptop gue. Aneh, gue bahkan enggak tahu siapa namanya dan enggak ada minat untuk bertanya; biar saja pembicaraan ini berjalan tanpa perlu mengetahui hal itu.

 “Err, artikel,” jawab gue. ”Tentang ‘Enaknya Punya Pacar’,” imbuh gue cepat karena gue tahu cewek ini akan bertanya artikel apa yang sedang gue tulis dan berpura-pura tertarik akan hal itu.

Cewek itu terlihat sedikit terkejut dan buru-buru bertanya, “Lu sudah punya pacar?”

Mendengar pertanyaannya itu gue langsung ketawa dalam hati. Cewek ini kentara banget sih ngincer gue.

“Belum,” jawab gue jujur, gue yakin setelah ini dia bakal senyum sumringah, kemudian menyebutkan nama dan memberikan nomor handpohone-nya.

“Wah, sama dong kayak gue.”

Benar kan, senyumnya lebar banget.

“Nama gue Rina,” cewek itu menggeser bangkunya mendekati gue dan mengambil selembar tisu di atas meja. “Lu ada pulpen?”

Gue langsung menyodorkan spidol yang tadi gue pake untuk menandai beberapa tulisan kepada cewek bernama Rina itu.

“Ini nomor gue,” kata Rina sembari menulis deretan angka di atas tisu. “Telepon gue kapan aja lu ngerasa kesepian, gue bakal nemenin lu semalam suntuk.” Cewek itu mengerling nakal dan gue hanya tertawa hambar. “Tentu saja dengan harga ya pas, ya,” imbuh  Rina lagi sembari berdiri dan meninggalkan gue. Cewek itu kembali ke mejanya semula untuk mengambil tasnya, kemudian pergi bersama beberapa temannya yang berhaha-hihi.

Sebelum menghilang, gue masih sempat melihat Rina berbalik dan melemparkan ciuman di udara dengan ibu jadi dan jari kelingking tangan kanannya ia goyangkan di telinga; meminta gue untuk meneleponnya secepat mungkin. Dan gue hanya tersenyum kaku hingga cewek itu benar-benar menghilang.

See, inilah alasan kenapa gue ngejomblo. Nyari cewek bener itu susah, Bro. Dan jadi cowok bener pun enggak segampang  yang gue kira. Entah, apa yang salah dengan dunia dewasa ini. Di negara dengan kebudayaan Timur yang menurut gue sangat keras dan menjunjung tinggi martabat luhur pun masih ada manusia bertabiat seperti itu.

Apa gue harus menyalahkan perkembangan teknologi dan budaya yang saling tumpang tindih di negara ini?

Jawabannya tidak. Pada dasarnya, hidup itu pilihan. Lu mau pacaran? Itu pilihan lu. Lu ngejomblo? Berarti lu emang memilih untuk ngejomblo atau pilihan orang lain bukan lu. Simple ‘kan?

Jadi sekarang ini, gue memilih jomblo sebagai pilihan yang tepat, bukan karena pacaran itu enggak enak, atau gue enggak laku seperti yang khalayak cap di punggung para jomblo, tapi karena gue memang belum nemu cewek yang benar-benar bisa gue ajak hidup sampai tua

Gue menatap lembar tisu yang tersampir di meja, kemudian mengambilnya dan langsung meremasnya sebelum akhirnya gue buang ke asbak rokok di depan gue. Gue udah sering ketemu cewek-cewek seperti ini. Bagi mereka, cowok jomblo itu mangsa yang pas, karena identik dengan galau dan kesepian. Tapi gue bukan cowok macem itu, gue enggak pernah galau (karena waktu gue terlalu berharga untuk dibuang percuma seperti itu) dan kesepian bukan kata yang pas buat gue, karena gue punya banyak sahabat dan keluarga yang selalu ada di waktu gue kepengen hang out ramai-ramai.

Well, nyatanya, gue pasti pacaran suatu hari nanti, karena gue pasti menikah dan membangun keluarga. Tapi untuk sekarang? Pacaran?

So, what bangeeet?

Fin.

Iklan

Penulis:

Pecinta Naruto dan Conan, menganggap menulis adalah sebuah obsesi dan membaca buku sama dengan bernapas. Suka menghabiskan waktu di sudut kedai sendirian; ditemani laptop dan makanan yang paling murah di kedai tersebut :)

28 tanggapan untuk “Pacaran? So, What Banget?

      1. Waah ini tulisan Kakak sendiri? Maaaaf, kirain dari sumber lain, makanya saya bingung pas saya cari sumbernya kok gak ditulis. Soalnya ditulis dari sudut pandang cowok orang pertama, jadinya kirain tulisan orang… Maaf Kak 😀 keren tulisannya (y)

      2. Iya, soalnya saya enggak bisa pakai sudut pandang cowok gitu. Makanya saya pake gue-lu biar kentara gitu cowoknya. Tapi malah dikira punya orang lain… *sigh* emang beda banget ya dibandingkan sama tulisan saya yang biasanya? Kerasa sih, nulisnya pun masih teputal-tepulilit gitu. Hahaha.

        He, santai aja, enggak perlu minta maaf. Mafum aja sih, soalnya tulisan ini emang beda banget. Terima kasih sudah mau baca dan berkomentar ya 😀

      3. Belum biasa kali Kak, soalnya tulisan Kakak biasanya dari sudut pandang cewek banget, cara mikirnya, cara apresiasinya… Dan sekarang mendadak jadi ke cowo, makanya saya ngira itu bukan tulisan Kakak ^^

        Ya sama sama Kaa

      4. Hahaha, sebenarnya sudah pernah beberapa kali sih ngambil sudut pandang cowok; kalau emang kamu ngeliat tulisan saya yang lain-lain. Cuman baru yang ini aja yang pake gue-lu. 🙂

  1. wuahh dikta, ceritamu menarik wkwk
    pesannya nyampe banget “JOMBLO itu PILIHAN” hahahahaha
    sepertinya emang seperti itu.

    bener banget, jaman sekarang entah kenapa malah tambah banyak kaum hawa. tapi cari yang bener2 “wanita” itu susah mungkin sudah 1:7 kali ya? atau lebih
    pikiranku sih gitu,
    weeellll, mengingatkan saya pada mantan terdahulu *curcol*
    diselingkuhin itu menyakitkan *ngelantur*

    1. Yap, Jomblo memang pilihan.:D Jadi untuk para pasangan, jangan menghina kaum jomblo, karena kami bukannya tidak laku. Hanya kami memilih untuk menjadi seperti itu. Hohohohoho.

      Nah, itu pun salah satu keprihatianku sebagai cewek Cha. Aku sendiri bingung, kok mau-maunya mereka menggadaikan kehormatan mereka cuman untuk lembaran uang atau properti gitu. Jadi, untuk cewek-cewek kayak kita memang harus mawas diri dan mengerti betapa berharganya kita.

      Wah, sorry ya, jadi ngingetin sama mantan. Tenang saja, masih banyak ikan di laut. 😀 Terima kasih sudah mau membaca ceritaku ya, sering-seringlah mampir :3

  2. dari awal saya kira ini tulisan biasa tapi kok agak2 beda dari bahasa yang biasa dipake dicta di blog ini. 😛 cukup mewakili jiwa2 jomblo jamuran seperti saya. 😄

    1. Kwkwkwkw, iya, biar para pembaca cowok yang baca tulisan ini dapat feelnya. 😛 Soalnya saya nyaris nggak pernah ambil dari sudut pandang cowok. Sekalinya ngambil juga keliatan banget masih ada unsur kecewek-cewekannya. Yah, itu sih susahnya jadi penulis cewek, enggak bisa nulis pake sudut pandang cowok. Begitu juga sebaliknya untuk penulis cowok, ya enggak sih? Hehehehe.

      Wah, Bung, Anda tidak sendiri. Saya pun seorang jomblo jamuran. hahaha.

  3. Ma, ada typo
    “Pada hakekatnya, pacar lu bukan sebagai banda nyata untuk…”

    Ini cerita menghibur saya banget.. Bener mmg.. Jomblo itu pilihan.. B-)

  4. Eh? Tak kirain ini curhatan mengenai dirimu sendiri[?], ternyata… ._.

    Eniwei, ini beneran buagus banget. Rasanya kayak baca sesuatu yang aptudet[?] entah mengapa daku tak tahu. Bahasanya enak dan kerasa enjoy banget pas baca. Virtuoso!

    1. Kalau curhatan sih biasanya saya imbuhin penjelasan [Coretan Dicta] gitu di depannya. Hahaha.

      Waaah, ciyuuus? 😄 Senangnya, saya sebenernya ragu ngeposting ini karena gaya bahasanya yang mungkin aneh dan terbaca bukan saya banget. tapi syukurlah masih enak dibaca 😀 terima kasih sudah membaca ya DS *peluuuk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s