#AWeekOfCollaboration, Cerita Pendek, Kolaborasi, Menulis Duet

[Kolaborasi] Tertawa Kembali

cincin pernikahan

Tawa bukan lagi cara terbaik untuk mengisi kekosongan suara di antara kita. Kini detik-detik berlalu percuma dan banyak hal yang kita lewati begitu saja, tanpa tawa yang berkumandang untuk menyatakan rasa bahagia. Hanya nada datar darimu atau balasan dingin darikulah yang menjadi melodi yang mengiringi perjalanan panjang kita.

“Din, aku tidur duluan ya?” Pria itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut menutupi dada. Tanpa melihatku terlebih dulu, ia langsung memunggungiku dan memejamkan mata.

“Iya. Selamat malam, Bi,” sahutku tanpa sedikit pun mengalihkan  pandangan dari punggung lebarnya. Ingin aku menyelinap masuk ke dalam selimut, dan memeluknya, tapi tumpukan pekerjaan yang masih menuntut tanggung jawabku merantai kaki hingga aku tak punya pilihan lain selain membuang keinginan itu.

“Malam.” Pria itu membalas lirih, dan tak lama kemudian hanya ada dengkuran pelan yang terdengar dan bahunya yang naik-turun beraturan.

Aku meringis di dalam hati, kemudian kembali dengan naskah-naskah di hadapanku. Ucapan selamat malam yang dulu terdengar manis, kini hanya sekedar basa-basi; pembuktian bahwa bahtera ini masih memiliki penghuni yang mencoba untuk tidak terjun dan  saling meninggalkan satu sama lain.

Aku tak tahu bagaimana cara menyelamatkan bahtera rumah tangga ini, yang semakin lama semakin mendekati karang kehancuran. Perlahan tapi pasti, kami berdua seperti bukan lagi seperti sepasang kekasih yang sama-sama saling mencintai. Tapi kami malah seperti tamu yang datang untuk singgah. Hanya untuk singgah makan, mandi, dan tidur.

Sementara itu, pekerjaanku sebagai penulis, membuatku semakin tak punya waktu memikirkan rumah tanggaku. Suamiku, dengan pekerjaannya sebagai seorang desainer interior, juga sama sibuknya. Aku merasa kami hampir-hampir tak saling mengenali. Semua terasa hambar. Tanpa kehadiran anak di antara kami, semua terasa sunyi.

Aku membenamkan wajahku di kedua tanganku, dan tiba-tiba merasakan tanganku basah. Aku menangis? Ya, tanpa sadar air mataku tumpah ruah. Ternyata, aku tak rela rumah tanggaku menuju kehancuran. Jauh dalam hatiku, ternyata aku tak mau kekakuan dan kesenyapan ini terus berlangsung. Aku ingin semua kembali seperti semula, seperti dulu, di saat kami masih dipenuhi rasa sayang di hati kami. Tapi aku bingung, apa yang harus aku lakukan?

***

Pagi yang baru telah datang dan aku memulainya dengan dengan menetesi mataku dengan obat. Aku tak ingat berapa lama aku menangis semalam, tapi untunglah suamiku tidak menyadari isakanku itu dan terus tertidur sampai pagi.

“Hoaaam, sarapan apa pagi ini?” Suara suamiku yang baru bangun tidur mengejutkanku. Segera saja aku menyimpan obat mata di kotak P3K yang ada di atas kulkas dan berbalik untuk mengucapkan ‘selamat pagi’ yang hambar kembali.

“Selamat pa—“

Cup.

“Pagi, Din.”

Aku terperanjat; mengerjap-ngerjapkan mataku tak percaya. Suamiku tiba-tiba saja mengecup pipiku sembari membisikkan ucapan selamat pagi yang biasanya hanya di bibir saja. Ada apa ini?

“Kenapa?” tanya suamiku sembari mengambil cangkir dan kopi dari rak di dekatku. Wajahnya terlihat biasa saja, seakan-akan hal yang baru saja ia lakukan adalah hal yang biasa ia lakukan.

“Eng-enggak papa,” jawabku sembari menggeleng-gelengkan kepala. Aku kembali menfokuskan diri menaburi keju di atas roti, namun senyumku tak dapat kukulum.

“Rotinya jangan lama-lama ya, aku lapar,” katanya sembari menuang gula ke cangkir kopinya. Kurasakan kedua manik mata tembaga itu memperhatikanku, dan aku pun kembali mengangkat wajahku untuk melihat apa benar suamiku itu memperhatikanku. Dan…

…tatapan kami bertemu.

 Senyumnya mengembang lebar; menunjukan lesung pipi yang rasanya sudah lama sekali tak tampak. Sedangkan aku hanya dapat terdiam, kembali mengerjap-ngerjapkan mataku—tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.

Pelan-pelan kurasakan wajahku memanas dan buru-buru aku kembali menatap potongan roti di hadapanku. Wajahku pasti merah sekali, aku tak mau suamiku menganggapku aneh karena aku bertingkah seperti remaja yang baru saja mengenal apa itu cinta.

“Termos di mana ya, Din?” Suamiku meniliki seisi dapur dan tak menemukan benda yang ia cari.

“Oh, aku taruh di atas meja makan kemarin malam,” jawabku buru-buru, ”lupa balikin pas bikin teh,” jelasku.

Okay, Thanks, Hon.”

Apa? Hon? Honey?

Suamiku melangkah ke meja makan untuk mengambil benda yang ia cari sementara aku terpaku. Dulu, saat kami masih menjadi pengantin baru, ia kerap kali menemanggilku ‘honey’ , namun seiring berjalannya waktu, panggilan itu tak lagi terdengar di rumah ini. Dan baru saja kusadari sekarang, aku sangat merindukan masa-masa itu.

Oh, God, today is like fairytale…

Air mataku ingin menetes, aku terlalu bahagia sekarang ini. Namun, air mata itu urung kukeluarkan lantaran suamiku kembali dan mulai menyeduh kopinya. Kami pun berdiri bersisian dalam keheningan, aku mulai mengolesi mentega di bilah-bilah roti dengan lebih bersemangat dari sebelumnya. Hingga tiba-tiba saja keheningan itu dipecahkan oleh suamiku.

“HUANJRIT!! Asin bener!!”

Aku buru-buru menoleh ke samping, dan mendapati suamiku meloncat-loncat sembari mengipasi lidahnya. Aku pun buru-buru mengambil kotak yang isinya tadi digunakan suamiku untuk memberi rasa pada kopinya dan menyadari bahwa itu bukan gula, tapi garam.

“Ya ampun, Abi ini kan garam!” Aku menoleh kepada suamiku yang kini tengah berdiri di depan kulkas sembari menegak air dingin. “Makanya diliat dulu baru masukin ke gelas!”

“Mana kutahu kalau itu garam! Warnanya sama ini!” balas suamiku sesaat setelah ia selesai menetralkan lidahnya.

“Di mana-mana warna gula pasir sama garam ya sama, Bi. Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Hahaha.” aku tak dapat membendung tawaku lagi, sudah lama aku tak melihat polah suamiku yang konyol seperti ini. Aku sampai memegangi perutku tatkala membayangkan bagaimana ekspresi keasian suamiku barusan. Sungguh menggelikan.

“Hehehe, aku kangen liat kamu ketawa, Din.”

Kembali kurasakan panas memenuhi kedua pipiku. Aku yakin aliran darah mengalir deras ke sana, kembali memberikan rona merah di wajahku. Hatiku mengembang karena perasaan bahagia yang luar biasa. Aku masih memandangi suamiku dengan ekspresi tak percaya. Rasanya mustahil hal ini terjadi. Namun tawa yang kembali ada di rumah ini, rasa hangat yang kembali menjalari hatiku setelah sekian lama, rasa-rasanya terlalu indah untuk diabaikan. Ini adalah momentum yang tepat, pikirku.

“Bi, aku juga kangen kamu.” Aku berkata sambil menatap dalam mata suamiku. “Aku… ingin bilang sesuatu…”

“Aku tahu, Din.” Suamiku tiba-tiba memotong perkataanku. “Pasti tentang apa yang terjadi pada kita sekarang,’kan? Tentang semua kebekuan yang selama ini ada di antara kita…” Ia berkata sambil memelankan suaranya. Ternyata suamiku pun merasakan hal yang sama.

Aku mengangguk. Tak terasa mataku kabur, rupanya air mataku kembali ingin mengalir. “Aku enggak ingin keadaan ini terus berlanjut, Bi. Aku nggak mau kita seperti dua orang asing yang tak saling kenal. Aku merasa kehilangan kamu… dan aku nggak mau itu terjadi. Aku resah kalau harus memikirkan rumah tangga kita. Aku takut, kita akan…  akan…bercerai…” Akhirnya, dengan sedikit dorongan keberanian kuucapkan juga kata yang sangat tabu untukku itu. Aku tidak mau lagi menyembunyikan apa yang aku rasakan.

“Aku tahu, Din.” Suamiku tiba-tiba menggenggam tanganku. Dan aku bergetar. Terasa begitu hangat.

“Kita berdua sama-sama sibuk. Waktu kita dulu susah, justru kita bahagia. Kini kita sudah bisa memiliki segalanya, kita bisa membeli harta yang kita mau. Tapi… kita kehilangan satu hal yang paling utama dalam hubungan ini. Kita kehilangan waktu, hal yang tak mungkin bisa kita beli dengan apa pun. Kita kehilangan waktu untuk kita berdua. Kita pun kehilangan hal-hal sederhana yang sebenarnya menjadi perekat hubungan kita. Kita seolah-olah kehilangan chemistry kita…”

Aku mengangguk, menyetujui perkataannya. Aku bisa merasakan kejujuran dari suamiku saat ia mengatakan hal tersebut.

“Dan maaf, Din,” suamiku menggenggam kedua tanganku semakin erat, “Aku bikin kamu nangis semalam.”

“Eh?”

Suamiku tersenyum sembari menyentuh kedua sisi wajahku dengan tangannya; ibu jarinya mengusap wajahku dengan sangat lembut.

“Aku janji enggak akan bikin kamu menangis seperti itu lagi.” Suamiku mengecup lembut dahiku kemudian menarik tubuhku hingga berakhir di dalam pelukannya. Begitu erat, begitu hangat, begitu merasa dicintai.

“Ingat janjiku saat hari pernikahan kita?” bisik suamiku, embusan napasnya membuat tengkukku meremang, tapi aku suka itu.

“Aku, Abi Harianto, akan terus mencintai dan mengasihi Andini Sriputri, wanita yang kini menjadi istriku. Dalam suka mau pun duka, dalam untung mau pun malang, dalam sehat mau pun sakit. Menghormati ia sebagai istriku, untuk selama-lamanya.”

Air mataku menetes, membasahi pundak suamiku. Janji itu masih kuingat sampai sekarang, dan terpatri dalam hatiku. Itulah dasar dari pernikahan ini, ketika aku mendengar ia mengucapkan janji itu. Aku percaya, bahwa pria yang kini menjadi suamiku itu akan menepatinya.

“Aku juga minta maaf, Bi. Selama ini Aku terlalu sibuk dengan semua naskah-naskah itu. Aku janji, akan lebih memperhatikanmu.” Aku tahu, dalam hal ini, aku pasti juga menyumbang kesalahan. Bukankah rumah tangga ini dibangun berdua? Tak ada pihak yang seratus persen benar.

Suamiku mengangguk. “Kita akan kembalikan kebiasaan-kebiasaan kecil kita yang lama hilang. Kamu tahu? Aku rasa hal-hal sepele itu justru penting, Honey.” Suamiku berkata sambil mengedipkan mata. “Kebahagiaan-kebahagiaan kecil kita dibangun dari perhatian-perhatian seperti itu. Tapi kita yang terlalu menganggap remeh. Karena kita sibuk mengejar ‘kebahagiaan-kebahagiaan’ besar. Rumah. Mobil. Dan semua harta benda ini.

“Pada akhirnya, harta ini tak lagi begitu berguna, jika kita terus hidup dengan perasaan yang dingin seperti yang kita lakukan beberapa waktu terakhir.” Suamiku melanjutkan. Ia membelai rambutku. Aku masih meletakkan kepalaku di pundaknya. Tangan kami bergenggam. Hal-hal seperti ini memang kecil, namun sungguh luar biasa kebahagiaan yang dibawanya pada hati kami.

“Aku mencintaimu.” Dan suamiku mendaratkan ciuman lembut di keningku kembali.

“Aku enggak, Bi.” Aku membalas. Wajah suamiku tampak terkejut.”Enggak salah lagi, aku memang menyayangimu.”

Kami berdua kemudian tertawa. Tawa yang lebar sekali.

Fin.

“Collaboration with Jusmalia Oktaviani

Iklan

25 thoughts on “[Kolaborasi] Tertawa Kembali”

      1. Dan yang pasti, masih menunggu kolaborasi kamu dengan teman-teman baru yang lain.

        Jangan takut untuk memulai kemasan cerita yang berbeda lho de, ini justru saat yang pas untuk eksplorasi lagi gaya cerita dan kekuatan tulisannya.

        Semangat ya! Keep on writing. 😉

    1. Hahaha, saya kadang malu ngajak orang baru buat dueeeet >< Tapi iya, saya akan mencoba untuk lebih mengeksplor kemampuang saya dalam menulis Kak Teguh, terima kasih juga sudah membantu saya selama ini 😀

      1. Hihi, ketemu dengan orang baru itu bisa meningkatkan kepercayaan diri kamu lho. Dan itu penting banget buat dimiliki penulis. 😉

        Semangat semangat!

    1. Halo kak Yuliono! 😀 Terima kasih atas kunjungan pertamanya di blog saya :3 Aduh senangnya dibilang manis :3 (#plak! bukan kamu Dict, tapi tulisannya!)

      Semoga tulisan kami bisa jadi lebih baik lagi ya! 😀

    1. .___. Itu… agak serem ya Kak. Jangan-jangan Kakak membayangkan kedua orang ini tertawa sebaga kuchisake-hito… :O *beringsut menjauh* Hahahaha.

      Terima kasih sudah membaca ya kak, senangnya tulisan amatiran saya masih dikunjungi, hehehe.

  1. Aku hutang komen T^T sebenarnya aku udah cukup lama baca ini (sekitar seminggu lalu) tapi karena koneksi lg benar2 lemot jadi maafin ya kak xixi. Ini sederhana dan manis! Tapi kalo boleh aku tanya ya kak, kolaborasi seperti ini cara ambil bagiannya gimana? Per beberapa paragraf atau apa? Hehe, aku cuma mau nanya itu sih kak soalnya masih berasa ganjal gitu^^

    1. Haloooo Zolaaa, hihihihi, jangan merasa berhutang lah, cukup dibaca aja saya sudah senang kok 😀 Terima kasih ya.

      Errr, dalam kolaborasi, sebenarnya media yang digunakan itu terserah pada pasangan yang ingin berkolaborasi. Ada yang lewat e-mail, ada juga yang mau ketemu langsung. Nah untuk saya sendiri, saya kolabnya di Y!M. Jadi semacam chating gitu. panjangnya terserah. Misalnya kamu cuman mau dua paragraf atau satu, enggak papa. Mau kamu panjang2in. Enggak papa. Asal kamu masih bisa mengikuti atau menulis seirama dengan pasangan kamu. Jangan terlalu menonjolkan ide sendiri 😀 Oh ya, pas duet jangan ngomongin soal ending. Entar pas duetnya mengalir, enggak kerasa kalian sudah bisa nemu endingnya sndiri. 😀 Yah itu sih yang biasanya dilakukan kalau saya lagi kolab.

      Emang ganjal kenapa toh?

      1. Kembali kasih kak! Justru aku kalo gak komen di salah satu postingan kakak yang aku baca, malah berasa ada yang kurang ;__; komentarin cerita bagus itu kesenangan tersendiri, hehehe^^

        Oh begitu ya kak, ngomong2 itu bergantian ya? Hehe ngeganjal gegara itu aja sih kak, pengin nanya soal pergantiannya; jadi kita semacam menuangkan ide pada paragraf yang kita tulis, lalu nanti pasangan kita ngikutin alur yang kita buat ya? Begitu pun sebaliknya? Ah, makasih kaa jawabannya 😀

      2. Iya, nulisnya bergantian, nanti tentuin aja siapa yang mulai duluan kalau ada satu pasangan udah ngerasa cukup. Entar pasti ada yang minta tamatin. Hahahaha.
        Yup, menulis duet juga enggak boleh egois, harus rendah hati. Untuk menghindari saling ngotot-ngototan ide 🙂 Jadi saling mengikuti alur.

        Sama-sama. Kalau mau tanya-tanya lagi soal tulis menulis boleh tanya di page “Ada Tanya Untukmu, Dict!” di atas itu yaaaa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s